
Berapa saat sebelumny.
Jin dan shion yang berada di ruang keluarga yang ada di lantai bawah merasa merinding dengan suasana rumah yang hening.
Shion melihat kesekeliling, memperhatikan dengan teliti setiap detail rumah itu. Sampai tanpa di sadar, shion berada di depan jendela kaca yang menuju halaman.
Shion menggeser jendela kaca itu kesamping. Sreett. Saat shion akan melangkah, tiba tiba suatu benda jatuh tepat di depannya, membuat shion terkejut dan berteriak.
"Aaaaahhhh."
Jin yang masih berdiri di tengah tengah ruang keluarga, segera berlari menghampiri shion.
"Shion, Kamu baik baik saja?" tanya jin.
Shion tak menjawab, dia masih terduduk ketakutan sambil menunjuk benda yang tadi jatuh.
Benda yang jatuh itu adalah suriken milik keluarga zhan yang di pasangkan sebagai jebakan.
"Jin," panggil shion dengan nada gemetar.
Jin membantu shion berdiri. Jin terus memandang sekeliling rumah itu.
"Ternyata masih ada." guman jin dalam hati.
Jin merasa Dejavu dengan kejadian shion ini.
"Berhati hatilah shion. Disini banyak sekali perangkap yang tak terlihat." kata jin.
Shion memeluk jin ketakutan. Jantung jin seketika berdetak kencang dan wajahnya memerah malu.
Tak lama, zyan turun dari lantai dua. Dan menghampiri keduanya.
"Apa yang terjadi?" tanya zyan dengan nada dingin.
Mendengar suara zyan, jin dan shion bersamaan menengok kebelakang. Shion tersadar, dia sedang memeluk jin dan segera melepaskan pelukannya.
Jin dan shion keduanya tersipu malu karna ketauan oleh zyan, keduanya sedang berpelukkan.
Zyan sama sekali tak memperdulikan hal itu. Sorot matanya sangat menakutkan. Zyan berjalan kebelakang shion dan jin, melewati keduanya.
Shion dan jin hanya diam memperhatikan zyan. Zyan berlutut lalu mengambil suriken itu. Di perhatikan nya suriken itu lalu melihat arah serang suriken itu.
"Aku sudah mengatakannya tadi untuk tetap disana. Dan jangan pergi kemanapun tanpa aku." kata zyan dengan nada dingin tapi menusuk.
"Zy, maaf. Shion tidak sengaja. Dan lagi dia juga tidak tau apa apa." kata jin, mencoba membela shion.
"Jin Hou, kamu tau aku tidak suka di bantah!!. Tidak perduli dia sengaja atau tidak!!" kata zyan tanpa menoleh sedikitpun kebelakang.
Jin jadi gemetar mendengar nada zyan yang dingin dan tajam. Jin mundur berapa langkah, shion hanya bisa terdiam tanpa bisa bicara apapun.
"Zy.." panggil jin dengan nada gemetar.
Zyan hanya menoleh dengan tatapan mata yang menyeramkan. Jin semakin ketakutan melihat sorot mata zyan yang begitu tajam.
Shion pun ikut gemetar ketakutan melihat mata zyan. Dia seperti teringat akan kejadian malam itu.
"Zy-kun maafin aku. Ini semua salahku." kata shion.
Tapi zyan tak menjawabnya. Jin memberanikan diri untuk mendekati zyan. Dengan perlahan, Jin memeluk zyan dari belakang.
Terasa jelas tubuh jin gemetar ketakutan. Merasakan hal itu, hati zyan jadi tidak tega. Zyan membalikkan badannya dan menatap sahabatnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kita pulang." kata zyan.
Jin menganggukkan kepalanya dan melepaskan pelukannya. Zyan mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Dimana sekarang?" tanya zyan pada penerima telpon.
"Saya sedang di jalan, master." jawab penerima telpon yang tak lain, anak buah zyan.
__ADS_1
"Datanglah kerumah yang dulu. Aku akan disana, sekarang." kata zyan lagi.
"Baik master." jawab anak buah zyan.
Setelah itu, zyan menutup telponnya dan berjalan keluar dari rumah itu. Shion dan jin mengikuti zyan dari belakang. Shion ingin bertanya tapi shion memilih untuk diam saja karna takut zyan akan marah lagi.
Sampai di depan gerbang. Ketiganya berdiri sambil menunggu jemputan mereka datang.
Zyan berdiri bersandar pada tembok pagar sambil melipat kedua tangan nya. Di dalam pikirannya, dia terus bertanya tanya tentang sosok anak kecil yang selalu muncul di dalam rumah itu dan sudah membantunya.
Satu hal yang membuat zyan semakin penasaran, kata kata hantu gadis kecil itu yang menyuruh zyan pergi dari rumah nya karna disana berbahaya.
Dan akhirnya mobil jemputan mereka datang. Sebuah mobil taxi berhenti tepat di depan mereka.
Zyan langsung masuk kedalam mobil tanpa banyak bicara. Zyan duduk di depan, di samping sopir. Jin dan shion duduk di belakang.
"Kembali ke asrama." pinta zyan.
"Baik, master." jawab sopir taxi.
Sopir taxi itu adalah bawahan zyan yang sedang menyamar.
Jin ingin sekali memanggil zyan tapi jin takut zyan akan marah lagi seperti tadi. Sampai di depan gerbang asrama.
Zyan keluar dari taxi begitupula jin dan shion. Saat pertama keluar, zyan melihat Elena sedang berdiri di dekat gerbang, tengah memperhatikannya dirinya.
Jin dan Shion juga terkejut karna melihat elena ada di depan gerbang.
"Bu, kak elena." sapa jin dan shion bersamaan.
"Kalian habis dari mana? Tumben bareng." tanya elena dengan ramah.
"Kami tadi habis jalan kak." jawab jin dengan gampangnya.
Zyan sama sekali tak memperdulikan elena. Ayan melangkah masuk kedalam asrama.
Tapi zyan tak mendengarnya dan terus masuk kedalam.
"Kak elena, maafkan sikap zy." kata jin.
"Iya gak apa apa. Kakak paham ko. Ya sudah kalian berdua cepat masuk." kata elena.
"Baik kak, bu." kata jin dan shion bersamaan lagi.
Elena mencoba tersenyum palsu di hadapan dua muridnya itu. Jin dan shion pun kembali ke asrama masing masing.
Sampai di kamar, zyan menaruh tasnya di meja belajarnya dan duduk di jendela. Pikirannya menerawang jauh akan kenangan indah saat bersama keluarganya.
Klik. Jin membuka pintu kamar dengan takut. Jin masuk kedalam dan di lihatnya zyan sedang duduk sambil melamun.
Jin menaruh tasnya dan berjalan lalu duduk diatas tempat tidurnya.
Jin sesekali melirik zyan yang masih melamun. Ingin sekali jin menyapa zyan tapi jin urungkan. Akhirnya keduanya terdiam.
Zyan beranjak dari jendela dan duduk disamping jin. Jin terkejut dan takut, saat zyan duduk disampingnya.
Jin takut zyan akan marah padanya karna dia lah yang sudah mengijinkan shion ikut kerumah zhan.
"Jin, maafkan aku sudah membuatmu takut." kata zyan dengan nada menyesal.
Jin terpaku tidak tahu harus merespon apa. Sejujurnya nya jin sangat terkejut karna zyan tiba tiba meminta maaf padanya.
"Zy...kamu tidak marah sama aku?" tanya jin ragu.
"Marah? Bagaimana bisa aku marah padamu. Aku tidak bisa marah padamu jin hou." jawab zyan dengan lembut.
"Aku pikir kamu marah. Habis tadi waktu di rumah nada bicara sangat dingin. Terlihat jelas kalau kamu sedang marah zy." kata jin.
"Itu hanya spontan karna aku tidak suka ada yang merusak rumah itu. Aku ingin rumah itu tetap seperti dulu." kata zyan.
__ADS_1
"Tapi shion kan tidak sengaja melakukannya? Apa kamu marah pada shion?" tanya jin.
"Tidak. Aku tidak marah atau menyalahkannya. Aku tau dia tidak sengaja melakukannya." kata zyan.
"Jadi kamu sudah tidak marah lagi?" tanya jin terdengar senang.
"Baka. Sudah aku bilang tadi. Aku tidak marah." jawab zyan.
"Jadi malam ini bisa dong kita jalan bareng?" tanya hin dengan penuh semangat.
"Iya." jawab zyan.
"Asyik..." sorak jin.
Zyan tersenyum tipis melihat tingkah sahabatnya itu. Zyan tau, jika jin mulai tertarik pada shion. Karna itulah, zyan membiarkannya saja.
Malam telah tiba, jin sudah bersiap sejak sore tadi. Hatinya saat ini di penuhi dengan bunga bunga cinta. Jin tak berhenti merapikan rambutnya.
Melihat melakukan jin,.membuat zyan kesal. Zyan beranjak dari kursi belajarnya dan menghampiri jin yang sedang berdiri di depan cermin merapikan rambutnya.
Terlintas dalam pikiran zyan untuk menjahili sahabaynya itu. Zyan pun.menjahili jin dengan mengacak ngacak rambut jin.
Itu membuat jin sangat kesal.
"Zy kamu apaan si." kata jin.
"Mau sampai kapan itu rambut sirapiin terus? Botak baru tau rasa." kata zyan.
"Biarin. Usil banget. Kamu tuh ya gak tau gimana rasanya bisa jalan sama seseorang yang disuka. Jadi kita itu harus tampil menarik di depan dia." kata jin.
"Bodoh." balas zyan sambil kembali ketempat duduknya.
"Zy bodoh." balas jin dengan nada kesal.
Dan akhirnya waktu untuk jalan tiba. Zyan berpakaian biasa saja. Dengan celana jeans panjang, kaos dan jaket kesayangannya.
Berbeda dengan jin yang sejak tadi berdandan tidak usai usai. Jin keluar dengan celana jeans, kemeja kotak kotak warna merah, dan topi.
"Kenapa tidak pake jaket?" tanya zyan.
"Tidak apa apa. Kalau pake jaket itu tidak keren." jawab zyan.
"Ya udah terserah." balas zyan.
Keduanya keluar dari kamar dan menuju gerbang. Zyan tahu ada yang mengikuti nya dari belakang, tapi zyan tetap bersikap cuek.
Sampai di depan gerbang asrama, terlihat tiga cewek sudah menunggu.
"Hei, shion." sapa jin.
"Hei jin, zy, raiga soji." sapa shion balik.
Jin terkejut mendengar shion memanggil raiga dan soji. Dia pun menengok kebelakang. Dan raiga dan soji nampak tersenyum tanpa salah.
"Kalian ngapain kalian disini?" tanya jin.
"Kami mau ikut dengan mu ke taman hiburan." jawab soji.
"Apa? Dari mana kalian tahu kami akan pergi ke taman hiburan?" tanya jin lagi.
"Kami mendengarnya tadi siang waktu disekolah. Jadi kami pun mengikuti kalian berdua turun." jawab raiga.
"Apa?" kata jin.
"Sudahlah, jin biarkan saja. Semakin banyak semakin rame." kata lan.
"Baiklah." kata jin.
Akhirnya mereka semua berangkat ke taman hiburan dengan menaiki bis.
__ADS_1