PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
AYO KITA AKHIRI INI SEGERA


__ADS_3

Keesokkan harinya Rima menemui Tari, perihal keputusan Tari yang memutuskan pertunangannya dengan Evan. Nindi menelpon Rima untuk menyelesaikannya baik-baik. Mereka bertemu di rumah Tari.


"Maaf, Ri. Ini keputusan Tari. Mungkin mereka memang tidak cocok. Evan sudah punya pilihan lain. Biar lah pertunangan mereka sampai di sini saja," ucap Nindi hati-hati. "Tidak ada yang salah. Mungkin mereka memang tidak berjodoh. Jadi kamu jangan salahin Evan juga, ya. Kita kan sudah sepakat untuk tidak paksa mereka," ucap Nindi bijak.


"Maaf, Nind. Aku jadi nggak enak dengan kelakuan Evan," ucap Rima merasa malu pada sahabatnya itu.


"Tidak, Ri. Evan tidak salah. Kamu jangan salahin dia. Dia memang mencintai istrinya. Dia memang tidak pernah bisa melupakannya, mereka masih saling menyayanginya. Mungkin kita yang salah sudah memaksakan kehendak kita sama dia," ucap Nindi berusaha untuk membuat Rima tidak merasa bersalah. "Jadi aku harap kamu jangan salahin Evan juga, ya!" ucap Nindi bijak.


Rima terdiam dan tertunduk, dia memejamkan matanya sesaat sambil menarik nafas dalam. Dia masih menyesali keputusan Evan. Seandainya saja Evan bersedia menerima Tari, maka dia akan mendapatkan keluarga yang sempurna. Entah apa yang membuat Evan sangat mencintai Aluna sampai sebegitunya.


Sedangkan Tari dari tadi hanya diam. Dia melepaskan cincin pertunangannya dan memberikannya pada Rima. Rima melihat gurat kecewa yang sangat jelas dari Tari. Walau pun Tari berusaha bersikap sewajar mungkin.


Rima mengambil cincin tersebut dengan perasaan sedih. Dia merasa bersalah seolah sudah mempermainkan hidup wanita cantik ini. Tentu ini tidak mudah untuk di hadapi Tari, belum lagi lingkungan sosial mereka. Entah apa yang akan orang-orang katakan, melihat Evan sekarang memilih mantan istrinya dan meninggalkan Tari begitu saja.


"Maafin tante ya, Tari!" ucap Rima penuh penyesalan.


"Nggak papa tante. Tari nggak papa, kok," ucap Tari dengan seulas senyuman mencoba meyakini Rima.


...***...


Setelah pulang dari tempat Tari, Rima langsung menelpon Evan dia meminta Evan menemuinya di rumah malam ini. Evan bingung kenapa ibunya tiba-tiba menelpon untuk ke rumah.


"Ada apa, Van?" tanya Aluna khawatir, karena Evan terlihat aneh saat dia selesai menerima telpon.


"Mami nelpon mintak aku ke rumah," ucap Evan.


"Apa ada hubungannya sama aku nemuin Tari kemaren?!" gumam Aluna mulai merasa bersalah. Evan menatap Aluna.


"Kamu bilang apa?!" tanya Evan penasaran.


"Aku ... Bilang ... Aku akan perjuangkan kamu. Aku nggak bisa lepasin kamu. Aku bilang gitu sama Tari kemaren," ucap Aluna ragu takut Evan marah. Ternyata Evan tersenyum.


"Dia harus tau, kan! terimakasih. Kamu mau bersama aku," ucap Evan lembut dan tulus.


Aluna tersenyum, Evan berdiri dan memeluk Aluna erat. Dia berbisik.


"Ayo kita mulai dari awal lagi," bisik Evan membuat Aluna terharu dan memeluk Evan erat pula.

__ADS_1


Evan melepas pelukannya dan menatap Aluna.


"Aku baru sadar. Aku nggak butuh kamu merubah apapun dalam diri kamu. Aku menyukai kamu apa adanya. Kelemahan kamu membuat Aku berarti di hadapan kamu. Jadi ... Tetap lah menjadi Aluna yang dulu." Aluna tersenyum bahagia mendengarnya. "Tapi ... Kalo marah jangan buang-buang barang lagi. Terus jangan suka deket sama cowok lain. Apa lagi sampe nyentuh. Aku nggak suka. Dan jangan suka cerita masalah kita sama Dea dan Silvi, mereka itu nggak bisa di percaya. Biar itu jadi rahasia kita berdua saja. Cukup aku yang tau semuanya. Orang lain nggak perlu tau," ucap Evan dan tersenyum. Aluna pun tersenyum.


"Kamu kalo lagi marah juga jangan pergi ninggalin aku. Aku mau kok dengerin kamu ngomel," bisik Aluna manja.


Evan tersenyum dan mengusap kepala Aluna dengan gemas. "Aku kan selalu nurut sama kamu," ucap Aluna lagi. Evan hanya tertawa mendengarnya dan mencium lembut kening Aluna.


...***...


Sepulang kerja Evan langsung menemui ibunya di kediamannya. Rima sudah menunggunya. Di rumah.


"Tadi Tari balikin cincin tunangannya. Ada apa Evan?" tanya ibunya.


"Aku mau sama Aluna, Mih! Nggak ada yang bisa gantiin dia. Kalo mami paksa aku sama Tari. Aku nggak bisa," ucap Evan terus terang.


"Apa hebatnya perempuan itu di banding dengan Tari? Kamu lupa bagaimana kamu perjuangkan dia lalu dia sia-siain kamu? Kamu kejar dia dan pertahankan dia mati-matian dan dia balas khianatin kamu. Mami nggak akan lupa itu," ucap Rima kesal lalu pergi ke kamarnya. Evan hanya diam. Sepertinya ini tidak mudah untuk Aluna.


...***...


"Bisa nggak kamu kesini?" ucap Evan.


"Kenapa?" tanya Aluna khawatir dari seberang.


"Aku lagi pusing. Mami marah Tari batalin pertunangan. Kamu kesini, ya," ucap Evan yang sedang butuh seseorang menemaninya. Dia tengah tidur di sofa ruang keluarga di Apartemen nya dengan tangan yang menekan keningnya.


"Iya. Aku kesana sekarang," jawab Aluna dari seberang.


Tidak lama terdengar pintu di bel, Evan segera bangkit dan membukanya dengan cepat. Ternyata Aluna. Dia segera berhamburan ke pelukan Evan. Evan mendekapnya dengan hangat, sesaat Evan merasa ketenangan.


"Kenapa?! Hemmm ... Di marahin maminya?" tanya Aluna seolah bertanya kepada anak kecil.


Evan malah mengangguk dengan wajah lucunya. Itu membuat Aluna tertawa melihatnya.


"Dari pada kamu suntuk di rumah, kita pergi jalan-jalan, yuk," ajak Aluna. "Ada pasar malam dekat sini, mumpung malam besok libur. Kita jalan-jalan sepuasnya malam ini," ucap Aluna, Evan tersenyum dan untuk kesekian kalinya ia mendekap kekasihnya itu.


"Aluna ku!" bisik Evan lembut. Aluna tersenyum bahagia mendengar ucapan Evan itu.

__ADS_1


"Iya, aku milik kamu," ucap Aluna dan kembali memeluk Evan.


Mereka pun bersiap untuk pergi.


Mereka pergi dengan gembira. Melepaskan semua beban di hati mereka, seolah dunia ini milik mereka. Sesaat Evan merasakan bebannya hilang semua sekarang. Yang ada hanya kehangatan dan kebahagiaan atas ke bersamaan mereka.


Mereka terus berjalan bergandengan tangan sepanjang mereka menyusuri pasar malam, mengikuti permainan yang ada di sana dengan tawa lepas dan perasaan bahagia. Walau sering kali Evan gagal mendapatkan hadiah, Aluna tetap senang. Mereka sangat menikmatinya. Evan belum pernah merasakan jiwanya selepas ini. Mereka berkencan selayaknya remaja yang yang tengah jatuh cinta. Berteriak, tertawa, bergandengan tangan, tanpa perduli dengan tatapan aneh orang-orang di sekitar mereka. Hingga mereka lelah berkeliling dan segera mencari tempat beristirahat.



"Kamu senang sekarang?!" tanya Aluna dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibir manisnya. Evan mengangguk.


"Asal itu sama kamu. Rasanya mau aku tukar dengan apapun di dunia ini," ucap Evan manis.


Aluna kembali melihat senyum itu lagi dari Evan. Senyum yang selalu dia rindukan. Aluna pun bersandar dengan manja di bahu Evan dan menatap langit yang penuh bintang berdua.


"Pasti anak kita ada diantara bintang itu kan, Van?" ucap Aluna.


Seketika membuat Evan terdiam dan ikut memandang bintang yang berkelap-kelip di langit saat itu juga dia tersenyum dan memandang Aluna.


"Kamu kangen dia?" tanya Evan.


"Hmmmm... Selalu. Aku selalu ingat dia," ucap Aluna mengusap air matanya yang seketika menetes saat dia kembali mengingat bayinya. Dia tidak tahan dan terisak di dekapan Evan. Evan mengusap kepala Aluna lembut, untuk sesaat mereka kembali larut dengan duka mereka. Mereka berpelukan cukup lama. Walaupun Evan tidak menangis tapi dia juga merasakan sakit yang sama dengan Aluna.


"Sudah lah. Ikhlaskan saja dia. Itu harga yang harus kita bayar atas kesalahan kita," ucap Evan yang membuat Aluna semakin keras menangisnya . Evan jadi panik karena orang-orang mulai melihat ke arah mereka.


"Sudah. Ntar aku di tuduh ngapa-ngapain kamu lagi," ucap Evan panik karena merasa mulai menjadi pusat perhatian.


Akhirnya mereka putuskan untuk pulang. Malam ini mereka habiskan dengan sangat bahagia.


...***...


Selesai mengantar Aluna, Evan pun permisi pada Richard. Aluna memeluk ayahnya seraya berjalan masuk rumah.


"Kayaknya rencana daddy berhasil, nih. Harusnya daddy dapat lebih dari sekedar peluk manja putri kesayangan Daddy ini" goda Richard seraya mencubit hidung mancung putri kesayangan samata wayang nya itu.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2