
Malam itu Evan ke klub milik Brian. Sudah lama dia tidak ke sana, dan malam ini dia ke sana karena sedang merasa suntuk. Dia mencoba mencari ketenangan di sana. Brian segera menghampiri Evan.
"Hey... Tumben, nih. Biasanya datang nggak minum. Kok sekarang minum. Kenapa?! Apa jus kita udah nggak enak lagi?!" goda Brian. Evan hanya tersenyum padanya. Mereka pun mengobrol cukup Akrab.
***
Di tempat yang sama Aluna tengah mencari keberadaan Soni. Tapi Soni mengajak bertemu di klub malam ini. Itu membuat Aluna takut pergi sendirian, jadi dia mengajak Dea dan Silvi juga untuk ikut bersamanya. Dia takut jika Soni akan macam-macam dengannya.
Sesampainya di klub mereka segera menemui Soni di sana. Soni agak kecewa karena Aluna membawa dayang nya ikut serta, yaitu Dea dan Silvi.
"Kenapa nyariin aku?!" tanya Soni.
"Nggak. Silvi mau magang, dia magang di tempat lo. Boleh?!" tanya Aluna dingin.
"Boleh. Dengan satu syarat," ucap Soni yang terlihat akan memanfaatkan keadaan lagi. "Kamu harus mau nge-dance bareng aku malam ini," ucap Soni dengan senyuman yang tersungging dari bibirnya.
Aluna agak bergidik mendengarnya. Tapi dia butuh Soni.
"Ok!" ucap Aluna tiba-tiba, itu membuat Dea dan Silvi saling pandang tidak percaya. Mereka tidak mau Aluna terbawa pancingan Soni.
"Luunnn!" seru Silvi. Aluna seakan paham dengan kekhawatiran Silvi.
"Jangan macam-macam. Kita cuman nge-dance. Nggak lebih. Kalo lo berani macam-macam. Lo akan tau apa yang bokap gue bisa lakuin sama, lo," ancam Aluna. Dea dan Silvi pun tenang, karena kelihatannya Aluna bisa menjaga dirinya.
Tiba-tiba Evan yang baru datang dari kamar mandi, segera duduk di samping mereka. Dia tidak menyadari keberadaan Aluna. Dea yang menyadari keberadaan Evan segera menyapa Evan.
"Hay, Evan. Lo di sini juga?!" tanya Dea ramah.
Evan sontak menoleh ke arah Dea. Dia kaget Aluna juga bersama mereka. Dan tampak tengah di rangkul Soni pinggangnya. Itu membuat Evan menatap tajam ke arah mereka berdua.
Aluna seakan menyadari ketidak sukaan Evan, dia malah semakin terlihat lengket dengan Soni. Soni kelihatannya paham, jika Aluna sedang memanasi Evan, dia semakin berani memeluk Aluna yang tengah memakai pakaian minim yang lumayan pendek itu.
Evan merasa sangat cemburu, melihat istrinya di gandeng laki-laki lain. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa jika Aluna sendiri yang memancing Soni. Apa lagi sekarang Aluna tengah membencinya.
Evan melampiaskan nya dengan minuman. Dea dan Silvi yang menyadari kemarahan Evan, tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya bisa menyaksikan perang dingin antara dua orang yang pernah saling mencintai itu.
Aluna tampak semakin menjadi-jadi. Dia membiarkan Soni memeluknya, itu membuat Evan jadi tidak karuan. Ingin rasanya dia menghajar Soni sekarang juga. Tapi dia berusaha menahan emosinya di hadapan Aluna. Dia tidak Ingin membuat Aluna menyadari reaksinya. Dia terus pura-pura tidak perduli dan tidak melihat, Evan terus menenggak minumannya dengan pura-pura tenang dan tidak apa-apa.
...***...
__ADS_1
Selesai dengan Soni. Aluna kembali bergabung dengan Dea dan Silvi yang masih bersama Evan, Evan tampak sudah separuh mabuk. Melihat Evan sepertinya terpancing, itu membuat Aluna senang. Soni berusaha mendekati Aluna lagi. Aluna segera menepis nya.
Evan yang sudah separuh mabuk itu, melihat ke sekitarnya dan segera memanggil salah seorang wanita dengan pakaian seksinya. Dia mengkode wanita tersebut untuk menghampirinya. Tidak butuh waktu lama, wanita itu pun segera datang menghampiri Evan.
Aluna kaget dengan reaksi tindakan Evan yang memanggil wanita panggilan itu.
"Kamu. Temenin aku malam ini," ucap Evan dengan mata yang terlihat sudah teler.
"Ok. Kalo pelanggan nya kayak kamu. Gratisan juga nggak papa," goda si wanita.
Aluna terlihat sangat gusar. Bagaimana mungkin, Evan memanggil wanita panggilan untuk menemaninya.
"1160. Itu nomor kamarku," ucap Evan.
Dia kelihatan memang sudah menyiapkan nya. Dia bahkan sudah memesan kamar.
Padahal kamar itu Evan pesan karena dia tau, dia akan mabuk malam ini. Dia tidak mau pulang dalam keadaan seperti itu, jadi dia sengaja memesan kamar hotel malam ini. Penyewaan wanita malam di luar rencananya, dia memesannya untuk membalas Aluna.
"Kamu kelihatannya udah mabuk. Gimana kalo aku antar kamu dulu," ucap nya.
"Nggak usah. Urus saja masalah kamu dulu. Nanti datang temui aku di kamar," ucap Evan lalu beranjak pergi dengan langkah yang sempoyongan.
Aluna semakin panik saat melihat Evan sudah pergi. Dea dan Silvi hanya bisa mematung. Soni tidak begitu peduli dengan yang Evan lakukan. Dia sibuk dengan minumannya.
"Kamu... Jangan temani laki-laki itu. Aku akan bayar 2 kali lipat dari bayaran dia," ucap Aluna pada wanita itu.
"Itu pelanggan terbaik saya. Biasanya saya dapat pejabat tua bangkotan atau pemuda kere yang bayarannya pas-pasan. Ini pelanggan VVIP saya. Selain tampan, ia juga kaya raya," ucap si wanita.
"10 kali lipat!" tawar Aluna lagi, dia benar-benar tidak mau wanita itu tidur dengan Evannya. Wanita itu tersenyum, kalau bayarannya segitu dia tidak punya alasan untuk menolak.
"Ok." Ucap si wanita setuju dan mengulurkan tangannya tanda sepakat, di sambut Aluna dengan senyum manisnya juga. Aluna pun segera ke ATM untuk mengambil uang. Dan segera membayar wanita itu.
Soni terlihat sudah mabuk, dia tidak akan menyadari keberadaan Aluna lagi. Aluna pun segera pergi meninggalkan Silvi dan Dea.
Dia menemui Evan di kamar hotelnya. Kamar itu tidak terkunci. Aluna bisa masuk dengan bebas. Tampak Evan yang mabuk tengah terbaring di ranjangnya dengan pakaian lengkapnya, dengan sepatu yang juga masih dikenakannya.
Aluna segera mematikan lampu kamar hingga gelap. Evan pun terbangun dan menyadari suasana sudah gelap gulita.
Dia merasakan seseorang datang menghampirinya. Dari kegelapan Evan melihat bayangannya. Dia datang menghampiri Evan. Evan yang walaupun mabuk itu tapi masih memiliki kesadaran.
__ADS_1
Wanita itu mulai menyentuhnya dan mendekatinya tanpa suara. Evan kaget saat mencium parfum yang sepertinya dia kenal. Deg... 'Aluna' batinnya. Dia coba memastikan itu sungguh Aluna atau bukan.
Dia mencoba memancing kebiasaan Aluna. Aluna akan segera bereaksi saat belakang lehernya di sentuh. Evan pun melakukan itu, benar saja, terdengar ******* kecil darinya.
Mengetahui itu adalah Aluna istrinya, Evan yang tadinya tidak berniat melakukannya, jadi berhasrat untuk segera melampiaskannya. Dia hanya berniat memanasi Aluna saja tadinya. Dia memanggil wanita itu ke kamarnya hanya untuk memberi wanita itu uang, lalu membiarkannya pergi. Tapi saat tahu yang datang adalah Aluna sendiri, dia tidak akan menolak.
Dia mencumbui Aluna yang sudah lama di rindukannya itu. Mereka melakukannya seperti 2 orang yang saling mencintai, bukan membenci. Mereka membiarkan hasrat kerinduan mereka terpuaskan malam ini.
Melupakan sejenak kebencian yang ada diantara mereka. Yang ada sekarang hanya hasrat untuk memiliki satu sama lain seutuhnya.
Aluna walau ia menikmatinya tapi dia juga merasa cemburu, karena mengingat yang Evan tau yang tengah bersamanya saat ini bukanlah dia. Tapi Evan melakukannya seolah tengah bersamanya.
'Kalau aku tidak menggantikan wanita itu kamu akan begini dengan wanita itu kan, Van? Kamu jahat,' batin Aluna yang menitikkan air matanya di tengah kebersamaan mereka sebagai suami istri.
Sedangkan Evan yang memang sudah mengetahui wanita ini adalah istrinya dia melakukannya dengan senang hati, bahkan sedikit lebih menggoda dan liar, karena dia ingin menghukum Aluna yang berani mempermainkannya tadi.
'Bayangkan jika aku begini dengan wanita itu,' batin Evan.
Evan sengaja meninggalkan bekas merah di leher Aluna. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama ini, tapi ia lakukan dengan sebuah tujuan nantinya. Lalu Evan tersenyum usil.
Akhirnya malam itu berakhir dengan penuh kehangatan untuk mereka berdua. Evan yang tidak mau kehilangan momen kebersamaannya dan Aluna malam ini, ia menjaga matanya agar tidak tertidur. Dia menyeret Aluna masuk ke pelukannya. Aluna yg sedari tadi tidak mengeluarkan suara, hanya diam atas semua perlakuan Evan. Hanya saja dia terus merasa sedikit cemburu, pasalnya yang Evan ketahui dia adalah wanita malam itu.
Membayangkan itu kembali, membuat Aluna sekali menyeka air matanya lagi. Sedangkan Evan terus memeluk Aluna sepanjang malam dengan tubuh polos mereka berdua, yang hanya ada selimut yang menutupi tubuhnya.
Saat itu tanpa sengaja Evan menyentuh dada Aluna yang terasa basah dan keras. Tadi dia tidak merasakan itu mungkin karena baru Aluna pompa, tapi setelah lama dadanya kembali memproduksi ASI lagi.
"ASI!" gumam Evan hampir tidak terdengar. Sudah 4 bulan berlalu Aluna masih memproduksi ASI, itu karena kebiasaan Aluna yang sering memompanya.
Evan sedih mendapati fakta itu. Pasti Aluna sangat tersiksa selama ini. Ini akan terus mengingatkannya pada bayi mereka. Evan mengusap lembut kepala Aluna dengan penuh kasih sayang. Dan mendekapnya hangat hingga ia tertidur.
...***...
Pagi jam 5 Aluna terbangun. Tubuhnya terasa pegal dan lemas, dia melihat Evan masih tertidur pulas di sampingnya, tangan Evan berada di bawah lehernya dan tangan yang satunya melingkar di perut Aluna. Aluna memindahkan tangan Evan dari tubuhnya dengan perlahan agar jangan sampai Evan terbangun.
Dengan keadaan kamar yang masih gelap, dia hanya mampu menangkap bayangan Evan saja di kegelapan kamar itu, ada seutas senyum di bibir Aluna. Rindunya pada Evan seakan terbayar semalam dengan kebersamaan mereka ini.
Setelah berhasil keluar dari pelukan Evan. Dia buru-buru bangun dan mengenakan pakaiannya kembali.Aluna kaget saat mendapati dadanya kosong. Biasanya ASI nya akan penuh saat dia bangun di pagi hari.
"Dia pasti nidurin aku lebih dari sekali," rutuk Aluna. "tapi, kenapa aku nggak nyadar, ya?!" lirih Aluna bingung. Dia juga melihat ada tanda merah di lehernya, sesuatu yang tidak pernah Evan lakukan dengannya selama ini. Dia menatap tajam kearah Evan yang tengah tertidur seraya memegang leher dan cermin bedaknya.
__ADS_1
"Tapi dia tau nggak yaa... Itu aku!" gumam Aluna khawatir. Kini ia sudah sampai di mobilnya dan tengah bersiap akan pulang "Ah bodo amat, yang penting dia nggak nidurin cewek panggilan Itu " dengus Aluna kesal, dan langsung tancap gas mobilnya.
BERSAMBUNG...