Pembalasan Mawar Hitam

Pembalasan Mawar Hitam
chapter 14


__ADS_3

"jadi bagaimana zy?" tanya ibu. akhirnya zyan membuka matanya.


"aku hanya akan bertindak jika situasi sudah tak terkendali." kata zyan.


"hm baiklah tapi bisa kah kau melakukan sesuatu" tanya ibu ruan. zyan penasaran dengan apa yang diinginkan oleh ibu angkatnya.


"apa itu?" tanya zyan.


"aku ingin mendengar percakapan kalian." kata ibu ruan, zyan mengiyakan permintaan ibu nya.


zyan dan jin keluar dari ruangan elena.


"ibu, apa ibu yakin membiarkan mereka berdua menemui paman? kita tau seperti apa sifat paman." elena khawatir dengan mereka berdua.


"kamu tenang saja el. ibu percaya pada zyan. bagaimanapun dia anak dari keluarga zhan. dia bisa diandalkan" kata ibu meski dia sendiri khawatir tapi tetap percaya pada zyan.


"aku tidak khawatir soal zyan. karna zyan itu sangat pemberani, yang aku takutkan jin. semalam saja dia begitu ketakutan sampai tak bisa bicara." kata elena.


"el percayalah pada mereka. selama zyan ada disampingnya, ibu yakin semua akan baik baik saja." kata ibu menenangkan elena.


elena mau tak mau menuruti perkataan ibunya dan memilih untuk diam, meski didalam hatinya kekhawatirannya tidak bisa hilang.


zyan sudah menyuruh seseorang untuk datang terlebih dahulu ke kedai ramen tempat jin berjanji ketemu dengan paman dan menyuruhnya untuk terus mengawasi siapa saja yang datang. sedang zyan dan jin masih berada di villa keluarga zhan, masih menunggu waktu pertemuan.


"tuan 30 menit lagi waktu pertemuan tuan muda jin" kata paman yang.


zyan yang sedang berlatih memanah berhenti.


"baiklah paman" kata zyan sambil meletakan panahnya dan bersiap berangkat.


"paman apa sudah ada kabar?" tanya zyan sebelum mereka keluar.


"maafkan saya tuan muda" kata paman.


"hm ya sudah." zyan agak kecewa.


zyan dan jin masuk kedalam mobil,


"zy, aku sangat takut." kata jin menundukan kepala, tapi zyan tak mendengar perkataan jin, dia sibuk dengan pikirannya sendiri.


jin melirik kezyan karna tak ada tanggapan apapun dari zyan.


"zy kamu dengar gak si aku ngomong?" tanya jin sedikit kesal yang akhirnya membuat dia sadar.


"iya aku dengar" kata zyan berbohong sebenarnya dia tak dengar apa yang dikata jin barusan.


mobil hitam sudah sampai didepan kedai ramen, zyan dan jin turun dari mobil.


"gimana target?" tanya zyan.


zyan sudah meminta seseorangnya yang sudah ada didatang sejak tadi untuk mengawasi lewat telpon.


"target sudah terlihat sejak 3 menit yang lalu." kata orang yang didalam.


"dimana dia?" tanya zyan lagi. zyan ingin memastikan keberadaannya sebelum mereka masuk.


"dia duduk di bangku no 7. dia memakai jas hitam mengunakan topi dan dia memakai kaca mata."kata orang suruhan zyan.


"baiklah. terus berjaga". balas zyan dan menutup telponnya


"ayo masuk, dia sudah menunggu didalam" kata zyan mengajak jin masuk,


jin hanya bisa nurut dan mengekor dibelakang.


"zy dimana?" tanya jin saat pertama masuk dan mencari pamannya.


"bangku no 7" jawab zyan.


jin melihat kesemua arah dan tanpa sengaja mata jin dan mata paman bertemu. mata yang tajam tapi tak setajam zyan. jin menelan ludah, tangannya menarik jaket zyan memberi kode pada zyan.


zyan langsung paham dan menganggukan kepalanya. jin berjalan terlebih dahulu dan bersikap tenang seperti yang sudah zyan ajarkan. jin berjalan dengan santai meski didalam hati sangat takut.


"ada apa paman mengajakku ketemuan" tanya jin langsung sambil menarik kursi untuk duduk.


jin berusaha bersikap biasa dihadapan pamannya agar rasa takutnya tidak diketahui oleh pamannya.


"hmm tidak disangka kau malah membawa pengawal" kata paman jin saat melihat zyan yang duduk disamping jin.


"apa maksud paman?" tanya jin,


pamannya menatap tajam kearah zyan yang sejak tadi diam sambil menutup mata.


jin memperhatikan pandangan paman nya dan itu mengarah ke zyan.

__ADS_1


"paman jika tidak ada yang ingin paman katakan aku.. aku akan pergi." kata jin mulai gugup.


"kamu ini anak tidak tau diri. sekarang berani sekali bicara seperti itu pada pamanmu setelah kamu hidup enak. jika bukan karna pamanmu ini, kamu gak bakal bisa hidup enak!! jika tau kamu seperti ini lebih baik, aku membiarkan mu dihabisi mereka" kata paman.


jin merasa kesal, marah dan benci tapi di satu sisi jin juga merasa takut. jin hanya bisa diam dan mengepalkan tangannya menahan emosi agar tidak sampai meledak.


zyan menyadari sahabatnya itu sudah gemetar menahan emosi, dia memegang tangan sahabatnya itu yang berada dibawah meja.


jin melihat kearah zyan, zyan memberi isarat untuk bersabar dan tetap tenang. karna setiap pembicaraan yang mereka bicarakan sudah terekam semua dan juga sudah diketahui oleh ibu ruan dan elena yang berada disekolah. jin kembali tenang dan mencoba mengatur emosinya lagi.


"apa yang paman inginkan dariku?" tanya jin dengan penuh ketenangan.


"cih, kamu belagu sekali. apa yang aku inginkan memang kamu bisa memberikannya? hah?" tanya paman dengan nada sedikit tinggi.


jin terus menahan amarahnya. akhirnya zyan membuka matanya.


"katakan apa yang anda inginkan? uang? berapa?" kata zyan dengan nada tenang namun tajam. paman jin terkejut mendengarnya.


"kamu pikir, kamu siapa? beraninya menyela pembicaraan orang lain?!" pamannya jin marah.


zyan diam saja, mata zyan dan paman saling berpandangan tajam. aura disana sangat kuat akan amarah, jin jadi kebingungan sendiri dan tidak tahu harus berbuat apa.


"kata saja alasan mu yang sebenarnya" kata zyan mengakhiri pandangannya.


"cih, kau bocah tengik. berani sekali kau!" amarah paman semakin naik.


zyan mengambil buku di tas nya dan menulis nomer telpon dan memberikannya kepada paman jin.


"apa ini? no telp? untuk apa? aku tidak butuh ini" kata paman membuang kertas itu.


jin tidak tahu apa rencana zyan memberikan no telponnya kepada paman nya.


"zy, inikan" kata jin menggantung kata katanya.


zyan menganggu kan kepala menandakan dia paham maksud sahabatnya itu.


"mungkin ini tak ada guna jika hanya dilihat sekilas" kata zyan seperti memberi petunjuk kepada paman nya jin.


pamannya jin tak mengerti maksud zyan. dia mengambil kembali kertas itu dan memperhatikannya ada sebuah gambar dibawah no telpon itu. pamannya jin langsung terkejut saat melihat gambar itu.


"ini... "kata pamannya jin menggantung karna terkejut melihat gambar simbol keluarga zhan.


pedang yg dililit bunga mawar. zyan hanya menganggu kan kepalanya.


"apa hubunganmu dengan dia?" tanya pamannya jin dengan nada gemetar.


"tidak mungkin. jika kau tidak ada hubungan apa apa dengannya kenapa kau bisa tahu gambar ini." katanya menunjukan ke gambar itu.


"hanya tidak sengaja menemukannya saja." zyan tetap tenang. pamannya jin menatap jin dan zyan secara bergantian.


"oke. cukup sampai disini pembicaraan kita. jin ingat paman akan datang lagi dan kau bocah berhati hatilah." kata pamannya jin beranjak pergi.


zyan segera mematikan ponselnya.


saat pamannya jin sudah meninggalkan kedai itu, seseorang menghampiri zyan.


"tuan apa perlu saya mengikutinya?" tanya pria yg baru datang.


"tidak perlu. kalian bisa kembali." perintah zyan pada orang itu.


orang itu membungkuk sopan lalu pergi.


"zy, kenapa kamu memberikan no ponselmu pada pamanku? kamu tidak tau pamanku bisa melakukan apa saja yang dia mau dan jika keinginannya tidak tercapai, dia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. aku takut terjadi hal buruk padamu zy." kata jin.


dikalimat terakhir jin memelankan suaranya. zyan tetap tenang sama sekali tak terlihat takut atau khawatir.


"buang jauh jauh kekhawatiranmu. pamanmu takkan berani berbuat apa apa. semua sudah berada dalam kendaliku" kata zyan sambil meminum tehnya.


jika zyan sudah berkata begitu, jin pun hanya bisa diam. jin memperhatikan zyan terus terlihat tenang dan tiba tiba jin teringat permintaan ibu angkatnya.


"eh zy. kita dari tadi bicara, kak elena dan ibu bisa mengetahui semua pembicaraan kita dan obrolanmu denganmu orang suruhkanmu tadi." tanya jin cemas.


"tidak. kak elena atau ibu tidak tau." kata zyan. jin jadi bingung.


"tunggu bukannya tadi sebelum kesini ibu memintamu untuk menelponnya agar ibu dan kak elena bisa mendengar pembicara kita dan pamanku. zy apa jangan jangan kamu sudah..." kata jin teringat kalau zyan tidak sebodoh itu untuk mengungkap dirinya pada keluarga angkatnya itu.


zyan menganggu kan kepalanya, jin menjadi lega karna pembicaraan dia dan zyan tak didengar oleh orang lain.


"kita balik." kata zyan bangun dari kursi dan berjalan pergi diikuti jin dibelakang.


mereka keluar dari kedai ramen itu dan sebuah mobil hitam sudah menunggu mereka.


"kembali ke villa" kata zyan kepada sopir.

__ADS_1


sopir itu menganggukan kepalanya dan mobil itu melaju dijalan aspal.


disekolah, ibu dan elena sedang berdiskusi tentang perkataan paman jin barusan.


"jadi menurut ibu apa maksud paman menemui jin?" tanya elena.


"ibu juga tidak tau. jika kita dengar dari kata katanya sepertinya dia menginginkan sesuatu." kata ibu.


"iya aku rasa juga begitu. tapi apa yang diinginkan paman dari jin? dan bagaimana bisa paman tau no ponsel jin?" tanya elena.


"itu yang perlu kita cari tau. apa maksud semua ini." kata ibu dengan serius.


setelah makan malam, zyan dan jin selalu berada dikamar mereka.


"hei, zy menurutmu apa yang akan pamanku lakukan? apa dia akan menghubungimu dan mengatakan keinginannya atau sebaliknya?" kata jin memulai percakapan.


zyan yang sejak tadi bermain dengan laptopnya, berhenti karna mendengar pertanyaan jin. zyan membalikkan badan sehingga posisinya menghadap sahabatnya itu yang sedang berbaring dikasur.


"dia tidak sebodoh itu langsung menelponku. 85% dia akan mencari tau tentang diriku dan apa hubunganku dengan simbol itu." kata zyan dengan santai.


"sebanyak itu kemungkinannya?!! lalu bagaimana jika pamanku tau, kamu satu satunya anggota keluarga zhan yang masih hidup.?!" tanya jin.


sejujurnya jin merasa cemas jika ada yang tau siapa zyan sebenarnya karna itu akan sangat bahaya.


"tidak perlu khawatir. tak ada yang akan tau tentang diriku selama aku terus berpura pura amnesia" kata zyan.


dia kembali menatap laptopnya dan melanjutkan perkerjaannya membuatkan skripsi untuk elena. jin kembali diam dan hanya bisa menatap punggung zyan dengan merasakan cemas.


setelah percakapan yang singkat itu keduanya kembali diam dan sibuk dengan urusan masing masing. sampai waktu menunjukan pukul 10.30 malam, zyan menutup laptopnya dan mengecek ponselnya. ada berapa pesan masuk, zyan membaca satu per satu dan dia menemukan satu pesan dari bawahannya.


...'seorang berpakai rapi dan semua orang yang berada di club itu bersikap sopan dan tunduk padanya. seorang pria berbadan agak gemuk dengan penampilan glamour baru saja datang.'...


zyan terkejut dan penasaran dengan pria yang disebutkan bawahannya itu. zyan bergegas berganti pakaian dan segera memakai sepatu. zyan melirik kebelakang, nampak jin sudah tertidur pulas sambil mendengarkan musik pake headset. jadi zyan tak membangunkan jin, zyan sudah siap untuk berangkat, saat nya akan membuka jendela, tiba tiba terdengar suara.


"zy, kamu mau kemana? ko gak ngajak aku?" tanya jin yang ternyata dia tidak tidur.


"mau keclub." kata zyan.


"ke club? hei tunggu aku. aku mau ikut" jin langsung bangun dan bersiap.


zyan pun menunggu ditepi jendela kamarnya. selagi menunggu jin bersiap, zyan mengirim pesan pada bawahannya yang berada di club itu dan memintanya untuk terus mengawasi orang itu.


"zy aku udah siap. ayo berangkat" ajak jin.


zyan menganggu kan kepalanya dan bersiap turun dari jendela kamarnya.


"zy apa gak ada jalan lain yah. disini aku penuh duri. auw sakit" kata jin seperti biasa saat mereka akan keluar dari asrama melewati jalan rahasia,


jin selalu mengeluh karna jalanannya dipenuhi semak berduri. tak jarang jin kena durinya.


"jika kau terus mengeluh sebaiknya tetap dikamar" zyan sudah lelah mendengar keluhan sahabatnya itu.


"uh jahat banget" kata jin merasa kesal.


mereka sampai di pintu keluar rahasia, dan seperti biasa mobil hitam selalu menunggu tak jauh dari pintu keluar rahasia.


"paman kita langsung saja keclub kemarin" perintah zyan.


"baik tuan muda" jawab paman yang berada dibalik kemudi.


mobil itu langsung meluncur menuju club tersebut.


"zy kenapa kita langsung keclub? emang kita boleh masuk keclub itu? secara kita ini masih dibawah umur" tanya jin,


"hanya ingin memastikan sesuatu." kata zyan, dia sudah tidak sabar


"paman tolong percepat" perintah zyan lagi.


mobil hitam itu melaju semakin kencang dan berhenti di club malam kemarin saat zyan datang. zyan bergegas turun dan diikuti jin dibelakang.


"tuan muda ini. anda berdua akan memerlukan ini untuk berjaga jaga." kata paman menyerahkan dua pistol pada zyan dan jin.


"terima kasih paman. kami akan berhati hati" kata jin menerimanya dan menyembunyikannya didalam tas pinggangnya.


"zy apa kamu yakin kita bisa masuk?" tanya jin ingin memastikannya.


"iya. ayo masuk" kata zyan.


mereka masuk kedalam tanpa masalah apapun, karna sebelumnya zyan sudah mengurus semuanya agar mereka bisa masuk tanpa masalah. zyan melihat ke setiap sudut ruangan itu tapi karna keadaan sana sangat rame jadi zyan tak menemukan apapun. jin pun ikut melihat kesemua arah tapi hasilnya nihil. akhirnya zyan duduk dan memesan minuman.


"selamat malam tuan. mau pesan apa?" tanya pelayan.


"yang biasa saja." jawab zyan.

__ADS_1


"aku sama seperti dia" kata jin.


"baik silakan tunggu." kata pelayan pergi menyiapkan pesanan zyan dan jin.


__ADS_2