Pembalasan Mawar Hitam

Pembalasan Mawar Hitam
comeback 18


__ADS_3

Sampai nama jin dipanggil.


"Jin Hou" panggil polisi dari dalam.


Mendengar namanya di panggil, membuat jin semakin gemetar ketakutan.


"Jin, kamu dipanggil tuh." kata raiga.


Jin tak menjawab, dia diam saja.


"Hei, jin. Kenapa diam saja. Kamu di panggil tuh." balas soji.


Jin masih tak bergeming. Tubuhnya semakin gemetar ketakutan. Semua mata tertuju pada jin.


Elena yang terus memperhatikan jin menjadi tak tega. Elena akhirnya menghampiri jin karna jin tak juga bangun.


"Jin, mari kakak temani." kata elena.


Jin menggelengkan kepalanya, dia semakin menggenggam erat tangan zyan.


"Ayo aku temani kau masuk." kata zyan dengan lembut.


Jin akhirnya mau masuk karna di temani oleh zyan. Keduanya masuk dengan bergandengan tangan.


"Permisi." kata zyan.


"Masuklah. Eh kenapa ada dua anak?" tanya polisi bingung.


"Ehm. Zyan apa yang kau lakukan disini?" tanya ibu ruan.


"Aku hanya menemaninya." kata zyan.


Zyan mengantar kan jin untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan. Tangan kiri jin terus memegangi tangan kanan zyan.


"Jadi siapa yang namanya jin hou?" tanya polisi.


"Iitttuuu saya." jawab jin dengan nada takut.


"Oh jadi kamu. Lalu kenapa kamu ada disini?" tanya polisi.


"Aku hanya menemaninya. Dia phobia pada polisi." jawab zyan.


"Oh begitu. Baiklah. Jin hou, tolong jawab berapa pertanyaan kami." kata polisi.


"Baik." jawab jin.


"Siapa nama ayah dan ibumu?" tanya polisi.


Jin terdiam, dia tidak tau harus jawab apa. Zyan tau sahabatnya itu kebingungan, zyan menatap ibu ruan yang juga sedang melihat jin.


"Maaf pak, mereka berdua ini adalah putra putra saya." jawab ibu ruan.


"Oh begitu. Maaf kami tidak tau. Kalau begitu, tolong letakkan telapak tangan kananmu di atas sini." pinta polisi.


Jin jadi semakin tegang saat di minta untuk meletakkan telapak tangannya di atas alat pencetak sidik jari.


Zyan melihat alat itu dan langsung mengetahui sesuatu. Otak zyan langsung bisa menebak untuk apa alat itu. Pihak kepolisian sudah mengetahui identitas mawar hitam lewat sidik jari yang tertinggal di suatu benda.


Jin pun meletakkan telapak tangan kanannya di atas alat pencetak sidik jari itu.


"Baiklah, Terima kasih. Sekarang kau boleh keluar." kata polisi.


Jin bangun dari duduknya dan saat ada membuka pintu langkahnya terhenti karna polisi memanggil zyan.


"Tunggu, kamu yang tadi menemaninya. Duduk disini." kata polisi.


Zyan melepaskan tangan jin yang terus menggandeng tangannya. Terlihat jelas, jin mengkhawatirkan keadaan zyan.


"Keluarlah dulu. Aku akan menyusulmu." bisik zyan.


"Tapi zy.." Balas jin.


"Jangan khawatir, semua akan baik baik saja. Tunggu saja aku di luar." pinta zyan.


Jin pun menurut dan akhirnya menunggu diluar. Zyan duduk di tempat tadi jin duduk.


"Letakkan telapak tangan kananmu disini." pinta polisi.


Tanpa banyak bicara, zyan meletakkan telapak tangan kanannya di atas alat pencetak sidik jari. Alat pencetak sidik jari mulai bekerja.


Mentransfer data ke laptop polisi yang bertugas. Polisi itu terkejut saat melihat sidik jari zyan hampir mirip dengan sidik jari mawar hitam.


Polisi itu menatap zyan dan laptopnya secara bergantian. Terlihat ekspresi bingung polisi.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya polisi lain.


"Coba lihat hasilnya. 80% hampir sama dengan sidik jari yang kita temukan di tkp." jawab polisi lainnya.


Ketiga polisi itu melihat laptop begitupula ibu ruan juga ikut melihat hasil sidik jari zyan.


*


Diluar kelas, jin masih menunggu zyan didepan pintu kelas. Elena menghampiri jin yang terus terlihat gelisah dan cemas.


"Jin, tenanglah. Zyan akan baik baik saja?!" kata Elena


tapi tetap saja jin tidak bisa berhenti mengkhawatirkan zyan. Jin menjauh dari elena dan duduk disalah satu kursi. Teman temannya menghampiri jin.


"Jangan khawatir hanya pemeriksaan saja?!" kata raiga.


"Iya. Sekarang sudah tidak apa apa. Tho polisi ada didalam." balas soji.


Jin masih tak merespon perkataan teman temannya. Jin terus berdoa dalam hati agar zyan bisa keluar dengan selamat dan tidak tertangkap.


20 menit kemudian, zyan masih saja belum keluar dari kelas. Semua murid merasa heran karna zyan masih saja di dalam kelas.


Berapa siswa yang penasaran, mengintip lewat jendela kaca. Terlihat zyan masih di periksa dan mendapat banyak pertanyaan dari polisi.


"Hei, zyan masih di tanyain. Tapi ko lama banget ya? Pertanyaan apa si yang di ajukan sampai selama ini?" tanya teman sekelas mereka.


"Entah, sudah 20 menit sejak zyan masuk dan belum juga keluar. Aku juga sangat penasaran apa si yang di tanyakan pada zyan." balas teman lainnya.


Jin semakin khawatir karna zyan belum juga keluar dari kelas.


Elena mendekati jin dan duduk disamping kursi jin yang kosong.


"Jangan khawatir, kakak yakin zyan bisa menjawab semua pertanyaan yang di ajukan padanya. Bukankah dia sangat pandai." kata elena.


"Iya, zy memang hebat." kata jin.


Tak berapa lama, zyan keluar dari kelas. Jin segera menghampirinya dan langsung memeluknya erat. Seperti seorang yang lama tak bertemu.


"Semua baik baik saja." kata zyan, memjawab ke khawatiran sahabatnya.


"Iya. Aku senang kau sudah keluar dengan selamat." kata jin.


Zyan hanya tersenyum tipis. Lalu zyan duduk di temani oleh jin.


"Hanya menjawab berapa pertanyaan." jawab zyan.


"Tapi waktu jin masuk tadi, cepat banget. Eh jin memang tadi kamu ditanyain apa?" tanya soji.


"Aku ditanyain keluargaku dan melakukan pemeriksaan sidik jari." jawab jin yang sudah tenang karna ada zyan disampingnya.


"Kalau zy bagaimana?" tanya shion.


"Sama saja." jawab zyan.


"Kalau sama kenapa zyan sangat lama. kamu di dalam itu ada 20 menit." kata yuri.


Zyan diam saja, dia tak mau menjawab pertanyaan teman temannya.


Waktu terus berlalu dan akhirnya sekolah dipulangkan lebih awal karna pemeriksaan sudah selesai.


Zyan dan jin keduanya kembali berjalan bersama menuju asrama.


"Zy, tadi apa yang terjadi didalam? Kenapa kau lama sekali?" tanya jin.


"Akan aku jelaskan nanti saat sampai di asrama." jawab zyan.


Jin mengerti maksud zyan dan tak bertanya lagi. Zyan tak mau menjawab pertanyaan jin sekarang karna takut ada yang mendengarnya. Ini rahasia keduanya.


Sepanjang perjalanan kedua terdiam tak ada satupun yang memulai pembicaraan. Sampai keduanya di asrama.


Zyan dan jin bergegas kembali kekamar mereka. Dan saat zyan dan jin akan masuk kedalam kamarnya, langkah mereka terhenti karna elena memanggilnya.


"Zyan tunggu." kata elena dari belakang.


Zyan dan jin berhenti didepan pintu kamar mereka dan menengok kebelakang.


"Zyan, kakak ingin bicara berdua denganmu" kata elena.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya zyan dengan nada dingin.


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan. Jin, bolehkan kakak pinjam zyan sebentar? Kakak ada perlu dengannya." tanya elena dengan nada lembut pada jin.


Jin menganggukkan kepalanya sambil menatap zyan. Zyan melihat respon jin yang mengijinkannya bicara berdua dengan elena akhirnya setuju untuk bicara berdua.

__ADS_1


"Kamu masuklah dulu. Tunggu saja di dalam, aku akan segera kembali." kata zyan.


"Iya." kata jin lalu masuk kedalam kamar.


Setelah jin masuk kedalam kamar dan hanya meninggalkan elena dan zyan diluar.


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" tanya zyan lagi dengan nada dingin.


"Kita bicara di ruangan ku saja." kata elena.


Zyan tak menjawab dan mengikuti elena dari belakang. Elena membuka pintu kamarnya lalu masuk kedalam bersama zyan.


Di dalam kamar elena, ada ruang tamu. Zyan duduk disalah satu kursi di ruang tamu itu berhadapan dengan elena.


Tatapan tajam zyan bertemu dengan tatapan sayu elena.


"Zyan bisakah kau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi padamu? Sejak kapan ingatanmu kembali?" tanya elena.


"Sepertinya kau sangat penasaran dengan ingatanku, elena hou?!. Sampai kau terus menanyakan hal itu." jawab sinis zyan.


"Zyan, aku perduli padamu. Aku sudah menganggap mu seperti adikku sendiri. Apa salahnya aku ingin tahu tentangmu." kata elena.


"Berhenti berpura pura di hadapanku. Kau pikir aku tidak tau apa yang selama ini kau rencanakan." balas zyan.


"Apa maksudmu zyan?" tanya elena terkejut.


"Tidak ada maksud apapun. Jika kau memang ingin tahu kapan ingat ku kembali. Jawabannya sudah sejak lama, aku mengingat semuanya." jawab zyan.


"Sejak teror mawar hitam muncul. Ingat ku sudah kembali." tambah zyan.


"Apa?! Jadi mawar hitam itu adalah......" kata elena,


Elena tak percaya dengan yang dia dengar sampai elena tak mampu melanjutkan kata katanya.


"Itu adalah aku. Akulah sang mawar hitam itu." kata zyan dengan penuh ketenangan.


"Kenapa zyan? Kenapa kau melakukan semua ini? Apa jin juga?" tanya elena.


"Kau tanya kenapa? karna kematian keluarga zhan harus dibalaskan. Mereka harus mendapat hukuman yang pantas atas apa yang mereka lakukan pada keluarga ku!!" kata zyan penuh amarah.


"Zyan, sadarlah. Langkah yang kau ambil ini salah. Menyerah lah dan serahkan semuanya pada pihak kepolisian." kata elena, mencoba menahan air matanya.


"Menyerahkan semua nya pada polisi?! Apa kau buta?! Sudah berapa lama kematian keluarga zhan? Sudah 7 tahun kejadian itu berlalu tapi hasil apa yang di dapat oleh polisi?" tanya zyan semakin di penuhi oleh amarah.


Elena tak mampu menjawab pertanyaan zyan dan hanya bisa terdiam sambil menahan tangis.


"Kau tidak tau apa yang aku rasakan selama ini. Kau tidak tau berapa sakit nya hatiku saat mendengar kabar, polisi menghentikan kasus pembantaian keluarga zhan karna tak berhasil menemukan pembunuhnya." kata zyan lagi.


"Tidak perduli dengan resiko yang aku terima. Dendam kematian keluarga zhan harus di balas kan." Kata zyan.


Sorot mata zyan memancarkan kesedihan, kebencian dan amarah yang sangat dalam. Sampai membuat elena ketakutan dan tak bisa berbuat apa apa saat melihat mata zyan.


Keduanya terdiam, elena sudah tidak kuat menahan air matanya dan dia menangis.


"Kak elena, aku masih bisa bersikap baik padamu karna kau dan ibu ruan sudah mau merawat ku selama ini. Tapi jika kau menghalangi langkahku, aku pun tidak akan bertoleransi lagi padamu." kata zyan sambil beranjak bangun.


"Zyan, tolong jangan libatkan jin dalam bahaya." kata elena.


"Semua sudah terlambat kau meminta itu padaku. Karna jin juga sudah mengotori tangannya." jawab zyan.


"Zyan apa kau yang meminta jin melakukan semua ini? Jin anak yang polos, jangan kau racuni pikirannya dengan ambisimu untuk balas dendam." kata elena.


"Kau salah. Bukan aku yang memintanya, Jin melakukan semua ini atas keinginannya sendiri untuk mencari pembunuh keluarganya." jawab zyan.


"Apa? Itu tidak mungkin." kata elena, semakin tak percaya.


"Zyan jauhi jin!!" perintah elena, dengan penuh emosi.


"Jauhi jin?!! Bukankah kaulah yang seharusnya menjauhi jin? Aku tidak akan menjauhinya, aku akan terus di sisi nya untuk melindungi dia dari orang orang munafik seperti kalian." kata zyan sambil mengepalkan tangannya.


"Zyan, jika kau tidak mau menjauhi jin, aku akan mengungkap identitasmu pada polisi." ancam elena


"Heh, mencoba mengancam ku ya?! Ha ha ha ha.. Kau sangat lucu kak elena. Silakan saja kau ungkap identitas ku pada polisi. Jika aku tertangkap, jin juga akan ikut tertangkap." kata zyan sambil menoleh kebelakang.


Elena terkejut mendengar perkataan zyan. Zyan memang benar, jika zyan tertangkap jin juga ikut tertangkap.


"Berhati hatilah elena hou. Jika sampai jin tahu bahwa kau mengambilnya dari panti asuhan hanya untuk bisa menguasai harga kekayaan ayah kalian yang jatuh pada jin. Kau pikir apa yang akan dilakukan oleh jin pada mu dan pada ibumu." kata zyan.


Selesai berbicara, zyan segera keluar dari kamar elena. Perkataan zyan tadi benar benar menusuk jantungnya membuat elena tak berkutik.


#Sampai sini..


Next chapter akan ada adegan yang menarik (fujo) antara zyan dan jin..😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2