
Beberapa tahun sudah berlalu Evan tidak pernah pulang kerumahnya barang sekalipun. Sekarang dia bekerja dia salah satu hotel berbintang di Bali.
Sudah beberapa bulan ini dia di pindahkan ke Bali karena di hotel sebelumnya Evan bermasalah dengan tamu VIP nya, itu membuat dia mendapat sanksi penurunan jabatan dari asisten general manager menjadi executive housekeeper di tempat baru nya ini.
Tidak masalah bagi Evan. Dia kurang mempermasalahkan jabatannya apa, tapi dia kurang suka menghadapi komplein tamu yang selalu ada. Karena dia Executive Housekeeper, jadi dia lah yang harus menghadapi komplain itu.
Dia kurang suka dan kurang pandai bermanis muka seperti penjilat. Atau beramah tamah dengan banyak basa basi. Tapi sekarang dia di tuntut untuk seperti itu dalam menghadapi komplain para tamu, apa lagi tamu VIP, mereka tamu dengan banyak tuntutan. Evan tidak menyukainya, tapi dia juga harus profesional menghadapinya.
Baru beberapa bulan di sini dia sudah ingin pindah rasanya, apa lagi dia juga harus menghadapi rekan kerja nya yang cukup pandai dalam hal melakukan kelemahannya itu, yaitu menjilat dan bermuka dua. Evan sangat muak menghadapinya, tapi dia tidak bisa menghindarinya karena dia adalah Asisten General Manager di hotel ini, alias atasannya. Atasan yang baru menjabat tepat saat Evan pindah ke sini.
Sikap menyebalkan nya semakin menjadi setelah tahu jika Evan tidak melalui waktu yang panjang untuk menjadi Asisten General Manager, Evan langsung mendapatkan jabatan tersebut karena rekomendasi dari profesor Oxford nya yang merupakan pemilik hotel di Singapura tempatnya bekerja sebelumnya.
Sedangkan Andri yang merupakan Asisten General Manager sekarang, harus melalui waktu bertahun-tahun untuk sampai di jabatan impiannya ini. Itu membuatnya menjadi iri pada Evan. Apa lagi pendidikan Evan juga lebih tinggi dari Andri di universitas terbaik dunia pula.
Andri selalu mencoba menjatuhkan Evan, tapi apapun usahanya selalu terlihat nihil sampai saat ini. Apa lagi banyak yang memuji penampilan Evan mempesona, padahal dia sudah berusaha tampil all out di setiap tampilannya, tapi selalu di kalahkan Evan yang hanya tampil sederhana dengan barang branded nya. Itu membuat dia semakin kesal dengan Evan. Apapun yang Evan kenakan selalu terlihat berkelas, sulit untuknya menyaingi Evan.
Dia menabuh genderang perang dengan Evan, Evan yang tipikal cuek dan tidak peduli dengan masalah remeh temeh seperti itu hanya santai menanggapi sikap tidak mau kalah Andri. Baginya Andri hanya anak kecil yang terjebak di tubuh orang dewasa, Alias kekanak-kanakan. Begitu pun yang lain, mereka cukup paham dengan sikap kekanak-kanakan Andri.
Seperti hari ini. Dia sengaja mengecek kamar hotel yang bukan tugasnya melainkan tugas Evan. Dia lakukan itu dengan alasan karena dia adalah Executive Housekeeper senior dahulu.
__ADS_1
"Kamu tidak cek, ya? Kamar itu harus di teliti betul-betul biar tamu nyaman, dan balik lagi ke hotel kita... bla, bla, bla," ucap Andri yang lebih terdengar seperti anak burung yang haus akan perhatian. Evan hanya duduk dengan santai menikmati kerja Andri di salah satu kursinya sambil tersenyum manis. Evan harus membiasakan diri dengan tingkah bossy dan suka mengatur dari atasannya ini.
"Dah gitu. Paham, kan?!" ucapnya sok pintar. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaan nya. Evan tersenyum lalu berdiri.
Dia tampak besar kepala, melongos keluar kamar lalu berlalu begitu saja dengan puas. Evan dan Houskeeper di ruangan itu sama-sama tersenyum dengan pandangan yang mengekori langkah Andri yang pergi keluar hingga hilang di balik pintu kamar.
"Udah kerja lagi, iklannya udah selesai," ucap Evan. Lalu menyusul keluar mengecek ruangan lain di hotel tersebut yang juga menjadi tanggung jawabnya.
...***...
Setelah agak siang, Evan pun Baru bisa beristirahat. Dia duduk di kursi depan resepsionis dengan wajah capek karena habis mengecek semua ruangan di hotel besar ini. Ini adalah hotel berbintang 5 yang sangat terkenal di Bali. Jadi tidak heran kalau hotelnya sangat besar dan memakan waktu dan tenaga untuk Evan meng-handle semua perawatannya.
"Capek banget. Ada minum nggak?" tanya Evan pada resepsionis di sana. Lalu seorang wanita muda menyodorkan sebotol minuman.
" Duh! Pak Evan Pratama kerja keras, ya!" goda si resepsionis cantik itu. Namanya Bella, dia adalah salah satu orang yang sangat ramah dan manis. Kalau ada waktu senggang mereka sering mengobrol santai ada juga Heru teman Bella di meja resepsionis.
__ADS_1
"Sempet-sempetnya si kampret Andri dateng terus ngomel. Kurang kerjaan aja dia," keluh Evan.
"Biarin aja mas, paling caper. Dia merasa tersaingi sama mas Evan," tukas Heru.
"Iya mas. Gaya nya udah kayak nomer wahid aja di hotel. Dia berasa orang penting, suka cari muka. Belum lagi kalo anak pak Richard ke sini itu lebih parah lagi capernya dia.bApa aja yang di suruh he'eh aja. Udah kayak kacungnya. Mimpi kali Aluna mau sama dia," seru Heru mulai menggibah.
"Iya ya! Udah lama Aluna Nggak ke sini. Biasanya dia sering kesini, Mas. Anaknya cantik sih sebenarnya, cuman agak arogan sama Bossy banget. Pak Andri perjaka tua itu aja yang betah ngelayanin Mbak Aluna," kenang Bella dengan gaya khas menggibah.
"Iya mas Evan! Kalo ngelayanin dia baek-baek deh. Salah-salah kita yang di dampratnya. Kalo dia datang, semua jadi kacungnya dia. Pokoknya ngelayanin dia lebih dari ngelayanin artis sekelas Madonna sekalipun. Riweuh banget." Keluh Heru. Evan jadi penasaran seperti apa sosok Aluna itu.
"Jangan di hajar lo mas Evan, kalo yang kemaren mas Evan cuman di pindah tugas sama turun jabatan. Kalo yang ini mas Evan bisa di bunuh kali, kalo macam-macam," ucap Heru lagi. Evan hanya tertawa mendengarnya, Apa lagi kalau mengingat ke jadian di Singapore itu, dia sering tertawa sendiri mengingatnya. Keributan yang di picu oleh penolakkan Evan dengan sikap merendahkan tamu VIV nya terhadap pegawai Housekeeper itu membuat Evan hilang kendali. Dia menghajar tamu nya tanpa ampun hingga dia di pindahkan agar tidak menimbulkan masalah baru. Sebenarnya itu juga adalah salah satu cara pemilik hotel melindungi Evan karena dia takut Evan akan di pidana oleh si tamu VIV nya itu.
Ya, Evan bekerja di salah satu hotel milik profesornya di Oxford dulu. Dia di rekomendasi khusus dari sang profesor kaya raya tersebut. Walau perhotelan bukan bidangnya Evan tapi dia percaya Evan mampu melaksanakan tugas tersebut karena mengingat Evan adalah anak yang cerdas dan mau belajar. Karena itu dia menepatkan Evan sebagai Asisten General Manager di hotelnya, tapi Evan malah membuat masalah.
Tiba-tiba pak Ari General Manager hotel tersebut datang menemui mereka.
"Besok Aluna datang, pak Richard minta kita siap-siap." Umum pak Ari pada mereka. Kedua resepsionis itu saling pandang. Setelah memberikan informasi pak Ari pun pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Tuh kan baru aja di bilangin. Udah mau datang dia." Ucap Heru panik.
__ADS_1
"Mas Evan siap-siap aja tuh kerja parodi," ucap Bella. Evan hanya santai menanggapinya, dia hanya tersenyum melihat reaksi kedua resepsionis tersebut. Lalu dia pergi sambil menenggakkan minumannya meninggalkan 2 resepsionis tersebut.
BERSAMBUNG....