
Semuanya terdiam, raiga dan soji saling berpandangan melihat jin yang tertunduk terdiam.
"Jin, zyan sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian? Apa yang kalian lakukan semalam?" tanya soji.
Jin terdiam, dia masih merasa bersalah karna kata katanya tadi. Zyan melirik jin sekilas dan menatap soji.
"Tidak ada. Kami tidak melakukan apapun." jawab zyan dengan nada dingin.
"Tadi jin mengatakan sesuatu tentang semalam?" tanya raiga.
Zyan melirik kearah jin lalu pandangannya kembali dia alihkan. Zyan beranjak dari duduknya dan berjalan kemeja belajarnya. Semua teman temannya masih menunggu jawaban zyan.
Zyan mengambil laptop dan map yang tadi dibawa jin lalu kembali ketempat tidurnya.
Jin mengangkat wajahnya dan menatap zyan yang juga sedang menatapnya. Zyan sedikit tersenyum tapi tak disadari oleh teman temannya.
"Sudah. Lupakan soal tadi, kembalilah seperti biasa." kata zyan.
Mendengar perkataan zyan, jin kembali tersenyum. Jin sejak tadi takut zyan akan marah padanya, tapi mendengar nada bicara zyan yang lembut, jin tahu zyan tak marah padanya.
"Tadi aku hanya asal bicara. Semalam tidak terjadi apa apa?! He he he." kata jin.
"Hm kamu ini jin, aneh. Tidak terjadi apa apa ko bicara asal." canda lan.
Raiga masih curiga dengan jin dan zyan. Karna raiga sempat tidak sengaja mergokin zyan dan jin sedang berpelukan didalam kamar.
Raiga terus berpikir jika jin dan zyan punya hubungan spesial. Membayangkan hal itu, raiga jadi merinding. Raiga menggelengkan kepalanya, dan itu membuat teman temannya bingung.
"Kamu kenapa rai?" tanya yuri.
"Ah tidak apa apa." jawab raiga tersenyum.
"Ah yah jin, kamu punya game yang bagus tidak? Ayo kita main." kata raiga lagi, mengalihkan perhatian.
"Ada. Ayo kita main. Kalian bertiga mau ikut main?" tanya jin sambil menunjukan game terbarunya.
"Tidak, kami lihat aja." jawab shion.
"Iya kami jadi penonton saja." balas yuri.
"Oh ya sudah. Ayo main raiga, jin" kata soji.
Jin, raiga dan soji bermain game. Sedangkan zyan sibuk dengan laptop dan mapnya. Shion sesekali memperhatikan zyan sampai matanya tidak sengaja melihat kalung kristal biru milik zyan.
Shion terus memperhatikan kalung itu. Shion merasa pernah melihat kalung itu tapi shion lupa. Perlahan shion ingat tentang kalung kristal biru itu.
Shion pernah melihat kalung kristal biru itu dipake oleh seseorang. Shion ingat dimalam ayahnya dibunuh oleh seorang pria bertopeng yang mengakui mawar hitam. Pria itu memakai kalung kristal biru yang sama persis dengan yang di pakai zyan.
Yuri dan lan memperhatikan shion yang terus melihat zyan. Keduanya saling melempar pandangan, saling bertanya lewat tatapan mata.
Shion tertunduk sedih, saat mengingat kejadian malam itu. Shion terus berusaha untuk menenangkan hatinya yang galau.
"Shion ada apa?" tanya pelan lan agar tidak diketahui yang lain.
Shion mengangkat wajahnya dan menatap lan dan yuri dengan pandangan sayu.
"Tidak apa apa." jawab shion dengan senyum yang dipaksakan.
"Apa kau yakin? Sejak tadi aku perhatikan kamu terus melihat zyan? Kamu suka yah sama zyan?" bisik yuri dengan senyum menggoda.
__ADS_1
Dan langsung saja wajah shion memerah karna dia ketahuan kedua sahabatnya itu terus menatap zyan. Shion tak berkutik karna apa yang dikatakan yuri memang benar adanya.
Kedua sahabatnya itu tersenyum geli melihat shion yang jadi malu malu.
"Ehm, zyan.." Panggil lan
Tapi zyan tidak meresponnya, dia terus fokus pada laptopnya.
"Zyan, dipanggil ko diam saja?!" kata lan lagi, dengan sedikit nada tinggi.
Tapi tetap saja zyan tak merespon sedikit saja. Zyan benar benar bersikap dingin.
"Zyan kamu dengar gak si aku panggil." kata lan, semakin kesal.
Jin yang sedang asyik bermain game mendengar suara yang terdengar kesal, menengok kebelakang.
"Lan, percuma kamu panggil zy saat ada laptop didepannya. Karna dia tidak akan meresponmu sedikitpun." kata jin.
"Memang apa si yang dikerjakan zyan sampai sebegitu fokusnya?" tanya yuri.
Jin tak menjawab. Tidak mungkin jin memberitahu lan yang sedang zyan kerjakan saat ini, karna yang zyan kerjakan adalah hal rahasia yang hanya di ketahui oleh mereka berdua selain orang orang perusahaan.
"Jin ko malah diam si? Apa yang dikerjakan zyan sampai tadi lan panggil tidak menjawab." tanya yuri.
"Zy sedang membantu tugas kak elena." kata jin, berbohong lagi.
"Oh pantes dia fokus banget." balas yuri.
"Dia itu kalau udah berhubungan dengan tugas sekolah, gak bakal bisa diganggu." kata raiga sambil bermain game.
"Hm dasar zyan." keluh lan.
Jin bangun dan berjalan ke dapur lalu mengambil kotak bento yang tadi dibawa oleh elena.
"Zy makan dulu. Nanti lanjut lagi." kata jin.
Zyan melirik kearah jin yang sudah bersiap menyuapinya. Zyan membuka mulutnya dan jin perlahan menyuapi zyan. Zyan enggan lepas dari laptopnya.
Lan dan yuri dibuat bengong dengan tingkah kedua cowok ini.
"Masih belum kelar ya?" tanya jin.
"Sedikit lagi. Masih ada berapa yang belum aku lihat." jawab zyan tanpa berpaling dari laptopnya.
"Hei zyan kamu kenapa disuapin? Kamu kan bisa makan sendiri?" tanya lan.
"Zy ini kalau udah fokus ma laptopnya, dia selalu lupa makan." jawab jin sambil menyuapi zyan.
"Jangan terkejut dengan tingkah zyan dan jin. Mereka memang biasa seperti ini." kata soji,
"Hah maksudnya?" tanya lan.
"Mereka itu udah bisa saling membantu dan saling jaga satu sama lain. Ikatan tali persaudaraan mereka memang sangat kuat." jawab soji.
"Oh." lan dan yuri bersamaan.
Kembali suasana kamar hening. Waktu terus berjalan sampai tanpa sadar matahari mulai kembali ke tempat nya.
"Woi mau sampai kapan kalian mau main?" tanya lan dengan sedikit emosi.
__ADS_1
"Eh sudah sore rupanya." jawab soji
"Ini memang sudah sore, kita harus segera kembali. Zyan juga mau istirahat." balas yuri.
"Iya iya yuri cantik. Kami tau." kata raiga.
Yuri menjadi malu karna di panggil cantik. Lan dan shion terkikik geli melihat wajah yuri yang sedikit memerah.
"Sudah yuk kita kembali. Jin zyan kami keluar dulu, istirahatlah. Cepat sembuh ya." kata lan.
Zyan hanya mengangguk saja. Jin mengantar teman temannya keluar kamar. Dan keadaan kamar menjadi hening, hanya tinggal zyan dan jin berdua saja.
Jin mendekati zyan dan duduk disamping zyan.
"Zy ini sudah waktunya untuk mengganti perbannya." kata jin.
Zyan berhenti melihat laptopnya dan menutup laptopnya. Jin langsung bangun untuk mengambil kotak obat yang ada di lemari meja belajar zyan.
Sementara jin mengambil kotak obat, zyan melepaskan pakaiannya perlahan. Zyan sedikit mengeluh sakit saat tangan kirinya terangkat keatas.
Jin menaruh kotak obat diatas tempat tidurnya dan berjalan kedapur untuk mengambil air panas dan memasukkan nya kedalam ember yang sudah ada handuk kecilnya.
Jin kembali ke tempat tidurnya sambil membawa ember dan menaruhnya di samping zyan.
Jin menatap sedih punggung zyan, dia teringat kejadian semalam. Jin terus saja menyalahkan dirinya sendiri. Jin membuka perban yang menutupi luka zyan, dan mengelap luka itu dengan air hangat.
"Uh." eluh zyan,
Zyan merasa sakit saat handus yang basah itu menyentuh lukanya.
"Maaf." kata jin, pelan.
"Tidak apa apa. Lanjutkan saja." kata zyan.
Jin menganggukkan kepalanya dan melanjutkan membersihkan luka zyan. Lalu mengoleskan obat, jin melakukannya dengan perlahan karna takut zyan kesakitan lagi.
"Obatnya tinggal dikit. Selesai mandi aku akan keluar untuk membeli obat." kata jin sambil menutup kembali luka zyan dengan perban.
"Berhati hatilah." kata zyan.
"Baiklah, honey." balas jin dengan senyum.
Selesai mengobati luka zyan, jin membereskan kembali kotak obat dan menaruhnya kembali ke tempat nya.
waktu terus berjalan sampai tiba waktu makan malam. Jin yang sedang mengerjakan tugas berhenti dan menengok kebelakang untuk melihat zyan yang masih duduk diatas tempat tidur dan terus menatap laptopnya.
"Zy mau keluar makan? Atau aku ambilkan makanannya?" tanya jin.
"Keluar saja." jawab zyan sambil menutup laptopnya.
"Ya sudah ayo kita keluar." kata jin.
Keduanya keluar dari kamar dan langsung menuju kantin asrama.
sampai disini dulu ya.. makasih untuk dukungan kalian..
yuk komen agar author semangat up..😊😊😊
__ADS_1