PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
PENGUASA HATI SI MANJA


__ADS_3

Setelah Evan ikut duduk bersama. Mertuanya menatap Evan seolah ada yang ingin disampaikannya.


"Van, bagaimana kerjaan kamu? lancar?" tanya Richard basa-basi sebelum sampai pada pembicaraan utamanya, Evan mengangguk. Dia paham jika Richard akan menyampaikan sesuatu. Evan pun mulai duduk dengan serius.


"Lumayan, dad. Minggu depan mungkin ke Sumatra lagi, ada kerjaan lagi aku di sana," terang Evan dengan seutas senyuman.


"Hahaha... Kamu itu ya, gampang sekali dapat duit nya! Ada saja kerjaannya. Kalo kayak gini terus, kapan kamu mau gantiin daddy?" kekeh Richard. Wisnu dan yang lain pun ikut tertawa.


"Nanti lah, Dad. Kalo di perusahaan nggak bisa santai lagi," ucap Evan dengan seulas senyuman. "Seharusnya dia yang bantuin," tunjuk Evan pada Aluna, dengan telunjuknya yang menyentuh pipi Aluna langsung, membuat Aluna mengernyitkan dahinya "Dia harus selesain kuliahnya biar bisa bantuin juga." Sontak Aluna menatapnya dengan mengernyitkan keningnya makin dalam.


"Nggak! Nggak nyampek otak aku ngurus yang gituan," kilah Aluna tidak menyanggupi dan menatap Evan serta yang lainnya. Evan mulai menatapnya dengan serius, lalu seulas senyum terukir dengan jahil di bibirnya.


"Ya udah. Kamu serahin aja semua nya sama aku. Nanti biar aku bisa tipu kamu, terus bawak semua pergi," ancam Evan.


"Kamu nggak akan tega," pungkas Aluna menyangsikan ucapan Evan dengan tatapan menantang. Evan menatap Aluna dalam. Sudah lama dia ingin membicarakan ini dengan Aluna.


"Kamu nggak bisa percaya sama orang lain sepenuhnya, siapa yang tau masa yang akan datang. Aku nggak bisa jamin, kalo aku akan sehat terus, atau aku akan selalu setia. Aku itu manusia, bukan malaikat. Dan kamu harus ingat, tuhan itu maha membolak-balikkan hati manusia. Kalo kamu ngerti sama bisnis daddy kamu. Seenggak nya, kamu tau apa aja yang daddy kamu punya dan bisa diandalkan saat genting, jangan sampe saat genting nanti kamu kelabakan, karena nggak ada yang bisa kamu andelin. Kamu itu anak tunggal, jadi harus bisa diandalkan," nasehat Evan. Evan memang sudah lama menginginkan Aluna menyelesaikan kuliahnya yang terbengkalai. Mungkin ini kesempatannya untuk menyudutkan Aluna, agar dia mau menyelamatkan pendidikannya.


Sesaat Richard ikut merenung. Dia bahkan tidak memikirkan itu selama ini. Dia membiarkan Aluna dengan semua keinginannya selama ini. Sesaat terbit senyum bangga di bibir Richard. Richard kagum dengan pemikiran Evan yang jauh ke depan.


"Kamu benar, Van. Bisa aja Evan ketemu perempuan cantik, pintar, dan pinter memikat laki-laki. Terus Evan tertarik, semua yang daddy kamu punya bisa di bawa Evan pergi sama perempuan itu. Kamu gimana?" ucap Syahila menambahkan, membuat Aluna semakin takut.


"Evan itu banyak yang suka lo, Lun. Waktu kuliah aja, dia punya banyak banget pacar," tambah Tama membuat Evan terbelalak dan menggeleng, Aluna menatap Evan penuh selidik. Evan menggeleng seolah membantah. "Mas sampe kaget liat hadiah valentine nya dia penuh di kamarnya. Coklat, bunga, sampe nggak ada tempat di kamarnya, sampe di kasih ke orang-orang. Itu waktu dia kuliah dulu. Apa lagi kalo dia udah punya banyak duit. Wah, itu mah nggak usah di cari, juga perempuan datang kayak semut nyamperin permen. Berbondong-bondong. Jadi, kalo kemungkinan dia tergoda perempuan di luar sana, itu bukan mustahil lo, Lun," tambah Tama lagi yang membuat Aluna semakin ketakutan lagi.

__ADS_1


"Mas Tama apaan sih," bantah Evan khawatir Aluna akan operthinking.


"Jangan di dengerin, Lun. Mas Tama emang gitu orangnya, kadang suka ngomong asal," bantah Evan lagi. Seraya melempar bantal kepada Tama yang di sambut Tama dengan tawa canda.


Sementara Evan dan Tama asyik bercanda, Aluna malah tampak mulai berpikir. Aluna mulai terpengaruh. Dia mulai takut, seandainya itu benar-benar terjadi. Benar kata Syahila dan Tama, Evan bukan hanya pintar tapi sikap coolnya dia banyak membuat perempuan tertarik dan penasaran. Bagaimana kalau seandainya Evan benar-benar tergoda wanita lain, dia benar-benar bisa kehilangan semuanya. Evan benar, dia harus pintar agar tidak mudah di tipu. Dia harus mengerti bisnis juga agar bisa diandalkan.


"Ok! Aku kuliah," tutur Aluna tiba-tiba


"Tapi. Habis lahiran. Aku nggak bisa sekarang." Rengek Aluna seraya menatap Evan, dengan tatapan menghiba. Evan tersenyum seraya mendekap Manja istrinya itu, dia tau Aluna sekarang benar-benar ketakutan.


"Iya sayang!" bisik Evan penuh kasih sayang. "Asal kamu mau lanjutin kuliahnya," ucap Evan penuh pengertian.


Richard semakin yakin dengan ketulusan Evan pada putrinya. Evan benar-benar laki-laki bertanggung jawab yang penuh dengan rencana kedepan untuk masa depannya. Dia juga yakin 100% sekarang untuk mempercayai perusahaannya kepada Evan.


Setelah makan malam dan keluarga Evan pulang, Evan dan Aluna pun masuk kamar. Aluna tampak masih memikirkan ucapan Evan tadi. Dia duduk diam di kamar dengan Evan yang seperti biasa asyik dengan laptopnya sebelum tidur di sofa salah satu sudut kamarnya. Aluna menatap Evan yang tengah mengetik sesuatu di laptopnya.


"Van!" panggil Aluna. Evan segera menghentikan kegiatannya dan menatap Aluna yang tampak ingin menyampaikan sesuatu "Apa kamu beneran kepikiran mau ninggalin aku?" tanya Aluna lugu. Aluna terlihat serius menunggu jawaban Evan. Evan tampak berfikir sejenak.


"hahaha... Gimana, ya!" ucap Evan masih mempermainkan Aluna, dia memutar tubuhnya kearah Aluna. Dia menatap wanita cantik itu yang tengah tertegun menunggu jawabanya dengan tatapan khawatir. Lalu Evan tersenyum dan berjalan kearah Aluna. Duduk bersimpuh di hadapan Aluna yang tengah duduk di pinggir ranjang dengan tatapan tampak khawatir menunggu jawaban Evan.


"Hmmmhh... Aku nggak akan tergoda dengan wanita lain lagi. Aku punya wanita yang sangat cantik di hadapan aku. Aku punya mertua yang baik, yang mungkin nggak semua orang bisa punya. Dan tantenya yang sudah seperti ibu ku sendiri. Kalian semua hidup aku sekarang. Mana mungkin aku hancurin kalian demi 1 wanita yang curang," ujar Evan dengan tatapan yang hangat serta seulas senyum yang membuat Aluna tenang. Aluna langsung berhamburan ke pelukan Evan.


"Aku sayang kamu, Van. Aku nggak mau kehilangan kamu." Aluna merasa lega mendengarnya. Evan mengelus lembut kepala Aluna yang tengah berada di dekapannya. Aluna kembali melihat tatapan hangat Evan lagi, yang ia lihat tatapan hangat seorang laki-laki yang sangat tulus kepadanya. Sekali lagi ia memeluk manja Evan. Evan tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Tapi kamu harus bisa seleseikan kuliah kamu. Biar kamu juga bisa mengolah semua milik daddy kamu. Seandainya aku atau daddy nggak ada, kamu masih bisa menjalani semuanya sendirian. Daddy kamu nggak punya siapapun selain kamu," ingat Evan sekali lagi. Aluna mengangguk patuh.


Hanya Evan yang mampu menguasai Aluna dan mengatur hidup Aluna, sedangkan Richard selalu lemah dengan sikap manja putri tunggalnya itu. Richard selalu memanjakan Aluna dengan mengabulkan semua permintaan Aluna tanpa memikirkan baik buruknya. Evan adalah satu-satunya laki-laki yang bisa mengendalikan Aluna yang manja ini menjadi lebih mandiri dan kuat.


"Eh, iya. Mas Brian ngundang kita buat pembukaan penginapan barunya 2 hari lagi di Bandung. Gimana? Kita ikut nggak?" tanya Aluna yang telah melepas pelukannya.


Raut wajah Evan langsung berubah mendengar nama Brian di sebut. Aluna hanya mengernyitkan keningnya melihat reaksi Evan yang tampak kesal, Evan pun segera berdiri dan duduk di samping Aluna di atas ranjang.


"Aku sibuk. Nggak sempet," tolak Evan tanpa menatap Aluna. "Kamu jangan dekat-dekat sama dia. Aku punya firasat jelek sama dia. Dia itu nggak bener," tutur Evan lagi membuat Aluna tidak terima.


"Kamu belum kenal dia udah berani nuduh sembarangan. Dia itu laki-laki baik," pungkas Aluna.


"Hah! Nggak ngerasa, ya? Kalo selama ini dia manfaatin kamu?" tanya Evan seraya menatap Aluna. "Yang beliin cincin lamaran dia? kamu! Gedung yang di pakek buat tunangan? gedung kamu! Mobil yang di pakek buat kencan? mobil kamu!" ucap Evan berusaha menyadarkan Aluna. Aluna malah tampak bingung dan mulai berfikir. Evan melihat tatapan Aluna yang masih belum sadar juga "Masih nggak ngerasa?" tanya Evan lagi. Aluna menggeleng bingung.


"Dia nggak maksud gitu, kok. Aku yang nawarin dia. Bukan dia yang mintak," bantah Aluna sekali lagi.


"Ah! Bener-bener gampang di manfaatin kamu, ya. Pantesan daddy kamu protektif banget sama kamu," kesah Evan mulai lelah berdebat dengan Aluna.


"Udah! Nggak usah dekat-dekat dia lagi. Aku nggak suka. Dan aku nggak akan mau dateng ke undangan dia. Firasat aku jelek sama dia. Kamu jangan ngeyel. Kamu itu istri aku dan aku nggak suka kamu deket-deket sama cowok kayak gitu," tegas Evan tidak ingin di bantah lagi.


Jika Evan sudah bicara seperti itu, Aluna tidak akan bisa membantahnya lagi. Dia pun beranjak ke ranjangnya. Dan segera tidur walau masih kesal. Sedangkan Evan lanjut dengan pekerjaannya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2