PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
BELAJAR LAH DARI MASA LALU


__ADS_3

Malam nya Aluna di rumah mulai menyeleksi pakaiannya yang akan ia kenakan besok. Ia memilih pakaian yang lebih tertutup. Ia membuka lemarinya dan mulai mencari diantara tumpukan pakaiannya yang berjumlah ratusan helai itu. Bahkan sebagian masih memiliki merek yang belum ia lepas karna belum pernah ia kenakan. Aluna memang sering membeli sesuatu dalam jumlah banyak dan belum tentu ia kenakan semuanya.


Richard mengintip dari balik pintu yang memang separuh terbuka. Ia tersenyum melihat putri kesayangannya itu yang tampak sibuk.


Itu cukup menarik perhatian Richard untuk mendekat, sebelum masuk ia pun mengetuk pintu kamar putrinya tersebut, walau sebenarnya pintu itu sudah separuh terbuka.


Aluna menoleh saat mendengar ketukan pintu dan ia tersenyum melihat kedatangan ayahnya. Ayahnya pun masuk, beliau duduk di ranjang putrinya itu.


"Evan minta Luna pakek baju tertutup. Jadi Luna lagi cariin baju yang pas," terang Aluna. Richard mengangguk seraya tersenyum mendengar pernyataan putrinya tersebut. Akhir-akhir ini Aluna memang mulai menunjukkan sikap seriusnya dalan bekerja


"Lakukan apapun yang menjadi perintah Evan. Dia atasan kamu. Hargai dia dengan baik, jangan kamu ajak ribut terus. Bersikap profesional selayaknya bawahan dan atasan," nasehat ayahnya. Aluna menoleh seraya tersenyum sambil terus mengobrak-abrik lemari pakaiannya.


Tiba-tiba ia menghentikan kegiatanya, dan kembali menatap ayahnya dalam. Dia berjalan berlahan kearah ayahnya dan duduk di samping beliau. Richard hanya menatap putri manjanya itu dengan hangat, ia paham betul putrinya itu akan menyampaikan sesuatu.


"Apa Luna boleh memperjuangkan Evan lagi, Dad?" tanya Aluna ragu sambil memainkan jari-jari lentiknya yang cantik dengan kuteks merah menyala.


Richard tercekat sejenak mendengar pernyataan tiba-tiba putrinya itu. Entah kenapa ia merasa sesak mendengar pernyataan Aluna barusan. Tapi ia berusaha untuk tetap bijak menanggapinya.


Dia menarik nafas panjang dan mengelus lembut rambut panjang Putri cantiknya dengan tatapan selalu hangat dan senyuman yang tenang.


"Jangan buat Evan bermasalah, Luna. Kamu jangan menunjukkan perasaan kamu pada Evan. Dia akan kesulitan mengimbanginya nanti. Biarkan dia yang putuskan. kamu jangan ganggu hubungan mereka," nasehat Richard berusaha bijak.


Itu membuat Aluna terdiam dan semakin tertunduk. Hatinya tidak bisa terima ini.


"Tapi Evan nggak suka Tari, Dad!" ucap Aluna yang masih tertunduk dan masih memainkan kukunya, dia seolah mengerti isi hati Evan.


"Kamu tau dari mana Evan suka atau tidak?!" ucap Richard seraya mengangkat dagu putrinya itu hingga mereka saling tatap. Di mata indah putrinya itu ia bisa lihat bagaimana Aluna sangat menginginkan Evan saat ini, mantan suaminya. "Kamu jangan seperti anak kecil lagi. Bersikap lah dewasa. Hargai setiap perasaan orang lain. Coba Tempat kan kaki kamu di sendal orang lain, untuk tau bagaimana perasaan orang lain atas tindakkan kamu. Tari akan merasa sangat tidak di hargai nanti kalau kamu bersikap seolah masih seperti istri Evan. Jangan sakiti Tari dengan sikap kamu pada Evan, Luna," nasehat Richard penuh penekanan pada setiap kata-katanya, berusaha mewanti-wanti Aluna, meski dengan nada yang lembut tapi terdengar jelas penegasan Richard di setiap ucapannya. Aluna hanya terdiam dan kembali tertunduk.


"Dengar Luna! Evan punya keluarga yang harus dia jaga perasaannya. Keluarganya juga keluarga Tari, itu terlibat dalam hubungan mereka. Jangan sampai kamu menyebabkan perpecahan dua keluarga tersebut," ucap Ayah Aluna lagi.


Aluna masih terdiam dan memainkan kukunya. Dia merasa sangat kecewa. Dulu dia memiliki Evan sebagai miliknya seutuhnya, tapi sekarang ia seakan di paksa menyerahkan Evan pada orang lain. Dia merasa ini sangat tidak adil untuknya dan Evan. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Aluna tidak memiliki pilihan lain selain mundur saat ini. Aluna terpaku untuk sesaat.


...***...


Setelah bicara, ayahnya pergi meninggalkan Aluna yang masih terpaku.


Aluna masih terdiam, seakan perlahan dia mulai sadar jika Evan bukan suaminya lagi, dia menghempaskan tubuhnya keranjangnya dan mengangkat tangannya. Terlihat cincin pernikahan nya dan Evan masih terikat dengan erat di jari manisnya itu, cincin yang selalu mengikat hatinya untuk Evan seorang. Cincin yang membuat dia lupa bahwa Evan sudah menalaknya beberapa tahun lalu. Dia sudah tidak berhak lagi atas lelaki yang ia cintai itu lagi. Walau begitu ia masih tidak mau melepas cincin itu. Dia menggenggam tangannya dan mendekapnya ke dada dengan mata yang terpejam, beriringan dengan air mata yang mengalir dari sudut mata indah itu.


***

__ADS_1


Di sisi lain Tari sedang sibuk berkemas di apartemen Evan. Dia sibuk menata semua barang perlengkapan dapur yang baru di belinya bersama Evan tadi. Tidak lama Evan datang menemuinya di dapur.


"Barang-barang aku yang di meja kamu pindah ke mana?" tanya Evan pada barang-barang miliknya yang hilang.


"Ooo... Itu. Ada di dalam lemari paling atas di kamar kamu," ucap Tari.


Evan hanya mendengus kesal mendengarnya, lalu ia pun kembali berjalan menuju kamarnya. Tari langsung mengikuti langkah Evan. Dia tahu Evan pasti marah karena dia memindahkan barang-barang milik Evan tanpa memberitahu terlebih dahulu.


"Kenapa kamu pindah-pindahin, sih. Aku susah nyarinya!" omel Evan kesal seraya terus berjalan menuju kamarnya dan Tari terus mengikuti Evan dari belakang.


"Di tarok di situ kelihatan berantakan, makanya aku pindahin. Biar rapi, Van!" ucap Tari lembut.


Belum sempat Evan membuka lemari tersebut, Tari sudah lebih dulu membukanya dan mengambil barang yang di maksud.


"Kamu tuh, ya. Suka banget ngatur semua hal. Aku kesulitan nyariinnya. Nyimpen barang itu berdasarkan kebiasaan, bukan kerapihan aja," omel Evan.


Dia mulai kurang betah dengan sifat Tari yang suka mengatur semua barang-barang miliknya. Evan mengambil barang-barang nya dari Tari dengan agak kasar, setelah itu kembali mengaturnya Ke tempat semula.


Tari hanya terdiam, dia hanya bermaksud merapihkan nya, tanpa bermaksud menyulitkan. Tapi sepertinya Evan tidak menyukai itu. Itu membuat Tari mulai merasa tidak enak hati.


"Aku pulang dulu. Udah malam," ucap Tari.


Tari yang terbiasa menjadi pengurus segala urusan di rumah, merasa kesulitan mengimbangi Evan yang sering terlihat tidak suka di ganggu dan ingin melakukan segalanya sendiri.


Terkadang Tari merasa tidak berguna di hadapan Evan, dia merasa Evan lebih suka melakukan semua nya sendiri dari pada melibatkannya. Tapi dia harus kuat, Evan sudah mengingatkannya untuk hal ini. Mengingatkannya bahwa dia harus siap terluka.


***


Keesokkan harinya di kantor. Evan bersiap akan meeting bersama kliennya.


"Jam berapa sama klien dari Jepang?!" tanya Evan tanpa menatap Aluna karena masih sibuk dengan pekerjaannya. Aluna tampak bingung menjawabnya. Evan menatapnya tajam, dia merasa ada yang salah.


"Ja-jam ... 9!" Jawab Aluna ragu.


"Mr, Wilson?" tanya Evan pada jadwal kliennya yang dari Inggris.


"Ja-jam 10!" ucap Aluna ragu.


Dia menghentikan pekerjaannya seketika dan menatap menghunus pada Aluna. Evan mulai serius menanggapi Aluna. Yang membuat wanita itu mulai salah tingkah.

__ADS_1


"Jadi jadwal mereka berdua bentrok?" tukas Evan terdengar kesal dan mulai marah.


"I-iya," jawab Aluna mulai takut.


"Kamu tau kan kedua orang itu investor besar kita? Gimana bisa kamu nyusun jadwal mereka berdua jadi bentrok gitu?" tanya Evan mulai terlihat marah dengan kecerobohan Aluna.


"Aku nggak tau kalo mereka berdua cuman jarak 1 jam. Tadinya aku pikir mereka beda tanggalnya, ternyata tanggalnya sama," ucap Aluna mencoba menjelaskan.


"Coba aku liat gimana cara kamu susun jadwalnya?" ucap Evan.


Aluna pun menyerahkan buku agendanya. Evan menarik nafas panjang melihat jadwal yang Aluna susun.


"Kamu cara nyusunnya aja udah kacau. Mana ada yang susun jadwalnya kayak gini! Di susun berdasarkan waktunya, bukan berdasarkan kapan mereka nelfonnya," bentak Evan. Aluna mulai ketar-ketir mendengar amukan Evan. "Kita urus ini nanti, sekarang kamu hubungi MR. Wilson. Jelasin sama dia. Bujuk dia supaya mau undurin waktunya dia," ucap Evan lagi.


Aluna pun segera melaksanakannya. Dia mencoba menelfon MR. Wilson. Evan menatap Aluna yang terlihat lebih tenang, dia dapat mengatasi kecerobohannya. Dan baiknya lagi, Mr. Wilson bersedia menunda meeting bersamanya 1,5 jam lebih lambat. Sehingga semua sekarang terkendali.


"Tumben kamu nggak nangis atau ngamuk di tegur?" tanya Evan. Aluna menatap Evan dengan tenang.


"Kan aku yang salah. Kamu atasan aku, jadi apa berhak aku memberontak untuk kesalahan aku sendiri?!" ucap Aluna yang mulai terdengar bijak. Evan tercekat untuk sesaat hingga akhirnya ia pun tersenyum mendengar jawaban Aluna yang mulai terdengar lebih dewasa.


***


Meeting yang hampir kacau hari ini bisa diatasi dengan baik. Aluna tersenyum puas, dia senang bisa mengatasi masalahnya kali ini. Dia berjanji mulai saat ini dia tidak akan membuat orang lain sulit mengimbanginya lagi, karena egonya. Dia akan belajar untuk mendengarkan orang lain, dan akan berusaha memahami posisi orang lain juga.


***


Sesampainya di kantor Evan mengajari Aluna untuk membuat draft jadwal kegiatan.


"Hari, kegiatan, tempat, waktu. Itu di susun. Bukan di tulis. Buat dalam bentuk tabel, nanti kamu susun berdasarkan tanggal dan waktunya. Nanti ketahuan mana waktu kosong, dan mana waktu yang sekiranya mepet," terang Evan.


Aluna tampak serius mendengarkan keterangan Evan. Dia tidak banyak bicara, apa lagi membantah seperti biasa. Mulai sekarang dia akan bersikap profesional.


Sekarang dia tahu bagaimana cara menangani Evan. Cukup diam dengarkan dia, lalu lakukan seperti yang dia katakan tanpa banyak bicara. Kesalahan yang selama ini dia lakukan adalah selalu membantah. Tanpa mendengarkan terlebih dahulu penjelasan Evan.


"Makasih ya," ucap Aluna tulus.


Evan menoleh pada Aluna tanpa sepatah katapun dengan tatapan heran.


Setelah selesai Evan kembali ke mejanya, dia menatap Aluna lagi. Sepertinya Aluna banyak berubah sekarang. Evan senang akhirnya Aluna bisa bersikap lebih baik.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2