Pembalasan Mawar Hitam

Pembalasan Mawar Hitam
comeback 7


__ADS_3

Zyan masuk kedalam mobil. Didalam sudah menunggu bawahan zyan.


"Ada apa?" Tanya zyan langsung.


"Ini berkas yang harus anda lihat. Berapa proyek besar yang akan menguntungkan perusahaan kita, master." jawab bawahan zyan.


Zyan melihat berkas itu dan memasukkannya kedalam tas sekolahnya.


"Baiklah, nanti akan aku periksa. Bagaiamana dengan tugas yang aku berikan?" tanya zyan.


"Maafkan saya master, saya belum bisa menemukan jejaknya." jawab bawahan zyan.


"Ya sudah, cari terus." kata zyan sebelum keluar mobil.


"Baik master."


Zyan keluar dari mobil, dan berjalan menghampiri teman temannya.


"Sudah?" tanya jin.


"Iya." jawab zyan.


Raiga dan soji dibuat bingung oleh keduanya yang hanya mengatakan perkataan yang hanya bisa dimengerti keduanya.


"Selesai ini kalian mau ngapain?" tanya soji.


"Kami mau istirahat. Kembali kekamar." jawab jin.


"Tumben, biasanya kalian jarang di asrama. Kenapa tiba tiba kalian di asrama?" tanya raiga.


"Zy lelah, karna itu kami mau istirahat saja di asrama sekalian ngerjain tugas." jawab jin.


"Oh begitu." balas raiga.


Sampai di asrama, zyan dan jin langsung menuju kamar mereka. Zyan langsung menaruh tasnya dan membuka berkas yang tadi diberikan oleh bawahannya.


"Zy itu apa si?" tanya jin.


"Data proyek besar yang akan menunjang perusahaan zhan." jawab zyan.


"Hm aku tidak paham sama sekali." kata jin.


"Sebaiknya kau salin pelajaran ini. Selesai langsung kembalikan." kata zyan.


Zyan memberikan buku catatan milik shion kepada jin, jin menerima dengan senyum senyum aneh.


Selesai memeriksa berkas, zyan berbaring ditempat tidur. Kepalanya terasa pusing, sampai akhirnya dia tertidur.


Jin yang sejak tadi menyalin tulisan shion akhirnya selesai. Jin melirik kebelakang, terlihat zyan sudah tertidur pulas.


Jin tersenyum dan menghampiri zyan, lalu jin duduk disamping zyan yang tertidur.


"Zy, kamu pasti lelah dengan semua ini. Jika aku jadi kamu, aku pasti sudah lari. Zy kamu memang anak yang hebat dan kuat, aku sangat iri padamu." kata jin.


Setelah memandang wajah damai sahabatnya itu, jin ikut berbaring disamping zyan dan jin pun ikut tenggelam dalam dunia mimpi.


*


Diruang kepala sekolah, elena nampak gelisah. Dia terus memegangi ponselnya. Sesekali elena melihat ponselnya apa ada balasan pesan atau tidak.


Ibu ruan yang sedang memeriksan berkas sekolah merasa terganggu dengan tingkah elena yang gelisah.


"Ada apa el? Ibu lihat sejak tadi kamu terus melihat ponselmu, apa Han tidak menghubungimu?" tanya ibu.


"Bukan bu. Han tadi baru saja chat aku bu." jawab elena.


"Lalu kenapa kau terlihat gelisah seperti itu? Apa terjadi sesuatu pada Han? Apa kalian bertengkar?" tanya ibu lagi.


"Aku dan Han baik baik saja bu. Aku sejak tadi menunggu jin dan zyan. Mereka belum juga datang." jawab elena.


"Apa kamu sudah memberitahu pada mereka berdua untuk datang kemari?" tanya ibu lagi.


"Aku sudah chat zyan tapi belum dibaca. Aku juga sudah menelpon zyan tapi tidak diangkat juga." jawab elena.


"Apa kamu sudah menghubungi jin?" tanya ibu.


"Sudah, ponsel jin mati. Sekolah sudah pulang sejak tadi kenapa mereka juga belum datang?." kata elena.


"Dari pada kamu disini bikin pusing ibu, sebaiknya kamu pergi ke asrama temui mereka berdua. Dan bicaralah baik baik dengan mereka." kata ibu.


"Benar juga. Kenapa tidak terpikir oleh ku ya. Kalau begitu aku pulang dulu. Bye ibu." kata elena dengan senyum.


"Iya. Dasar elena." kata ibu.


Elena sekarang bergegas kembali keasrama untuk menemui kedua adiknya. Saat pertama masuk asrama banyak murid muridnya yang menyapa elena. Elena membalas dengan tersenyum.


Elena langsung menuju lantai tiga tempat zyan dan jin tinggal. Elena sampai dilantai tiga dan langsung menuju kamar zyan dan jin.


Tok tok tok


"Zy, jin. Apa kalian didalam?" tanya elena.

__ADS_1


Tapi tak ada jawaban dari dalam. Karna tak ada jawaban elena mencoba membuka pintu kamar zyan dan jin.


Klik klik.


Tapi terkunci dari dalam.


"Loh terkunci? Apa mereka tidak ada di asrama?. Ya sudahlah, nanti malam saja aku bicara dengan mereka." kata elena,


Lalu meninggalkan kamar zyan dan jin, dan menuju kamarnya.


Matahari mulai turun bersembunyi. Zyan baru saja terbangun dari tidurnya. Dia melihat jam tangannya,


"Ternyata sudah jam 6 sore." kata zyan.


Zyan melihat kesampingnya, jin tertidur lelap. Zyan bangun dan langsung berjalan kekamar mandi.


Tak lama, zyan selesai mandi dan langsung berpakaian. Zyan berjalan kemeja belajarnya, dia melihat ponselnya.


Cukup terkejut zyan melihat 3 panggilan dan 2 pesan yang belum dia baca dari elena. Zyan tak memperdulikan pesan yang dikirimkan elena, zyan malah menaruh kembali ponselnya dimeja dan berjalan ketempat tidur.


Zyan duduk membelakangi jin yang masih tidur sambil mengeringkan rambutnya yang basah.


"Hei, cepat bangun." kata zyan.


Tapi jin masih belum bangun juga. Zyan menggoyangkan tangan jin sembari terus memanggil nama jin.


"Jin, cepat bangun. Ini sudah malam." kata zyan.


Tapi tetap tak ada respon hingga membuat zyan kesal.


"Jin hou jika tidak cepat bangun, aku tinggal." kata zyan.


Jin bukannya bangun malah memeluk erat pinggang zyan sambil bergumam.


"Tidak boleh pergi." kata jin masih memejamkan matanya.


"Baka, lepaskan tanganmu." kata zyan.


"Tidak mau!!"


Jin semakin memperat pelukannya. Jin yang masih memejamkan matanya, tersenyum diam diam.


Zyan semakin kesal karna jin tetap tidak mau melepaskan pelukannya. Akhirnya zyan bangun dan membuat jin terpaksa melepaskan pelukannya karna jin tidak mampu menahan zyan.


Jin jadi manyun karna zyan melepaskan pelukannya. Zyan langsung mengambil ponselnya dan menelpon paman yang.


"Hallo paman." sapa zyan begitu panggilannya dijawab.


"Paman, malam ini kami akan bergerak. Tolong persiapkan semuanya." pinta zyan.


"Baik tuan muda. Akan saya siapkan semuanya." jawab paman.


Zyan mematikan ponselnya, jin bangun dari tempat tidurnya dan menghampiri zyan yang masih berdiri didepan meja belajarnya.


"Zy, jadi kita akan memancing ikan yang kemarin lepaskan?" tanya jin.


"Iya. Kali ini takkan aku biarkan ikan besar lepas lagi." jawab zyan, sorot mata yang penuh kebencian.


"Yosh, semangat untuk nanti malam." kata jin.


Zyan melihat sahabatnya tersenyum riang, dia ikut tersenyum meski tipis.


"Pergilah mandi. Se bentar lagi kita akan turun." kata zyan.


"Baiklah, honey." balas jin.


Dan langsung mendapat tatapan membunuh dari zyan. Jin hanya cengar cengir dan langsung masuk kedalam kamar mandi.


Zyan menarik kursi dan duduk sambil membaca pelajaran tadi siang. Mendadak kepalanya agak terasa pening. Zyan bangun dan berjalan ke dapur yang tak jauh dari tempatnya belajar.


Zyan membuka lemari dan mengambil sebungkus kopi lalu menyeduh nya. Zyan berjalan ke jendela, menatap langit malam yang gelap berbintang.


Suasana hening sepi dan hanya ada angin yang bertiup, membuat zyan kembali teringat akan masa lalunya saat bersama keluarganya.


Tawa canda kedua orang tuanya melayang dalam ingatannya. Zyan tersenyum mengingat hal itu.


*Dalam ingatan zyan.


"Yin kemarilah." kata ibu sambil tersenyum


"Yin putra kebanggaan ayah." kata ayah.


Melihat kedua orang tuanya tersenyum riang dan terus memanggil namanya membuat yin merasa bahagia.


"Yin memang kebanggaan ayah. Ayah sangat bangga padamu, yin." kata ayah saat yin berhasil memanah tepat ditengah sasaran.


Yin tersenyum senang dipuji begitu.


*Kembali ke nyata.


Zyan tersenyum saat membayangkan kenangan kedua orang tuanya. Zyan sangat merindukan kedua orang tuanya. Dan yang paling zyan rindukan, tawa canda dan tangis adiknya naya.

__ADS_1


Zyan selalu membayangkan adik kecilnya yang sedang tertawa dan kadang menangis karna ulahnya yang sering menjahili adiknya.


Saat ingatan indah itu kini hanya tinggal kenangan dalam ingat zyan, tanpa sadar zyan meneteskan air matanya.


Lagi hatinya terasa sakit saat bayangan yang kelam itu muncul dalam pikirannya. Disaat hari yang bahagia untuknya berubah menjadi hari yang kelam yang takkan pernah zyan lupakan seumur hidupnya.


Jin sudah selesai mandi, dia melihat zyan yang berdiri didepan jendela. Jin memperhatikan zyan, terlihat zyan mengepalkan tangan kirinya. Jin tahu saat ini zyan sedang marah kesal dan membenci dirinya.


Jin menghampiri zyan dan menepuk pelan pundak zyan. Membuat zyan tersadar dari lamunanya.


"Zy, sudah cukup. Jika kamu seperti ini terus, aku yakin paman dan bibi juga tidak akan damai." kata jin.


"Aku sangat mengerti perasaanmu zy. Aku juga merasakan apa yang kamu rasakan, sedih kesal marah dan benci bercampur jadi satu. Dan membuatku tak berdaya." kata jin lagi.


Zyan hanya terdiam, zyan menatap langit malam. Begitu pula jin, jin juga ikut memandang langit malam.


"Dalam hati, aku selalu berpikir kalau aku bisa karna sekarang aku tak sendirian. Aku punya dirimu disisiku, aku tidak takut lagi. Akan aku hadapi semua. Karna dirimu lah aku menjadi kuat zy." kata jin.


Zyan melirik sahabatnya itu yang tersenyum dan masih menatap langit.


"Iya kamu benar. Aku tak lagi sendiri, aku masih punya dirimu disisiku. Aku pasti bisa membalaskan kematian keluargaku. Terima kasih jin hou." kata zyan.


"He he he.. Ayo kita turun, perut ku sudah lapar." ajak jin.


"Baiklah, ayo." balas zyan.


Zyan dan jin keluar kamar dan turun kelantai bawah dan langsung menuju kantin.


Semua murid laki laki sudah berkumpul di kantin, zyan dan jin melihat seisi kantin mencari tempat yang kosong. Raiga yang melihat zyan dan jin yang masih berdiri didepan pintu kantin, langsung melambaikan tangannya pada zyan dan jin.


"Hei, disini." teriak raiga.


Jin melihat lambaian tangan raiga langsung membalas lambaian itu. Jin langsung menarik tangan zyan menuju tempat raiga dan kawan kawan duduk.


"Tumben kalian telat?" tanya raiga.


"Hi hi hi ada urusan penting." jawab jin.


"Hm urusan penting mulu." balas soji.


"Zy, kamu mau makan apa? Biar sekalian aku ambilkan?" tanya jin.


"Terserah." jawab zyan.


"Oke tunggu disini. Aku ambilkan." jin pergi mengambil makanan.


"Hei brother, enak ya jadi kamu. Mau makan ada yang ngambilli." kata salah satu murid yang duduk disana.


"Iya, jujur aja aku iri sama kamu zyan. Jin itu sangat perhatian padamu. Sejujur tadi siang, aku sempet kaget saat jin berkata seperti itu. Aku gak nyangka ikatan diantara kalian itu begitu kuat melebihi ikatan saudara kandung." kata murid lainnya.


Sedang zyan, hanya diam. Tidak menanggapi perkataan teman temannya.


"Kamu memang beruntung zyan." balas soji.


Jin datang membawa dua piring makanan dan menaruhnya di meja. Jin mendengar perkataan soji tadi.


"Apanya yang beruntung, soji." kata jin.


"Kami hanya iri karna zyan bisa memiliki sahabat seprti dirimu. Dia sangat beruntung." kata soji.


"Kamu salah, yang beruntung adalah aku. Aku sangat beruntung bisa mengenal dan bisa dekat dengan zy. Jika tidak ada zy, aku juga tidak akan ada disini." balas jin.


"Iya lah jin." kata raiga.


Setelah pembicaraan semuanya, zyan dan jin menikmati makanannya. Zyan dan jin selesai makan, saat keduanya sedang asyik ngobrol, elena datang menghampiri zyan dan jin.


"Ternyata kalian disini. Dari tadi kakak cari kalian berdua." kata elena.


"Eh, kak elena. Ada apa kakak mencari kami?" tanya jin.


"Sejak tadi siang, kakak menunggu kalian diruangan tapi kalian tidak datang." kata elena, dengan wajah yang dibuat sedih.


*lanjutin yang kemarin ya kaka reader.



shion.


sosok gadis cantik baik hati, dan diam diam menyukai zyan.



yuki,


teman shion. Baik hati, lembut dan penyayang.



Lan,


salah satu teman shion, dia tomboy, cantik.

__ADS_1


__ADS_2