PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
TARI SI CHARMING


__ADS_3

Selesai mandi, Evan segera turun menemui tamunya. Ternyata seorang wanita. Tampak dia sedang duduk di kursi tamu. Dia tengah menatap ruangan tersebut dengan tatapan kagum. Rumah besar yang sangat bersih dan rapih. Jika seperti ini keadaan keluarga Evan seharusnya Evan tidak usah bersusah payah menjadi pegawai biasa di perusahaan. Dia punya modal untuk membuat lapangan kerja sendiri, pikirnya.



Tiba-tiba lamunan nya buyar tatkala Evan datang. Bau parfum Evan tercium semerbak karena dia yang baru selesai mandi. Dia menyukai bau parfum Evan yang lembut dan segar. Evan tersenyum kearahnya dan duduk di sofa di samping.


"Rumah kamu gede juga, ya. Ternyata kamu anak orang kaya," gumam nya kagum kepada Evan.


Evan hanya tertawa mendengarnya, dan si wanita tersenyum sambil menikmati minuman yang di sajikan oleh Minah tadi dengan mata yang terus menatap ke sekeliling ruang tamu yang cukup mewah dan besar itu.


"Gede tapi rumah orang tua apa yang perlu di banggakan?" ucap Evan.


"Tetap aja kamu ahli warisnya," ucapnya. Sekali lagi Evan tertawa mendengarnya.


"Eh, iya. Kenapa ni, Tar. Sampe jauh-jauh kesini?!" tanya Evan kepada Tari rekan kerjanya.


"Mau balikin barang-barang yang aku pinjam. Lumayan banyak. Tadi aku kumpulin semuanya dan aku ngerasa kayak klepto, tau nggak?" ucap nya seraya tertawa dan menyerahkan sebuah box kecil. Evan pun menerimanya dan membuka untuk melihat isi box tersebut.


"Apaan sih, barang ginian juga! Bikin repot aja balikinnya," ucap Evan tidak enak hati, karena merasa itu tidak penting untuk Tari kembalikan.


"Nggak kok. Sekalian gue mau nanya lo, kok tiba-tiba ngundurin diri, sih?! Belum juga setahun," ucapnya penasaran.


"Ada masalah pribadi sama Soni. Malas makan ati tiap hari sama dia. Mending cari kerjaan lain, kan?!" ucap Evan mengungkapkan alasannya walau tidak terlalu gamblang.


"Hmmmhhh..." gumam Tari seraya mengangguk dengan memanyunkan bibirnya dan mata yang tak henti-hentinya memandang ke sekelilingnya. Membuat Evan tersenyum seraya menautkan alisnya melihat expresi lucu Tari tersebut.


"Eh, piagam penghargaannya banyak banget," ucapnya seraya berjalan menunjuk sebuah lemari berisikan piagam milik Evan yang tersimpan dengan rapih di sebuah lemari kaca besar.

__ADS_1


Dia mencoba melihat lebih dekat piagam tersebut, walau tidak menyentuhnya. Dan tertera atas nama Evan Pratama secara keseluruhan. Dari piagam, medali hingga piala. Semua atas nama Evan. Tari membelalakkan matanya dengan mulut ternganga dan menatap Evan. Evan tersenyum ke arahnya. Pantas Evan begitu cerdas saat bekerja, ternyata dia memang pintar sejak kecil.


"Ini semua punya kamu, Van? Gila! Banyak banget," ungkap Tari kagum. Evan hanya tersenyum melihat reaksi Tari.


"Itu waktu sekolah sama kuliah dulu. Kalo sekarang udah nggak kayak gitu lagi. Kerja aja di pecat mulu," ucap Evan seperti mengatakan isi hatinya yang terdalam.


Sekarang ia menjadi sosok yang gagal. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan dulu. Dulu semua orang akan kenal Evan sebagai anak paling pandai, bukan pembuat masalah seperti sekarang. Anak yang selalu mendapatkan apa yang menjadi tujuannya, bukannya Evan yang gagal mempertahankan tujuannya. Dan Aluna adalah tujuan hidupnya yang gagal ia pertahankan.


"Aluna," gumam Evan pelan, hampir tidak terdengar dengan sebuah senyuman miris.


"Hmmm?! Kamu ngomong sesuatu?" tanya Tari yang hanya dapat mendengarkan suara bisik Evan tapi tidak jelas.


"Hmmm... Nggak, kok," kilah Evan seraya menggeleng dan tersenyum.


Tari adalah seorang wanita cantik, tapi memiliki kulit sedikit sawo matang, itu menambah kesan manis padanya. Dia wanita yang sangat gigih bekerja, dia selalu datang pagi saat bekerja. Dan selalu cakap dalam bekerja. Evan kagum dengan kepintaran Tari, dan juga kemandiriannya. Dia bertolak belakang dengan Aluna yang selalu butuh orang lain melakukan semua untuknya, dia tidak bisa hidup tanpa pelayanan orang lain. Sedangkan Tari melakukan semua nya sendirian. Dia juga wanita yang tangguh dan sangat percaya diri. Bahkan Tari terkesan tidak butuh siapapun untuk menyelesaikan masalahnya. Dia selalu bisa mengatasinya sendiri.



"Kamu di rumah sama siapa, Van?! Kok sepi kayaknya?" tanya Tari yang sudah kembali duduk di sofa di samping Evan.


"Ada mami, aku, kakak laki-laki aku mas Tama, papah, terus kakak perempuan aku Syahila, sekarang lagi di Singapura ikut suaminya. Tapi kalo suaminya lagi pergi kerja keluar negeri dalam jangka waktu yang lama, dia pulang kesini juga, anaknya di asrama, jadi sendirian kalo suaminya lagi pergi. Lumayan rame lah di rumah," terang Evan dengan seulas senyum ramah.


"Ooo... Lengkap juga ya anggota keluarga kamu di rumah. Kalo aku di rumah, ada bunda, tapi jarang di rumah, dia kan dokter. Pagi dinas di rumah sakit, sore sampe malam bukak praktek. Terus ayah juga bisnisman gitu. Jadi juga jarang di rumah. Di rumah cuman ada adek cowok, Nino. Itu pun kita ketemunya malam waktu dia udah selesai jam sekolah. Dia sekolahnya sampe sore di internasional school. Jadi seharian di sekolahan. Kita bisa ngumpulnya sabtu, minggu aja," terang Tari pula. "Kalo kakak kamu kerja dimana?!" tanya Tari seperti ingin tahu lebih banyak tentang Evan.


"Mas Tama di perusahaan sama papah. Mami cuman ibu rumah tangga aja. Tapi dia ada butik. Dia paling kontrol aja beberapa kali seminggu, selebihnya ada karyawannya yang di percayanya buat handle. Mami memang mau fokus sama keluarga, jadi butik itu cuman hobi dia aja," terang Evan lagi.


"Mami kamu itu ibu rumah tangga yang baik yaa. Nggak kayak bunda aku. Masak aja masih mending aku, dia nggak bisa masak. Kalo di rumah, kalo nggak aku yang ngerjain pasti nggak selesai. Dari bayar uang bulanan, air, listrik sama yang lain juga aku. Beli keperluan bulanan juga harus aku. Walau duitnya mereka, tapi tetap aja aku yang repot. Mereka tau nya cuman, kerja, cari duit. Udah beres," ucap Tari seraya terkekeh.

__ADS_1


Evan pun ikut tersenyum. Tari memang supel dan mudah akrab, mengobrol dengannya sangat nyaman.


Tanpa terasa hari sudah gelap, Tari ingin pamit pulang tapi di tahan ibu Evan.


"Jangan pulang dulu. Makan malam di sini aja," tawar Rima.


Karena tidak enak menolak, Tari pun ikut makan malam bersama mereka. Dia cepat membaur dengan anggota keluarga, mengobrol apa saja dengannya sangat nyaman. Dia pintar dan berwawasan luas, apalagi pembawaannya yang luwes. Itu membuat Tari tidak punya kesulitan untuk akrab dengan orang baru.


Selesai makan malam, Tari tanpa basa-basi langsung ke dapur membantu ibu Evan beres-beres. Sikap cekatan Tari sangat menarik hati Rima, diam-diam dia menyukai Tari.


"Kamu itu cekatan sekali ya di dapur," puji Rima di sela kegiatan mereka di dapur.


"Udah biasa di tinggal bunda di rumah, Tan. Jadi terbiasa apa-apa sendiri," terang Tari. Membuat ibu Evan semakin kagum padanya.


Selesai semua, Tari pun pamit pulang. Semua orang mengantar Tari hingga pintu depan untuk pulang. Setelah Tari pergi mereka berkumpul di ruang keluarga.


"Pah, Mami suka sama anak itu. Dia keliatan dewasa banget. Mami nyaman kalo sama dia. Berasa punya teman akrab," puji Rima.


Evan agak malas membahas perempuan, dia takut di arahkan yang tidak-tidak. Dia belum siap melepas Aluna. Walau sudah 6 bulan mereka pisah rumah, tapi tetap saja Evan belum bisa melupakannya. Evan pun segera ke kamarnya, sebelum pembicaraan itu sampai ke sana.


"Aku ngantuk. Mau ke kamar," ucap Evan seraya bangkit hendak pergi.


"Eh. Tunggu dulu. Kita ngobrol sebentar dulu," ucap Rima ingin menahan Evan.


"Aku ngantuk, Mih. Pengen istirahat. Besok aja di lanjutin," ucap Evan menghindar.


"Udah. Biar dia istirahat dulu. Ini hari yang berat buat dia. Dia baru berhenti kerja. Kehilangan banyak uang buat bayar dendanya," ucap Tama. Rima pun tidak bisa berbuat banyak jika semua orang sudah bilang begitu. Evan pun langsung menuju kamarnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2