
"Apa maksud perkataan paman yang?" tanya jin kaget karna terkejut marganya disebut.
"Tama Hou salah satu perusahaan kecil yang dibantu oleh tuan besar agar bisa berdiri sejajar dengan perusahaan yang lain." jelas paman.
Dan malam itu semuanya terungkap, hubungan antara Tama Hou dan Zhan Ryu. Kini zyan yakin apa yang orang bilang tentang ayahnya itu salah.
"Itulah yang sebenarnya Tuan Besar. Saya sudah bekerja sangat lama untuk keluarga Zhan. Dan saya lah satu satunya yang dipercaya Tuan Besar untuk mengelolah perusahaan." kata paman.
"Iya paman, sekarang aku mengerti. Aku juga akan mempercayai paman seperti halnya kedua orang tuaku." kata zyan.
"Hari sudah semakin malam, sebaik nya tuan muda zyan dan tuan muda jin tidurlah disini." kata paman karna memang jam sudah menunjukan pukul 2 pagi.
"Kami harus kembali keasrama, jika kami menginap disini itu akan menimbulkan kecurigaan." kata zyan lagi.
"Iya paman. Sebaiknya kami kembali ke asrama." tambah jin.
"Baiklah, saya akan mengantar kalian." paman akhirnya menyerah.
Zyan dan jin akhirnya sampai di dekat pintu rahasia,
"Baiklah paman, terima kasih untuk semuanya." kata zyan.
"Sama sama tuan. Saya senang bisa menceritakan yang sebenarnya." jawab paman yang.
"Kami masuk dulu. Sampai jumpa besok." kata jin.
Lalu mereka berdua masuk kedalam asrama dan lagi mereka harus naik menggunakan tali untuk bisa masuk kekamar.
"Hm zy.." Panggil jin.
"Ada apa?" tanya zyan tanpa melihat kebelakang.
"Gak apa apa. Kamu bisa naik?" tanya jin.
Zyan diam saja tidak mau menjawab pertanyaan jin. Sampai dibawah kamar mereka, zyan bersiap naik kekamarnya.
"Zy hati hati." kata jin cemas.
Zyan menganggu kan kepalanya, dan mulai naik menggunakan tali.
"Uh" eluh zyan,
tangannya terasa sakit dan lukanya mulai terbuka lagi. Sekuat tenaga zyan terus berusaha untuk naik, jin yang berada dibawah merasa cemas dengan keadaan zyan. Jin terus memperhatikan zyan yang tubuhnya mulai bergetar menahan rasa sakit,
'Zy bertahanlah. Aku mohon.' gumam jin dalam hati.
Akhirnya mereka sampai dikamar, darah segar mulai keluar dan menembus perban. Zyan duduk dikursi belajarnya, jin kaget karna perban zyan sudah basah oleh darah yang keluar.
"Zy lukamu terbuka lagi." kata jin panik.
Zyan diam saja dan membiarkan tangannya. Jin segera mengambil perban dan obat yang ada dilaci meja belajar zyan. Jin meraih tangan zyan dan perlahan membuka perbannya.
"Zy kenapa kamu diam saja? kenapa tidak langsung dibuka si. Kalau infeksi bagaimana?" jin menjadi cerewet karna zyan tidak langsung merawat lukanya.
__ADS_1
"Akhirnya selesai. Lain kali jangan Seperti ini. Hoaamm ngantuk sekali. Kita tidur yuk, zy." Ajak jin.
Jin membereskan peralatan obat dan meletakan kembali di laci.
"Jin, arigatao gonzaimatsu." kata zyan pelan.
Jin terkejut sekaligus senang.
"Sama sama." balas jin sambil tersenyum.
"Ayo tidur. Sudah sangat malam." ajak jin,
zyan menganggu kan kepalanya. Kedua berjalan ketempat tidur dan beristirahat.
Keduanya akhirnya terlelap dalam tidur hinggap pagi datang. Hari ini cuaca cerah matahari perlahan muncul. Tirai jendela yang masih belum terbuka, cahaya mentari berlahan memasuki kamar lewat sela sela tirai. Zyan dan jin masih terlelap dalam tidur, masih enggan untuk bangun dari mimpi.
Waktu sudah menunjukan pukul 8.30 pagi tapi zyan dan jin belum bangun juga. Elena merasa khawatir karna sejak tadi dia menelpon jin ataupun zyan keduanya tidak ada yang mengangkat. Akhirnya elena datang kekamar mereka berdua.
Tok tok tok. Elena mengetuk pintu kamar zyan dan jin.
"Jin, Zyan kalian ada di dalam kan? Cepat bangun ini sudah siang." kata elena dari luar.
Elena tak bisa masuk karna pintu terkunci dari dalam.
Tok tok tok
"jin, zyan ayo bangun kalian ada di dalam kan!!" teriak elena.
Tapi tidak bisa membangun kan kedua anak adam ini.
Zyan perlahan membuka matanya karna mendengar suara ponselnya terus berbunyi sejak tadi. Zyan bangun dari tidurnya dan berjalan mendekati meja belajarnya dimana dia semalam menaruh ponselnya disana. Zyan mengambil ponselnya dan saat akan mengangkat, panggilannya mati. Zyan melihat siapa yang tadi menelponnya, ternyata elena. Zyan terkejut ternyata elena sejak tadi menelpon. Zyan menelpon balik elena,
"Moshi Moshi nee-chan. Ada apa?" tanya zyan sambil duduk di kursi.
"Zy syukurlah. Kenapa baru diangkat!! Aku sejak tadi menelpon kalian. Kalian kemana saja si?!!" Elena marah karna zyan baru menjawabnya.
"Aku baru bangun." jawab zyan dengan nada malas.
"Nani?!!. Kamu baru bangun?? Lalu dimana jin?" tanya elena dengan nada marah.
"Jin masih tidur." jawab zyan.
"Cepat buka pintunya, zy." pinta elena masih menunggu didepan pintu kamar.
"Baiklah." zyan menutup telponnya.
Zyan berjalan ketempat tidur dan langsung menyibak selimut yang menutup jin.
"Uh, zy apaan si. Masih ngantuk tau." kata jin sambil menarik kembali selimutnya dengan mata yang masih terpejam.
"Bangun, elena nee ada didepan pintu." kata zyan lalu berjalan ke pintu.
Jin langsung terbangun mendengar elena sudah ada didepan pintu.
__ADS_1
"Eh zy tunggu?!" kata jin pada zyan yang hampir membuka kunci,
tapi zyan tak menghiraukannya dan tetap membuka pintu.
Klik klik suara kunci terbuka dan zyan membuka pintunya.
Nampak wajah elena yang merah menahan amarah. Tapi zyan tidak perduli,
"Masuklah kak." zyan mempersilakan elena masuk.
Elena terus memperhatikan zyan, entah kenapa elena merasa zyan berbeda dari biasanya. Elena terus memperhatikan zyan dan sampai matanya menatap kedua tangan zyan yang diperban.
Zyan langsung menuju dapur untuk membuat minuman, sedangkan elena duduk disamping jin yang masih duduk ditempat tidur.
"Ada apa kakak datang pagi pagi?" tanya jin masih mengumpulkan nyawanya.
"Pagi katamu!! Ini sudah jam berapa? Coba kamu lihat?" tanya elena dengan nada tinggi.
Jin melihat jam dan saat ini jam sudah menunjukan waktu 8.40 menit.
"Oh ternyata sudah siang." kata Jin dengan santai nya.
"Kalian ini habis ngapain si? Begadang lagi?" tanya elena.
Tak seorangpun yang menjawabnya, zyan datang membawa tiga gelas minuman.
"Ini. Minum dulu." kata zyan memberikan satu gelas untuk jin.
"Zy tangan kamu kenapa? Ko diperban?" tanya elena penasaran.
Jin yang lagi minum terkejut, sedangkan zyan diam saja. Tak menjawab pertanyaan elena.
"Kenapa kamu diam saja zy?! Tangan kamu kenapa? Ko bisa terluka seperti itu?" tanya elena lagi.
Jin memandang zyan yang tak merespon pertanyaan elena.
"Hmm itu kak. Semalam kedua tangan zy terluka karna enggak sengaja menyentuh teko panas jadi kedua tangannya terluka." kata jin berbohong pada elena dan berharap elena tidak bertanya lebih.
"Ko bisa kena kedua tangan? Sudah diobatin belum? Gimana kejadiannya si jin, zy?" kata elena cemas.
"Emm itu.." jin menggantung kata katanya karena tidak tau harus jawab apa.
"Karna aku kurang hati hati saja. Jin sudah mengobatinya. Kak elena tidak perlu khawatir." kata zyan enggan menatap elena.
"Hm kamu ini zy. Kamu kan orang yang selalu berhati hati ko bisa sampai ceroboh begitu. Kita periksa kedokter, takutnya kenapa napa lagi." ajak elena, tapi zyan menolak.
"Tidak perlu. Ini sudah lebih baik." kata zyan.
"Em iya kak. Tangan zy sudah aku obati ko pake obat khusus luka bakar. Jadi nanti juga sembuh." kata jin mencoba membuat elena percaya.
"Hm baiklah kalau begitu. Tapi zy jika terjadi sesuatu cepat beritahu aku." kata elena dengan serius.
"Oke kak." jawab jin dengan senyum.
__ADS_1
#kasih kritik & saran dibawah😊 mkch kak#