
Semua orang di rumah Aluna tampak bisa menerima keberadaan Evan sekarang. Tidak ada pertentangan seperti di awal kedatangan Evan. Pembawaan Evan yang berwibawa dan kharismatik membuat dia cepat bisa membaur dengan anggota keluarga Aluna. Apa lagi saat mereka mulai mengenal sosok Evan lebih dalam lagi, itu membuat mereka semakin kagum pada Evan.
"Eh kapan rencana mau nikahnya?" tanya ayah Aluna. Aluna dan Evan pun saling pandang.
"Lebih cepat lebih baik. Mengingat sekarang kandungan Aluna sudah mulai memasuki 2 bulan," ungkap Evan terlihat yakin dan mantap. Aluna tersenyum bahagia mendengarnya, dia akan menjadi istri Evan sesungguhnya sebentar lagi. Apa lagi sebentar lagi mereka akan memiliki seorang anak.
"Kita buat sederhana saja. Kamu belum pulih betul dan Aluna juga tidak bisa terlalu lama dengan acara seperti itu, dia sering mual-mual." tambah Marissa khawatir dengan keadaan Aluna.
"Kita buat privat party saja. cukup orang terdekat saja yang di undang. Biar tidak terlalu heboh nantinya," timpal Richard. "nanti kita bicarakan lagi sama orang tua kamu," tambah Richard lagi.
"Tunggu daddy siap-siap dulu, kita ke rumah kamu buat ngomongin ini." Richard pun segera untuk bersiap-siap menuju kamarnya dan di ikuti oleh pelayan dan asisten pribadinya.
Setelah siap mereka bergegas untuk pergi ke kediaman Evan. Richard sekeluarga di sambut suka cita oleh keluarga Evan. Mereka senang bisa berbesan dengan keluarga konglomerat seperti Richard, tapi lebih dari itu mereka senang dapat berdamai kembali setelah hubungan mereka tegang pasca penyerangan keluarga Richard terhadap Evan. Sekarang mereka sudah sepakat gencat senjata dan berdamai. Itu membuat hubungan mereka menjadi sangat hangat dan akrab.
Evan memang pandai membuat suasana menjadi damai. Walaupun dia memiliki sifat dendam, tapi dia tau bagaimana berdamai dengan keadaan seiring dengan waktu yang memulihkan egonya. Mereka mendiskusikan waktu pernikahan Evan dan Aluna yang di sepakati seminggu lagi. Mengingat mereka sangat di kejar oleh waktu. Kandungan Aluna yang semakin membesar akan mengundang banyak perhatian dari lingkungan sekitar mereka nantinya.
***
Waktu pernikahan pun semakin dekat. Aluna dan Evan semakin dekat mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama untuk mengurus segala keperluan pernikahan mereka. Seperti saat ini mereka baru kembali dari kantor KUA untuk mengurusi berkas pernikahan mereka. Sepulang dari sana mereka mampir untuk ke kafe sebentar. Mereka tampak ceria dan dekat. Aluna yang duduk di samping Evan tampak tidak mau jauh dari Evan.
Tiba-tiba seorang laki-laki mendekati meja mereka.
"Aluna? Kamu ngapain disini?" tanya laki-laki tersebut. Dia tampak memiliki expresi tidak biasa, tatapannya penuh arti dan sangat shock.
"Soni?!" seru Aluna kaget dengan kedatangan Soni tiba-tiba. Sesaat dia sadar dengan kehadiran Evan bersamanya saat ini. "Eh, iya. Kenalin ini calon suami aku," ungkap Aluna santai seolah-olah sedang pamer kepada Soni. Seraya memperkenalkan Evan pada laki-laki tersebut. Evan menoleh ke arah laki-laki yang tampaknya cukup parlente ini. Tampilannya terlihat mencolok dengan barang branded nya yang terlihat menonjol, menunjukkan dia adalah laki-laki metropolitan sejati. Evan tersenyum kearahnya dan di sambut dingin oleh lelaki tersebut.
__ADS_1
"Kamu mau nikah, Lun?" tanya nya tidak percaya dengan tatapan penuh selidik.
"Iya!" sahut Aluna seraya menggandeng tangan Evan. Evan menatap Aluna. Dia seolah mulai paham dengan drama yang tengah berlangsung di hadapannya saat ini. "Kamu kapan? Kan udah ada calon juga," sindir Aluna seperti menyimpan makna lain.
"Lun! Kamu salah paham, aku sama Shelin cuman temen. Kamu pasti nggak beneran nikahkan? Ini pasti cara kamu buat balas aku kan!?" sahutnya tidak percaya. Dia mulai melangkah mendekati Aluna dan mencoba meraih tangan Aluna yang segera di tepis oleh Aluna. Itu memancing reaksi tidak suka Evan dengan sikap lancang Soni.
"Saya harap anda bisa menjaga sikap anda." Evan mulai tidak suka saat Soni ingin menyentuh Aluna dan Aluna beranjak mendekati Evan seolah inginkan perlindungan.
"Elo anak sultan mana HAH!?" tantang Soni mulai memancing keributan. Evan melihat beberapa pasang mata mulai menatap mereka. "Eh, kita udah 3 tahun pacaran, jangan rusak hubungan kita. Aku sama Aluna belum putus. waktu itu kita nggak putus beneran.Iya kan, Lun!" ucap laki-laki muda ini sedikit memohon dan semakin menunjukkan sikap kekanak-kanakannya. Aluna mulai jengah menghadapi tingkah Soni dan segera menyeret tangan Evan untuk segera pergi.
"Ayo Van, kita pergi. Gila aku ngadapin cowok kek gini!" Aluna segera menarik Evan pergi.
"ALUNA! KITA BELUM PUTUS. KAMU NGGAK BISA KAYAK GINI SAMA AKU!" teriaknya histeris. Itu membuat mereka semakin mempercepat langkah mereka separuh berlari.
Mereka pun segera pulang, pergi sebelum terjadi keributan lebih besar lagi. Soni masih meracau tidak jelas. Dia mengejar Aluna dan Evan, Aluna yang risih terus di lindungi Evan. Sampai mereka berhasil masuk mobil dan menjauhi Soni.
"Gila dia. Aku sempat di jodohin sama dia. sebenernya aku juga nggak suka. Sebab dia terlalu bulshit orangnya. Dan kalo dia nggak punya cukup uang lagi dia suka morotin aku dengan akal bulusnya. Terus waktu aku ke Bali waktu itu juga buat hindarin dia. Dia ketahuan punya pacar. Terus, perselingkuhan dia itu jadi senjata aku buat ngejauhin dia. Tapi dia bilang kita cuman break, nggak putus. Kita akan balikkan lagi kalo aku udah berhenti marah. Dia itu benar-benar ngerepotin. Kalo udah kejebak sama dia itu kayak kejebak di lumpur hidup. Susah lepasnya!" sungut Aluna kesal.
"Terus kenapa kamu sampek di jodohin sama dia. Kalo kamu nggak suka tinggal bilang nggak kan gampang," timpal Evan yang masih bingung.
"Karena papanya itu rekan bisnis daddy. Terus mereka pikir dengan jodohin kita itu akan buat bisnis keluarga kita semakin besar lagi. Dia anak tunggal dan aku juga anak tunggal, jadi mereka pikir cocok.Ternyata dia orangnya saiko. Liat aja nanti pasti mami nya datang... ARGHHH. Gila aku ngadepin keluarga itu," ucap Aluna geram. Evan hanya tersenyum melihatnya "aku nggak mau pulang." lenguh Aluna masih kesal seraya melipat tangannya di dada.
"Hadapin aja. Kalo kamu hindarin terus nanti dia ganggu terus," timpal Evan meyakinkan seraya menggenggam tangan Aluna dengan seutas senyuman.
Aluna tampak berfikir. Menghadapi keluarga Soni seperti tidak ada habisnya baginya. Selalu ada cara Soni mengganggunya dan ketenangan hidupnya.
__ADS_1
"Hadapin keluarga itu kayak sinetron stripping. Nggak pakek end," sungut Aluna yang membuat Evan tersenyum mendengarnya "Eh, iya. Kita fitting baju hari ini. Langsung mampir ke butik aja, ya." Ucap Aluna.
Mereka pun segera mampir ke butik untuk fitting baju pengantin. Aluna sengaja memilih gaun yang tidak terlalu memperlihatkan bentuk tubuhnya terutama bagian perut, karena akan repot jika di hari H ukurannya akan berubah. Evan pura-pura cuek dengan permintaan Aluna tersebut, saat si desainer mengatakan tubuh Aluna cukup profesional untuk menggunakan gaun yang seksi.
"Sayang lo, badan kamu kan bagus," puji si desainer. Aluna menatap Evan ragu.
Evan malah sibuk memainkan handphone nya. Aluna tau Evan hanya pura-pura sibuk, agar dia menghadapi sendiri situasi itu.
"Ah, nggak lah mbak. Aku suka model yang ini aja. Biar lebih nyaman." Aluna berusaha memberi alasan logisnya dan ia tersenyum kecut dan melirik Evan.
Ada seutas senyum tipis di wajah Evan mendengar pernyataan Aluna, ia masih terus memainkan handphone nya. Aluna kesal dengan senyuman Evan yang seperti meledeknya. Setelah selesai merekapun langsung pulang.
Sesampainya di mobil Evan di omeli Aluna karena menertawakannya tadi. Tapi, Evan hanya tertawa mendengar omelan Aluna sepanjang perjalanan mereka.
Perlahan mereka semakin mencair dan mulai tidak kaku lagi. Walau entah bagaimana mereka akan menjalani rumah tangga mereka dengan karakter yang cukup bertolak belakang ini. Evan yang disiplin dengan rasa tanggung jawab yang tinggi dan Aluna yang manja yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang-orang untuknya.
...***...
Evan tampak tampan dengan stelan Tuxedo hitam yang mewah dengan dasi kupu-kupu.
Aluna tampak cantik dengan gaun pengantinnya dengan rambut tergerai itu. Dia bak bidadari nan cantik jelita.
__ADS_1
(Aluna Jeanela)
BERSAMBUNG...