
Malam itu Richard mengundang Evan ke rumahnya. Evan pun di minta langsung ke ruang kerja Richard. Karena sudah biasa di rumah itu Evan pun langsung ke ruang kerja Richard. Saat ke ruang kerja Richard, Evan melihat pintu kamar Aluna tengah terbuka. Dia melihat sekilas sambil terus berjalan. Itu membawa kenangannya bersama Aluna sekilas kembali. Samar-samar dia kembali mengingat keceriaan Aluna, suara tawa Aluna saat bersamanya dulu. Ada senyum tipis saat dia mengingat itu kembali. Sesaat Evan kembali tersadar akan untuk apa dia ke rumah itu. Ia pun terus melanjutkan perjalanannya menuju ruangan Richard.
Tidak lama Evan sampai di depan ruangan Richard, pintu berukuran cukup besar itu Evan ketuk beberapa ketukan hingga terdengar sautan seseorang dari dalam dengan suara berat khas Richard. Evan pun segera masuk ke ruangan kerja yang sangat luas dan mewah itu dengan langkah perlahan dan sedikit sungkan.
Di sana semua tertata rapi dan bersih. Ruang kerja yang sangat berkelas khas gaya Richard. Sofa kulit yang mahal, meja kerja kayu jati yang kokoh. Gaya elegan yang sangat berkelas.
"Eh kamu sudah datang?" sapa Richard langsung bangkit dari meja kerjanya dan pindah ke sofa yang juga mempersilahkan Evan duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya itu bersamanya. Evan pun segera mengikuti langkah Richard untuk duduk setelah di persilahkan.
Setelah mereka sama-sama duduk Richard mulai dengan obrolannya dengan basa-basi ringan sebelum ia mulai mengatakan maksud dan tujuannya mengundang Evan ke kediaman nya. Richard memang sangatlah baik terhadap Evan. Sejak perceraian Evan dan Aluna, Richard sama sekali tidak menunjukkan perubahan sikapnya kepada Evan. Dia masih selalu menganggap Evan sebagai menantu kesayangannya. Begitulah Richard, susah untuk menyukai orang lain tapi jika sudah suka dia juga susah untuk melupakannya.
"Gini ... Daddy pengen kamu kerja di perusahaan Daddy. Jadi sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat. Lagian kamu kan sudah tidak bekerja lagi. Senin depan kamu datang ke perusahaan Daddy. Tapi ke sini dulu. Kita pergi sama-sama. Daddy mau kamu jadi wakil Daddy. Nanti kalo kamu sudah paham betul dengan perusahaan, baru kamu ambil alih perusahaan itu," ucap Richard mulai mengutarakan maksud dan tujuannya membuat Evan kaget dan terdiam beberapa saat. Mengingat dia bukanlah suami Aluna lagi. Evan menatap serius Richard. Terus terang dia tidak menyangka jika Richard akan mengatakan itu.
"Tapi kan, Dad ....," Ucap Evan dengan mimik ragu dan sulit untuk menjawab tawaran Richard secara langsung.
"Daddy tau kamu sama Aluna sudah bercerai. Tapi ini pekerjaan profesional, Van. Daddy mau mempekerjakan orang-orang yang profesional seperti kamu juga. Kamu mampu karena itu daddy tawarkan kamu," ucap Richard seraya menghisap cerutu mahalnya.
Evan terdiam beberapa saat. Dia belum bisa mengambil keputusan sekarang. Keputusan Richard ini cukup mengagetkannya.
"Nanti aku tanyain sama papa dulu, Dad," ucap Evan masih ragu.
"Ok ... Daddy tunggu 3 hari keputusan kamu," ucap Richard memberi waktu Evan untuk mempertimbangkannya. "Asal kamu tau, Daddy tertarik merekrut kamu, bukan karena Aluna. Tapi karena Daddy tau kamu itu berbakat. Kamu gigih, tekun, fokus orangnya dalam bekerja. Jadi cocok kamu gantiin Daddy. Apa lagi sifat bertanggung jawab kamu itu yang paling daddy suka. Kalau kerja itu kita harus punya mental yang kuat kayak kamu gini. Makanya daddy tertarik mau rekrut kamu," tambah Richard mencoba meyakini Evan. Evan tersenyum tipis seraya mengangguk.
...***...
Setelah menemui Richard Evan langsung ke tempat Brian. Dia menemui Brian di apartemennya langsung. Di sana juga ada Alice yang sedang bersama Brian.
__ADS_1
"Menurut kamu gimana?" tanya Evan kepada Brian, dia meminta pertimbangan Brian sebagai orang yang sudah sangat berpengalaman dalam hal ini.
"Menurut aku pak Richard itu orang profesional, dia tau apa yang dia lakukan. Dia itu terkenal keras dan tegas, dia nggak akan sembarangan dalam ambil keputusan. Dia juga minta kamu langsung, itu artinya dia lihat potensi besar ada dalam diri kamu. Jadi nggak ada salah nya kalo di terima," ucap Brian.
"Iya, Van. Om Richard itu kalo dalam bisnis nggak pernah mau sembarangan. Terima saja. Dari pada kamu kerja sama orang lain, belum tentu juga mereka bisa ngasih kamu kesempatan kayak gini," ucap Alice ikut mendukung Evan bekerja bersama Richard. Evan tampak mulai berfikir. tidak lama Sushi pesanan mereka pun datang membuat pembicaraan mereka terhenti sesaat. Alice segera menyajikannya dan mereka memakannya bersama.
Sekarang Alice dan Brian memang belum menikah, mereka ingin menunggu hingga ibunda Alice benar-benar sembuh dan adik Alice selesai wisuda baru mereka akan menikah. Namun hubungan mereka cukup serius. Itu terlihat dari Brian yang mulai mempersiapkan segala hal untuk mereka berdua di masa depan. Termasuk rencana mereka membangun rumah yang sekarang dalam proses pengerjaan.
"Apa sih yang bikin kamu ragu?" tanya Brian kembali pada pembicaraan mereka tadi.
" Aluna. Gue takut ... Nggak tau lah ... Yang jelas ini ada hubungannya dengan dia. Gue takut nanti bisa berpengaruh ke kerjaan di masa akan datang. Apa lagi kalo dia sudah nikah. Apa suaminya nggak keberatan gue yang notabene nya mantan suaminya ngurusin bisnisnya dia, gitu?!" ucap Evan sambil memainkan sushi nya sebelum ia makan. Lalu ia mengusap wajahnya sendiri.
"Menurut aku sih... Selama kamu profesional, nggak akan ada masalah. Kecuali kalian masih baperan. Itu baru masalah," ucap Alice sambil memakan Sushi nya.
"Ya, Kalo di liat gelagatnya sih. Masih baperan hahaha... " tawa Brian, membuat Evan kesal dan melemparnya dengan bungkus Sushi serta tendangan kecil. Brian dan Alice hanya tertawa melihat reaksi Evan.
Evan memang tipikal orang yang berjiwa lepas, tidak suka mendendam. Karena itu dia tidak pernah mengungkit masalahnya dengan Brian di masa lalu, hingga mereka bisa berteman dengan baik saat ini. Kecuali yang di lakukan ayah dan ibunya selama bertahun-tahun, itu memang menyisakan trauma bagi Evan. Hingga saat ini pun sebenarnya dia tidak begitu nyaman di rumah itu. Tapi nuraninya sangat menyayangi ayahnya, yang membuat dia bertahan di rumahnya.
Sesampainya di rumah dia di sambut Rima.
"Sudah makan!?" tanya Rima ramah.
"Udah tadi di tempat Brian, makan Sushi. Jadi udah kenyang banget," ucap Evan seraya memegang perutnya yang terasa sangat bega karena kekenyangan.
Rima sekarang sangat perhatian pada Evan. Dia tau sekarang Evan sedang banyak beban pikiran, jadi dia memperhatikan Evan lebih saat ini.
Saat Rima menerima keberadaan Evan dia mulai menyadari betapa murninya hati seorang Evan. Pantas saja banyak orang yang menyukainya dan hanya dia yang buta jiwanya saat itu hingga tega mengabaikan anak sebaik ini.
__ADS_1
Rima selalu tertegun saat ingat betapa buruknya dia di masa lalu terhadap lelaki tampan nan cerdas ini. Tapi Evan tidak pernah mengungkit masalah itu, Evan seolah menganggap itu tidak pernah terjadi. Itu pula yang membuat Rima semakin menyayangi Evan.
"Papah mana?!" tanya Evan membuyarkan lamunan Rima.
"Ada di ruang tengah. Kenapa?! Ada masalah lagi?!" tanya Rima khawatir. Karena biasanya Evan akan mencari ayahnya jika dia sedang menghadapi masalah.
"Nggak. Cuman, ada yang mau aku omongin," ucap Evan yang membuat Rima penasaran. Jadi dia mengikuti Evan yang tengah menuju tempat ayahnya. Tampak di sana Wisnu tengah berbincang bersama Tama.
"Eh, sudah pulang kamu!" sapa Ayahnya. Evan hanya mengangguk seraya tersenyum dan duduk di samping Tama.
"Pah! Ada yang mau aku omongin," ucap Evan memulai pembicaraan mereka.
"Apa?!" ucap ayahnya mulai serius mendengarkan. Karena jarang-jarang Evan mau bicara serius.
"Daddy Aluna nawarin aku buat kerja di tempat dia," ucap Evan ragu.
"Bagus donk. Itu perusahaan besar. Papa juga punya posisi untuk kamu di perusahaan. Posisi manager lagi kosong," ucap ayahnya yang juga menawarkan.
"Masalahnya dia mau nyiapin aku buat gantiin dia, tapi nggak sekarang. Dia bilang pelajari aja dulu. Aku jadi direktur cabangnya dulu. Tapi ... Apa aku pantas?! Bagaiman kalau Aluna punya suami?! Apa suaminya akan terima kalau aset mertuanya di urus sama orang lain!" ungkap Evan menjelaskan kekhawatirannya.
"Kalau Richard yang minta langsung. Itu artinya dia punya pertimbangan yang kuat dan jelas. Dia kenal kamu, kemampuan kamu. Dia pasti tudak sembarang unjuk. Jadi terima saja," nasehat ayahnya mendukung.
Evan tetap masih khawatir, dia takut sulit melupakan Aluna jika masih berada di lingkungan Aluna. Tapi sulit mengemukakan alasan itu.
Evan hanya tersenyum kecut tidak terlalu puas.
"Richard itu pengusaha hebat, yang punya pengalaman. Kamu percaya saja sama dia. Kamu kerja di sana. Papa juga akan bantu kamu, ada juga mas Tama di belakang kamu. Brian juga bisa bantu kamu," ucap Ayahnya sekali lagi meyakinkan.
__ADS_1
Evan tampak masih diam berpikir. Dia merasa seolah tidak bisa lepas dari dunia Aluna sepenuhnya padahal sudah ia elakkan sekuat tenaga, tapi kali ini ia seolah di seret kembali. Ia terus berpikir dalam kesendirian nya hingga akhirnya ia terlelap dengan malam yang semakin larut.
BERSAMBUNG...