Pembalasan Mawar Hitam

Pembalasan Mawar Hitam
chapter 29


__ADS_3

"Khi khi khi.. Sepertinya kau sangat penasaran tentang dunia gelap. Jangan jangan kamu ini tidak tau apa apa tentang dunia gelap?" tanya ghostraid menyeringai.


Zyan diam saja karna memang dia tidak tahu semua tentang dunia gelap.


"Lihat dari ekspresimu sepertinya aku benar?! kamu memang tidak tahu apa apa tentang dunia gelap. Hm, tidak disangka mawar hitam ternyata hanya bocah yang tidak tau apa apa." Sindir ghostraid.


Zyan semakin kesal tapi tetap berusaha untuk tenang.


"Meski aku tidak mengenal dunia gelap tapi hutang tetap harus dibayar!!". Balas zyan dengan tampang dinginnya.


"Ha ha ha benar benar anak yang menarik. Aku suka gayamu." kata ghostraid sambil tertawa kecil.


Zyan mengerutkan kening, merasa bingung dengan yang terjadi.


Jin yang berada didalam mobil terus menatap layar tabletnya yang sudah terhubung dengan kamera kaca mata yang dipakai zyan. Jin terus memperhatikan wajah ghostraid yang juga tertutup masker.


"Zy apa yang kamu pikirkan sebenarnya?." Kata jin pada dirinya sendiri.


"Tuan anda tidak perlu khawatir. Saya yakin tuan muda zyan pasti sudah merencanakan semuanya dengan hati hati. Dan juga didalam ada berapa orang kita yang ikut mengawasinya. Jadi kita percayakan semuanya pada tuan muda." kata paman Yang sambil tersenyum hangat.


jin hanya terdiam dengan ekspresi khawatir tapi tetap berusaha untuk tenang.


"Iya. Aku percaya hanya saja aku khawatir zy akan terpancing jika seperti ini terus." kata jin.


Jin terus melihat dan mendengar percakapan zyan dan ghostraid.


"Jujur saja dunia gelap bukan tempat untuk bermain anak anak sepertimu. Dunia gelap itu kejam dan juga sangat berbahaya." kata ghostraid dengan serius menatap zyan.


Jin merasa takut melihat tatapan mata ghostraid dari tablet. Mata yang sama dengan mata zyan saat mengeksekusi target. Tajam dan penuh keinginan membunuh,


"Aku tidak perduli. Seberapa kejam dan berbahayanya dunia gelap akan aku lalui untuk membinasakan mereka!! Kematian keluargaku harus dibalaskan meski aku harus kehilangan nyawaku." kata zyan penuh keyakinan.


Ghostraid terkejut sesaat mendengar perkataan zyan lalu dia tersenyum dibalik maskernya. Jin juga ikut terkejut mendengar perkataan zyan, ingin sekali jin turun dan masuk kedalam.


Dia sudah kesal dengan sikap zyan yang sejak tadi terus melarangnya dan sekarang malah berbicara hal hal yang paling dibenci jin. Jin meletakan tabletnya dan mencoba keluar tapi tangan ditahan oleh paman yang.


"Tuan, saya mohon anda bersabar. Tenangkan dirimu." kata paman berusaha menahan jin agar tidak keluar.


"Tapi paman, perkataan zy tadi sudah berlebihan." kata jin menahan emosinya.


"Saya tau tuan. Tapi tolong percayalah pada tuan muda, kita cukup lihat dan mendoakan tuan muda agar tidak terjadi hal buruk padanya." kata paman.


Jin melihat mata paman yang penuh dengan keyakinan, akhirnya jin menyerah dan kembali duduk. Jin mengambil kembali tabletnya,


"Kematian keluarga Zhan sangat menggemparkan dunia. Banyak yang tak percaya dengan kabar itu, tapi ada juga yang senang dengan kabar itu. Karna Zhan Ryu memiliki kekuasaan yang sangat luas dan dihormati banyak orang. Secara tak langsung dia memiliki pesaing dan selalu ada yang menjatuhkannya." kata ghostraid mulai bercerita tentang ayah zyan.


"Dari yang aku tau, cukup banyak yang tak suka dengan sikap kepemimpinan Ryu saat itu. Ada kemungkinan merekalah yang terlibat." kata ghostraid lagi.


Keduanya diam tak satupun ada yang berbicara, zyan terus memperhatikan ghostraid. Di dalam hatinya dipenuhi banyak pertanyaan tentang ghostraid.


"apa maksudmu mengatakan semua ini? Dan apa tujuanmu memberiku informasi penting seperti itu?" kata zyan pelan tapi tegas penuh penekanan disetiap katanya.


"Aku tidak memiliki tujuan apapun. Aku hanya tidak suka dengan mereka yang so berkuasa." kata ghostraid dengan santai nya.


zyan terus menahan emosinya, dia menggenggam sendok dengan sangat kuat untuk melampiaskan emosinya.


"Apa kau sedang memanfaatkan aku untuk menghabisi mereka?!" tanya zyan lagi.


"Mungkin bisa dikatakan begitu. Anggap saja aku sedang membantumu, mawar hitam." sinis ghostraid.


zyan terdiam tak mampu bicara, zyan tak menyangka akan seperti ini.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya zyan penuh emosi terlihat jelas dari matanya.


"Siapa aku? Tidaklah penting. Yang terpenting informasi yang aku berikan 100% asli. Dan semua benar terjadi." kata ghostraid dengan santai sambil menggoyang goyangkan gelas yang masih penuh.


Suasana disana terasa tegang, dan panas.


"Yah baiklah, cukup sampai disini pembicaraan kita. Aku masih ada urusan lain." kata ghostraid lalu beranjak bangun.


"Cih, pengecut!!" kata zyan kesal tapi ghostraid di memperdulikannya dan terus berjalan keluar cafe itu.

__ADS_1


Zyan sangat kesal, emosinya benar benar sudah tak bisa ditahan lagi. Zyan pun ikut pergi dari cafe itu tapi sebelum dia keluar, dia memberi kode pada bawahannya agar ikut pergi dari sana.


Zyan segera masuk kedalam mobil dan langsung menutup pintu mobil dengan keras. Jin ingin sekali bertanya tapi dia urungkan karna melihat zyan yang dipenuhi emosi. BRAK.


"Sial! Sial!" kata zyan dengan penuh emosi.


"Zy tolong tenang." kata Jin sedikit takut,


zyan melirik kebelakang dengan tatapan membunuh dan seketika membuat jin diam.


"Kita kembali!!" kata zyan menyalakan mesin mobil dan mobil itu berjalan keluar dari area parkir dan melaju dijalan raya.


"Tuan muda.. Biar saya saja yang menyetir." kata paman,


takut terjadi sesuatu yang tak baik karna saat ini zyan sedang dalam keadaan emosi yang tertahan.


Zyan tak menjawab dan terus melaju dengan kecepatan tinggi. Jin sebenarnya takut terjadi sesuatu jika zyan yang terus mengemudi tapi jin juga tidak bisa berbuat apa apa. Percuma bicara dengan zyan saat keadaan zyan sedang dipenuhi emosi.


Mobil yang dikendarai zyan sudah sampai didepan gerbang villa. Segera penjaga membuka gerbang dan mobil zyan segera masuk. Setelah memarkirkan mobil zyan keluar dan bergegas menuju halaman belakang, jin mengikuti zyan dari belakang.


'Zy, aku mohon tenangkan dirimu." kata jin dalam hati.


Jin terus memperhatikan dari belakang. Sampai zyan dihalaman belakang yang dipenuhi salju.


"Aaaaaaagggghhhhhhtttt..!" teriak zyan dengan keras melepaskan semua emosinya yang sejak tadi tertahan.


Zyan jatuh terduduk diatas tumpukan salju, wajahnya menunduk menatap salju yang putih. Jin mendekati zyan dengan tatapan sedih,


"Zy lepaskanlah semua amarahmu, bebaskan semua beban dihatimu agar kamu merasa lebih baik. Kamu bisa melampiaskan semuanya padaku." kata jin dengan nada sedih, dia berdiri dibelakang zyan.


zyan terdiam, wajahnya masih menunduk kebawah seolah menyesali dirinya yang tidak berguna.


"Zy kita sudah berjanji untuk bersama sama melewati semua, dan kita juga berjanji menanggung semua beban bersama sama. Zy aku mohon jangan kau tanggung semua beban itu sendiri. Jika kamu membutuhkan ku, aku selalu ada untukmu. Disaat kamu sedang marah sekalipun aku akan ada buat kamu." kata jin.


Mendengar perkataan jin, zyan bangun dan menghadap kebelakang. Zyan mendekat dan memeluk jin, menyandarkan kepalanya dipundak jin. Jin sangat terkejut karna tiba tiba zyan memeluknya.


"Tetaplah seperti ini. Aku lelah dengan semua yang ada." bisik nya ditelinga jin.


Jin menganggukan kepalanya,


Jin memeluk tubuh sahabatnya itu dan membiarkan sahabatnya itu bersandar padanya.


Hujan salju perlahan mulai turun. Udara semakin terasa dingin, kedua sahabat itu masih berdiri sambil berpelukan. Paman yang ikut sedih melihat zyan yang begitu terpuruk.


Selama ini zyan selalu bersikap dingin dan tegas dan hari ini untuk pertama kalinya zyan berbeda. Dia terlihat begitu lemah dan rapuh, dalam diam paman meneteskan air matanya merasa begitu tak berdaya.


"Tuan, Nyonyak maafkan saya. Saya tidak mampu menyelesaikan tugas dengan baik." kata paman.


Cukup lama keduanya berdiri sampai kaki keduanya terasa membeku. Zyan mengangkat kepalanya dan terlihat sejak tatapan matanya yang dipenuhi kesedihan yang mendalam.


"Zy bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya jin pelan.


"Sudah lebih baik. Terima kasih." balas zyan.


Jin tersenyum hangat pada zyan tapi sayangnya zyan tidak melihat senyum hangat jin. Pandangan mata zyan masih menatap kebawah.


"Ayo masuk. Udah semakin dingin." kata zyan berjalan masuk kedalam.


"Iya." kata jin merasa senang meski tubuhnya terasa dingin.


Keduanya masuk kedalam,


"Tuan para maid sudah menyiapkan sup untuk anda berdua. Apa anda mau makan sekarang?" tanya paman yang saat berpapasan dengan zyan dan jin.


"Aku tidak ingin makan." jawab zyan terus berjalan.


"Kalau tuan jin bagaimana?" tanya paman pada jin.


"Paman siapkan saja supnya untuk kami. Dan tolong bawa ke ruang baca. Aku yakin zy akan kesana." kata jin tersenyum.


"Baik tuan jin. Akan saya siapkan." kata paman membungkuk hormat.

__ADS_1


Jin berlari mengejar zyan yang berjalan duluan didepan. "Zy tunggu aku." kata jin.


Zyan dan jin masuk kedalam ruang baca, entah apa yang saat ini zyan pikirkan semua terasa kosong. Dia berjalan kearah jendela, memandang salju yang turun. Jin berjalan diantara rak buku dan menemukan satu buku, kemudian jin mengambilnya buku itu dan berjalan kesofa yang ada diruangan itu.


"Zy apa yang kamu pikirkan? Sampai kapan kamu mau diam begitu?!" kata jin.


Zyan tidak menjawabnya, dia masih mencoba menata kembali pikirannya yang sempat kacao.


Jin tak berbicara lagi, jin menunggu jawaban dari zyan.


Tok tok tok.


"Permisi tuan ini supnya." kata seorang maid sambil membawa dua mangkuk sup.


"Bawa kemari kak. Letakan saja supnya dimeja." kata Jin dengan senyuman seperti biasa.


Pelayan itu masuk dan meletakan dua mangkuk sup yang masih panas diatas meja.


"Silakan tuan, saya permisi dulu." kata pelayan itu setelah meletakan supnya.


"Terima kasih kak." kata jin.


"Zy duduklah dulu. kita makan supnya selagi masih hangat. Ini enak loh hmm yammi." kata jin menggoda.


Zyan menengok kebelakang, melihat jin yang sedang menikmati sup membuat zyan kepingin.


"Hmm supnya benaran enak, cocok banget disaat dingin makan sup iga dan biji lotus. Zy ini enak banget loh. Nyesel gak coba. Yammi.." ledek jin.


Zyan semakin penasaran dengan rasa sup itu. Perlahan zyan mendekati jin dan duduk didepannya. Jin menyeringai karna umpannya berhasil. Zyan mengambil semangkuk sup dan pelan pelan meniupnya. Dan benar rasa sup nya sangat lezat saat masuk kedalam mulut. Hangat dan enak,


"Benarkan rasanya?!. Aku tidak bohong. Rasa supnya sangat lezat." kata jin.


Zyan tak menjawab malah semakin cepat memakan supnya. Jin juga melanjutkan makannya.


Selesai menikmati sup, zyan dan membaca buku yang ada diruangan itu.


"Zy apa yang kita lakukan sekarang? Kita masih belum menemukan informasi apapun tentang target kita selanjutnya." kata jin membuka pembicaraan.


"Entah. Aku sendiri tidak tau." kata zyan tanpa memalingkan wajahnya.


"Jika seperti ini terus, aku rasa kita tidak akan mungkin bisa mengungkap dalang kematian keluarga kita." kata jin terlihat murung.


Zyan juga tau itu, tapi mau bagaimana pun mereka berdua tidak memiliki informasi apapun. Sangat sulit bagi mereka untuk menemukan dalangnya, mengingat hal itu zyan merasa sedih karna tak bisa membalaskan kematian Keluarganya.


"Kita pasti bisa menemukannya. Walau harus menunggu lama, aku pasti akan menemukan dalang dibalik semua ini!! Takkan aku biarkan semua menjadi sia sia!!" kata zyan.


"Iya. Aku juga tidak mau menyerah begitu saja. Akan aku lakukan apapun demi membalas kematian orang tuaku." kata jin penuh tekad.


Zyan memperhatikan jin, matanya memancarkan sebuah tekad yang sangat kuat.


"Master, maaf menganggu. Kami sudah melakukan pencarian target seperti yang master perintahkan. Dan kami berhasil mendapat satu informasi tentang target, tapi kami masih belum yakin kalau info ini 100% benar jadi kami akan melakukan pemeriksaan lebih detail lagi. Mohon master untuk bersabar." kata bawahan zyan.


"Iya. Lanjutkan misinya. Jika menemukan sesuatu segera lapor! Ingat jangan sampai ada kesalahan!" kata zyan memberi peringatan pada bawahannya itu.


"Baik master." bawahan itu membungkuk lalu pergi.


Suasana kembali hening setelah bawahan zyan itu pergi. Zyan masih membaca buku, jin sangat penasaran tentang informasi itu tapi agak sedikit takut untuknya bertanya. Jin hanya melirik zyan berharap zyan akan berbicara. Karna cukup lama zyan terdiam dan sepertinya tak ada tanda dia akan bicara, jin yang sudah tidak sabar pun akhirnya buka suara.


"Zy, jadi bagaimana? Siapa target kita selanjutnya?" tanya jin penasaran.


"Seperti yang sudah kamu dengar, mereka belum berhasil menemukan targetnya dan untuk saat ini kita hanya bisa menunggu. Kalau soal siapa target kita nanti, kamu akan tau jika sudah dipastikan dia masuk dalam jangkauan kita." kata zyan sambil menutup buku yang dia baca.


Jin terdiam, kembali mengingat siapa saja yang menjadi target mereka. Ada berapa nama yang masuk dalam list target mereka, hanya saja posisi mereka sulit untuk diketahui karna sebagian ada yang diluar negeri.


Kegiatan hari ini mereka isi dengan belajar dan berlatih hingga tak terasa waktu sudah hampir sore, waktunya mereka kembali ke asrama.


"Gak terasa sudah sore. Kita harus segera kembali sebelum kak elena mencari kita." kata jin,


selesai mereka berlatih. Zyan melihat ponselnya sekarang pukul 4.15 waktu setempat.


"Iya, bersihkan dirimu dulu baru kita kembali." kata zyan.

__ADS_1


"Baiklah. Aku duluan." kata jin bangun dan pergi untuk membersihkan diri.


Selagi menunggu jin selesai, zyan membuka laptopnya dan ada satu email masuk dari ghostraid.


__ADS_2