
Keesokkan harinya, Aluna datang lagi bersama Evan. Dia menatap kegigihan Aluna untuk mendekatinya.
...(Rima ibunda Evan)...
Mereka tengah mencuci piring di belakang. Rima mendekati Aluna.
"Kenapa kamu gigih sekali nemuin mami. Padahal mami udah cuekin kamu," tanya Rima pelan. Aluna segera menghentikan kegiatannya. Aluna menatap Rima.
"Karena ... Aku dan Evan tidak punya ibu. Hanya mami yang kami punya. Evan nggak mau nikah kalo mami nggak restuin! Mih, restu mami segalanya untuk kami," ucap Aluna dengan senyum tulusnya. Sontak membuat tangis Rima pecah, dia segera menarik Aluna ke pelukan nya.
"Ibu macam apa mami ini. Maaf, nak. Maaf," ucap Rima dengan derai air mata. Aluna pun ikut terharu. Mereka menangis bersama.
"Mami nggak salah. Mami nggak niat buruk kok. Kami hanya nggak mau kehilangan mami," bisik Aluna. Rima melepas pelukannya. Dan menyeka air matanya yang terus membanjiri wajahnya.
"Mami akan restuin kalian berdua. Mami nggak berhak menghalangi kebahagiaan kalian berdua. Tanpa sadar, mami malah mendominasi hidup Evan, seharusnya mami tau. Kamu perempuan baik yang di pilih Evan. Kamu penurut sekali dengan Evan, seharusnya mami bersyukur punya menantu seperti ini," gumam Rima tulus. "Mami akan lamar kamu untuk Evan," ucap Rima yang membuat Aluna terbelalak tidak percaya, Aluna pun langsung pecah tangisnya karena terharu. Dia mendekap mulutnya, merasa ini seolah mimpi.
Dia berlari keluar dan menghambur ke pelukan Evan. Evan bingung, dia menatap maminya bingung dengan apa yang terjadi. Mami nya hanya tersenyum seraya terus menyeka air matanya. Wisnu segera menghampiri Rima dan memeluknya, Rima pun membalas pelukan suaminya.
"Makasih, Mi," bisik Wisnu seraya mencium kepala istrinya. Rima hanya mengangguk dengan terharu.
Mereka mengobrol dengan akrab hari itu. Aluna terlihat sangat manja pada Evan. Sampai kapanpun Aluna akan tetap bergantung pada Evan. Rima hanya tersenyum melihat kemesraan Evan dan Aluna, sampai kapanpun hanya Aluna yang bisa membuat Evan menjadi laki-laki hangat. Yang mau memeluk wanita di hadapan semua orang, yang mau di panggilnya dengan mesra di hadapan banyak orang. Hanya Aluna yang mampu lakukan itu pada Evan.
"Eh, Lun. Besok kamu temenin mami belanja, ya. Mami mau belanja bulanan. Kalo ngajak Evan hari libur kelamaan bangunnya dia kalo pagi. Papa mau pergi sama temen golf nya," Pinta Rima.
"Boleh, Mi. Jam berapa biar Luna jemput besok," seru Aluna dengan senang hati. Evan hanya tersenyum melihat Aluna bisa akrab dengan ibunya lagi.
Setelah larut Aluna dan Evan pun pulang.
"Aku tidur di tempat kamu, ya!" seru Aluna.
__ADS_1
"Udah deh jangan mancing," ucap Evan takut kebablasan.
"Biasanya kamu tuh laki-laki yang paling kuat imannya," Ucap Aluna menggoda.
"Nggak?" seru Evan menolak keras. "Lagian besokkan kamu mau pergi sama mami. Kalo kamu pergi pakek mobil aku, terus ketahuan mami kalo kita tidur bareng, walau nggak ngapa-ngapain. Siapa yang percaya coba?" Evan meragukan asumsi orang-orang "Mami bisa marah lagi," Evan menjelaskan. Aluna pun baru sadar dengan hal itu.
"Gini ya rasanya di awasin ibu," gumam Aluna pada Evan. Evan menatap Aluna dan mengusap rambutnya dengan senyum yang dalam.
"Udah. Jangan yang nggak-nggak. Sebentar lagi kita akan pakai cincin ini lagi," ucap Evan seraya mengeluarkan cincin miliknya dan mengenakannya. Aluna tersenyum melihatnya.
"Kamu maksudnya lamar aku atau apa, nih?! Tapi kok B aja gitu!" seru Aluna meremehkan gaya lamaran Evan.
"Aku cuman bilang aja, siapa yang ngelamar," ucap Evan menghindar dan segera memacu mobilnya. Aluna masih tidak percaya kalau Evan sama sekali tidak bisa bersikap romantis. Haaahhh... Sepertinya Evan hanya cerdas di materi pembelajaran, tidak untuk hal yang romance. Tapi tetap saja Aluna menyukai Evan yang seperti itu. Itu jauh lebih baik, dari pada laki-laki yang sok manis.
Dia memeluk lengan Evan dengan manja. Dan memandang jari Evan yang sudah melingkar cincin pernikahan mereka dulu. Evan hanya tersenyum menyadari tindakkan konyolnya.
Tanpa sadar Aluna pun sudah sampai di rumahnya, mereka di sambut Richard. Aluna segera berlari dengan manja ke pelukan Richard.
Aluna menceritakan kejadian di rumah Evan tadi. Richard hanya tertawa mendengarnya. Dengan gaya berlebihan Aluna, Richard menikmati cerita putri tunggalnya yang tampak sangat bahagia itu.
***
Keesokan harinya Aluna menjemput Rima untuk pergi berbelanja. Dan mereka bak seorang putri dan ibunya. Aluna sangat menikmati itu. Seolah-olah dia memiliki ibu kembali.
Mereka berbelanja banyak untuk mengundang Richard makan malam, serta Tama dan istrinya.
"Sekarang serly lagi hamil lo, Lun. Mami nggak sabar pengen gendong cucu," cerita Rima dengan wajah berbinar.
"Oya? Berapa bulan Mi?" tanya Aluna antusias.
"Udah masuk 6 bulan. Katanya sih cewek," ucap Rima lagi. Mereka terus bercerita banyak hal berdua. Rima mulai menyukai sifat Aluna yang manja dan apa adanya sangat nyaman baginya. Pantasan Evan sangat menyukai Aluna. Aluna selain manja, dia juga sangat polos. Dia tidak punya trik dan intrik, mirip seperti Evan. Jika Evan dalam versi kerasnya maka Aluna adalah versi manjanya. Rima mulai berfikir, bahwa Aluna ini mudah di manfaatkan orang, pantas lah dia berjodoh dengan Evan yang tidak mudah di tipu orang. Mungkin takdir menjodohkan mereka untuk saling melindungi. Ini yang di sebut jodoh itu harus saling melengkapi. Bukan tentang kelebihan, tapi tentang kecocokkan.
__ADS_1
"Eh, Mi. Luna mau beli kosmetik bentar, ya," ucap Aluna lalu meninggalkan mertuanya di sebuah bangku di mall, sedangkan Aluna segera menuju sebuah toko langganannya di mall tersebut.
Disana Aluna memilih kosmetik langganannya. Tiba-tiba seseorang menghampiri Aluna.
"Eh, Kamu Luna!" sapanya agak sinis. Aluna menatap mereka yang bertiga itu. Mereka adalah geng Alice dulunya. Sebelum keluarga Alice bangkrut, mereka sangat akrab dulunya. Mereka memang merasa tersaingi dengan Aluna yang merupakan anak Richard Brahmana, Tapi Aluna di anggap kolot dan norak karena tidak pernah mau jalan-jalan atau sekedar berpacaran. Mereka selalu memandang lemah Aluna yang lugu, yang selalu di lindungi Richard.
"Tampilan kamu makin parah aja, ya. Apa daddy kamu udah bangkrut sekarang?!" sindir mereka.
Dari ke jauhan Rima memperhatikan itu, Aluna tampak sedang di rundung oleh 3 orang wanita. Rima pun segera menghampirinya.
"Eh. Ada apa ini?!" ucap Rima membela Aluna.
"Mih!" seru Aluna.
"Kenapa ini?!" tanya Rima.
"Oo ... Udah ada pengawal sekarang?! Kirain cuman Dea Silvi aja temen kamu. Sanggup sewa pengawal, berarti Richard Brahmana belum bangkrut, ya," seru mereka.
"Ooo ... Seperti ini kelakuan anak Pak Wibisono, ya! Saya Rima Istri pak Wisnu. Tau?! Dari pada kamu ngurusin Menantu saya. Lebih baik kamu urus ibu kamu yang kabur sama brondong kere itu. Hidup kamu saja berantakan, malah sok ngomentarin hidup orang. Terus kamu juga, bukannya kakak kamu baru lepas dari penjara karena kasus narkoba. Orang tua kamu ngapain aja sampe anaknya liar semua kayak gini. Apa perlu saya jabar lagi seperti apa ke bobrokannya hidup keluarga kalian bertiga. HAH!" Ancam Rima membuat mereka terdiam.
"Pergi sekarang. PERGI!" Usir Rima pada mereka bertiga. Mereka pun pergi. Aluna hanya terdiam melongo mengetahui bahwa mertuanya tahu banyak tentang gosip.
"Mami kok tau semuanya, sih?" ucap Aluna tidak percaya.
"Itu lah manfaat nya ikut arisan ibuk-ibuk. Jadi nya bisa up to date terus mami sama berita terkini!" ucap Rima puas setelah menyerang musuh Aluna. Aluna tersenyum dan memeluk manja lengan mertuanya itu.
"Ternyata gini ya rasanya di bela seorang ibu. Dulu mami Aluna nggak pernah bisa belain Luna karena sakit," ucap Aluna girang seraya memeluk mertuanya dan juga tersirat guratan kesedihan.
"udah, jangan sedih. Sekarang ada mami yang akan jadi mami kamu sama Evan," ucap Rima tulus. Aluna pun memeluk erat calon mertuanya itu. Rima pun menyambutnya dengan hangat.
BERSAMBUNG...
__ADS_1