
Sesampainya di ruangan kerjanya, Evan terpana dengan ruangan berdesain mewah tersebut. Evan menelusuri nya dengan tatapan takjub. Dia belum pernah mendapatkan ruang kerja yang mewah seperti itu.
(Ruang kerja Evan Pratama)
Evan berjalan ke jendela kaca tersebut. tampak pemandangan lepas dari atas sana. Ia berdiri di ujung jendela kaca dengan pemandangan yang cukup mengerikan terlihat, dimana semua tampak kecil di hadapannya saat ini karena tingginya tempat ia berdiri sekarang, ia tengah berdiri dari lantai 20 gedung tersebut.
Richard menghampirinya dan menepuk bahunya pelan. Evan kaget dan menoleh kearahnya. Tampak Richard dengan mengulum senyum menatap padanya.
"Bagaimana? Kamu suka ruangan ini? Daddy sudah desain khusus untuk kamu. Biar kamu betah kerja di sini," ungkap Richard.
"Ini lebih dari cukup, Dad. Tapi bagaimana kalo aku nggak sehebat yang Daddy fikirkan. Nanti, Daddy akan kecewa," ungkap Evan.
"Setidaknya, kamu mau berusaha. Dan semua orang di sini siap mengajari kamu. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Daddy akan dampingi kamu juga," ucap Richard menjawab kekhawatiran Evan. Evan tersenyum, dia bisa sedikit tenang mendengar penjelasan Richard barusan.
***
Di sisi lain. Tampak Aluna dan dua teman setianya sedang berada di kampus. Aluna yang cantik, banyak di taksir oleh laki-laki. Terutama pemuda bernama Morris. Dia terus mendekati Aluna, walaupun terus menerima penolakan dari Aluna. Aluna selalu beralasan, bahwa dia punya suami dan dia tidak ingin berselingkuh. Tapi Morris tetap tidak menyerah. Karena dia tahu Aluna anak seorang konglomerat.
"Aluna!" panggilnya.
Membuat langkah Aluna terhenti, dia menoleh ke sumber suara. Tampak Morris sedang berlari kearahnya. Aluna memperlihatkan expresi tidak sukanya.
"Aku mau ngomong, Lun!"
Morris memang mahasiswa asal Indonesia yang juga kuliah di Universitas yang sama dengan Aluna. Dia sekelas dengan Dea. Dia sering melihat Aluna bersama Dea, jadi karena itu dia kenal dengan Aluna. Dea juga lah yang mengatakan kepada Morris bahwa Aluna anak seorang konglomerat Richard Brahmana. Jadi karena itu dia gigih mengejar Aluna.
"Aku tau kamu sudah bercerai, kan? Jadi kamu nggak punya alasan lagi untuk nolak aku," ucap Morris.
"Aku nolak kamu, karna aku nggak suka sama kamu. Jadi berhenti ganggu aku. Aku belum cerai," ucap Aluna yang terdengar seperti mengucapkan harapannya, harapan untuk bisa bersama Evan lagi. Dea dan Silvi hanya tertawa mendengar nya, walau berusaha mereka sembunyikan.
"Tuh, kan. Teman-teman kamu aja nggak percaya itu," ucap Morris yang mendengar tawa Dea dan Silvi. Aluna membelalakkan matanya pada Dea dan Silvi. Mereka pun segera berhenti tertawa.
"Udah! Aku nggak suka sama kamu. Jadi, menyingkirlah," ucap Aluna kasar seraya pergi meninggalkan Morris. Morris menatap kepergian Aluna.
***
__ADS_1
Evan mulai serius mempelajari tentang bisnis dan perusahaan tersebut. Evan yang memang cerdas membuat dia mudah untuk di ajari. Tampak Hans kaki tangan ayah Aluna cukup puas dengan kerja Evan.
"Anak ini cepat belajarnya, dia juga gigih dan pekerja keras. Sayang dia harus bercerai dengan anak pak Richard. Padahal dia cukup pantas dengan anak pak Richard. Dia orang yang pas buat kerajaan bisnis pak Richard," ungkap Hans kepada sekretaris nya.
"Namanya juga nikah muda, pak. Apa lagi waktu itu anak mereka juga baru meninggal, mungkin banyak tekanan," ucap Si sekretaris dan di jawab anggukan setuju oleh pak Hans.
***
Sepulang dari kerja Evan pulang sebentar lalu pergi ke tempat Brian. Sebelum pergi Evan izin dengan ibunya.
"Anak itu nggak pakek dendam kayaknya... Padahal Brian pernah celakain dia, tapi dia malah akrab dengan Brian... " Gumam ibunya.
"Itu namanya orang tulus, Mih. Yang udah, ya udah. Nggak perlu di bahas lagi. Orang kayak Evan itu banyak yang suka. Makanya, walau cuek, dia punya banyak temen," ucap Tama yang kebetulan mendengar ucapan ibunya.
"Mami cuman takut Brian bawak pengaruh buruk buat Evan. Kamu kan tau gimana kehidupan Brian," ucap ibunya khawatir.
"Nggak lah, Mih. Itu cuman rumor aja. Dia emang punya klub, tapi kan belum tentu dia orang jahat," ucap Tama.
"Evan lagian ngapain ke sana!" rutuk ibunya kurang suka.
***
Di klub, Evan memang sengaja datang awal. Dia tidak berniat untuk melihat penari striptis atau kehebohan para DJ. Tapi karena dia ingin menemui Brian. Brian memang kalau malam sering di sana, kecuali saat dia bersama Alice. Maka dia tidak akan pernah mau membawa Alice ke sana.
"Hei!" Sapa Brian seraya melakukan salam ala anak muda itu dan di sambut Evan.
"Udah rame. Ke tempat lain, yuk!" ucap Evan.
"Ke kafe sebelah aja. Mereka bukak 24 jam," ucap Anto.
Mereka bertiga pun pergi dari sana. Sesampainya di sana, Mereka memesan kopi.
"Gimana kabar nya tadi siang?!" tanya Brian.
"O, iya. Temen kita ini udah mau jadi CEO muda, ya!" goda Anto.
"Nggak lah, gue karyawan di sana," ucap Evan merendah.
__ADS_1
"Tapi Pak Richard siapin lo jadi pengganti dia. Sekarang lo wakilnya. Cuman satu jenjang lagi jadi ketuanya," ucap Anto seraya melirik Brian, yang di sambut tawa oleh Brian.
"Oya. Denger-denger Aluna sekarang rajin banget di sana. Tau nggak lo?! Sekarang dia udah bisa masak, udah bisa ngelakuin semua sendirian. Kayaknya dia nyiapin diri buat lo, deh," ucap Brian yang membuat Evan terdiam. Dia masih malas membahas Aluna.
"Udah lah jangan ngomongin dia. Nggak enak suasananya!" ucap Evan malas.
"Lo pikir ini cerita horor," ucap Anto seraya terkekeh bersama Brian. Mereka terus menggoda Evan dengan membahas Aluna. Dan Evan hanya bisa diam yang membuat Anto dan Brian makin menertawakannya.
***
Jam 11 malam Evan pulang ke rumah. Rumah sudah terlihat sepi dan gelap. Pertanda penghuninya sudah tidur. Evan mencoba mengetuk beberapa kali, hingga Minah terbangun dan membukakan pintunya.
"Mbak belum tidur?!" tanya Evan.
"Belum. Habis cuci piring tadi. Tadi ada keluarga cewek yang pernah kesini itu, yang antar barang kamu itu, orang nya hitam manis gitu... " Ucap Minah memperagakan. Membuat Evan tertawa melihat.
"Ooo... Tari?!" tebak Evan.
"Iya. Dia ke sini sama ibuk nya. Ibuknya akrab ya sama Mami Evan?!" ungkap Minah.
"Mereka temenan, Mbak. Ngapain mereka ke sini?!" tanya Evan.
"Kurang jelas juga, tapi kalo nggak salah, dia ngundang mau bukak toko kuenya katanya hari minggu ini. Tadi dia ajak mbak Minah juga!" ucap nya medok.
"Ngapain ngundang gituan ke sini langsung?! Telfon apa WA juga bisa," ucap Evan.
"Ada niatan mungkin," goda Minah.
"Niatan apaan?!" ucap Evan tidak mengerti.
"Niatan jodohin Evan," ucap Minah menggoda.
"Aaahhh ... Apaan sih! Nggak mikirin itu sekarang," ucap Evan yang langsung pergi.
" Hmmmhh... Resiko punya muka cakep itu namanya. Nganggur dikit langsung di samber," gumam Minah seraya menutup pintu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1