
Zyan tak menjawab, dia malah berjalan ke belakang jin dan memeluk jin dari belakang. Jin terkejut karna tiba tiba zyan memeluknya dari belakang.
"Zy...kau..." kata jin, menggantung kata katanya.
"Diamlah. Jangan berpikir yang aneh aneh. Aku masih normal." bisik zyan tepat di telinga jin..
Wajah jin memerah dan merasa geli karna nafas zyan terdengar jelas di telinganya.
Jantung jin berdetak kencang karna zyan semakin mempererat pelukkanya pada jin dan menyandarkan wajahnya di bahu kanan jin.
"Aku rindu okaa-sama." kata zyan.
Jin ikut sedih mendengar bisikan zyan. Ternyata zyan sedang merindukan ibunya.
"Ibuku selalu memelukku seperti ini saat aku kecil. Peluk kan hangat dan penuh kasih sayang." bisik zyan lagi.
"Zy..." panggil jin dengan nada sedih.
Zyan masih memeluknya dalam diam. Dia merasa tenang saat memeluk sahabatnya itu.
"Zy sebenarnya apa yang terjadi diantara kamu dan ka elena?" tanya jin, sangat penasaran.
"Tidak terjadi apapun." jawab zyan.
"Kamu bohong. Tidak mungkin kak elena pergi begitu saja jika tak terjadi apapun diantara kalian. Zy mau sampai kapan kamu menyembunyikkannya." kata jin.
"Menyembunyikan apa?" tanya zyan.
"Aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan karna kau tidak pernah memberi tahuku apa yang kau tau. Tapi aku yakin apa yang kau sembunyikan ini pasti ada hubungannya dengan kak elena." jawab jin.
"Apa kau sedang mencurigaiku sesuatu, jin hou?" tanya zyan dengan nada yang sangat menakutkan.
"Tidak. Aku tidak mencurigaimu. Aku mengkhawatirkan dirimu zy. Emmm" Jawab jin.
Jin merasa sensasi aneh saat hidung zyan menyentuh leher belakangnya sehingga membuatnya mengeluh.
"Jin hou, yang seharusnya kau khawatirkan adalah dirimu sendiri. Bukan aku." jawab zyan.
Entah apa yang ada di kepala zyan, zyan terus menggoda jin dengan menyusuri leher jin dengan hidungnya. Membuat tubuh jin menegang.
"Emmm...Zy tolong hentikan. Itu sangat geli.." kata jin.
Zyan pun berhentikan aktifitasnya. Wajah jin terlihat merona merah di bawah cahaya lampu.
"Jin Hou jika kau terus bertanya apa yang terjadi antara aku dan elena, aku akan meninggalkan jejakku di lehermu ini." kata zyan dengan sedikit ancaman.
Jin sangat terkejut bukan main, ini pertama kalinya zyan mengancamnya dengan hal yang menurut jin menyebalkan.
Zyan masih memeluk jin dari belakang. Tangan kanan jin bergerak menyentuh tangan kanan zyan yang ada dilehernya, sedangkan tangan kirinya masih menempel pada tangan zyan yang melingkar di perutnya.
"Uh, zy bodoh." kata jin, dengan nada manjanya.
"Aku bodoh karna dirimu. Aku melakukan semua ini untuk melindungi mu dari seseorang yang berniat jahat padamu." bisik zyan.
Jin semakin terkejut dan tak mengerti maksud perkataan zyan.
"Apa maksudmu? Melindungi ku dari siapa, Zy?" tanya jin.
"Sebaiknya kau jauhi elena. Jangan terlalu dekat dengannya." kata zyan.
"Kenapa aku harus menjauhi kak elena? Memangnya kak elena salah apa zy?" tanya jin.
Jin tak menyangka jika zyan memintanya untuk menjauhi elena tanpa alasan yang jelas.
"Turuti saja perkataanku. Ini semua demi kebaikanmu." jawab zyan.
Jin diam, mencoba mencerna setiap perkataan zyan. Setelah pembicaraan itu ke dua nya terdiam tak seorangpun yang berbicara.
Mereka berpelukkan cukup lama sampai akhirnya zyan melepaskan pelukannya.
"Sudah malam sebaik tidur." kata zyan kembali dengan nada dingin.
__ADS_1
Entah kenapa saat zyan melepaskan pelukan nya, jin merasa hampa. Jin jadi sedih karna zyan menjauh darinya.
Jin hanya bisa menatap zyan yang berbaring dengan pandangan sedih. Sebenarnya didalam hatinya, jin merasa senang saat zyan memeluknya.
Ada perasaan hangat yang menghampiri hati jin. Sekarang perasaan itu telah hilang karna zyan tak lagi memeluknya.
Jin tak berkata apa apa dan menghampiri zyan. Jin berbaring disamping zyan yang sedang memejamkan matanya.
'Zy apa yang sebenarnya kau sembunyikan? Sebenarnya apa yang kau ketahui tentang kak elena? Apakah karna kau mengetahui sesuatu sampai membuat sikapmu berubah sangat dingin.?' Tanya jin dalam hati.
Jin terus memandang wajah sahabatnya itu yang terlihat damai dan tenang sampai tanpa jin sadari, dia sudah masuk kedalam alam mimpi.
Mentari mulai menunjukan dirinya. Pagi yang indah telah datang.
Zyan perlahan membuka matanya lalu melihat kearah jendela kamar. Nampak cahaya pagi telah muncul.
Zyan merasa ada sesuatu yang bergerak di perutnya dan menariknya ke samping. Zyan melihat keperutnya dan beralih kesampingnya.
Jin masih tertidur sambil memeluk zyan dengan erat. Zyan membiarkan tangan jin melingkar padanya.
Zyan melihat jam di meja, waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Zyan terlambat bangun, karna biasanya dia bangun jam 4.30 menit. Dan sekarang sudah jam 6 pagi.
Zyan segera bangun dan itu membuat jin ikut terbangun.
"Emm.." eluh jin.
"Cepat bangun putri tidur. Ini sudah jam 6." kata zyan
Zyan beranjak dari tempat tidurnya dan langsung pergi kekamar mandi.
"Sebentar lagi hon." balas jin.
Zyan tak mendengar perkataan jin karna dirinya sudah ada di dalam kamar mandi.
Jin bangun lalu berjalan ke dapur untuk membuat minuman untuknya dan zyan.
"Hoaamm. Masih ngantuk." kata jin.
"Eh zy? Kamu mandi?" tanya jin, kaget.
"Iya, kemarin tidak mandi, membuatku tidak nyaman." jawab zyan.
"Zy, bukannya dokter sudah memberi tahu mu. Lukamu itu tidak boleh terkena air. Nanti semakin parah bagaimana?" kata jin, marah.
Jin menarik tangan zyan ke tempat tidurnya lalu mendudukkan zyan diatas kasur. Jin melihat luka zyan yang terkena air.
Jin mengambil kotak obat dan tissu untuk mengelap luka zyan. Jin dengan hati hati mengobati luka zyan.
"Zy tolong dengarkan perkataanku. Sekali ini saja. Aku mohon zy." kata jin.
"Aku tau, bawel." balas zyan.
Jin membalut kembali luka zyan.
"Nah sudah selesai. Nanti sore jangan mandi," kata jin.
Dan berapa saat kemudian keduanya selesai berpakaian dan siap untuk berangkat sekolah.
Zyan dan jin turun kelantai bawah dan bergegas kesekolah.
Seperti biasa, keduanya selalu berjalan bersama. Tanpa sengaja mereka mendengar pembicaraan teman temannya yang berjalan didepan mereka.
"Hei, apa kalian sudah tahu belum?" tanya salah satu murid sma mangetsu ido pada teman lainnya.
"Belum. Memang ada apa si?" tanya teman lainnya.
"Aku lihat berita, polisi sudah mengetahui identitas mawar hitam loh. Katanya dia masih anak anak di bawah umur dan katanya lagi dia masih sma." jawab teman lainnya.
"Apa? Serius? Polisi sudah tahu? Lalu siapa dia?" tanya teman nya lagi.
Zyan dan jin terkejut mendengar pembicaraan teman temannya itu. Jin menjadi ketakutan, tubuhnya mulai gemetar takut.
__ADS_1
Takut polisi akan menangkapnya dan akan memasukkannya kedalam penjara.
Zyan menyadari kalau sahabatnya itu merasa takut. Dia menyentuh tangan jin dan menggenggamnya erat. Jin menoleh kesamping melihat zyan.
"Semua akan baik baik saja. Tidak akan aku biarkan mereka menangkapmu." bisik zyan.
"Tapi zy aku takut." balas jin.
"Tidak ada yang perlu di takutkan. Selama aku ada disini aku tidak ada membiarkan siapapun menyakitimu. Aku akan selalu melindungi mu." kata zyan.
Jin masih saja merasa takut. Zyan tahu jin masih merasa takut karna jin menggenggam tangan zyan dengan sangat erat.
Sampai mereka di sekolah, keduanya masih saja bergandengan tangan. Tingkah keduanya menarik perhatian semua murid di mangetsu ido ini.
"Berhenti memasang wajah bodohmu itu. Itu sangat memuakkan." kata zyan.
"Siapa yang memasang wajah bodoh?!" tanya jin dengan sedikit kesal.
"Kau. Siapa lagi?! Tidak mungkin monyet yang berada disampingku yang memasang wajah bodoh." Ejek zyan, mencoba mencairkan suasana hati jin.
"Zy... Kamu bilang apa?" tanya jin semakin geram.
Zyan tersenyum dan mengusap lembut rambut jin membuat rambut jin sedikit berantakan.
"Lihat sekarang monyet itu sudah hilang." kata zyan.
Jin terkejut. Dia berubah yang tadinya marah dan kesal pada zyan akhirnya hilang. Ekspresinya terlihat lucu saat terbengong.
"Zy kamu?!" kata jin.
"Jangan bengong disana. Nanti kemasukkan setan." kata zyan.
Jin tersadar dan kembali berjalan disamping zyan dengan ekspresi ceria seperti biasanya.
Keduanya sampai didalam kelas, zyan dan jin duduk di bangku masing masing. Seperti biasa, sambil menunggu kelas dimulai, zyan membuka bukunya.
Jin menengok kebelakang, ketempat zyan duduk. Saat ini kelas dalam keadaan sepi. Hanya ada empat siswa yang ada dikelas, sisanya berada diluar kelas karna kelas belum mulai.
"Zy, aku masih memikirkan pembicaraan mereka tadi." kata jin
"Sudah aku bilang. Semua akan baik baik saja. Serahkan saja padaku." kata zyan tetap tenang.
"Tapi tetap saja zy. Aku tidak bisa tenang seperti dirimu. Aku sangat takut." balas jin.
"Baiklah. Aku akan meminta paman Yang untuk mengurus semuanya. Aku yakin paman bisa melakukannya." Kata zyan.
Jin menganggukkan kepalanya dan mulai sedikit tenang.
"Oh iya zy, menurutmu bagaimana mungkin polisi mengetahui identitas mawar hitam itu masih anak sma? Selama ini kita tidak pernah meninggalkan jejak apapun?." tanya jin.
Zyan yang sedang membaca buku berhenti. Sontak dia terkejut dengan pertanyaan jin. Sejak tadi zyan tak memikirkan hal itu.
"Kau benar. Dari mana polisi tau identitas mawar hitam itu anak sma? Sepertinya ada yang harus kita selidiki." kata zyan sambil menutup bukunya.
"Apa mungkin ada yang membocorkan identitas kita?" tanya jin lagi.
"Entah. Aku tidak tahu." jawab Zyan.
Keduanya kembali terdiam. Zyan sibuk memikirkan perkataan jin. Memang semua ini tidak masuk akal, bagaimana mungkin polisi mengetahui identitas mawar hitam itu masih anak sma?
Zyan terus berpikir tentang semua ini. Sampai dia berpikir jika tidak ada yang membocorkannya, tidak mungkin identitas mereka terungkap.
Tapi siapa? Siapa yang sudah membocorkan identitas mawar hitam ini?.
Saat zyan terlalu larut dalam pikirannya, dia sempat memikirkan siapa saja yang sudah mengetahui identitas dirinya.
Selain paman Yang dan anak buah zyan, ada dua orang lagi yang sudah mengetahui identitas zyan.
#
Happy Reading All..
__ADS_1
semoga kalian suka dengan cerita somvlak ini..