
"ini pesanan anda tuan" kata pelayan tadi menyerahkan dua gelas minuman bersoda.
"terima kasih, aku dengar ada bos besar datang?" tanya zyan pada pelayan tadi sambil meletakan berapa lembar uang kertas.
jin memperhatikan setiap tingkah laku zyan.
"iya memang benar. dia belum lama datang. dia berada dilantai atas." kata pelayan tadi sambil mengambil uang yang ada dimeja secara sembunyi sembunyi. pelayan itu pergi.
"zy, siapa sebenarnya bos besar itu? dan apa hubungan dia dengan target kita?" tanya jin berbisik ditelinga zyan karna suara didalam ruangan itu sangat keras.
"kita akan segera tahu" kata zyan sambil menghabiskan minumannya dan berjalan kearah anak tangga yang menuju lantai atas.
jin tak mengerti apa yang zyan rencanakan, dia hanya bisa mengikuti zyan kemana zyan pergi.
saat berjalan menuju lantai atas, zyan sempat mengirim pesan pada bawahannya yang sudah berada diatas untuk menyiapkan alat penyadap suara agar zyan dan jin bisa mendengar semua percakapan bos besar dengan orang orang disana.
zyan sampai dilantai atas, matanya melihat ke seluruh arah. jin juga ikut memperhatikan setiap orang yang ada disana. aroma alkohol sangat kuat tercium, sejujurnya jin tak begitu suka aroma alkohol tapi karna zyan datang kesini jadi mau tak mau jin pun mengikuti zyan.
mata zyan berhenti disalah satu kursi pengunjung, dan seseorang memberi isyarat pada zyan. menunjuk salah satu kursi yang tak jauh dari orang tadi. zyan memperhatikan dengan teliti dan zyan berjalan ke kursi yang masih kosong untuk mengamati setiap gerak gerik bos besar itu dan menjaga jarak agar tak dicurigai.
"pake headset nya" perintah zyan pada jin.
jin mengerti dan memasang headsetnya, mulai terdengar pembicaraan orang orang itu.
"ha ha ha jadi apa yang membuat anda kembali ketokyo?" tanya seorang pria disana.
"aku mendengar akhir akhir ini ada yang membuat keributan" kata bos besar itu.
"iya itu benar bos. akhir akhir ini banyak sekali orang orang dari berapa kelompok telah dibunuh dan sang pembunuh selalu meninggalkan jejak" kata pria tadi.
zyan dan jin yang duduk cukup jauh terus mendengarkan percakapan mereka. ekspresi zyan terlihat tenang berbeda dengan jin yang terlihat gelisah.
"meninggalkan jejak?! apa itu?" tanya bos lagi.
"sebuah mawar hitam menancap disetiap tubuh korbannya. dan dia juga meninggalkan tulisan" kata pria itu.
"tulisan apa itu? dan apa kalian tau tujuan pembunuh itu?" tanya bos besar semakin penasaran dengan yang terjadi belakangan ini.
"dia meninggalkan tulisan 'sang mawar telah kembali untuk menuntut balas'. kami sudah mencari tau siapa dia dan apa tujuannya melakukan pembunuhan. yang kami temukan, para korban adalah anggota kelompok yang dulu menyerang keluarga zhan." kata pria itu.
bos besar mengerutkan dahi, merasa penasaran dengan yang terjadi ditokyo.
"bukankah seluruh keluarga zhan telah musnah. saat itu aku sangat menyesal karna tidak bisa membantu Ryu." kata bos dengan nada sedih.
zyan terkejut mendengar nama ayahnya disebut. jin melirik zyan, terlihat ekspresi zyan sangat terkejut. 'apa maksud semua ini?' gumam zyan dalam hati.
"iya. informasi yang aku dapat, seluruh keluarga zhan telah musnah. tapi bawahanku mengatakan kalau anak laki laki Ryu tidak ditemukan. hanya tubuh anak itu yang tidak ada disana. aku juga sudah mencari kemanapun tapi tak menemukan jejaknya. ada kemungkinan dia masih hidup." kata pria itu.
bos besar itu diam setelah mendengarkan perkataan pria itu. entah apa yang dipikirkan nya.
"meski kita semua tau siapa dalang dibalik pembantaian keluarga zhan tapi kita juga tidak mungkin menangkapnya dan mengadilinya." kata pria satu lagi yang sejak tadi diam.
"iya itu benar. meski aku masih berhutang padanya tapi aku tidak akan ikut campur urusan kejadian malam itu. mereka memilik kekuasaan yang kuat dan memiliki pengaruh."kata bos. kedua pria tadi terdiam.
zyan mengepalkan tangannya, menahan amarah karna mendengar percakapan itu dan hal yang tak terduga terjadi.
'jadi mereka semua mengetahui siapa dalam dibalik kejadian malam itu. kenapa? kenapa mereka diam saja?!' kata zyan dalam hati.
jin melihat zyan, menatap mata zyan yang tajam dan sangat menakutkan. jin merasa sedih dan tak berdaya, jin hanya bisa memperhatikan zyan dalam diam.
'Zy apa yang akan kamu lakukan sekarang? Aku harap kamu tidak terbawa emosi.' gumam jin dalam hati.
zyan terus diam mendengarkan pembicaraan mereka, dalam hati emosinya udah tak tertahankan.
"baiklah. kalian selidiki siapa sebenarnya mawar hitam ini dan beritahu padaku. aku sangat penasaran dengan mawar hitam ini" kata bos sambil beranjak pergi.
"baik bos. kami akan mencari tau semua" kata pria itu.
bos besar pergi meninggalkan kedua pria itu.
"zy..." panggil jin tak berani terlalu keras karna takut zyan akan marah.
zyan bangun dan berjalan menuju tangga.
__ADS_1
"zy, tunggu aku" kata jin mengejar zyan dan berjalan disamping zyan.
jin tak berani berkata apa apa karna saat ini emosi zyan sedang memuncak. jin hanya mengikuti kemana zyan pergi dengan diam.
mereka berdua pergi keluar dari club itu. zyan tak langsung naik mobil, dia melampiaskan amarahnya pada pohon yang disana. zyan memukul pohon besar itu hingga membuat tangannya memerah.
"sial." gumamnya.
jin mendekati zyan dan melihat tangan zyan yang memerah dengan tatapan sedih.
"zy, tenanglah" kata jin menepuk pundak zyan.
zyan menoleh dengan penuh amarah tapi jin malah memeluknya dengan erat.
"zy tenanglah. ada aku disampingmu. kau bisa melampiaskan semua padaku. kumohon jangan sakiti dirimu sendiri, kita lalui semua bersama sama. lukamu juga lukaku." kata jin berbisik ditelingan zyan.
zyan tercengang mendengarnya, dia membalas pelukan sahabatnya itu dan perlahan amarahnya berkurang.
"maafkan aku" kata zyan pelan.
jin tersenyum dan mengusap pelan punggung sahabatnya itu.
"ayo kita kembali dan bicarakan ini dengan baik baik" kata jin melepaskan pelukannya.
zyan menganggu kan kepalanya, matanya tak lagi setajam tadi. zyan dan jin masuk kedalam mobil, meski zyan masih merasa marah tapi dia tetap bersikap tenang.
"paman kembali ke asrama." pinta jin.
"baik tuan muda" jawab paman. mobil itu meninggalkan club malam itu dan kembali melaju dijalan.
sepanjang perjalanan zyan hanya diam dan menatap keluar jendela mobil. jin ingin mengajaknya bicara tapi tak berani melihat ekspresi zyan yang berubah ubah. dreet suara getar ponsel zyan, tapi tak dihiraukan sama sekali oleh zyan.
"zy, ponsel mu bergetar." kata jin,
zyan mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirimnya pesan. dia langsung terkejut melihat email yang masuk dari ghostraid. lagi lagi pesan informasi,
...sayang sekali padahal sebentar lagi kamu ada menemukan sesuatu yang menarik....
pesan itu membuat zyan semakin geram, akhirnya zyan membalas pesan itu.
zyan membalas email ghostraid itu.
dengan penuh amarah zyan berusaha tetap tenang. jin menyadari kalau sahabatnya itu sedang gelisah, tapi jin lebih memilih untuk diam.
...sepertinya kamu sangat penasaran denganku. tak perlu khawatir. aku ada dipihakmu. ...
balasan dari ghostraid semakin membuat zyan geram karna ghostraid tak menjawab pertanyaannya. zyan tak lagi membalas email dari ghostraid, dia memilih untuk diam.
sampai didekat pintu rahasia, zyan masih tetap diam sampai mereka naik ke kamar mereka. jin hanya bisa memandangi sahabatnya itu dengan tatapan sedih. ingin sekali jin mengajaknya bicara tapi jin tak berani karna jin sangat takut jika zyan marah.
zyan langsung pergi kekamar mandi, jin hanya bisa terduduk sedih dikasur menunggu zyan keluar.
'zy apa yang sebenarnya kamu pikirkan? kenapa kamu selalu menyembunyikannya dariku? aku hanya ingin kamu terbuka dan kita bisa berbagi perasaan kita.' ucap jin dalam hati.
zyan keluar dari kamar mandi dan langsung saja berbaring tanpa menyapa jin terlebih dulu.
"zy, emm" jin takut untuk melanjutkan ucapannya karna melihat zyan yang sudah tidur.
sebenarnya zyan tidak tidur hanya memejamkan matanya saja.
pagi ini zyan bangun lebih dulu, karna sejak semalam zyan tak bisa tidur dengan tenang. kejadian semalam masih berputar di otak nya, setiap kata dari orang orang yang berada di club semalam terus terngiang ditelinga. waktu masih menunjukan pukul 3.45 menit. hari masih gelap, matahari pun belum menunjukan dirinya, tapi zyan sudah terbangun dan tak bisa tertidur lagi.
zyan bangun dari tidurnya dan beranjak ke jendela kamarnya. dia membuka terai dan terlihat dengan jelas malam belum beranjak pergi. zyan hanya berdiri memandang langit yang gelap dan pikirannya entah melayang kemana.
'otau-sama, Okaa-sama, naya-chan minasan ga inakute sabishidesu' ucapnya dalam hati.
tanpa dia sadari air mata menetes jatuh di pipinya. saat ini zyan sangat merindukan keluarganya yang telah pergi. zyan menangis dalam diam, mengingat kenangan manis saat bersama keluarganya. serpihan kenangan itu terus berputar membuat hatinya sakit.
'Ayah, ibu, naya aku pasti akan membalas kematian kalian. aku pasti bisa menemukan dalang dibalik kejadian itu dan membalaskan dendam keluarga zhan.' ucapnya dalam hati.
matanya tajam penuh amarah menatap keluar dan mengepalkan tangannya untuk mereda rasa sakit dihatinya.
"ayah, aku pasti akan membangkitkan kembali keluarga zhan dan menjadikan keluarga zhan yang paling berkuasa" janji telah dia ucapkan.
__ADS_1
"uh sudah pagi yah?" tanya jin.
dia bangun dari tidurnya karna terkena cahaya mentari yang masuk melewati kaca jendela.
"eh zy kamu sudah bangun duluan? kenepa gak bangun aku si?!" tanya jin mengubah posisinya menjadi duduk dikasur.
zyan diam saja dan terus menatap keluar, sama sekali tak menghiraukan pertanyaan sahabatnya itu. karna tak mendapat jawaban dari zyan, jin bangun dan berjalan mendekati zyan.
"zy kamu kenapa?" tanya jin sambil menepuk pundak zyan.
zyan hanya melihat jin dengan tatapan yang tajam dan sangat dingin, seketika jin langsung melepaskan tangannya yang berada dipundak zyan. jin ketakutan ditatap begitu oleh zyan dan mundur berapa langkah kebelakang.
"zy, maaf. aku... aku tidak bermaksud menganggumu" kata jin menundukan kepalanya karna takut.
melihat sahabatnya ketakutan, zyan pergi kekamar mandi. jin hanya menatap zyan dari belakang.
"zy sebenarnya apa yang terjadi denganmu?" kata jin merasa bingung dengan sikap sahabatnya itu.
hari ini seperti biasa zyan dan jin berangkat sekolah bersama hanya saja zyan lebih pendiam dan matanya sangat tajam.
"pagi jin, zy." sapa elena saat bertemu dengan mereka didepan gerbang sekolah.
"pagi juga kak, eh maksudnya bu elena" balas jin dengan senyum ramah.
sedangkan zyan tak memperdulikannya dan malah terus berjalan melewati jin dan elena. elena bingung dengan sikap zyan yang berubah cuek dan sangat dingin.
"loh zy. kenapa zyan? kalian bertengkar?" tanya elena pada jin.
"tidak kak. itu.. itu.. hehe" kata jin terbata bata karna tak bisa menemukan alasan yang tepat.
"kamu kenapa si? kalian berdua hari ini aneh sekali." kata elena mulai curiga dengan mereka berdua.
"kak aku ke kelas dulu yah. bye" kata jin bergegas pergi untuk menghindari pertanyaan elena lagi.
"hei tunggu jin." kata elena tapi jin terus berjalan tak menghiraukan panggilan elena.
"apa yang terjadi dengan mereka? kenapa hari ini zyan terlihat sangat dingin" kata elena.
zyan sampai terlebih dulu dikelas dan karna dia masuk ke kelas sendirian, banyak teman temannya merasa heran karna biasanya zyan selalu masuk ke kelas berdua dengan jin.
"hei brother, ko sendirian saja? mana jin? kenapa kalian tidak bareng?" tanya raiga tapi zyan tidak perduli.
"brother kamu kenapa si? kaya lagi pms aja?" tanya raiga lagi dan langsung mendapat tatapan mematikan dari zyan.
raiga langsung mundur dan menjauh karna takut dengan tatapan zyan yang sangat tajam.
"baik. baik. aku tidak akan menganggumu" kata raiga menjauh.
tak lama jin datang, raiga langsung menghampiri jin yang berdiri didepan pintu.
"hei jin. zyan kenapa hari ini? dia menakutkan sekali" kata raiga.
"tidak apa. dia hanya tidak mau diganggu, dia ingin sendiri." kata jin sambil berjalan masuk kelas.
jin menaruh tasnya tanpa berkata apa apa pada zyan.
teman temannya semakin heran dengan tingkah jin dan zyan yang terdiam satu sama lain seperti orang yang sedang bertengkar.
selama pelajaran pun keduanya tak ada yang saling menyapa.
'zy mau sampai kapan kamu diam seperti ini?' gumam jin dalam hati.
saat jam istirahat,
"zy keluar yuk." ajak jin tapi tak dapat respon apapun.
akhirnya jin menarik tangan zyan dan pergi keluar. karna emosi jin sama sekali tak menghiraukan pandangan orang orang yang melihatnya. zyan hanya diam saja saat jin mengganteng tangannya dan membawanya pergi. zyan saat ini seperti mayat hidup, tak memiliki ekspresi apapun.
akhirnya mereka sampai dihalaman belakang sekolah. jin melepaskan tangan zyan dan bersandar di pohon besar.
"zy aku tidak tau apa yang terjadi padamu. aku tau, aku hanya orang luar dan tak memiliki hubungan darah denganmu. dan aku tau, aku hanya menjadi penghalang untukmu untuk balas dendam keluargamu. aku tidak bisa berbuat apa apa. aku bodoh dan juga lemah" kata jin dengan nada sedih dan tak berani menatap zyan.
zyan hanya berdiri dan mendengarkan jin.
__ADS_1
"aku sudah pernah mengatakannya padamu. dulu saat dipanti, hanya kau satu satunya orang yang aku punya. aku ingin berbagi denganmu semua hal. aku juga ingin meringankan bebanmu, zy. meski aku tak sehebat dirimu tapi aku akan terus berada disisimu saat kau membutuhkan ku. zy apa yang kau punya sampai tak bisa kau bagi denganku?" kata jin.
kali ini dengan nada serius. zyan berjalan mendekati jin, dan. duduk disamping jin berdiri. zyan masih tidak mau bicara, dia lebih memilih untuk diam.