PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
RENCANA LICIK BRIAN


__ADS_3

Sesampainya di kamar, alangkah kagetnya Aluna mendapati tas brandednya yang super mahal dan langka itu sudah di modifikasi menjadi kanvas oleh Evan, dengan gambar absurd, yang hanya Evan dan tuhan yang tahu maknanya.


Aluna menatap tajam ke arah Evan yang tampak santai. Sesaat Evan melihat Aluna yang mulai berkaca-kaca melihat tas Chanelnya yang rusak karena Evan.


"Ini 500 juta harganya. Dan cuman ada 8 di dunia," teriak Aluna kesal seraya mengusap tas kesayangannya.


"Bodoh, mau di mainin sama brand, toh fungsi semua tas juga sama," tutur Evan santai. Aluna terus memungut barang-barang miliknya yang berantakan di lantai dengan derai air mata. Evan masih menatap Aluna dengan santai dan bergelut dada "Sesuai kesepakatan. Kamu telat, aku hancurin barang-barang kamu. Apa lagi, kamu tadi nggak dengerin omongan aku semalam, buat jauhin Brian," tegas Evan terdengar agak kesal.


"Dia datang belakangan. Mana aku tau kalo dia bakalan datang," tukas Aluna masih kesal seraya membersihkan tasnya. Sedangkan Evan hanya duduk santai di kursinya.


"Kalo kamu niat dengerin perintah aku. Dia dateng, kamu pergi," pungkas Evan tidak mau kalah.


"Ya, nggak enak lah aku kayak gitu. Nggak sopan, kayak cari masalah aja. Emang aku punya masalah apa sama dia," tukas Aluna pula tidak kalah sengitnya.


"Kamu terlalu banyak alasan," sungut Evan lalu beranjak hendak pergi.


"Kamu terlalu keras sama aku. Aku udah ikutin semua mau kamu. Tapi kamu nggak pernah hargain itu," teriak Aluna mulai histeris. Langkah Evan terhenti sebelum dia sampai ke pintu kamar. Dia membalik badan menatap Aluna yang sedang menangis sambil terus mengelap tas kesayangannya itu.


"Keras?! Kalo aku didik kamu kayak aku di didik. Mungkin sudah dari hari pertama kita nikah kamu bunuh diri," tukas Evan dingin.


"Jangan lampiasin dendam masa lalu kamu, sama aku. Kita beda," ucap Aluna menatap tajam kearah Evan.


"Kalo kamu mau hidup sama aku. Kamu ikutin aturan aku," tegas Evan, lalu pergi seraya menutup pintu kamar meninggalkan Aluna yang tengah menangis kesal di kamar. Aluna terus mengelap tasnya dengan berurai air mata.


"EVAN!" teriak Aluna kesal di kamar nya sendirian dengan barang-barang yang berserakan di lantai.


Marissa yang kebetulan mendengar pertengkaran mereka, tidak mau ikut campur, karena sudah di ingatkan oleh Richard untuk tidak ikut campur dengan urusan rumah tangga Aluna dan Evan. Richard sudah mempercayai Aluna pada Evan sepenuhnya.


Marissa tampak tetap fokus dengan kesibukannya. Dia terlihat seperti tidak terpengaruh dengan teriakan Aluna dan kepergian Evan. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sudah biasa juga Evan dan Aluna begitu, biasanya Evan akan pulang, dan mereka akan berbaikan dengan sendirinya.


***


Di sisi lain, Jamia terus memandang sepatu yang baru saja di belikan Evan untuknya tadi siang saat di rumah sakit tempat ia bekerja. Dia terus tersenyum menatapnya. Ada perasaan bahagia yang menjalar di dadanya.


Sesaat datang seorang rekan seprofesi Jamia yang baru datang dengan membawa dua cup kopi capuccino. Ia langsung ambil posisi duduk di samping Jamia dan meletakkan dua cup kopi di atas meja. Kopi hangat untuknya dan Jamia, untuk menemani malam mereka berdua yang memang kebetulan mendapat jadwal piket jaga. Ia tersenyum saat melihat tingkah Jamia yang terus memandang sepatu barunya.


"Di liatin terus sepatu barunya. Emang dari siapa?" tanya rekannya seraya menyusun laporan medisnya.


"Nggak! ini di beliin kakak aku tadi siang," ucap Jamia menyebut Evan sebagai kakaknya. Ia pun mengangguk paham.


"Eh iya, gimana pertunangannya? Kapan acaranya?" tanya rekannya lagi, kali ini tampak lebih serius dengan kesibukannya yang terlihat sudah selesai itu.


"Mungkin 3 hari lagi. Tapi maaf, ya. Dia nggak mau buat undangan. Cuman acara keluarga aja." ucap Jamia tidak enak hati.


"Nggak papa. Asal waktu nikah, kita di kasih undangannya. Awas kalo nggak!" Canda rekannya seperti mengancam, di sambut tawa oleh Jamia.


***

__ADS_1


Evan sudah sampai di rumahnya. Dia butuh menenangkan diri setelah bertengkar dengan Aluna. Rima sudah paham dengan kebiasaan putranya itu. Jika sudah ada masalah dia akan mencari ayahnya untuk bercerita walau tidak semuanya ia ceritakan. Terkadang Evan mencari ayahnya hanya untuk bertemu tanpa menceritakan apapun. Karena terbiasa sendiri dan mandiri, membuat Evan agak kesulitan untuk terbuka dan mengungkapkan perasaannya kepada orang lain.


"Kamu apain Aluna?" tanya Ayahnya saat Evan datang menemuinya di ruang keluarga yang memang kebetulan ayah dan ibunya tengah bercengkrama di sana saat itu.


"Nggak. Cuman di nasehatin aja. Dianya aja yang manja. Di bilangin dikit langsung nangis." Ucap Evan.


"Jangan terlalu keras. Dia kan lagi hamil," nasehat Ayahnya. Evan hanya menjawabnya dengan senyum.


"Pah, aku ketempat Anto dulu, ya!" Ucap Evan seraya pergi meninggalkan ayahnya.


Setiap kali dia punya masalah, dia selalu menemui ayahnya, hanya untuk bertemu, mengobrol sebentar, itu sudah cukup membuatnya kembali tenang. Lalu dia akan pergi.


***


Saat Evan menelpon Anto, ternyata dia tengah berada di salah satu klub malam, dia tengah mengunjungi temannya. Kelakuan Anto ini masih tidak berubah, dia masih suka membuat ibunya mengomel dan naik darah. Dia suka mengunjungi klub yang jelas akan membuat ibunya naik pitam jika mengetahuinya.


Saat Evan mengunjungi klub itu masih belum terlalu ramai, mungkin masih terlalu sore. Biasanya akan ramai jika sudah tengah malam. Di sana nampak Anto sedang mengobrol bersama seorang Bartender. Dia segera melambaikan tangannya saat melihat Evan datang. Evan pun segera menghampirinya.


"Kelakuan lo dari dulu masih aja nggak berubah, ya!" Seru Evan sambil terkekeh duduk di samping Anto dan di sambut Anto dengan salam khasnya bersama Evan.


"Mumpung masih muda. Ntar kalo udah ada anak istri, apa lagi kalo udah ada cucu. Udah nggak bisa lagi, kan!" seru nya, Evan hanya geleng kepala mendengarnya


"Mau nyobain?" tanya Anto. Evan mengernyitkan keningnya dan menolaknya dengan menggeleng dan mengangkat tangan kanan nya tanda penolakan. Evan pun segera memesan minuman non alkohol.


Saat sedang asyik mengobrol tiba-tiba Brian yang entah dari mana datang bergabung dengan mereka.


"Van, Brian ini pemiliknya. Keren nggak, tuh. Masih muda, tapi bisnis udah di mana-mana," puji Anto.


Evan agak tidak menyukai keberadaan Brian. Apa lagi kelihatannya dia akan bergabung bersama mereka. Itu terlihat dari dia yang terlihat segera duduk di samping Evan.


Brian dan Anto terlihat cukup akrab, mereka terlibat obrolan yang cukup akrab. Evan hanya menjadi pendengar yang baik. Dengan tampak tidak begitu peduli, dia mulai tidak betah.


"Ya, udah. Malam ini aku yang traktir. Kalian bebas mau minum apa aja," ucap Brian yang membuat Anto kesenangan mendengarnya. Evan terlihat tidak begitu antusias. Tapi Brian terus memaksa Evan untuk ikutan minum juga.


"Ayo lah, Van. Anggap saja ini salam perkenalan kita," bujuk Brian. Evan sudah mencoba menolak, tapi Brian terus memaksa, akhirnya untuk sekedar basa-basi Evan pun minum segelas kecil.


"Sekali lagi, donk. Ayolah!" ucap Brian kembali memaksa. Evan pun mencoba meminum segelas lagi, setelah itu dia menolaknya. Tepat saat Aluna menelponnya.


"Ya!" jawab Evan.


"Kamu kemana? Pulang, Van. Aku nggak bisa tidur, kalo nggak ada kamu! " rengek Aluna manja dari seberang sana. Kelihatannya dia sudah tidak marah lagi sekarang, dan mulai merasa kehilangan suaminya.


"Iya. Aku pulang sekarang," ucap Evan tersenyum lalu mematikan handphone nya. Ia tahu sekeras apapun ia terhadap Aluna, Aluna akan tetap kembali padanya.


"Gue pulang dulu, ya. Aluna sendirian di rumah!" ucap Evan seraya bersiap akan pergi.


Tapi Evan tampak aneh, dia mulai terlihat gelisah. Dia mengusap wajah dan lehernya berkali-kali dan tampak tidak tenang. Anto menangkap gelagat tidak biasa dari sahabatnya itu, Anto merasa khawatir.

__ADS_1


"Ini kayaknya dia nggak biasa minum, nih. Ya udah, gue antar dia pulang dulu, ya." ucap Anto sebelum pergi kepada Brian.


Brian pun hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman, dengan masih duduk di kursinya.


Setelah Anto dan Evan berjalan menuju pintu keluar. Brian tersenyum penuh arti.


"Paksa dia melakukannya lagi. Aku ingin lihat bagai mana kau memperkosanya lagi malam ini. Saat dia muak padamu, aku akan memungutnya dari mu," gumam Brian seolah di tujukan kepada Evan yang tengah berjalan keluar dengan di papah Anto.


Brian terlihat menyunggingkan senyuman yang licik dari bibirnya. Tiba-tiba Brian ingat dengan sesuatu. Dia pun buru-buru berlari menghampiri Anto yang tampak agak kerepotan memapah Evan, Brian segera membantu memapah Evan ke mobil. Dan mendudukkan Evan di bangku penumpang depan. Secara diam-diam, Brian membuka laci dashboard mobil Evan, ia meletakkan sesuatu di dalam sana.


Saat Evan dan Anto pergi, sekali lagi dia berkacak pinggang dengan senyuman puas yang tersungging dari bibirnya. Dia benar-benar merencanakan sesuatu untuk menghancurkan Evan.


...***...


Di mobil Evan terlihat tidak terkendali. Dia meremas rambutnya kuat-kuat untuk menahan hasrat nya, entah kenapa terasa sangat menggebu. Evan mendekap wajahnya dengan tangannya yang hampir menyentuh lututnya itu.


Anto menatap Evan bingung. Mungkin dia benar-benar tidak terbaisa minum alkohol, selama ini Evan memang di kenalnya sebagai anak baik-baik. Tapi yang aneh, reaksi Evan terhadap minuman. Tidak seperti orang yang tidak biasa minum. Dia gelisah dan tampak sulit mengendalikan dirinya. Bukan terlihat seperti orang mabuk pada umumnya.


"Kok bisa gini sih, reaksinya?" gumam Anto bingung dengan Evan yang semakin tidak menentu, Evan terus mendekap wajahnya, berusaha menahan dirinya.


...***...


Sesampainya di rumah, Anto kaget mendapati rumah super mewah, terpampang nyata di hadapannya. Selama ini dia hanya bisa melihat pagar tinggi, tanpa pernah melihat seberapa besar rumah mertua temannya ini. Sekarang dia sampai di depan pintu rumah tersebut, yang segera di buka oleh pelayan dan di sambut dengan beberapa orang pelayan berseragam.


Aluna yang tengah mengenakan pakaian tidurnya, tampak kaget mendapati suaminya pulang dalam keadaan begitu buruk. Tidak biasa nya Evan begini. Apa ini karena pertengkaran mereka tadi. Tapi mereka biasa bertengkar seperti itu, dan selama ini Evan selalu bisa mengendalikan dirinya. Kenapa sekarang dia bereaksi begini. Bereaksi dengan mabuk-mabukan, merupakan reaksi yang terlihat berlebihan untuk seorang Evan.



"Kenapa dia kayak gini?!" seru Aluna khawatir seraya berjalan cepat menghampiri Evan yang tengah di papah Anto dan ikut membantu menahan tubuh suaminya itu.


"Ini tadi, di ajak Brian minum. Mungkin dia nggak pernah minum jadinya kayak gini," terang Anto mencoba menjelaskan dengan grogi, karena berhadapan dengan wanita super kaya yang sangat cantik seperti Aluna. Dia terus kagum dengan keberuntungan Evan mendapatkan Aluna. Aluna segera memapah Evan ke kamar nya dan meninggalkan Anto yang masih terpesona dengan rumah Richard tersebut.


'Pantesan di tembok tinggi. rumahnya.... MasyaAllah luar biasa mewah,' gumam Anto membatin.


"Kamu yang antar Evan pulang, ya?!" seru Marissa yang segera membuyarkan lamunan Anto.


Dia melihat sosok Marissa, seorang wanita yang masih terlihat sangat cantik di usianya yang cukup berumur itu. Anto mengangguk hormat padanya.


"Nanti Driver akan antar kamu pulang. Terimakasih sudah mengantar Evan pulang," ucapnya ramah. Disambut anggukan Oleh Anto.


Anto pun diantar ke klub tadi kembali, untuk mengambil motornya yang masih ketinggalan di sana. Ini pertama kalinya bagi Anto naik mobil BMW super mewah seperti ini. Anto begitu mengagumi interior super mewah dari mobil BMW 7 Series itu. Nyaman, empuk dan terasa sangat elegan dengan desain nya.



Tanpa terasa perjalanan itu terasa sangat singkat bagi Anto. Tanpa ia sadari, dia sudah sampai kembali di bar yang tadi. Dan dia pun segera turun dan kembali ke motornya untuk pulang.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2