
"Zy itu apa?" tanya jin.
"Bukan apa apa. Ayo cepat, sebelum terlambat." jawab zyan.
Keduanya berjalan kaki kesekolah karna sekolah mereka yang dekat. Seperti biasa, mereka berjalan dalam diam tak seorangpun yang bicara.
Jin melihat lan dan yuri berdua sedang saling ngobrol. Jin mempercepat jalannya dan menghampiri lan dan yuri.
"Lan, yuri." panggil jin.
Lan dan yuri yang merasa terpanggil menengok kebelakang, melihat zyan dan jin sedang berjalan kearahnya.
Lan dan yuri berhenti menunggu jin dan zyan.
"Ada apa jin? Memanggil kami?" tanya lan.
"Hy lan. Loh shion mana? Ko gal bareng kalian?" tanya jin.
"Oh shion. Kemarin dia ijin pulang kerumah, katanya ibunya sakit jadi dia kemarin meminta ijin ke bu Elena untuk pulang." jawab lan.
"Iya, kemarin sepulang sekolah. Shion terlihat murung dan matanya juga terlihat bengkak seperti habis menangis. Mungkin dia dapat telpon dari keluarganya dan itu membuat shion sedih." tambah yuri.
"Eh shion kemarin menangis?" tanya jin sambil menengok kearah zyan.
Zyan terus bersikap dingin tanpa ekspresi sedikitpun. Jin memandang zyan dengan tatapan sedih.
"Iya. Saat kami bertanya apa yang terjadi? Shion tidak menjawabnya. Dia hanya bilang, ingin pulang." jawab yuri.
"Begitu ya. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada keluarga shion." kata jin.
"Amin." balas lan dan yuri bersamaan.
"Jin, ayo masuk." kata zyan berjalan masuk.
"Ayo masuk. Yuri lan." ajak jin.
Jin mengikuti zyan dari belakang. Sampai di kelas, baik zyan ataupun jin tak ada yang bicara. Sebenarnya jin ingin sekali bertanya pada zyan tentang apa yang terjadi pada shion kemarin.
Tapi jin tahu, zyan tidak akan memberitahu apa yang sebenarnya yang terjadi. Zyan pasti akan berusaha mengelak.
Waktu istirahatpun jin tetap diam. Zyan tau apa yang dipikirkan oleh jin. Tapi tetap saja zyan enggan untuk bertanya.
Zyan enggan untuk menceritakannya. Sepanjang hari jin terus kepikiran dengan shion, jin ingin sekali bertanya tapi jin sangat takut zyan akan marah.
Malam di asrama, jin sedang belajar tapi pikirannya tidak fokus pada pelajaran.
Jin terus mencuri pandang pada zyan yang sedang duduk di tepian jendela sambil memandangi langit malam.
Besok hari ulang tahun zyan yang ke 17. Zyan masih tidak bisa melupakan kejadian itu. Besok tepat 7 tahun kepergian keluarganya.
Pikirannya melayang layang memikirkan kenangan masa lalunya.
Jin menghampiri zyan, jin tahu besok ulang tahun zyan dan juga hari peringatan 7 tahu kematian ayah dan ibunya.
"Zy." panggil jin, pelan.
Tapi zyan tak mendengarkannya, zyan masih sibuk dengan pikirannya.
Jin menepuk pelan pundak zyan, membuat zyan tersadar dari lamunan nya. Zyan menengok ke samping nya.
__ADS_1
"Zy.." panggil jin.
Jin menatap zyan dengan pandangan sedih. Jin tahu saat ini zyan sedang sedih mengingat hari yang seharusnya menjadi hari yang membahagiakan untuknya malah berubah menjadi hari paling kelam dalam hidup zyan.
"Zy aku mohon, jangan sedih lagi. Besok hari ulang tahunmu, zy untuk sekali ini saja. Aku mohon untuk tersenyum." kata jin.
Zyan menyentuh tangan jin yang ada di pundaknya. Dan menatap jin dengan pandangan sedih namun wajahnya tersenyum.
"Jangan khawatir, aku baik baik saja." jawab zyan.
"Zy besok sepulang sekolah, kita temuin keluarga kita bagaimana? Sambil merayakan ulang tahunmu bersama mereka." kata jin sambil tersenyum.
"Iya. Terima kasih jin." kata zyan.
Kembali, keduanya terdiam. Zyan masih terus memikirkan masa masa indah bersama keluarganya.
Jin melihat wajah zyan. Meski zyan terlihat dingin tapi disaat zyan sedang terdiam seperti sekarang ini, wajah zyan terlihat begitu tampan.
"Sudah malam sebaiknya tidur." kata zyan,
Zyan bangun dan berjalan ketempat tidur. Jin hanya memperhatikan zyan yang sedang terbaring.
"Zy kau baik baik saja?" tanya jin.
"Iya." jawab zyan.
Jin tak berkata lagi. Jin menghampiri zyan dan tidur di samping zyan.
"Zy, jika aku bisa? Aku ingin sekali mengubah waktu. Aku ingin kembali ke masa lalu dan mengubah segalanya. Aku tidak ingin melihatmu terus bersedih seperti ini zy." kata jin sambil melihat langit kamar.
"Aku baik baik saja. Ada kau disisi ku itu sudah membuatku senang." balas zyan.
"Zy, berhenti kan membohongi dirimu sendiri. Kita sudah lama saling mengenal. Aku pun sudah bisa memahami mu. Aku tahu saat ini kau sedih karna besok hari ulang tahunmu dan juga hari kematian keluargamu." kata jin.
"Zy, berapa banyak lagi hal yang kamu sembunyikan dari ku?" tanya jin.
"Baka, tidak ada yang bisa aku sembunyikan lagi darimu. Sekarang kau sudah pandai membaca hatiku. Dan kau sudah mengetahui semua." jawab zyan.
"Ada hal lain yang masih kau sembunyikan. Salah satunya pembicaraanmu dengan shion kemarin. Kamu belum menjawab pertanyaan ku, zy." balas jin dengan wajah sedih.
"Jin, maafkan aku. Aku tidak bisa mengatakan semuanya. Ini demi kebaikanmu." kata zyan.
Jin terdiam. Dia juga mengerti setiap perkataan zyan. Tapi jin masih belum bisa menerima jawaban zyan soa pertanyaannya itu.
Pagi telah tiba. Jin bangun terlebih dahulu. Dia melihat sahabatnya itu masih tertidur.
Jin bangun dan berjalan dapur. Dia menyiapkan sarapan untuknya dan zyan. selesai membuat roti panggang, jin berjalan kekamar mandi.
Berapa menit kemudian, jin selesai mandi. Jin melihat zyan yang masih tertidur.
Hari ini tidak seperti biasanya. Zyan bangun terlambat, bukan tanpa alasan. Sebenarnya semalaman zyan tidak bisa tidur.
Zyan tidur ketika sudah menjelang pagi. Jin menghampiri zyan karna sudah jam 6.05 menit zyan belum bangun.
Jin duduk disamping zyan lalu menyentuh dahinya. Jin ingin tahu apa zyan sakit atau tidak.
"Tidak panas. Syukurlah." gumam jin dalam hati.
"Zy bangun. Sudah jam 6.10 menit. " kata jin sambil menepuk pelan pipi zyan.
__ADS_1
"Emm." eluh zyan.
Zyan perlahan membuka matanya, dia mengejap ngejap untuk menyesuaikan cahaya. Di lihatnya wajah sahabatnya itu yang sedang tersenyum padanya.
"Jam berapa sekarang?" tanya zyan sambil duduk bersandar.
"Sekarang sudah jam 6.10 menit." jawab jin.
"Sial aku bangun terlambat." kata zyan.
Zyan segera beranjak bangun dan bergegas kekamar mandi.
Zyan dan jin selesai bersiap. Keduanya keluar dari asrama.
"Zy kamu kenapa? Ko tumben kamu bangun siang?" tanya jin disela mereka jalan kesekolah.
"Aku tidak bisa tidur semalam. Mungkin aku tidur jam 4 pagi." jawab zyan.
Jin melihat sahabatnya itu dengan pandangan sedih. Jin tahu sebab zyan tak bisa tidur semalam. Zyan memikirkan keluarganya.
Jin menggenggam tangan kanan zyan sambil tersenyum padanya. Zyan menengok kesamping, ada perasaan hangat mengalir dalam hatinya.
"Zy, jangan bersedih lagi. Aku yakin semua pasti sudah bahagia disana. Begitu pula kedua orang tuaku." kata jin sambil tersenyum.
Zyan pun membalas genggaman tangan jin dan ikut tersenyum pada sahabatnya itu.
"Happy birthday zy." kata jin.
"Iya. Terima kasih." balas zyan.
Keduanya masuk kedalam kelas bersama sama. Jin melihat kursi di sebelah zyan yang masih kosong. Shion belum kembali kesekolah.
Waktu terus berjalan, sampai jam pulang tiba. Jin dan zyan sedang beres beres. Raiga dan soji menghampiri keduanya.
"Hai bro." Sapa raiga.
"Raiga, ada apa?" tanya jin.
"Hari ini kalian ada acara kemana?" tanya soji.
"Memang ada apa? Tumben banget kalian bertanya kami mau kemana?" tanya balik jin.
"Kami mau ikut kalian. He he.. Bosen tau di asrama terus. Tiap hari cuma main game. Kalian berdua kan sering pergi sepulang sekolah dan pulang sore." jawab raiga.
"Hari ini kami mau ke pemakaman. Aku sama zy mau berziarah sekaligus merayakan ulang tahun zy disana." kata jin.
Kedua temannya sontak langsung kaget mendengar jawaban jin.
"Hari ini ulang tahun zyan?" kata raiga dan soji bersamaan sambil menatap zyan.
Zyan yang dilihat kedua temannya itu nampak murung, begitu pula dengan jin.
"Iya. Hari ini zy berulang tahun. Dan hari ini juga, hari kematian keluarga kami." kata jin dengan nada sedih.
"Apa maksud kalian? Hari ini hari ulang tahunnya zyan lalu kamu bilang hari ini juga hari kematian keluarga kalian? Maksudnya apa?" tanya raiga tidak mengerti.
Jin tidak menjawab, dia terus membereskan buku bukunya dengan ekspresi sedih.
Raiga dan soji ikut sedih melihat zyan dan jin yang terlihat murung.
__ADS_1
"Jin, zyan bolehkah kami ikut kalian?" tanya soji.
Jin melirik kearah zyan. Tapi ekspresi zyan saat ini sulit di tebak, membuat jin kebingungan menjawab pertanyaan soji.