
bel pelajaran sudah berbunyi dan semua murid duduk dengan rapi dan tenang. seseorang membuka pintu kelas dan nampak seorang guru memasuki kelas.
"selamat pagi semua." sapa guru itu. "pagi nia sensei" jawab para siswa.
Nia sensei yang mengajar hari ini memperhatikan semua murid dan ada satu bangku yang kosong.
"loh jin kemana? ko dia tidak masuk?" tanya bu ani.
"tanya saja sama zyan mereka itu kan pasangan seme uke ha ha ha" kata Fei mengejek zyan.
Tapi zyan enggan merespon perkataan temannya itu dan memilih untuk diam.
"Hus, jangan bicara seperti itu tidak baik." kata bu nia memberi peringatan, Fei jadi diam.
"Zyan kenapa jin tidak masuk hari ini?" tanya bu nia lagi.
"sakit" jawaban yang singkat dari zyan.
"jin sakit apa?" tanya bu nia.
"demam" dan lagi jawaban yang singkat dari zyan.
"oh ya sudah kita lanjutkan pelajarannya" mereka melanjutkan belajar dengan tenang.
jin terbangun, jam sudah menunjukan pukul 8.15 pagi. kepalanya masih terasa berat tapi badannya sudah tidak sedingin semalam. karna tadi belum sarapan jadi sekarang perutnya keroncongan. jin ingat tadi pagi sebelum berangkat zyan membuatkannya roti panggang dan segelas susu. jin mengambil roti itu yang ada dimeja disamping tempat tidur dan tersenyum sendiri.
"hi hi hi zy sangat perhatian. enaknya lagi sakit diperhatikan ma zy. siapa yang sangka dibalik tampang dinginnya ternyata ada sisi lembutnya." gumamnya sambil makan roti.
"beruntungnya aku." kata lagi.
jin merasa kalau dia sakit zyan lebih lembut dan perhatian padanya. jin tau semalam zyan terjaga untuk merawatnya. karna itu jin merasa paling beruntung.
bel istirahat berbunyi, hari ini zyan lebih memilih untuk tetap dikelas. jin tidak ada terasa kosong. zyan membuka ponselnya dan menulis pesan
'jangan lupa minum obat'
zyan mengirim pesan ke jin. setelah mengirim pesan, ponselnya dia masukan kembali kesaku.
"eh zyan kamu enggak ke kantin?" tanya nana temen sekelasnya.
"tidak" jawabnya singkat tanpa memalingkan wajah dari buku.
"gak ada jin ya makanya gak pergi kekantin" ejek nana.
"kalian itu seperti sepasang kekasih deh. kemana mana selalu berdua. dimana ada kamu disitu pasti ada jin. kenapa kalian tidak jadian saja hi hi hi" tambah nana tapi zyan diam saja, tiba tiba ponsel zyan bergetar ada pesan masuk.
'datanglah keruanganku sekarang. by. elena'
setelah membaca pesan itu zyan langsung bangun dan pergi keluar ke tempat elena.
"loh zyan ko kamu pergi? jangan marah dong aku tadi cuma bercanda" nana mengira zyan pergi karna marah padanya.
Nana merasa tak enak hati,
"zyan aku minta maaf. aku gak ada maksud buat ngejek kamu ko. aku cuma bercanda" kata nana menghentikan zyan.
"iya aku tau." kata zyan tanpa ekspresi.
"kalau enggak marah kenapa pergi?" tanya nana.
"dipanggil bu elena" kata zyan kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.
meskipun semua sudah tau kalau jin dan zyan adik bu elena, tapi zyan tetap berlaku sopan disekolah.
jin masih tiduran sambil bermain game di ponsel saat sebuah pesan masuk. jin membuka pesan itu dan tersenyum sendiri. ternyata pesan itu dari zyan yang mengingatkannya untuk minum obat.
tok tok tok.
zyan mengetuk pintu ruang kepala.
"masuklah zyan" kata ibu ruan.
zyan pun masuk kedalam, elena sudah menunggunya disana.
"ada apa bu elena memanggilku?" tanya zyan langsung tanpa basa basi.
"haduh anak ini padahal cuma ada kita saja disini. masih saja bersikap formal seperti itu" elena jadi manyun.
zyan enggan menanggapi perkataan elena.
"sudahlah el. enggak perlu bahasa soal itu kan. lagian ini masih dilingkungan sekolah jadi wajar jika zyan memanggil kamu begitu." kata ibu ruan membuat elena semakin kesal.
"oya ibu dengar jin sakit. memang habis ngapain ko sampai kehujanan begitu?" tanya ibu ruan. tapi zyan tak menjawab dan memilih untuk diam.
ibu ruan bangun dari kursinya dan mengambil kotak bekal lalu berjalan kearah zyan.
"kalian sudah besar tapi masih seperti anak kecil. ya sudah ini kamu bawa ya. kamu kan belum sempet sarapan karna bangun telat." kata ibu ruan sambil menyerahkan kotak itu pada zyan,
"terima kasih" kata zyan sambil menerima kotak itu.
__ADS_1
"ya sudah kamu kembali, sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. jangan lupa makan bekalnya ya. oya nanti sebelum pulang sekolah mampir kesini yah " kata ibu ruan begitu lembut pada zyan.
zyan tertegun sebentar, dia teringat almarhum ibunya.
"iya aku pergi. terima kasih ibu" kata zyan beranjak pergi. ibu ruan tersenyum bahagia.
ibu ruan kembali ke kursi nya dengan senyum bahagia, itu membuat elena heran.
"ibu kenapa senyum senyum begitu?" tanya elena sangat penasaran.
"tidak apa apa. sudah kamu kembali bekerja sana" perintah ibu ruan.
elena hanya bisa menuruti perintah ibunya dan kembali bekerja.
zyan kembali ke kelas nya. bel belum berbunyi jadi kelas belum terlalu rame. zyan meletakan kotak itu dimeja, sejenak dia teringat ibunya yang dulu sering membuatkan bekal untuknya saat berangkat sekolah. hatinya menjadi sakit, zyan berusaha menahan perasaan.
matanya semakin memancarkan kebencian yang dalam, tekadnya semakin kuat untuk menemukan pembunuh yang sebenarnya. karna waktu istirahat masih ada, zyan membuka kotak bekal itu dan memakan makanannya. lagi lagi dia teringat ibunya, rasa masakannya sama persis dengan masakan ibunya dulu. zyan pun menghabiskan isi bento itu.
pelajaran telah selesai. raiga dan soji sudah berencana untuk menjenguk jin yang sedang sakit.
"brother kita jadikan jenguk jin?" tanya raiga pada zyan.
zyan menganggu kan kepalanya dan mereka bertiga keluar kelas, berjalan menuju gerbang tapi zyan berbelok arah. zyan pergi keruangan kapsek, kedua temannya bingung kenapa zyan pergi ke ruang kapsek bukannya mereka mau jenguk jin.
"hei brother gerbang sekolah ada disini?!" kata soji.
tapi zyan tetap berjalan dan akhirnya mereka berdua pun mengikuti zyan ke ruang kapsel, zyan langsung membuka pintu ruangan kapsel.
"eh zy kamu sudah datang. wah ada raiga dan soji juga" kata ibu ruan dengan ramah.
"siang bu kapsek" sapa mereka berdua.
"ini kamu bawa pulang yah. yang kotak merah itu untuk jin, dia kan lagi sakit jadi ibu buatkan khusus untuknya. dan yang hitam ini untukmu. ibu sudah siapkan makanan favorite kamu." kata ibu ruan tersenyum.
zyan mendekati meja kerja ibu ruan dan mengambilnya.
"terima kasih. aku pamit" kata zyan berjalan keluar dan diikuti kedua temannya.
"zyan itu bento yah? enak ya jadi kamu. tadi dikasih bento sekarang dikasih lagi. ibu kapsel sangat perhatian yah." kata raiga.
"iya dia enggak seperti rumor. katanya galak dan menakutkan tapi tadi aku lihat beliau begitu baik dan penuh perhatian. ibuku saja enggak se perhatian begitu" kata soji.
zyan memilih diam, ditengah perjalanan pulang ponselnya berbunyi.
segera zyan mengangkat telpon itu.
"tuan muda maafkan saya, saya hanya mendapat sedikit informasi tentang mereka." kata paman yang.
"ya tidak apa apa. kebetulan jin lagi sakit" kata zyan.
"baiklah tuan. kalau begitu saya pamit dulu" kata paman.
zyan menutup telpon, keduanya merasa bingung dengan perubahan sikap zyan. meski tetap terlihat dingin tapi saat menerima telpon ekspresinya matanya berubah menjadi sangat tajam.
"dari siapa zyan. sepertinya sangat penting?" tanya soji.
"paman" jawab zyan. mereka kembali berjalan menuju asrama, sepanjang perjalanan tak ada seorangpun yang bicara.
mereka sampai di gerbang asrama dan langsung menuju lantai tiga. begitu mereka sampai dilantai tiga, soji dan raiga sedikit kaget. lantai tiga sangat sepi hanya ada berapa kamar saja dan dilantai tiga ini sangat luas. akhirnya mereka sampai dikamar zyan dan jin.
kriitt pintu terbuka.
"zy kau sudah pulang?" tanya jin.
tanpa perlu membuka pintu jin sudah tau kalau itu zyan. dan benar kata jin, begitu pintu terbuka muncul zyan. jin tersenyum senang karna sahabatnya sudah kembali.
"hai jin" sapa raiga dan soji bersamaan keluar dari belakang zyan dan seketika senyum itu hilang.
"kalian ngapain kesini?" tanya jin dengan nada tidak senang.
"kami kesini untuk menjenguk dirimu" kata raiga. zyan dan kedua temannya masuk kamar.
kedua temannya langsung terkesima melihat isi kamar jin yang begitu besar.
"wah brother kamar kalian luas sekali. wah ada kamar mandi juga dan ada dapur juga dan ada lemari es, wah enak banget ya tinggal disini." kata soji.
zyan tak memperdulikan kedua temannya, dia menaruh tasnya dimeja dan pergi membuat minuman untuk tamu mereka.
"wah raiga coba kesini deh. disini indah sekali" kata soji melihat keluar lewat jendela. raiga langsung menghampiri soji "mana? ah iya disini indah sekali" kata raiga.
"kalian datang kesini benaran mau jenguk atau mau ngacak ngacak kamar si?" tanya jin kesal.
"hehehe maaf. kamar kalian begitu nyaman si" kata raiga.
jin diam saja. mereka berdua duduk kasur tempat jin duduk saat ini.
"sebenarnya loe sakit apa si? sampai gak masuk?" tanya soji.
"demam" jawab jin masih kesal.
__ADS_1
zyan datang membawa 2 kaleng minuman soda dan meletakannya diatas kasur. lalu zyan pergi mengambil bento yang tadi dia bawa.
"ini dari bu ruan" kata zyan menyerahkan kotak bento itu.
"apa isinya?" kata jin.
"bukannya berterima kasih malah tanya isinya" kata soji.
"biarin lah. suka suka aku dong" kata jin membuka bento itu.
jin langsung senang melihat isi bento itu. semua makanan kesukaannya. nasi bbq sayur.
"wah enak banget." kata raiga melihat isi bento jin.
"eh zy yang hitam itu apa?" tanya jin menunjuk kotak bento warna hitam punya zyan.
"tidak tau" kata zyan.
"buka dong aku mau lihat" kata jin. zyan mengambilnya dan membuka kotak itu dan isi bento zyan berbeda dari bento jin.
zyan tidak terlalu suka makanan berlemak. jadi isi bentonya cuma sushi, onigiri dan tumis sayur"an. jin langsung ilfil lihat menu zyan.
"ko menu kalian berbeda?" tanya soji.
"itu karna zy tidak suka makanan berlemak. dia itu sukanya ikan gak suka daging." jelas jin.
dan setelah itu jin, raiga dan soji bermain game. karna dikamar itu juga ada tv untuk jin dan zyan bermain game. fasilitas yang ada dikamar jin sangat mewah dan berbeda dari yang lain.
ketika ketiganya asyik bermain, zyan malah sibuk dengan laptopnya. dia mencari informasi lagi. tiba tiba suara pintu terbuka,
"zyan, jin bagaimana keadaannya?" tanya elena langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
sontak saja ketiga anak yang sedang bermain game berhenti dan menengok kearah pintu. mereka bertiga langsung pucat melihat siapa yang datang.
"eh kak elena" sapa jin takut kena marah.
"hai bu elena" sapa raiga dan soji.
elena berdiri didepan pintu sambil melipat kedua tangannya.
"hm sepertinya kamu sudah sembuh ya jin hou. sampai bisa bermain game" kata elena.
jin merinding mendengar perkataan elena.
"udah agak mendingan ko kak. yah dari pada tidur mulu pening kepala" jawab jin santai namun tetap takut.
jin, raiga dan soji hanya tertawa kecil. elena hanya menghela nafas lelah, matanya beralih ke zyan yang sedang duduk sambil bermain laptop. elena mendekati zyan
"zy-kun apa yang sedang kamu lakukan?" tanya elena.
melihat elena mendekat bergegas zyan menutup pencariannya dan menggantinya dengan yang lain.
"hanya mencari sesuatu" jawab zyan dengan tenang tanpa terlihat keraguan.
elena melihat laptop zyan dan ternyata zyan sedang browser tentang pelajaran.
"zy-kun bisa bantu kakak?" tanya elena.
"apa?" tanya balik zyan.
"sebenarnya begini aku lagi bikin skripsi untuk kuliah. tapi aku tidak ada waktu untuk membuatnya. jadi bisakah adik aku yang tampan ini membantuku?" kata elena dengan nada memohon.
zyan melihat kearah jin seperti memberitahu sesuatu. jin melihat zyan dan menggelengkan kepala. jin meminta zyan agar menolak permintaan elena karna itu bisa mengganggu pekerjaannya dalam memburu para pembunuh.
elena memperhatikan mata zyan yang terus melihat kearah jin. elena berbalik badan dan melihat kearah jin, seketika padangan jin dialihkan tak lagi melihat kearah zyan. elena kembali fokus pada zyan.
"jadi gimana? bisa kan membantuku zy" kata elena lagi memohon.
mau tak mau zyan pun mengiyakan.
"baik aku membantu tapi beritahu aku skripsi apa yang mau kak elena bikin" kata zyan.
elena sangat senang karna zyan mau membantunya.
"nanti aku beritau skripsi apa yang mau aku bikin. makasih sebelumnya" kata elena memeluk zyan karna saking senangnya.
membuat ketiga orang yang ada diruangan itu terdiam melonggo.
elena pergi dari situ, jin segera menghampiri zyan yang masih duduk didepan meja belajarnya.
"zy apa kamu yakin bisa membantu kak elena?" tanya jin agak ragu dengan keputusan zyan.
"iya" jawab singkat zyan.
"tapi kita kan gak tau apa apa soal skripsinya kak elena. gimana kamu bisa bikin skripsinya?" tanya jin lagi.
"jika aku bisa melihat bahannya aku bisa membuatnya." kata zyan penuh keyakinan.
jin pun diam mendengar jawaban zyan. jin tidak tau lagi harus gimana, dia ingin mengatakan tentang pekerjaannya mencari para pembunuh itu tapi disini mereka tak sendiri masih ada dua orang temannya. jin jadi kebingungan sendiri dan akhirnya memilih untuk diam.
__ADS_1