Pembalasan Mawar Hitam

Pembalasan Mawar Hitam
comeback 21


__ADS_3

Malam ini zyan bermimpi tentang keluarganya yang terus memanggil namanya.


Dalam mimpi zyan sedang berada di suatu tempat yang hampa. Sekelilingnya semua putih tak ada apapun. Zyan mendengar samar samar suara anak kecil yang memanggilnya.


"Kakak, naya takut disini. Disini dingin. Kakak tolong naya." panggil naya.


Zyan melihat sekelilingnya, mencari sumber suara itu.


"Naya. Naya kamu dimana? Naya jawab kakak." teriak zyan.


"Naya disini kak. Hiks..hiks...naya takut. Kak yin tolong naya. Hiks.. hiks...hiks..." kata naya.


Zyan terus mencari keberadaan naya. Sampai satu bayangan anak perempuan kecil berbaju putih seperti pengantin muncul tak jauh dari harapan zyan.


"Naya." panggil zyan.


Zyan berlari mendekati bayangan adiknya itu tapi sayang bayangan adiknya perlahan menjauh.


Semakin zyan mendekat semakin jauh bayangan itu terbang.


"Kakak tolong naya. Sakit kak. Sakit sekali, tolong naya kak." teriak naya.


Mendengar teriakan naya yang terus memanggil namanya, zyan mempercepat larinya sampai ada cahaya dan zyan masuk kedalamnya.


Zyan terkejut setelah melewati cahaya itu. Disana zyan melihat adiknya berdiri dan tubuhnya dipenuhi darah. Kedua tangan dan kedua kakinya terikat oleh rantai.


"Naya?!" panggil zyan.


"Kakak sakit. Tolong naya kakak. Hiks..hiks.." jawab naya.


Zyan mendekati naya dengan perlahan, tapi kali ini naya tidak menjauh. Zyan terjatuh berlutut di depan naya. Kakinya tiba tiba terasa lemas tak bertenaga.


Tanpa sadar, zyan meneteskan air mata melihat tubuh adiknya yang berlumuran darah.


"Naya." panggil zyan sambil memeluk tubuh kecil adiknya.


"Naya maafkan kakak. Kakak tidak berguna, tidak bisa melindungimu." kata zyan sambil menangis.


Naya membalas pelukan zyan.


"Kakak." panggil naya.


Zyan melepaskan pelukannya dan tiba tiba muncul cahaya disamping kanan dan kiri naya, perlahan cahaya itu memudar dan nampak dua sosok yang sangat zyan kenal.


Zyan terkejut melihat ayah dan juga ibunya dengan kondisi yang sama dengan naya.Kedua tangan dan kakinya terikat oleh rantai.


"Ayah, ibu." panggil zyan.


"Yin." sapa ayah dan ibunya bersamaan.


"Yin tolong kami." kata ibu zyan.


"Yin, hanya kaulah satu satunya harapan kami. Dan hanya kaulah yang bisa menyelamatkan kami." kata ayah zyan.


Zyan terdiam tak tahu apa maksud ayahnya. Ibunya mendekati zyan dan memeluknya dengan lembut.


"Putraku, yin. Kamulah satu satunya harapan kami yang tersisa. Yin jangan pernah menyerah, teruslah melangkah dan selamatkan kami disini." kata ibu.

__ADS_1


Ibu zyan melepaskan pelukannya. Dan mencium kening zyan. Sekarang gantian ayahnya yang mendekati zyan.


"Putraku, Yin. Maafkan ayah karna kamu harus memikul tanggung jawab ini. Tetaplah berpegang teguh pada pendirian mu yin. Teruslah maju dan jangan menatap kebelakang." kata ayah.


"Karna hanya kaulah yang bisa menyelamatkan keluarga zhan." kata ayah lagi.


"Ayah, ibu, naya." panggil zyan.


Dan tiba tiba ayahnya mendorong zyan dengan sangat kuat sehingga zyan terjatuh kedalam lubang hitam yang muncul dibelakangnya.


"Ayaaahh, Iiibbuuu, naayyyaaa.." teriak zyan.


Kembali kedunia nyata. Zyan terbangun dengan nafas terengah engah karna mimpinya itu.


'Hah..hah..hah...mimpi apa itu?' tany zyan dalam hati.


Zyan bangun terlebih dulu. Dia langsung melihat kearah jendela kamarnya.


"Emm" eluh jin.


Jin sudah bangun tapi enggan membuka matanya. Dia malah memeluk zyan yang masih berbaring. Zyan hanya bisa pasrah saat tangan jin melingkar di dadanya.


"Mau sampai kapan kamu tertidur, putri tidur?" tanya zyan dengan sedikit kesal.


"Hmm.."


Bukannya bangun, jin malah semakin merapatkan dirinya pada zyan. Zyan melempar tangan jin kesamping dan dia beranjak bangun.


Jin membuka matanya dengan wajah manyun. Zyan sudah terlebih dulu pergi kekamar mandi.


Di dalam kamar mandi, zyan menatap dirinya sendiri didalam cermin. Bayangan mimpinya masih sangat jelas dalam ingatan zyan.


"Apa maksud ayah dan ibu berkata seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?" tanya zyan pada dirimu sendiri.


Saat pikiran semakin kalut, bayangan wajah jin yang semalam terlintas di otaknya. Mengingat hal itu, zyan menggelengkan kepalanya mencoba menepis ingatan itu.


Tapi sayangnya itu tidak berhasil. Bayangan wajah jin yang menggoda terus terlintas dalam pikirannya. Itu membuat zyan kesal pada dirinya sendiri.


"Apa si yang aku pikirkan? Sudahlah sebaiknya aku mandi." kata zyan lalu pergi mandi.


Diluar kamar mandi, jin masih terduduk manyun diatas tempat tidurnya sambil melihat keluar jendela kamarnya.


Jin sedang melamun, entah apa yang ada di dalam pikiran jin saat ini.


Tak berapa lama zyan selesai mandi, dan keluar dari kamar mandi lalu bergegas berpakaian. Zyan melihat jin yang terus melamun.


"Jin, cepat mandi, sudah siang." kata zyan


Tapi tak di dengar oleh jin. Sampai akhirnya zyan melemparkan handuknya kearah jin dan itu membuat jin tersadar.


"Ah zy apaan si kamu." kata jin, kesal.


"Pergi mandi atau aku tinggal." kata zyan.


"Iya honey. Aku mandi." kata jin


Jin beranjak bangun lalu pergi kekamar mandi. Sambil menunggu jin selesai bersiap, zyan menyeduh minuman untuknya dan jin.

__ADS_1


Jin selesai mandi dan bersiap. Keduanya keluar dari kamar dan menurun tangga sampai kelantai bawah.


Saat sampai di lantai bawah, keduanya berpapasan dengan kedua temannya, raiga dan soji.


"Jin zyan." sapa raiga.


Mendengar ada yang memanggil, zyan dan jin berhenti dan menengok kebelakang.


"Kebetulan ketemu disini. Berangkat bareng yuk." ajak soji.


"Iya. Ayo." balas jin.


"Loh zyan itu pipi kenapa ko merah? Habis di tampar bini ya?" tanya raiga, dengan senyum aneh.


Soji melihat wajah zyan, dan memang nampak bekas tangan jin semalam.


Jin ikut melihat wajah zyan dan memang masih terlihat jelas bekas tamparannya semalam. Zyan dan jin saling berpandangan dan seketika keduanya memalingkan wajahnya kearah lain.


"Bini? Bini siapa rai? Emang zyan udah nikah punya bini." tanya soji yang tidak mengerti maksud raiga.


"Haduh soji..soji.. Kamu tuh iya kenapa gak pernah paham si. Siapa lagi bini zyan selain.." kata raiga sambil melirik kearah jin.


Jin merasa dilihatin oleh raiga dengan tatapan aneh, merasa sensi.


"Apa maksudmu berkata bini sambil melihat kearahku." kata jin dengan kesal.


"Hi..hi..hi.. Habis siapa lagi yang dekat dengan zyan Selin kamu, jin." kata raiga.


"Apa?!!" balas jin.


"Sudah. Kita berangkat sekarang sebelum terlambat." kata zyan.


Jin berjalan terlebih dulu karna merasa kesal pada raiga. Zyan yang berjalan di belakang bersama zyan.


"Bro sebenarnya itu wajah kenapa ko bisa merah gitu? Gak di kasih jatah ya.. Hi hi hi.." goda raiga.


Meski jin berjalan didepan tapi masih mendengar perkataan raiga. Jin jadi semakin kesal, dia pun kembalikan badan nya.


"Apa maksudmu berkata begitu raiga?" tanya jin dengan wajah merah.


"Ah tidak. Aku tidak mengatakan apapun." jawab raiga.


"Rai berhenti mengoda zyan dan jin. Kamu ini gak bosen apa godain mereka terus." kata soji.


Tanpa berkata apa apa, zyan langsung menarik tangan jin dan mengajaknya pergi.


Sampai di sekolah wajah jin masih saja terlihat kesal. Dia membanting tasnya di atas meja, sehingga menimbulkan bunyi keras yang menarik perhatian teman sekelasnya.


"Mau sampai kapan seperti itu terus." kata zyan.


Tapi tak di tanggapi oleh jin.


"Pagi jin, loh ko manyun gitu. Nanti gantengnya ilang loh" kata shion.


Mendengar itu, ekspresi jin langsung berubah. Tak lagi cemberut dan lebih terlihat ceria.


"Hehe pagi shion." sapa jin dengan senyum.

__ADS_1


#sampai sini. Buat yang minta crazy up maaf egak bisa dipenuhi.. koz ashleen masih sibuk ngurus proyek sama kerjaan didunia real.. 🙏🙏maaf banget


__ADS_2