
"zy, kak elena meminta kita untuk datang ke ruangan nya." kata jin.
"iya." kata zyan,
mereka berdua meninggalkan kantin dan pergi menuju tangga.
"zy ngomong ngomong kenapa kak elena meminta kita keruangannya?" tanya jin disela mereka menaiki anak tangga dilantai dua.
"aku tidak tau" kata zyan terus berjalan didepan.
sampai mereka didepan pintu ruangan elena.
tok tok tok
"masuklah jin, zyan." kata elena dari dalam.
zyan dan jin masuk kedalam.
"ada apa kakak memanggil kami?" tanya jin.
"duduklah dulu jin. baru kita bicarakan." kata ibu ruan.
jin dan zyan menurut saja dan mereka pun duduk disofa bersama dengan elena dan ibunya.
"baiklah, sebelumnya ada yang ingin ibu tanyakan pada zyan." kata ibu ruan.
jin memandang zyan seolah matanya berkata
'zy ada apa?' tapi zyan tidak merespon dan tetap bersikap tenang.
"zyan apa kamu masih tidak ingat tentang keluargamu?" tanya ibu ruan dengan nada pelan karna takut akan menyinggung zyan.
zyan terkejut tapi tetap berusaha untuk tenang.
"aku tidak tau" kata zyan berpura pura lupa.
jin juga terkejut kenapa ibu ruan tiba tiba bertanya tentang orang tua zyan?.
"zyan mungkin kamu tidak ingat yang terjadi. ibu hanya akan memberitahu mu sedikit tentang orang tuamu, ibu berharap kamu bisa pelan pelan mengingatnya." kata ibu begitu serius.
sedangkan zyan masih saja berakting.
"ayahmu adalah seorang pembisnis yang terkenal didunia dan seseorang yang begitu hebat. memiliki kekuasaan yang besar dan sangat berpengaruh dalam dunia bisnis." kata ibu kembali diam.
"perusahaan milik keluarga zhan berhasil berkembang dengan sangat besar berkat ayahmu yang dengan gigihnya membangun perusahaan yang dulunya hanya terkenal dikota saja, sekarang terkenal di seluruh penjuru dunia. semua mengenal ayahmu, zhan Ryu. sosok yang baik dan juga sangat hebat. sedangkan ibumu louli hana, dia sosok wanita yang lemah lembut penyayang dan juga berhati baik" jelas ibu ruan mengingat kembali orang tua zyan.
zyan menatap tajam ibu dan elena. zyan sudah tau seperti apa ibu dan ayahnya, disini zyan penasaran dengan mereka berdua.
sejak pertemuan pertama mereka dipanti asuhan ren ai, zyan sudah menaruh kecurigaan pada mereka berdua. namun seiring berjalan waktu zyan perlahan melupakan kecurigaannya pada elena dan ibunya. tapi hari ini, zyan mulai curiga lagi.
"apa maksud kalian bercerita tentang orang tuaku yang tidak aku ingat." kata zyan dengan tenang dan tak telihat sedikitpun kalau dia berpura pura.
"tidak ada maksud apa apa zy. kakak dan ibu hanya ingin kamu tau. mungkin dengan begini kamu akan mengingatnya." kata elena dengan nada sedih.
"maafkan kami jika yang kami katakan menyinggung perasaanmu." kata ibu ruan.
zyan tetap diam dengan tenang. sedang jin terlihat gelisah, takut kalau elena dan ibunya tau yang sebenarnya tapi jin juga penasaran dengan hubungan elena dan ibunya dengan orang tua zyan.
"baiklah, aku yakin kalian pasti sudah dengar tentang berita akhir akhir ini yang sedang viral. tentang mawar hitam." kata ibu ruan.
"mmm iya kami sudah sering mendengar berita tentang ma.. mawar hitam" kata jin agak gugup mengucapkan kalimat terakhirnya.
"benar. dan semalam teman ibu, karin dia sudah diselamatkan oleh mawar hitam dari para preman dijalan." kata ibu ruan.
"oh lalu? apa hubungannya dengan menyuruh kami kesini?" tanya zyan.
"tidak ada. kakak sangat khawatir dengan kalian. kakak takut terjadi sesuatu pada kalian." kata elena dengan tatapan lembut tapi khawatir.
"tapi kami baik baik saja kak. kakak gak perlu khawatir. aku dan zy bisa jaga diri ko." kata jin dengan senyum untuk menyembunyikan rasa gugupnya.
"Baiklah ibu percaya pada kalian. Dan tadi pagi ibu menemui teman ibu itu dan dia memberikan jaket yang semalam diberikan oleh mawar hitam itu. Ini jaketnya." Kata Ibu Ruan memperlihatkan jaket si mawar hitam.
jin terkejut,
'itukan jaket yang semalam?! jadi benar yang dikatakan ibu dan kak elena' gumam jin dalam hati.
jin melirik kearah tapi zyan terlihat santai sama sekali tidak panik seperti dirinya.
"kita sudahi sampai disini. jin zyan jika kalian melihat orang yang mencurigakan cepat beritahu kami. kita harus membantu pihak polisi untuk segera menangkap mawar hitam ini." kata ibu ruan.
"baik." jawab zyan dan jin bersamaan.
"ayo kita makan, udara sudah mulai semakin dingin." ajak elena.
zyan dan jin bangun, ibu ruan pergi meletakan jaket itu di lemari barang elena.
__ADS_1
mereka berempat pergi kekantin asrama untuk makan malam. tentu saja penjaga kantin sangat terkejut karna sangat jarang sekali pemilik sekolah dan asrama ini datang dan makan dikantin.
"selamat malam bu kepala. menu hari ini ada sup teratai yakini q dan berapa tumis sayur." kata penjaga kantin.
"satu mangkuk sup teratai sama sayur saja." kata ibu ruan pada penjaga kantin.
"el, jin, zyan kalian mau makan apa?" tanya ibu ruan ketiga anaknya.
"hm aku mau sup sama yakini q saja." kata elena.
"kalau aku.. zy kamu mau makan apa?" tanya jin bingung dengan menu makanannya.
"aku sup dan teh." kata zyan, dia tidak suka banyak makanan berlemak.
"baiklah aku sama seperti zy." kata jin menyamakan makanannya.
elena, ibu ruan dan juga zyan dan jin duduk satu meja. pemandangan ini sungguh sangat langka.
"kita makan bersama begitu terasa menyenangkan." kata elena tersenyum hangat.
"iya saat musim dingin memang sesuai untuk makan bersama. terasa kehangatan yang sebenarnya." balas ibu ruan.
zyan hanya diam sedang jin tersenyum senang. tiba tiba ponsel zyan berbunyi. ada email yang masuk, zyan mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menginboxnya. ekspresinya langsung berubah saat tau siapa yang mengiriminya email.
...kenapa malam ini tidak bergerak. apa kau takut membeku. wahai mawar hitam....
zyan merasa geram melihat ini chat ghostraid tapi sebisa mungkin zyan berusaha untuk tenang. dia mengabaikan email itu dan memasukan kembali ponselnya.
"kenapa zy? ko gak dibalas?" tanya elena.
"bukan hal yang penting!!" kata zyan dengan tenang berusaha menguasai emosinya.
jin terus memperhatikan zyan, jin tau ada sesuatu yang zyan sembunyikan. jin menyentuh kaki zyan dari bawah dengan kakinya sehingga membuat nya melihat kearahnya. mata jin bertemu dengan mata tajam zyan, mata jib seolah bertanya
'ada apa?' tapi diabaikan oleh zyan.
makanpun datang, mereka berempat menyantap makanan dalam diam. tak ada yang bisa seorangpun.
zyan selesai terlebih dulu,
"aku sudah selesai. aku kembali duluan" kata zyan beranjak bangun.
"zy kamu kenapa? ko wajahmu terlihat pucat?" tanya elena karna melihat wajah zyan yang agak pucat.
jin dan ibu ruan ikut melihat wajah zyan. memang wajah zyan sedikit pucat.
"hanya pusing." kata zyan,
saat zyan akan berjalan tiba tiba zyan hampir terjatuh dan untungnya elena melihatnya. jadi dengan sigap elena menahan tubuh zyan.
"zy badan kamu demam. sebaiknya kita pergi kedokter." kata elena semakin khawatir dengan zyan.
"tidak perlu. aku baik baik saja." kata zyan berusaha untuk bangun dan berjalan lagi.
jin yang melihat zyan yang lemas tak tinggal diam. Jin bangun dan langsung membantu zyan bangun.
"bu, kak biar aku saja yang membawa zy kekamar." kata jin.
"Baiklah. hati hati jin" kata Ibu Ruan.
Jin menganggukan kepalanya dan berjalan sambil menopang zyan. zyan tak kuasa menahan sakit kepalanya, dia terus memegangi kepalanya yang sakit.
"zy kamu kenapa? bukannya tadi masih baik baik saja?" tanya jin sangat khawatir.
Tapi zyan tidak menjawab dan terus memegangi kepalanya.
"antar saja aku kekamar" kata zyan terdengar lemah.
Jin hanya menurut saja dan membawa zyan kekamarnya.
Sampai dikamar, jin langsung membaringkan zyan diatas kasur dan melepaskan syalnya. Jin mengambil obat dan air untuk zyan.
"zy bangun, minum obatnya dulu" kata jin.
Zyan bangun dibantu oleh jin, zyan meminum obatnya dan kembali berbaring. Jin berbaring disamping zyan sambil menggenggam erat tangan zyan.
"zy, cepatlah sembuh." kata jin
Pagi telah tiba, karna saat ini sedang musim dingin jadi sinar matahari tak secerah biasanya. Udara hari ini masih sangat dingin, pepohonan sudah dipenuhi salju. Jalan rahasia tertutup oleh salju yang turun sejak kemarin. Zyan perlahan membuka matanya, mengenal ngejap untuk menyesuaikan cahaya.
Kepalanya masih terasa pusing tapi tak sepusing semalam. Diliriknya kesamping, nampak wajah jin yang damai. Zyan tersenyum kecil melihat wajah tidur jin. Zyan bangun dan duduk bersandar pada tembok.
Dia membuka ponselnya dan lagi ada email dari ghostraid. Zyan membukanya dan melihat isi emailnya. Tidak ada kata ataupun gambar yang ada di email itu, isinya kosong tanpa kata. Zyan menutup kembali ponselnya.
"zy jangan tinggalkan aku. aku takut sendirian disini?!" igauan jin.
__ADS_1
zyan mengelus kepalanya jin dengan pelan,
"bodoh" kata zyan.
zyan berpikir sejenak, lalu dia menelpon paman.
"hallo paman." kata zyan.
"iya tuan ada yang bisa saya bantu." jawab paman.
"paman, bisakah paman menghubungi orang yang kemarin mengikutiku. aku ada perlu dengannya." pinta zyan.
"baik tuan saya akan mengaturnya" kata paman.
zyan mematikan ponselnya, dia bangun dari tempat tidurnya dan berjalan kearah jendelan. zyan membuka terai jendela dan nampak tumpukan salju.
kenangan masa lalu saat bersama keluarganya di musim dingin datang membayanginya.
...#flashback on#...
..."ibu lihat yin bisa membuat boneka salju" kata yin terlihat senang saat dia bisa membuat boneka salju meski tak sempurna. saat itu yin masih berumur 7 tahun. "wah yin hebat. hanya masih kurang sedikit. nah jika dikasih tangan, mata dan hidung baru bagus" kata ibu yin memberi mata hidung dan tangan kayu pada boneka salju. "waaahhh cantiknya." kata yin terkesimah. *pluk satu bola salju mendarat didepan yin, membuat yin terkejut. "ah ayah." kata yin. "hahaha" ayahnya hanya tertawa melihat wajah cemberut yin. "yin ini lemparlah." kata ibu yin menyerahkan bola salju dan yin langsung melemparkannya pada ayahnya. dan begitu seterusnya. dihari yang dingin, keluarga kecil zhan Ryu dipenuhi tawa canda....
...#flashback off*...
jika mengingat kejadian dimasa lalu dimana semua rasa begitu indah, membuat hati zyan sakit. zyan memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit. matanya dipenuhi oleh amarah yang tak bisa dibendung.
"ayah ibu." gumamnya.
zyan Berusaha menahan emosinya.
jin terbangun dari tidur dan matanya langsung mencari zyan. zyan tengah berdiri sambil memegangi dadanya dan terlihat jelas, nafas zyan terengah engah. jin segara bangun dan menghampiri zyan.
"zy, kamu baik baik saja?" tanya jin khawatir.
zyan menengok kebelakang, jin terkejut karna tatapan mata zyan yang begitu menakutkan dan seperti ingin membunuh.
"zy kamu kenapa? apa dadamu sakit?" tanya jin semakin khawatir karna nafas semakin terengah engah.
"aku.. hah.. baik baik saja hah.. hah" kata zyan.
"sebaiknya kamu duduk dulu. jangan berdiri dekat jendela. itu sangat dingin zy." kata jin membawa zyan untuk duduk dan menjauh dari jendela.
setelah zyan duduk, jin menutup kembali jendelanya dan dia membuatkan minuman hangat untuk zyan.
"zy minumlah ini agar kamu merasa lebih baik." kata jin menyerahkan segelas coklat panas.
zyan menerimanya dan meminumnya pelan.
"terima kasih" kata zyan tanpa menatap jin yang duduk disamping kanannya.
"sama sama. zy jika ada masalah jangan pendam sendiri. apa aku tidak berarti untukmu? sampai kamu memendamnya sendiri?" kata jin dengan nada sedih.
zyan tidak menjawab, zyan tidak tau harus bagaimana mengatakannya. zyan hanya tidak ingin jin mengingat masa lalunya seperti dirinya.
"jin apa yang paling kau inginkan didunia ini?" tanya zyan yang masih menatap gelas berisi coklat panas.
"hm yang aku inginkan? yang aku inginkan terus bersamamu. hanya itu yang aku inginkan didunia ini." jawab jin dengan mudahnya.
zyan kembali terdiam, jika jin ingin terus bersamanya bagaimana dengan dirinya?.
"zy, kamu apa yang paling kamu inginkan?" tanya balik jin.
"entah. aku tidak tau." jawab zyan.
wajahnya terlihat murung.
tok tok "jin, zy kakak masuk ya?!" kata elena didepan pintu.
elena masuk dan terlihat zyan dan jin seperti habis ngobrol sesuatu.
"zy bagaimana keadaanmu? ini kakak bawakan sarapan untuk kalian." kata elena mendekat dan duduk disamping kiri zyan.
zyan diam saja masih terlihat murung.
"maafin kakak zy. kakak tidak tau kalau yang kakak dan ibu katakan kemarin akan membuatmu sakit." kata elena dengan nada menyesal.
elena pikir zyan sakit karna dirinya yang menceritakan tentang orangtuanya tapi yang sebenarnya yang membuat zyan sakit bukanlah perkataan elena dan ibu. tapi karna zyan terus memikirkan masa lalunya dan juga balas dendamnya.
"bukan. bukan karna itu." kata zyan pelan.
"kalau bukan karna kami lalu kamu kenapa zy?" tanya elena khawatir.
lagi lagi zyan tak langsung menjawabnya, jin memandang zyan dengan sedih. ini pertama kalinya jin melihat zyan yang begitu tak berdaya,
"zy kenapa diam saja? kepala kamu sakit lagi?" tanya elena.
__ADS_1
"itu karna kemarin kita pagi pagi main salju. terus malamnya, zy dan aku main game sampai larut. he he he" jin berbohong untuk membantu zyan menjawab pertanyaan elena.
"hm kalian ini yah. kenapa masih tidak disiplin si. jangan mentang mentang libur terus kalian lupa jaga kesehatan." omel elena.