
Siang itu Aluna menjemput Kyu yang memang sudah mulai sekolah usia dini di usianya yang belum genap 4 tahun itu.
Tampak si Liam kecil baru keluar dari kelasnya dengan langkah gontai dan di sambut Aluna dengan senyum senang melihat kedatangan putranya itu. Aluna memang selalu menjemput Liam sendiri sedangkan Kyu tengah ia titipkan kepada suster di rumahnya. Karena Liam tingkahnya seperti Evan, selalu bergantung kepada Aluna ibunya. Dia tidak akan pulang kecuali ibunya yang menjemputnya. Tapi, jangan salah. Meski begitu Liam yang gaya nya sangat badboy di sukai banyak teman wanitanya, termasuk oleh Monic teman sekelasnya.
"Lee ... Tunggu. Ini monic bawain coklat buat Lee. Papi monic bawak banyaaak banget. Dan ini khusus buat Lee ya," tuturnya dengan gaya centilnya membuat Aluna kaget melihat seorang gadis kecil menghampiri putranya tiba-tiba, sedangkan Liam malah memperlihatkan expresi tidak sukanya.
"Nggak suka, cokelat," tolak Liam yang langsung menggandeng tangan Aluna dengan wajah di tekuk. Mengerti akan keadaan. Aluna pun dengan lembut segera mensejajarkan tingginya dengan si gadis kecil dengan senyum ramah.
"Terimakasih, Monic. Liam suka kok sama coklat, Liam cuman lagi capek, ya," terang Aluna menjaga perasaan si gadis kecil yang langsung di sambut senyum merekah dari si gadis kecil seraya menyerahkan sekotak coklat yang nampaknya cukup mahal itu.
"Ayo Lee, ambil. Bunda nggak suka Liam nggak sopan, ya," tutur Aluna memperingati Liam. Liam dengan malas pun terpaksa mengambilnya.
Tidak jauh dari sana ada ibu si gadis kecil yang berdiri di sampingnya dengan tawa kecilnya melihat tingkah Liam dan Monic.
Aluna pun tidak lupa menyapa ibunda teman sekelas Liam itu. Setelah mengobrol beberapa saat Aluna dan Liam pun permisi untuk pulang.
"Bunda ih kenapa di ambil, sih. Besok pasti Lee di ledekin temen-temen. Lee nggak mau sekolah lagi pokoknya," ancam Liam sepanjang perjalanan mereka menuju parkiran mobil.
"Liam nggak boleh kayak gitu. Itu nggak sopan sayang," nasehat Aluna.
"Lee sebel sama Bunda. Kalo besok Lee di ledekin, itu salah Bunda, ya," kesal Liam. Aluna yang paham akan kekesalan Liam segera membujuk Liam dengan berbagai cara. Namun Liam tetap tak bergeming.
Akhirnya mereka pun sampai di parkiran dan bersiap akan pulang. Saat akan masuk mobil Aluna seperti menyadari ada sepasang mata tengah memperhatikan mereka. Aluna menatap seorang wanita mencurigakan yang tampak memperhatikan mereka dari kejauhan. Itu membuat Aluna sedikit takut dan buru-buru masuk mobil. Sudah beberapa hari ini dia melihat keberadaan wanita itu.
"Lee nanti kalo bukan bunda yang jemput Liam jangan pulang, ya. Di sekolahan aja jangan kemana-mana, ngerti!" ucap Aluna mulai merasa takut.
Liam yang masih kesal pun tak menjawab.
Tidak lama mobil pun segera membawa mereka pulang, saat mereka melewati wanita itu seketika Aluna kaget.
DEG ...
Entah kenapa Aluna merasa sesuatu terhadap wanita itu. Siapa wanita paruh baya yang sangat cantik itu. Tidak mungkin ini hanya perasaannya saja. Wanita itu benar-benar tengah memperhatikan gerak-geriknya sedari.
***
Malam menjelang, waktunya Evan menghabiskan waktunya bersama anak dan istrinya. Evan memang lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya sekarang, walau terkadang dia masih sering bersama teman-temannya, tapi itu jarang jika tidak terlalu penting.
__ADS_1
Aluna tampak tengah menatap kosong pikirannya masih di penuhi tentang wanita misterius tadi, siapa wanita itu, kenapa dia merasa tidak asing dengannya. Dia menatap Evan, dia bingung antara memberitahu Evan atau jangan dulu. Setelah lama berpikir akhirnya Aluna putuskan untuk tidak memberitahunya dulu.
Sedangkan Evan tengah asyik bermain bersama Kyu dan Liam di karpet yang berada tidak jauh dari Aluna. Dia tampak asyik bermain bersama kedua putranya karena Manuela tengah tidak bersama mereka. Si sulung saat ini tengah bersama Dea di kediamannya.
Tiba-tiba terdengar pintu kamar di ketuk seseorang. Aluna segera membuka pintu.Ternyata seorang pelayan yang datang.
"Maaf nyonya. Di bawah ada tamu. Teman tuan Evan," ujar si pelayan.
"Siapa? Anto?" tanya Aluna.
"Iya, nyonya," sahutnya sopan. Setelah memberitahu perihal kedatangan tamu tersebut, Aluna segera menghampiri Evan.
"Pacar kamu datang nyariin," tutur Aluna kepada Evan.
Seketika Evan menghentikan permainannya bersama Kyu. Dia menghampiri Aluna yang tengah cemberut. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Aluna dan sebuah ciuman lembut mendarat di bibir merah Aluna, membuat seulas senyum kembali terukir di bibir manis Aluna. Mereka pun kembali tertawa.
"Anto nyariin kamu," terang Aluna lebih lembut dari tadi. Evan tersenyum. Dia tau, Aluna hanya tengah ingin di perhatikan saja, karena itu dia kadang sering bersikap seperti cari masalah agar Evan memperhatikannya.
***
"Kenapa?" tanya Evan tanpa basa-basi dan langsung ambil posisi duduk di sofa samping Anto.
"Nggak. Cuman mau jenguk lo aja," ujar Anto belum masuk ke tujuannya.
"Gue sehat," jawab Evan cepat. Dia tau betul Anto punya tujuan lain datang ke kediamannya. Ia menatap Anto intens, memperhatikan setiap gerak-geriknya.
"Ck, galak banget, sih," tukas Anto seraya menghempaskan tubuhnya duduk di samping Evan dengan mesra seraya mengelus-elus Evan membuat Evan mulai bergidik. Aluna yang memperhatikan dari kejauhan hanya tertawa geli melihat tingkah dua sahabat karib itu .
"Karena lo mencurigakan," timpal Evan berusaha lepas dari Anto, seketika membuat Anto nyengir kuda seraya garuk-garuk kepalanya. "Udah nggak usah basa-basi. Ada apa lo kesini," tanya Evan tegas.
"Van, lo ingatkan waktu kita sekolah dulu. Tiap hari lo gue tebengin pakek motor butut gue. Kalo ada tawuran lo gue cari dulu takut lo kenapa-kenapa dan gue amanin dulu baru gue ikut tawuran. Saat lo sakit gue yang sering kalang-kabut nyariin obat. Waktu lo ada apa-apa gue yang datang duluan bantuin lo. Sedekat itu kita dulu, Van." Anto masih tampak belum sampai pada tujuannya.
"Heh, mau itung-itungan. Ok. Waktu lo ujian, gue yang isi lembar jawaban lo. Tiap ada PR lo selalu nyontek ke gue. Lo intilin gue mulu buat dapetin cewek-cewek di sekolahan. Kalo lo di marahin nyokap lo, gue yang lindungin lo. Kalo lo di hukum nggak di kasih jajan, dengan seenak jidat lo, lo ambil duit gue. Terus waktu nikahan lo kemaren, dari gedung resepsi sampe mobil yang lo pakek sekarang gue yang kasih," sanggah Evan yang membuat Anto terdiam.
"Iya, iya, iya ... Gue nggak akan bisa ngalahin lo kalo soal debat. Gue langsung aja," tukas Anto mulai serius. Evan tersenyum sinis, ini sudah di tabaknya sedari tadi. Anto pasti ada maunya datang ke kediamannya "Pinjamin gue Apartemen lo donk, Van. Bini gue di rumah berantem mulu sama nyokap gue. Nggak bisa akur mereka. Gue mau nyewa tapi kontrakan yang bagus mahal-mahal semua. Sekalian biar apartemen lo gue jagain, dari pada terbengkalai gitu," rayu Anto. Membuat Evan menyunggingkan senyum nya.
"Eh, kampret. Semua udah gue kasih, masih ngelunjak juga?" Hardik Evan menolak keras. "Nggak. Apartemen itu nggak bisa gue kasih ke siapapun. Itu apartemen bersejarah buat gue," tolak Evan.
__ADS_1
"Bersejarah apa? Sejarah kamu sama Tari?" tuding Aluna dari belakang. Membuat Anto menyunggingkan senyumnya usil. Evan malah tampak panik melihat Aluna salah paham.
"Bukan. Itu apartemen aku beli dengan uang aku setelah aku nggak punya apa-apa. Dan itu juga tempat buat aku nenangin diri kalo lagi nggak nyaman di rumah," sungut Evan agak menyindir Aluna. Aluna menatap tak suka. Dia langsung pergi ke kamar meninggalkan Evan dan Anto. Evan menatap tajam kearah Anto.
"Apa?" tanya Anto tidak suka di tatap Evan begitu.
"Udah. Jangan usik apartemen gue," timpal Evan lagi.
Hingga akhirnya entah dari mana datangnya Aluna tiba-tiba melemparkan kunci apartemen Evan kepada Anto yang di sambut senang oleh Anto. Membuat Evan membelalakkan matanya sedangkan Anto langsung tertawa riang.
"Bawak apartemen terkutuk itu," tutur Aluna seraya menggendong Kyu. Evan menatap tajam kepada Aluna.
"Itu bukan harta gono-gini ya. Itu aku beli waktu aku masih lajang," seru Evan, sedangkan Anto langsung kabur sebelum Evan merebut kembali kunci apartemennya.
"Aku mau nyusuin Kyu dulu," tutur Aluna cuek.
Aluna tidak perduli dengan omelan Evan padanya, dia terus melipir pergi meninggalkan Evan yang pusing dengan tingkah istri dan sahabatnya itu.
"Habis apartemen aku di rusak Anto," kesah Evan pasrah, karena Anto sudah kabur tanpa sempat ia cegah lagi.
***
Sepulang Anto Evan masih tampak kesal kepada Aluna.
"Masih marah?" sapa Aluna lembut di telinga Evan. Evan langsung sibuk dengan handphone nya tanpa perduli kepada Aluna seolah Aluna tidak ada di sana. Sadar akan kemarahan Evan, Aluna tak putus asa, dia terus merayu suaminya dengan berbagai cara. Menggelitiknya hingga Evan kembali tertawa dan membalikkan posisi hingga Aluna berada di bawah kungkungannya.
"Kamu jahat banget kasih apartemen aku sama Anto," keluh Evan masih mengingat kejadian tadi. Aluna tersenyum menatap wajah suaminya seraya memegang wajah suaminya dengan kedua tangannya dengan gemas.
"Kita punya rumah yang besar dan hangat, sedangkan Anto masih harus bekerja keras untuk mendapatkan nya. Apa kamu nggak kasihan, kamu tinggal disini di rumah yang besar sedangkan dia sahabat karib kamu malah nggak punya tempat tinggal masih tinggal sama orang tua. Apa kamu lupa? Mungkin tanpa dia nggak akan ada kamu yang sekarang. 1 apartemen nggak akan ada artinya di banding sahabat sebaik Anto buat kita," tutur Aluna yang terdengar lebih bijak. Evan tersenyum.
***
Saat tengah menikmati hangatnya cinta kasih mereka malah dikagetkan dengan dobrakan pintu tiba-tiba. Sontak membuat mereka melihat kedatangan seseorang itu. Itu adalah Dea bersama Manuela si sulung.
"Dea!" seru Evan tampak tidak suka.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1