Pembalasan Mawar Hitam

Pembalasan Mawar Hitam
chapter 43


__ADS_3

"Jin Lepaskan dulu. Aku mau pakai seragam." kata zyan. Tapi jin tidak mau melepaskannya.


"Jin jangan seperti ini. Biarkan zyan memakai pakai baju dulu. Kasihan dia kedinginan." kata elena.


Elana mencoba melepaskan pelukan jin pada zyan, tapi masih tidak mau melepaskannya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu. Selama aku disini tidak akan ada yang bisa menyakitimu. Percayalah." kata zyan.


Akhirnya jin melepaskan pelukannya pada zyan. Zyan segera bangun untuk berpakaian. Jin duduk dengan


memeluk kedua kakinya. Jin masih ketakutan, bayangan itu masih terus muncul diingatannya. Elena tidak tega melihat adiknya begitu ketakutan seperti ini. Elana duduk didepan jin, elana memeluk jin yang masih ketakutan.


"jin apa yang terjadi sebenarnya padamu? Apa yang kamu takut kan?" bisik elena di telinga jin.


Jin tidak merespon. Elena melepaskan pelukannya dan terus melihat jin dengan tatapan sedih.


"Zyan apa yang sebenarnya terjadi pada jin? Kenapa dia bisa seperti ini?" tanya Elena pada zyan tanpa memalingkan pandangannya dari jin.


Zyan selesai berpakaian, dia hanya memakai celana sekolah dan kaos putih. Zyan berjalan mendekati elena dan jin.


"Sepertinya dia mimpi buruk. Saat aku baru keluar dari kamar mandi, dia masih tidur tapi terus berteriak teriak. Entah apa yang di mimpi kan nya." jawab zyan yang berdiri di samping keduanya.


Elena benar benar sedih, hatinya terasa sakit melihat adiknya seperti ini.


"Zy, hari ini kamu dan jin tidak usah masuk sekolah dulu. Kamu disini temanin jin." kata elena.


Dia bangun, dia tak ingin berlama lama disini karna itu semakin membuat hatinya semakin sakit.


"Baiklah. Aku akan menemaninya." jawab zyan.


Elena berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh, karna hari ini dia harus mengajar jadi dia tidak boleh terlihat sedih.


"Jika ada apa apa. Cepat beritahu aku ya zy." kata elena sebelum menghilang dibalik pintu.


Zyan menganggukan kepalanya. Lalu zyan duduk kembali didepan jin tapi kali ini zyan duduk menghadap jendela.


Baik zyan ataupun jin tidak ada yang membuka suara. Keduanya diam dan sibuk dengan pikiran masing masing.


"Ada apa? Katakan saja. Sekarang hanya ada kita berdua disini." kata zyan membuka suara terlebih dulu.


Jin masih takut untuk mengatakan apa yang dia alami. Jin terus memeluk kedua kakinya, tatapan matanya terasa kosong.

__ADS_1


"Jika kau tidak bicara bagaimana aku tahu apa yang terjadi. Jika kau terus bukam seperti ini sebaiknya aku pergi." kata zyan.


Saat zyan akan bangun, tangan kanan zyan ditahan oleh tangan kanan jin.


"Jangan pergi. Zy aku takut. Aku mimpi buruk tadi malam." akhirnya jin mau bicara.


"Apa yang kamu mimpi kan?" tanya zyan.


"Aku bermimpi buruk tentangmu zy. Aku mimpi polisi menangkapmu dan membawamu pergi. Dan semua orang menyalahkanmu zy."kata jin, mengingat mimpinya tadi malam.


"Tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku masih disini, masih baik baik saja. Itu hanya mimpi tak perlu dipikirkan."kata zyan sambil tersenyum hangat.


Melihat zyan tersenyum hangat membuatnya kembali bersemangat lagi.


"Aku ada disini untuk melindungimu." kata zyan lagi.


Jin menganggukan kepalanya dan tersenyum senang. Ketakutan didalam hatinya perlahan lahan menghilang dan berganti menjadi semangat.


"Masih ada waktu pergilah mandi." pinta zyan saat melihat jam tangan yang diberikan jin padanya.


"Iya. Tapi kamu jangan pergi duluan. Tunggu aku disini." kata jin dengan manja.


Jin bergegas kekamar mandi, tingkahnya yang terkadang seperti anak kecil membuat zyan merasa lelah tapi ada kalanya membuat zyan senang.


Sambil menunggu jin mandi, zyan membuat minuman untuknya dan jin. Lalu zyan berdiri menatap langit pagi dari balik jendela. Sinar mentari yang hangat dan suara kicaoan burung, menjadi pemandangan setiap pagi.


Jin sudah selesai mandi dan berpakaian. Keduanya sudah siap untuk berangkat sekolah. Karna waktu mereka tidak banyak, jadi mereka berlari kesekolah.


Disampai disekolah, untungnya mereka belum terlambat meski suasana sekolah sudah sepi karna semua murid sudah masuk ke kelas masing masing.


Suasana kelas 2 b sangat ramai karna belum ada guru yang masuk, dan ketika pintu kelas dibuka semua siswa menjadi diam karna mereka pikir itu guru yang masuk.


"Hah hah hah. Untung kita tidak terlambat ya zy." kata jin saat membuka pintu.


Semua siswa terkejut, ternyata yang masuk adalah teman mereka. Jin dan zyan.


Jin dan zyan masuk dengan santai nya tanpa memperdulikan keadaan kelas. Jin dan zyan duduk dibangku masing masing.


Raiga dan soji yang melihat kedua baru datang, langsung menghampiri keduanya yang sedang duduk.


"Bro, tumben kalian terlambat?" tanya soji pada mereka berdua.

__ADS_1


Zyan dan jin tak ada satupun dari mereka yang menjawabnya. Keduanya memilih untuk diam. Soji dan raiga saling berpandang bingung.


"Hei, bro ada berita bagus hari ini?!" kata raiga dengan penuh semangat.


"Berita apa?" tanya jin, malas.


"Kalian tau tidak? Hari ini sekolah kita kedatangan seorang murid baru cantik banget." kata raiga makin bersemangat.


"Benar. Aku tadi sempat berpapasan dengannya dikoridor. Aku harap dia masuk kekelas kita." kata soji.


Zyan dan jin diam saja, malas menanggapi kedua temannya itu. Tak lama seorang guru masuk kedalam kelas. Para siswa yang tadi sedang berkumpul, kembali ketempat duduk masing masing.


"Selamat pagi semua." sapa guru itu.


"pagi rena sensei." jawab para siswa.


"Hari ini kelas kita kedatangan murid baru. Silakan masuk." kata rena mempersilakan murid baru itu untuk masuk.


Seorang gadis cantik berambut hitam panjang memasuki kelas. Para siswa menatapnya penuh kekaguman tapi tidak dengan dua siswa diujung yang tak memperhatikannya. Zyan dan jin, zyan tidak memperhatikan siswi baru itu. Sedangkan jin masih memikirkan mimpinya.


"Ohayo Minna. Salam kenal, namaku Shion." kata shion dengan senyum.


Jin tersadar dari lamunanya mendengar nama shion disebut. Jin masih ingat tentang nama itu, nama shion dia pernah mendengarnya saat zyan membunuh Haruka akaba. Jin melihat kebelakang, tak ada respon apapun dari zyan. Malah zyan terlihat cuek, tak memperdulikan nama itu.


'Shion. Shion. Bukankah nama itu terdengar tidak asing. Shion, iya aku sempat mendengar nama itu saat zy menghabisi Haruka akaba dirumahnya. Tapi kenapa zy seperti tidak perduli dengan gadis bernama shion itu? Jika dia benar anak akaba harusnya zy langsung mengetahuinya atau mungkin nama mereka yang sama tapi orangnya berbeda?' gumam jin dalam hati.


Jin melirik zyan dan zyan masih terlihat tenang. Jin tau persis sikap zyan yang benar tenang dan yang tenang tapi ada perasaan lain, itu bisa dilihat dari sorot matanya. Saat ini sorot mata zyan begitu terlihat tajam biasa, berbeda dengan sikap tenang yang tak biasa karna mata tajam zyan memancarkan aura membunuh.


"Shion, kamu duduk disebelah zyan. Anak laki laki yang duduk paling di belakang ujung." kata rena sensei menunjuk pada zyan.


"Terima kasih sensei." kata shion sopan.


Shion berjalan ketempat zyan duduk. Saat menuju tempat duduknya, shion berpapasan dengan jin yang tersenyum kepadanya, shion membalas senyuman jin.


'Mungkin aku terlalu jauh berpikir. Zy saja masih tenang.Sudahlah tidak perlu berpikir negative.' gumam jin dalam hati.


"Permisi. Maaf, aku murid baru mohon bimbingannya. Zyan kun" kata shion.


"Hn" zyan terlihat sangat dingin.


Sepanjang pelajaran shion dan zyan diam tak ada yang membuka suara. Sebenarnya shion ingin bertanya pada zyan tapi dia urungkan karna takut pada zyan yang bersikap dingin.

__ADS_1


__ADS_2