Pembalasan Mawar Hitam

Pembalasan Mawar Hitam
chapter 24


__ADS_3

zyan hanya diam dan terus mendengarkan cerita elena. rasa penasaran dihatinya sangat besar. dia ingin tau siapa sebenarnya elena ini? dan ada hubungan apa dengan keluarganya?.


"uh dingin banget" kata jin keluar dari kamar mandi.


elena menengok kebelakang dan tersenyum melihat tingkah jin yang seperti anak kecil.


"kalian lagi ngapain?" tanya jin berjalan mendekati elena dan zyan.


"hanya memandangi salju." jawab elena.


ponsel elena berbunyi, elena melihat siapa yang menelponnya. ternyata ibunya,


"hallo ibu, ada apa, bu?" tanya elena.


"kamu dimana el? ibu ada diruanganmu." kata ibu.


"aku ada dikamar zyan dan jin. baiklah aku akan kesana" kata elena lalu menutup telponnya.


"zy, jin kakak pergi dulu. kalian jangan lupa sarapan." kata elena lalu pergi.


"zy, hari ini hujan salju apa yang akan kita lakukan?" tanya jin.


"tidak ada." jawab zyan.


keduanya kembali diam menatap keluar jendela, perlahan tanaman yang dibawah tertutup oleh salju.


didalam ruangan elena, ibu ruan sudah menunggu.


"pagi okaa-sama. ada apa?" sapa elena saat didalam.


"el apa kamu sudah melihat berita hari ini?" tanya ibu langsung.


"belum. aku belum melihat berita hari ini. memang ada apa bu?" tanya elena sembari duduk berhadapan dengan ibunya.


"semalam ada dua korban yang ditemukan. keduanya menjadi korban mawar hitam" kata ibu ruan serius. elena diam nendengarkan.


"lalu menurut ibu bagaimana?" tanya elena.


"ini aneh. jika benar yang melakukan ini ada hubungannya dengan sang mawar asli itu akan dengan mudah mengungkap nya. tapi kita semua tau kalau sang mawar sudah tiada. kecuali. . ." kata ibu ruan berhenti ditengah kalimat.


"kecuali apa bu?" tanya elena semakin penasara.


"kecuali ada orang lain yang memiliki dendam dan menggunakannya untuk balas dendam?! atau salah satu keluarganya yang masih hidup dan ingin Membalas dendam." kata ibu ruan mulai mencurigai seseorang.


elena terdiam sebentar.


"tidak mungkin zyan yang melakukannya kan? ini sangat mustahil dilakukan oleh zyan. zy dia kehilangan ingatanya." kata elena.


"itu juga yang ibu pikirkan. jika kita melihat dari kasus pembunuhan mawar hitam ini sepertinya dilakukan oleh seorang pembunuh profesional." kata ibu.


"yang ibu katakan memang ada benarnya juga. jika bukan pembunuh profesional, pasti polisi sudah menemukan dia." kata elena.


mereka sedang mendiskusikan tentang kasus pembunuhan yang akhir akhir ini sedang ramai dibicarakan.


"tadi pagi ibu dapat kabar dari teman ibu. dia bilang semalam dia di selamatkan oleh dua orang yang menyebut diri mereka mawar hitam. salah satu dari mereka memberikan jaketnya pada teman ibu karna bajunya robek." kata ibu.


"jadi mawar hitam ada dua orang?!" tanya elena terkejut.


"iya. ibu tidak tau pasti. karna itulah ibu datang kemari ingin mengajakmu untuk bertemu dengan teman ibu itu." kata ibu.


"baiklah. aku ikut, aku sangat penasaran dengan mawar hitam itu." kata elena.


zyan dan jin hanya duduk, bermain game dan berbaring.


"oh ya zy. sepertinya ada yang kamu lupain deh.?" kata jin saat melihat kado disamping zyan yang sedang duduk membaca buku.


"apa?!" tanya zyan tanpa menoleh sedikitpun.


jin bangun dari tempat tidurnya dan mendekati zyan, jin menyentuh kotak kado yang kemarin sore diberikan oleh eria untuk zyan.


"ini. kamu belum membuka kado dari eria. kira kira isinya apa ya?" tanya jin.


"tidak tau. kalau mau buka saja." kata zyan begitu cuek dan tak perduli.


dengan senang hati jin mengambil kotak itu dan membukanya. ternyata isinya syal dan baju musim dingin.


"zy lihat isinya ternyata baju sama syal." kata jin menunjukan isi kado itu pada zyan.


zyan hanya melihatnya sekilas dan kembali fokus pada buku.


"eh ini syalnya bagus loh. cocok banget dipake keluar." kata jin memakai syal itu.


"jika suka ambil saja. aku sudah punya." kata zyan.


"wah benaran nih buat aku?" tanya jin dengan penuh semangat.


zyan hanya menganggu saja,


"terima kasih zy. oh yah gimana kalau kita keluar. aku bosan dikamar mulu." ajak jin.


"baiklah" kata zyan setuju untuk keluar.


zyan sendiri sebenarnya dia juga bosan didalam kamar terus.


jadi kedua pun pergi keluar asrama, di taman asrama terlihat berapa teman temannya yang sedang bermain salju.


"hahaha tangkap ini." kata teman temannya.


"zy lihat. ayo kita ikut bermain" ajak jin melihat teman temannya bermain boneka salju.

__ADS_1


zyan hanya bisa menurut saja saat jin mengajaknya membuat boneka salju.


dari asrama putri terlihat tiga cewek yang memperhatikan zyan dan jin. ketiganya berbisik bisik.


"Hei eria lihat itu zyan." kata luna.


eria melihat kearah zyan dan dilihatnya zyan tidak memakai syal yang dia berikan. justru syal yang dia berikan dipake oleh jin. eria kecewa, dia terlihat murung. eria duduk dibangku taman didepan asrama cewek.


"kamu kenapa er?" tanya aura sambil duduk disamping eria.


"tidak apa apa." jawab eria.


"hush lihat itu." kata luna pada aura.


"apa?" tanya aura.


"lihat. syal yang dipake jin." kata luna menunjukkan syal yang dipake jin.


"bukankah itu syal yang eria berikan untuk zyan. ko jin yang make." kata aura.


"kita samperin saja yuk" ajak luna.


aura menganggukan kepalanya, dan keduanya berjalan mendekati zyan dan jin. saat mereka sudah dekat,


"zyan, jin." sapa kedua cewek tadi.


jin menengok kebelakang


"luna aura ada apa?" tanya jin.


sebelum kedua cewek itu menjawab pertanyaan jin, ponsel zyan berbunyi. zyan mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya. setelah tau yang menelponnya adalah paman yang,


"jin, aku pergi dulu." kata ayan pergi untuk mengangkat telp.


"oh iya zy." kata jin.


"nah luna aura ada apa kalian kemari? oya mana eria. aku mau ngucapi terima kasih untuk syalnya." kata jin tersenyum lembut.


kedua cewek tadi merasa kesal dengan sikap jin.


"jin ko syalnya kamu yang pake? itukan syal buat zyan?" tanya luna merasa kesal.


"oh syal ini. zyan tidak mau memakainya karna dia sudah punya syal yang diberikan seseorang yang berharga. jadi dia memberikannya padaku." kata jin.


kedua cewek tadi saling berpandangan.


"orang yang berharga siapa itu?" tanya aura penasaran.


"aku tidak bisa memberi tahukannya pada kalian. yang pasti seorang wanita yang paling spesial dihatinya dan tak akan tergantikan." kata jin.


"apa dia pacarnya zyan ya?" tanya luna pada aura.


"aku tidak tau." jawab aura.


"ada apa zy?" tanya jin saat zyan sudah berada didepannya.


"tidak ada." jawab zyan.


elena dan ibu sudah sampai di rumah temannya ibu ruan. seorang wanita yang semalam ditolong oleh mawar hitam. ting tong. ibu ruan memencet bel, tak lama pintu rumah itu terbuka.


"wah ruan, apa kabar? ah ini pasti elena?" tanya pemilik rumah.


elena tersenyum saja.


"kabar aku baik. bagaimana denganmu?" tanya balik ibu ruan.


"kita masuk dulu. diluar sangat dingin." kata karin pemilik rumah.


elena dan ibunya masuk kedalam.


"oh iya rin. tadi pagi kamu bilang semalam kamu ditolong oleh mawar hitam. benar?" tanya ruan penuh rasa penasaran.


"iya itu benar. jadi gini ceritanya. semalam aku baru pulang kerja, karna semalam tidak ada taksi atau bis jadi aku jalan kaki, terus di gang yang dekat toko roti itu aku bertemu dengan empat preman. terus mereka godain aku." karin menjelaskan kronologi kejadiannya.


"telah itu tante, apa yang terjadi?" tanya elena semakin penasaran.


"setelah itu, aku mencoba melawan tapi tetap saja kalah. lalu entah datang dari mana kedua laki laki itu yang menyebut diri mereka mawar hitam. salah satu dari mereka melawan keempat preman itu dan yang satunya lagi hanya berdiri melindungiku. kalau aku tidak salah dengar nama mereka black dan white." kata karin lagi.


elena dan ibunya semakin penasaran dengan kedua sosok mawar hitam ini.


"lalu apa kamu melihat wajah mawar hitam ini?" tanya ruan.


"tidak. mereka memakai topeng seperti hantu. salah satu dari mereka yang bernama black memberikan jaketnya padaku." kata karin lagi.


"dimana jaketnya? bolehkan aku melihatnya?" tanya ruan.


karin pun masuk kedalam untuk mengambil jaket mawar hitam itu.


"ibu, menurut ibu bagaimana? tentang mawar hitam ini?" tanya elena.


"ibu tidak tau el. kita tunggu saja." kata ruan.


karin datang membawa jaket yang semalam diberikan oleh mawar hitam.


"ini ru, jaket yang semalam. dilihat dari ukurannya seperti seorang berumur 18 keatas." kata karin.


elena dan ibunya juga merasa demikian.


"jika dilihat dari postur tubuhnya mereka seperti masih remaja tapi gerakannya sangat hebat. seperti seorang yang sudah berlatih bela diri selama bertahun tahun. begitu lincah dan mampu membaca gerakan lawan." kata karin lagi.

__ADS_1


"karin bolehkah aku membawa jaket ini? aku ingin tau siapa dia sebenarnya? dan motif dia menjadi mawar hitam." kata ruan.


"iya bawalah. aku sendiri juga penasaran dengan identitas mereka. sejauh yang aku tahu sang mawar hitam sudah lama meninggal. sangat mustahil baginya untuk bangkit dari kubur dan membalas dendam kan." kata karin.


"tante, apa yang tante tau lagi tentang mawar hitam ini?" tanya elena.


"yang aku tahu hanya itu dan satu lagi mereka memakai motor saat pergi." kata karin.


"apa tante lihat plat motornya?" tanya elena lagi. karin menggelengkan kepalanya,


"tidak. saat itu keadaan gelap dan aku sangat ketakutan. jadi aku tidak melihat nomernya." kata karin.


setelah lelah bermain, jin dan zyan duduk dibawah pohon yang di atas nya tertumpuk salju.


"zy apa yang akan kamu lakukan nanti malam? kita belum menemukan target berikutnya." kata jin.


zyan diam saja, dia memajamkan matanya.


"tidak tau. paman belum menemukan jejak apapun." kata zyan masih memejamkan matanya.


"zy bagaimana dengan ghostraid? dia tidak mengirim pesan lagi?" tanya jin penasaran karna zyan sudah berapa hari tak menyebut nama ghostraid.


zyan terdiam enggan menjawab pertanyaan jin. keduanya kembali diam.


"zy apa kamu lapar? bagaimana kalau kita ke kantin?!" ajak jin.


"aku tidak lapar."kata zyan.


"tapi aku lapar. temanin aku yah, pleace." kata jin mohon dan bersikap seperti anak kecil.


Dengan terpaksa zyan menemani jin ke kantin.


"Baiklah. ayo." kata zyan. jin langsung merasa senang,


keduanya masuk kedalam asrama dan langsung menuju kekantin asrama.


Mereka sampai dikantin.


"bibi dua mangkuk sop yah?!" teriak jin pada pengurus kantin.


"baik nak jin. tunggu sebentar." jawab pengurus kantin.


"kenapa dua?" tanya zyan penasaran.


"hi hi hi.." jin hanya cengar cengir saja.


"zy, tadi luna sama aura bertanya soal dirimu yang tidak memakai syal yang diberikan eria.". kata jin


membuka percakapan sambil menunggu makanannya.


"lalu?" tanya zyan dengan tenang dan santai nya.


"yah aku jawab, kamu sudah punya syal sendiri. syal kesayangan yang diberikan oleh seseorang yang berharga." kata jin.


zyan memandangi syalnya, itu adalah syal yang dirajut sendiri oleh ibunya dan juga hadiah ulang tahunnya.


syal itu sangat berarti untuk zyan, karna hanya itu barang peninggalan mendiang ibunya. jin memperhatikan zyan yang terus memandangi soalnya itu.


"zy kamu sangat beruntung bisa memiliki sesuatu yang diberikan orang tuamu sebelum mereka pergi. sedangkan aku, tidak punya apapun. hanya kenangan yang aku punya." kata jin terlihat sedih.


"kamu masih punya aku." kata zyan dengan wajah tanpa ekspresi.


perkataan zyan tadi membuat jin terkejut. meski wajahnya terlihat dingin tanpa ekspresi tapi hatinya begitu hangat dan lembut. jin kembali tersenyum,


"nak jin ini supnya. makanlah selagi masih panas." kata pengurus kantin.


"terima kasih bi." kata jin lalu pengurus kantin itu kembali ke dapur.


"zy, ini makanlah agar wajahmu tak dingin lagi. lihat wajahmu sudah hampir mirip gunung es" canda jin sambil meletakan semangkuk sup dihadapan zyan.


dan langsung mendapat tatapan membunuh dari zyan tapi tak dihiraukan oleh jin.


akhirnya zyan memakan sup itu karna udara yang semakin dingin. ini sudah hampir malam, suasana kantin pun tak rame karna banyak penghuni panti yang pulang kerumah masing masing karna saat ini sedang libur musim dingin. hanya tinggal berapa orang saja yang masih di asrama.


"zy kita main sebentar yuk." ajak jin


"tidak. aku mau baca buku." kata zyan menolak ajakan jin. jin jadi manyun.


diruangan lain dilantai tiga. elena dan ibunya sudah sampai diasrama dan sekarang berada di ruangan elena.


"bu, sebaiknya kita panggil mereka berdua. aku rasa zyan perlu tau soal mawar hitam ini."kata elena.


ibunya sedang berpikir soal usulan elena.


"baiklah kamu panggil mereka berdua kemari. bagaimanapun kita harus membantunya mengembalikan ingatannya."kata ibu ruan setuju dengan usul elena.


elena segera menelpon jin karna zyan pasti ada bersama jin.


jin masih saja terus membujuk zyan agar mau ikut bermain diruang santai dengannya.


"ayolah zy. selagi asrama sepi, gak ada salahnya kita bermain sebentar." jin terus merengek, sampai ponselnya berbunyi.


"kak elena, ada apa ya dia menelponku?" tanya jin pada dirinya sendiri saat tau yang menelponnya adalah elena.


jin langsung mengangkat telpon itu.


"hallo kak. ada apa kakak menelpon?" tanya jin.


"jin, bisakah kamu dan zy kemari, keruanganku. ada hal penting yang ingin kakak bicarakan dengan kalian." kata elena disebrang telpon.

__ADS_1


"hmm baiklah kami akan kesana." jawab jin.


"baiklah kakak tunggu." elena menutup telponnya.


__ADS_2