Pembalasan Mawar Hitam

Pembalasan Mawar Hitam
chapter 35


__ADS_3

Akhirnya ketiganya sampai disalah satu mall, elena memarkirkan mobilnya diparkiran.


"Nah kita sampai. Jin, zyan mohon bantuanya." kata elana sebelum keluar dari mobil.


"Iya" jin dan zyan bersamaan. Elena tersenyum senang.


Mereka bertiga masuk ke dalam mall, banyak orang yang memperhatikan mereka terutama zyan dan jin. Tak sedikit para gadis yang melihat mereka berdua saling berbisik.


"Mau kasih hadiah apa yah? Bantu pilihin dong." kata elena dengan nada memohon.


"Bagaimana dengan sepatu?" usul jin saat melihat toko sepatu.


Elena berpikir sebentar lalu menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Dia sudah punya banyak. Yang lain," kata elena.


Jin sambil berjalan menyusuri area mall, dia memperhatikan deretan toko yang ada disana. Sedangkan zyan tetap melihat kedepan, sama sekali tak perduli.


Zyan berhenti mendadak didekat salah satu toko boneka dimall itu. Zyan terus memperhatikan boneka beruang warna biru. Jin merasa zyan tidak berjalan bersamanya, lalu dia berhenti dan melihat kebelakang. Nampak zyan sedang melihat boneka beruang biru itu, jin menghampirinya.


"Ada apa zy?" tanya jin, zyan tidak menjawab dan langsung pergi.


"Hei zy. Tunggu aku." kata jin mengejar zyan. Zyan saat melihat beruang itu, dia teringat akan adiknya, naya.


setelah mereka berkeliling akhirnya elena menemukan hadiah untuk kekasihnya. Elena sangat senang, jin dan zyan juga ikut senang meski dalam hati zyan tidak, tapi zyan berpura pura ikut senang. Saat elena sedang bicara pada pelayan toko disana, jin dan zyan sedang berkeliling didalam toko itu.


Jin melihat sebuah jam tangan sport yang sangat bagus menurutnya. Jin melihat jam tangan sport itu dan tersenyum senang.


"Jam ini sangat cocok untuk zy. Lagian zy kan gak punya jam tangan." kata jin tersenyum senang.


"Beli ah untuk zy. Anggapnya sebagai hadiah, kalau dipikir pikir aku belum pernah ngasih zy hadiah apa apa." kata jin lagi pada dirinya sendiri.


Jin mengambil jam tangan sport itu lalu pergi kekasih untuk membayarnya. Sedang zy masih sibuk melihat lihat isi toko. Zyan melihat berapa jaket musim dingin, jin datang menghampiri zyan dengan membawa tas kertas yang berisi jam tangan sport tadi.


"Zy, lagi lihatin apa si?" tanya jin.


"Hanya melihatnya saja. Apa yang kamu beli?" tanya zyan balik melihat tangan jin yang membawa tas kertas. Jin hanya tersenyum tak mau menjawab.


"Jin, zyan kalian lagi apa?" tanya elena datang menghampiri keduanya.


"Tidak ada." jawab zyan.


"Jin apa yang kamu beli?" tanya elena pada jin. Tapi jin hanya tersenyum.


"Ko malah senyum senyum? Ditanya juga." kata elena.


"He he he itu rahasia." kata jin masih tersenyum.


Elena jadi manyun mendengar perkataan jin.


"Hadiahnya sudah didapatkan?" tanya zyan pada elena.


"Iya. Terima kasih ya adik adikku yang baik dan imut." kata elena.


"Jika sudah selesai, kami bisa pergi." kata zyan.


"Oh ya. Kalian mau kepanti asuhan kan? Biar kakak antar sekalian yah?" kata elena.


"Eh panti asuhan?" tanya jin heran dan memandang kearah zyan.


Melihat mata zyan, jin langsung mengerti.


"Kenapa jin? Ko sepertinya kamu terkejut?!" kata elena heran.


"Tidak apa apa kak. Itu tadi aku lupa kalau hari ini kami mau ke panti. He he he." kata jin berbohong.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo kakak antar." ajak elena.


Mau tak mau zyan dan jin pun mengikuti elena agar elena tidak bertanya lebih.


Mobil merah elena berhenti didepan panti asuhan,


"Nah sudah sampai." kata elena.


Zyan dan jin keluar dari mobil,


"Arigatao nee-chan." kata jin. Elena tersenyum ramah.


"Ya sudah kakak kembali dulu. Kalian jangan pulang malam ya?" kata elena.


"Oke kakak. Kami masuk yah." kata jin.


Elena pergi, zyan dan jin tak langsung masuk. Mereka menunggu seseorang. Disaat zyan dan jin sedang menunggu, jin mengambil jam tangan sport yang tadi dia beli.


"Zy berikan tanganmu." kata jin.


"Untuk apa?" tanya zyan bingung.


"Sudah angkat saja tanganmu terserah yang mana?!" kata jin sambil tersenyum penuh arti dan meraih tangan kanan zyan.


Lalu memakaikannya jam tangan itu ke tangan kanan zyan. Zyan terkejut dengan maksud sahabatnya itu.


"Apa maksudnya ini?" tanya zyan kebingungan.


Tapi jin malah tersenyum,


"Sudah aku duga. Ini sangat cocok denganmu zy. Anggap saja ini hadiah dariku karna aku tidak tau ulang tahunmu jadi aku memberikannya sekarang." kata jin sangat senang tanpa menyadari ekspresi sahabatnya itu berubah.


Zyan terdiam, dia tidak bisa mengatakan kalau hari ulang tahunnya bertepatan dengan hari kematian keluarganya. Jika mengingat hari itu membuat hatinya sakit.


Tak lama sebuah mobil hitam berhenti tepat didepan mereka berdua.Paman yang keluar dari mobil,


"Tidak paman. kami juga baru sampai. Iyakan zy" kata jin melihat zyan dan baru menyadari ekspresi sahabatnya itu berubah.


"Zy, kamu kenapa? Kamu baik baik saja?" tanya jin khawatir.


Zyan masih diam, pandangannya sangat tajam.


"Zy," panggil jin.


"Apa paman sudah membawanya?" tanya zyan tak menjawab panggilan jin dan mengalihkan pertanyaan pada paman.


"Iya tuan. Sesuai perintah tuan. Semuanya ada disini." jawab paman sambil menunjukan tas yang dia bawa.


"Berikan padaku." pinta zyan.


Paman membuka tas itu dan mengambil sebuah amplop berisi uang lalu memberikannya pada zyan.


"ini tuan." kata paman.


Zyan menerimannya dan memasukannya kedalam tasnya. Jin masih diam saja dan terus menatap zyan dengan tatapan sedih dan bingung.


"Ayo masuk." ajak zyan pada jin.


Jin hanya menganggu kan kepalanya dan mengikuti zyan dari belakang.


Sampai mereka di depan pintu panti.


"Tadaima." ucap zyan dan jin bersamaan.


Seorang wanita paruh baya yang sedang duduk membaca buku langsung mengangkat wajahnya dan seketika matanya terbelalak melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"okaeri" balas wanita paruhbaya itu.


"Zyan, Jin. Ini benar kalian?" tanya bunda hana langsung mengenali mereka berdua.


"Iya ini kami bun. Sudah lama tidak bertemu."kata jin tersenyum senang.


Bunda hana berdiri dan langsung mendekati mereka dan memeluk keduanya.


"Kalian sudah besar dan tampan. Hampir bunda tidak mengenali kalian." kata bunda.


"He he he bunda bisa saja." kata jin.


"Ah iya. Bunda lupa. Ayo duduk dulu, bunda ambilkan minum." kata bunda hampir pergi tapi ditahan oleh zyan.


"Kami takkan lama. Kami datang kesini cuma ingin memberikan ini untuk bunda dan yang lain." kata zyan


sambil membuka tasnya dan mengambil amplop tadi, lalu memberikannya pada bunda.


"Zyan ini apa?" tanya bunda bingung menerima amplop dari zyan karna isinya cukup tebal.


"Ini sebagai tanda terima kasih kami pada bunda dan panti asuhan ini. Aku akan terus membantu panti ini setiap bulannya." kata zyan


"Zyan ini uang dari mana?" tanya bunda curiga.


"Bunda tidak perlu khawatir uang yang diberikan zy itu bukan uang curian atau uang haram." jelas jin.


"Lalu ini dari mana zy? Bunda tidak bisa terima jika tidak jelas asal usulnya." kata bunda tegas.


"Ini hanya sebagian tabungan aku. Bunda terima saja." kata zyan.


Bunda masih bingung dan tak tau harus berbuat apa.


Zyan melihat ponselnya, dia teringat tadi pagi paman nelponnya karna ada sesuatu.


"Maaf kami tidak bisa berlama lama. Kami harus pergi. Kami pamit." kata zyan memberi hormat lalu pergi keluar.


Saat jin akan pergi, bunda menghentikan jin.


"Tunggu jin. Beritahu bunda dari mana uang ini? Apa kalian bekerja?" tanya bunda.


"Bun, kami tidak bekerja, kami masih sekolah. Soal uang itu suatu saat bunda akan tau. Aku tidak bisa memberitahunya sekarang. Bye bunda." kata jin lalu pergi meninggalkan bunda yang masih kebingungan.


Zyan sudah menunggunya dimobil,


"Sudah?" tanya zyan.


"Iya sudah. Ayo." ajak jin lalu keduanya masuk kedalam mobil.


Mobil hitam itu kembali melaju dijalan dengan kecepatan sedang.


"Zy, aku minta maaf." kata jin membuka suara.


Sejak tadi hatinya terasa sesak karena melihat zyan yang jadi murung.


"Untuk apa?" tanya zyan balik tanpa memalingkan wajahnya dari jendela mobil.


"Karna aku salah. Aku tidak tau kamu tidak suka memakai jam. Tadinya waktu aku lihat jam tangan itu, aku pikir sangat cocok dengan mu dan aku pikir kamu akan suka. Tapi ternyata aku salah. Maafin aku zy."jelas jin dengan nada sedih.


"Aku suka. Terima kasih." balas zyan.


Jin terkejut mendengarnya,


"Jika suka kenapa kamu murung?" tanya jin lagi.


Zyan tidak menjawabnya karna terlalu beratnya mengatakannya.

__ADS_1


"Nanti kamu akan tau." kata zyan.


__ADS_2