
Siang itu tiba-tiba Soni datang ke rumah Aluna dengan sebuket mawar merah. Aluna tidak begitu memperdulikan kedatangannya, dia sibuk dengan kegiatan nya mengkuteks kukunya yang di bantu oleh seorang profesional. Dia membiarkan Soni dengan ocehannya.
"Lun! Aku bawain bunga mawar merah kesukaan kamu. Aku harap kamu nggak ambil hati ya sama omongan mami aku. Dia nggak tau apa-apa. Dia asal ngomong, nantik aku bilangin sama mami supaya nggak usah ikut campur sama urusan kita." Ucapnya merayu seraya hendak memegang tangan Aluna yang segera di tepis Aluna.
"Jangan Berani-beraninya kamu sentuh aku lagi," tegas Aluna dengan sorot mata tajam nya kearah Soni. Soni pun mundur, tapi dia belum menyerah untuk mendapatkan hati Aluna lagi.
"Ok, Maafin aku, ya!" bujuknya lagi.
Aluna gerah dengan kelakuan Soni yang seolah tidak ada kata menyerah. Dia berdiri dan berkacak pinggang menatap Soni yang terlihatnya tidak ingin pergi jika tidak di usir dengan keras ini.
"Son, Kalo sampe ketahuan daddy kamu kesini. Kamu bisa di hajar sama daddy. Mending kamu pulang aja, deh." Ucap Aluna mengusirnya. Tapi Soni masih keras kepala, dia terus memohon agar Aluna memaafkannya.
Yang tidak Aluna sadari, Evan menyaksikan kebersamaan mereka. Dimana Soni yang tengah terus menggoda Aluna dan buket mawar merah yang melambangkan pernyataan cinta itu masih Soni pegang dan terus coba ia berikan kepada Aluna.
Evan tertunduk melihatnya, hatinya sangat kecewa dengan apa yang ia lihat ini. Aluna bahkan membawa Soni kerumahnya untuk bertemu. Pelayan yang menyaksikan itu hanya ketar-ketir melihatnya, takut akan terjadi keributan melihat raut wajah Evan yang sudah memerah karena marah.
Sesaat Evan segera tersadar dan langsung pergi, melupakan tujuan kedatangannya ke rumah Aluna. Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Kejadian tadi sudah cukup menjelaskan segalanya bagi Evan. Aluna tidak berniat memperbaiki hubungan mereka.
...***...
Tiba-tiba seorang pelayan datang menemui Aluna.
"Nona... Tadi ada tuan Evan kesini... belum nyampe sini dia udah pulang kayaknya... " Lapor si pelayan segera.
Aluna kaget mendengar nama Evan. Dia segera bangkit dan berlari keluar, dia berusaha mengejar Evan yang ternyata sudah melajukan mobilnya sampai di gerbang rumahnya. Aluna berusaha berlari mengejarnya tapi Evan terlanjur keluar gerbang rumahnya.
"EVAAANNN..." Teriak Aluna kesal karena terlambat mengetahui kedatangan Evan. Dia terduduk lemas di halaman rumahnya.
__ADS_1
Soni segera menyusul Aluna ke luar. Aluna menatap Soni tajam.
"Kenapa kamu selalu bikin hubungan aku sama Evan berantakan, sih!" teriak Aluna kesal dan langsung berlari menemui tantenya. Dan menceritakan semuanya. Tadi Evan datang menemuinya, tapi dia malah membuat Evan salah paham dengannya dan Soni. Pasti Evan sangat membencinya sekarang, seolah kecurigaan Evan selama ini benar adanya tentang hubungannya dan Soni. Kenapa tuhan selalu membuat Evan salah paham dengannya. Aluna semakin keras terisak dengan mendekapkan batal ke wajahnya. Dia butuh seseorang untuk menemaninya, tapi saat ini Dea dan Silvi sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Dia merasa tidak punya tempat mengadu lagi.
...***...
Sepulang nya dari rumah Aluna, Evan langsung ke pemakaman Anaknya, dia berziarah dan memandangi nisan anaknya cukup lama dengan tatapan kosong. Pikirannya menerawang jauh ke masa lalunya, saat dia dan Aluna pertama kali bertemu, bertengkar, bersama, dan melewati banyak hal. Sampai akhirnya anaknya meninggalkannya, anak yang belum sempat ia sapa dan dengar tangisnya. Mengingat kejadian itu sangat menyakitkan baginya.
Seandainya waktu dapat di putar, ia tidak ingin memulai ini semua. karena akhirnya dia harus kehilangan anaknya, hal yang ingin dia perjuangkan. Malah menjadi sia-sia, ini tidak adil. Dia sudah berjuang untuk membuat semua berjalan dengan baik, hingga dia rela melalui semua ini, di hajar dan di hina keluarga Aluna pun ia terima dengan lapang dada, tapi akhirnya pertaruhannya sia-sia.
Akhirnya anaknya tetap tidak terselamatkan. Semua rasa sakitnya seolah tidak membuktikan apapun. Mungkin memang sejatinya dia dan Aluna bukan dua orang yang saling mencintai, tapi dua orang yang tengah di hukum karena kesalahan mereka. Mungkin kebersamaan mereka adalah cara tuhan meredam keangkuhan mereka berdua. Hanya sebatas itu kah? Tidak adakah alasan lain untuk mereka tetap bersama?
Puas berziarah ke makam anaknya, Evan pun pulang. Sebelum pergi dia sekali lagi mengusap nisan anaknya dengan rasa perih.
...***...
"Tadi Aluna kesini sama Auntynya nunggu kamu pulang seharian. Kamu di telpon nggak angkat," terang ayahnya.
"Pah. Kayaknya aku sama Aluna udah nggak bisa sama-sama lagi. Selama ini Aluna sama aku karena anak kita, tapi alasan kebersamaan kita sudah nggak ada. Nggak ada alasan buat aku menghalangi apa yang menjadi kebahagiaan Aluna. Kalau memang Aluna nggak nyaman sama aku, aku akan lepas dia," ucap Evan.
Membuat ayah dan ibunya terdiam. Mereka tidak ingin Evan dan Aluna bercerai. Tapi jika dari pihak Aluna tidak bisa, apa boleh buat. Jika terus di pertahankan, mungkin itu akan menyakiti Evan lebih dalam lagi.
"Besok aku urus perceraiannya," Ucap Evan.
"Kamu yakin, Van?!" tanya Ibunya meyakinkan lagi. Evan tersenyum seraya mengangguk.
"Jangan sampai ini keputusan emosi sesaat, Van. Hanya karena kamu sedang merasa kacau, kamu jadi gegabah dalam mengambil keputusan," nasehat ayahnya.
__ADS_1
"Aku udah fikirin, pah. Mungkin ini yang terbaik," ucap Evan mantap ayahnya, mencoba meyakini ayahnya.
Keluarga hanya bisa mendukung keputusan Evan. Tama menghampiri adiknya itu dan menepuk bahunya dan memeluknya. Walau Evan terlihat tegar, dia tahu pasti ini juga sangat berat untuk Evan putuskan.
Evan membalas pelukan kakaknya itu dengan erat dan hangat. Setidaknya dia tidak sendirian dalam melalui ini semua. Dia tahu keluarganya adalah yang terbaik yang ia miliki saat ini.
Rima menatap Evan dengan perasaan yang hancur dan sedih. Walau dia sempat tidak menyukai Evan tapi saat dia mulai mengenal Evan, dia tahu Evan orang yang tulus. Pendiam tapi penuh dengan pengertian dan kasih sayang. Kenapa Aluna tidak dapat melihat kebaikan di dalam diri Evan, hingga dia begitu mudah berpaling.
***
Aluna melalui hari-hari sepinya di kamar dengan hampa tanpa ke hadiran Evan, dia terus memikirkan kedatangan Evan. Kenapa Evan pulang sebelum menyapanya. Apa yang dia lihat? mungkin kah Evan mengira dia dan Soni benar-benar menjalin hubungan. Kenapa Soni terus mengganggunya.
Tidak lama handphone Aluna berdering. Itu telfon dari Dea. Aluna sedang tidak bersemangat saat ini, hingga dia mengabaikan panggilan dari Dea.
Tidak lama ada panggilan dari Soni. Aluna sangat kesal mendengar nama Soni saat ini, hingga
TAAAKKKK.....
Handphone itu pecah di banting Aluna ke lantai kamarnya dengan keras, hingga berhamburan di lantai karena pecah. Tapi Aluna bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Sekarang dia terlalu sedih dan tidak ingin di ganggu.
***
Di lain Sisi Evan sudah sibuk mengurus berkas perceraian mereka. Tanpa sepengetahuan Aluna, Evan sudah mantap ingin bercerai dari Aluna. Konflik yang selama ini terjadi di antara mereka, membuat Evan tidak yakin bahwa hubungan mereka dilandasi oleh cinta.
Dia merasa yang mereka jalani selama ini hanya rasa bersalah dan tanggung jawab saja, jadi tidak benar jika terus di paksakan. Sering terjadi pertengkaran diantara mereka. Semua sulit untuk di cernanya. Dengan atau tidak nya Soni.
Walau pada kenyataannya perceraian itu juga membuat Evan terluka, dia menangis di kamarnya sendirian. Dia merasa tidak sanggup kehilangan Aluna, tapi mereka juga tidak mungkin bersama.
__ADS_1
BERSAMBUNG...