Pembalasan Mawar Hitam

Pembalasan Mawar Hitam
chapter 40


__ADS_3

Para murid mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru itu. Nampaknya ada satu siswa yang tidak mengerti tentang sastra. Jin tidak mengerti sama sekali tentang sastra karna itulah dia kebingungan. Jin bersandar di kursi dan berbisik kebelakang.


"Hush zy. Zy."panggil jin pada zyan.


Zyan mengangkat kepalanya karna mendengar panggilan jin.


"Apa?" tanya zyan pelan.


"Zy aku tidak mengerti maksudnya. Tolong bantu aku?" kata jin merengek.


"Bodoh!. Baca saja tulisan yang ada dibuku, nanti juga paham." kata zyan kembali fokus ke buku pelajaran.


Jin manyun karna zyan tidak mau memberitahukannya. Mau tak mau jin harus belajar memahaminya sendiri. Zyan terus memperhatikan jin yang terlihat gelisah, didalam hati zyan sedikit tertawa melihat tingkah lucu jin.


"Aduh gimana nih. Aku benar benar tidak paham." kata jin pelan.


Waktu pelajaran telah usai, suara bel telah berbunyi.


"Baiklah semua, cukup sampai disini. Selamat pagi semua." kata guru lalu pergi


"iya sensei." jawab para murid.


Jin merasa lega akhirnya pelajaran yang membosankan telah selesai. Dia tidak lagi harus berkutat dengan pelajaran yang tidak dia mengerti.


"Zy keluar yuk?" ajak jin


Zyan yang sedang asyik membaca buku tak menghiraukan ajak jin. Itu membuat jin kesal, jin berdiri dan berjalan kebelakang. Dengan wajah manyun, jin berjongkok disamping meja zyan.


"Zy keluar yuk. Bosan ni." bujuk jin.


Tapi tetap tidak diperdulikan oleh zyan. "Uh, zyaannnn" kata jin mulai mode manja. Akhirnya zyan pun menyerah dan menutup bukunya.


Melihat itu, jin sangat senang dengan senyum gembira jin meraih tangan zyan dan menariknya untuk keluar kelas. Zyan diam saja mengikuti kemana jin akan pergi.


Saat keduanya keluar kelas, banyak mata yang memandang mereka. Bukan karna mereka tampan tapi karna jin terus menggandeng tangan zyan sepanjang perjalanan mereka ke kantin. Jin terus tersenyum senang tanpa menghiraukan orang orang yang berbisik tentang mereka.


"Zy mau jajan apa ni? Hari ini aku yang traktir. kamu mau makan apa?" tanya jin dengan penuh semangat.


"Benarkah?" kata raiga dan soji bersamaan. Mereka datang tiba tiba dari belakang jin dan zyan. Membuat jin terkejut. "A iya!" teriak jin terkejut.

__ADS_1


"Ha ha ha jin begitu saja terkejut. Lihat zyan saja santai banget." kata raiga tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Tadi kami dengar ada yang mau traktir nih. Hi hi hi." kata soji dengan senyum harap.


"Siapa yang mau traktir kalian!" jawab jin dengan kesal. Raiga segera merangkul pundak jin dengan harapan mendapat makanan gratis.


"Oh ayolah kawan. Sesekali berbagilah dengan kami. Jangan pelit begitu kawan." kata raiga dengan senyum senyum.


"Benar jin. Kalian kan pasti dapat uang jajan banyak dari bu kepsek sama bu elena." tambah soji.


Jin semakin kesal, dia melepaskan tangan raiga yang ada dipundaknya. Jin tidak berkata apa apa, dia sudah kesal karna niatnya ingin mentraktir zyan tidak jadi dan diganggu oleh mereka.


"Biar aku saja yang mentraktir kalian." kata zyan yang sejak tadi diam menonton akhirnya buka suara. Raiga dan soji terkejut mendengarnya karna ini pertama kali nya zyan berkata demikian.


"Serius bro?" tanya soji tak percaya. Zyan menganggu kan kepalanya. Keduanya sangat gembira sampai bersorak hore.


"Hore kita makan gratis bro." kata raiga senang. "Iya. Jarang jarang zyan traktir kita." balas soji.


Mereka berdua segera memesan makanan dan minuman. "Bibi, ini yang bayar zyan ya." kata raiga pada pemilik kantin.


"Aku juga bi. Yang bayar zyan." soji juga ikutan.


"Jangan banyak ngeluh. Cepat ambil makanan." pinta zyan yang sudah bosan mendengar keluhan jin. "baiklah. Aku ambilkan." jin menurut saja.


Saat zyan sedang duduk sendirian, menunggu jin mengambil makanan, ponselnya bergetar. Ada pesan masuk, zyan segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirimnya pesan.


Zyan sedikit terkejut karna dia mendapat email dari ghostraid. Zyan tidak membuka email itu dan mengabaikannya. Zyan mencoba untuk melupakan sejenak masalah balas dendam sampai dia benar benar bisa mengendalikan emosinya.


Jin dan kedua temannya datang membawa makanan. "Zy ini untukmu." kata kini menyerahkan semangkuk ramen.


"Arigatao, jin-chan" balas zyan. Jin tersenyum senang.


"Hei brother, ada angin apa ni. Tumben banget kamu baik mau traktir kita makan?" tanya soji sambil makan.


"Kalau lagi makan jangan banyak bicara. Kesedak baru tau rasa loh." ejek jin.


"Kamu jealous ya. Hi hi hi" ejek balik raiga. Jin manyun tidak mau membalas ejekan raiga.


"Anggap saja ini sebagai hadiah untuk semuanya. Terutama untuk jin-chan yang selalu ada disisiku disaat aku terpuruk." kata zyan.

__ADS_1


Jin terkejut mendengar ucapan zyan, dia tidak menyangka kalau dirinya ternyata berguna untuk zyan.


"Aku akan selalu ada untukmu, zy. Kapanpun kamu butuh aku." kata jin dengan senyum senang. Kedua temannya memperhatikan kedekatan mereka berdua.


"Kalian seperti pasangan kekasih saja. Kenapa kalian tidak jadian saja?" canda raiga. "Betul itu kalian sangat serasi." balas soji.


Kedua temannya langsung mendapat tatapan membunuh dari jin. Jin langsung merangkul keduanya dengan emosi dan hampir berkelahi.


"Apa yang kalian katakan?! Aku ini masih normal tahu. Aku juga masih menyukai cewek." kata jin emosi.


"Aduh aduh jin. Lepasin sakit tahu." kata raiga menahan sakit. Jin tidak mau melepaskan mereka.


Zyan yang melihat mereka berdua dan berusaha menahan tawa melihat tingkah ketiga temannya itu.


"Pfffttthhh.. Ha ha ha ha.." zyan tidak mampu menahan tawa dan akhirnya pecah. Suara tawa zyan membuat ketiga temannya yang sedang berkelahi berhenti dan bengong.


"Ha ha ha kalian sangat lucu. Ha ha." kata zyan.


"Hei, zyan. Kamu bisa tertawa?" tanya raiga, heran karna selama ini zyan tidak pernah tertawa seperti ini. Zyan dikenal sebagai pangeran es yang jarang sekali tersenyum dan tidak pernah tertawa.


Mendengar pertanyaan raiga, zyan berhenti tertawa. "Tentu saja zy bisa tertawa. Zy juga manusia wajarlah kalau dia tertawa." kata jin kembali ketempat duduknya disamping zyan.


Raiga dan soji juga kembali ketempat duduk mereka. Raiga dan soji terus menatap zyan dengan heran.


"Zyan, aku pikir kamu tidak bisa tertawa? karna selama ini aku tidak pernah melihatmu tertawa." kata soji.


Ini pertama kalinya zyan tertawa didepan banyak orang dan karna tawanya itu banyak mengundang perhatian para siswa yang berada dikantin itu.


Zyan tidak menjawab pertanyaan kedua temannya yang ditunjukan padanya. Dia sendiri heran kenapa tiba tiba tertawa begitu lepasnya seperti tidak ada beban.


"Jangankan tertawa, senyum saja jarang. Makanya dia dijuluki prince ice. Tapi hari ini image mu hancur." kata raiga.


"Kalian ini apa apa si. Gitu saja heboh. Zy itu memang biasa tertawa. Kalian lebay banget." kata jin sedikit ketus karna mendengar ucapan mereka berdua.


"Apaan kamu ini jin. Ko malah kamu si yang marah. Aku bertanya pada zyan kenapa pula kamu yang jawab." kata raiga. Membuat jin naik darah lagi,


"APA KAMU BILANG!!" kata jin menahan emosinya.


"Sudah. Tidak perlu diperpanjang lagi. Hanya hal kecil untuk apa di ribut kan." kata zyan sambil nahan tangan jin agar tidak berkelahi lagi.

__ADS_1


Seketika emosi jin lenyap begitu saja, "Baiklah kali ini aku maafin kalian." kata jin kembali tenang.


__ADS_2