
Ketiganya diam tak seorang pun yang berbicara, sampai keheningan itu terpecah oleh suara ponsel zyan. Zyan melihat ponsel nya yang ada dimeja,
'hm paman, ada apa paman menelponku?' tanyanya dalam hati.
Zyan segera mengangkatnya.
"Moshi Moshi, ada apa?" tanya zyan.
"Tuan maaf jika saya menganggu, ada yang ingin saya sampaikan. Mengangkut masalah anda, tuan." kata paman disebrang telpon.
Zyan penasaran dengan maksud paman tapi sebisa mungkin menguasai emosinya agar tak terlihat rasa penasarannya.
"Baik aku akan kesana." jawab zyan lalu mematikan telponnya lalu meletakan kembali ponselnya diatas meja.
"Dari siapa zy? Sepertinya penting?" tanya elena.
"Dari temen." jawab zyan dengan santai,
jin tau siapa yang menelpon zyan, pasti paman. Jin ingin sekali bertanya ada apa paman menelpon? Tapi karena ada elena disini, akhirnya jin hanya memandangi zyan. Berharap zyan akan memberi jawaban dan ternyata nihil zyan malah bangun dan pergi kekamar mandi.
"Aku mandi duluan." kata zyan.
"Kak elena ada apa datang kemari? Aku yakin kakak kesini bukan untuk membangunkan kami kan?" tanya jin penuh curiga.
Elena hanya tersenyum saja, jin mengangkat alisnya sudah tau maksud senyum elena itu.
"Iya aku tau. Kakak kesini karna ada sesuatu. Aku sudah hafal dengan kakak." kata jin bangun dari duduknya dan berjalan kearah jendela lalu membuka tirainya.
terlihat pancaran cahaya dari Cristal salju yang terkena cahaya matahari.
"Jadi apa yang kakak mau?" tanya jin sambil berdiri didepan jendela.
"Kamu ini memang adikku. Sebenarnya kakak ingin minta bantuan kalian berdua." kata elena.
"Bantuan apa? Bicara yang jelas kak. Jangan bertele tele." jin sedikit emosi.
"Ais kamu ini jangan marah gitu nanti cepat tua lho." ejek elena.
Jin diam saja, malas menanggapi perkataan elena.
"Tunggu zyan selesai, baru aku akan mengatakannya." elena tersenyum mengejek.
"Terserah." kata jin,
berbalik menatap keluar jendela. nampak jelas jejak mereka berdua semalam, atas tumpukan salju.
Jin memejamkan matanya menikmati hembusan angin musim dingin, tak lama zyan keluar dari kamar mandi.
Zyan mengambil switer dan tak lupa juga syal kesayangannya. Lalu duduk kembali dikursi belajarnya,
__ADS_1
"Nah karna semua sudah kumpul, kakak akan memberitahu sesuatu. Jin duduk sini." kata elena.
Jin beranjak dari jendela, lalu dia melihat zyan yang sudah selesai mandi.
"Jadi apa yang ingin kakak sampaikan?" tanya jin sambil berjalan kearah zyan.
"Em gimana ya? Bingung mau mulai dari mana?" kata elena.
"Ada apa?" tanya zyan yang baru datang dan tidak tau apa apa.
"Seperti biasa kak elena butuh bantuan kita." kata jin sambil melepaskan perban ditangan zyan yang basah.
"Hari ini kalian berdua harus menemani aku. Tidak boleh keluar kemanapun. Pleace" kata elena memohon.
"Menemani? Kemana?" tanya zyan.
"Belanja. Aku mau beli kado untuk ulang tahun pacarku. Tapi aku bingung mau kasih hadiah apa, jadi aku ingin meminta pendapat kalian berdua." kata elena
"Kenapa tidak tanya saja padanya apa yang di mau?" jawab jin sambil mengobati luka zyan dan memperbannya lagi.
"Oke sudah selesai." kata jin pada zyan lalu jin duduk disamping elena.
"Kalau bertanya padanya itu bukan kejutan baka. Aku mau ngasih surprise yang mewah yang enggak akan pernah di lupakan." elena berbinar binar.
"Ada ada saja. Bikin repot orang saja." kata jin dengan gaya seperti zyan.
"Apa kamu bilang jin!! Menyusahkan orang?!" elena mulai marah lagi.
"Baiklah. Akan kami temani. Tapi sampai jam 1 saja, karna kami sudah ada janji." kata zyan.
Elena nampak sangat senang dengan jawaban zyan.
"Baiklah, setuju." seketika sikapnya berubah.
"Jin cepat mandi. Selagi masih ada waktu." suruh zyan.
Jin yang sudah paham dengan perkataan zyan, langsung menurut dan pergi kekamar mandi.
"Zyan, memang kalian mau kemana? Sepertinya sangat penting?" tanya elena penasaran.
"Panti asuhan REN'AI." jawab singkat zyan.
Keduanya diam, elena terus memperhatikan zyan dengan pandangan sedih. Zyan yang sejak tadi bermain ponsel, menyadari kalau elena terus memperhatikannya tapi zyan berpura pura tidak tau.
"Zy, berapa umurmu sekarang?" tanya elena membuka percakapan.
"16 tahun." jawab zyan tanpa memalingkan wajahnya.
"Hm ternyata sudah 6 tahun berlalu. Aku tidak menyadari, waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku bertemu dengan kak hana dan baru kemarin kak hana menggendong bayi" gumam elena
__ADS_1
mengingat akan masa lalunya saat bersama ibunya zyan, hana.
Zyan sangat terkejut mendengar ucapan elena tentang ibunya. Zyan berusaha tenang meski dalam hatinya sangat terkejut dan penasaran.
"Aku masih ingat saat itu musim dingin, aku dan kak hana membawa bayi itu keluar untuk melihat salju. Hehe saat itu kak Ryu sangat marah karna kami membawa bayinya keluar rumah. Aku dan kak hana kena marah saat itu, tapi kak hana dengan cepat bisa mereda ke marahan kak Ryu." kata elena.
Zyan masih diam tidak merespon apapun. Tangannya yang memegang ponsel bergetar menahan perasaannya. Zyan semakin penasaran dengan elena,
"Saat tersipu malu wajah kak Ryu sangat lucu. Sampai aku tidak bisa melupakan kejadian itu. Zyan, aku tidak tau apa kamu sudah ingat semuanya atau kamu masih tidak mengingatnya." kata elena dengan nada sedih.
"Apa maksud dari perkataan kak elena? Percuma kakak bicara masa lalu karna itu tidak ada artinya sekarang." kata zyan menatap tajam pada elena.
"Kau benar. Sekarang tidak ada artinya. Aku hanya ingin kamu bisa mengingat kedua orang tuamu." kata elena menatap sedih kelantai,
dia tak berani menatap zyan.
Jin keluar dari kamar mandi. Melihat zyan dan Elena diam membuatnya curiga. Jin memperhatikan elena dengan terus menatap kebawah dengan tatapan sedih, sedangkan zyan menatap tajam ke elena. Jin berjalan kearah keduanya dan mencoba memahami situasinya. Jin memandang elena dan zyan secara bergantian.
"Hei, kak?" sapa jin.
Elena terkejut mendengar suara jin karna sejak tadi dia melamun.
"Eh jin. Kamu sudah selesai ya" kata elena tersenyum.
"Iya sudah. Kita jadi gak nih pergi?" tanya jin.
"Jadi. Ayo kita belanja." elena kembali bersemangat.
"Tunggu, aku pake sepatu dulu." kata jin, mengambil sepatunya.
"Baiklah kakak tunggu diluar." elena pergi dan menunggu didepan pintu kamar.
Jin dan zyan sedang memakai sepatu, jin ingin sekali bertanya pada zyan tentang apa yang terjadi? Tapi jin urungkan, dia tak berani bertanya karna merasa aura membunuh yang begitu kuat dari zyan.
Keduanya sudah selesai memakai sepatu dan keluar dari kamar.
"Baiklah, ayo kita jalan." elena langsung merangkul tangan zyan dan jin dan berjalan bersama sampai ke mobil nya yang berada dibawah.
Zyan dan jin masuk kedalam mobil, zyan duduk di kursi belakang sedangkan jin duduk di depan disamping elena. Mobil merah itu melaju dijalan dengan perlahan. Zyan yang berada dibelakang lebih leluasa bermain ponselnya. Zyan teringat tadi pamannya menelponnya, lalu zyan mengiriminya pesan.
...paman, aku tidak bisa datang sekarang. Ada urusan dengan elena. Aku akan menemui mu nanti setelah urusanku selesai. Paman bisakah paman membantuku?...
Setelah menulis pesan, zyan langsung mengirimkannya. Saatnya dia sangat penasaran dengan identitas elena, zyan ingin tau apa hubungan elena denga kedua orang tuanya.
...Apa yang bisa saya bantu tuan?...
Paman membalas pesan yang zyan kirimkan, segera zyan membalas pesan dari paman.
...Paman tolong cari tahu tentang elena dan ruan ming. Jika menemukan sesuatu beritahu aku....
__ADS_1
zyan mengirimkan pesannya kembali.