
Jin menarik kursi belajarnya dan duduk disamping zyan berbaring. Terus memandang wajah pucat sahabatnya itu dengan sedih.
Jin berpikir zyan sudah tertidur, tapi sebenarnya zyan tidak tidur. Dia hanya menutup matanya saja. karna jika zyan membuka matanya, pandangannya berputar putar.
"Zy, kenapa kamu selalu menanggung beban itu sendiri? Tidak bisakah kamu berbagi denganku? Aku memang tidak berguna, tidak bisa melakukan apa apa. Hanya menjadi pengganggu saja." kata jin sambil memandang sahabatnya itu.
"Zy, selain dirimu aku tidak punya siapa siapa lagi. Seluruh keluargaku tak ada yang perduli padaku. Paman dan bibiku saja tidak mau merawatku, bahkan nenek dam kakek ku juga tidak tahu dimana." Jin mulai bercerita tentang perasaannya.
Zyan mendengar yang dikatakan jin tapi masih belum bisa merespon nya.
"Jika aku tidak bertemu denganmu entah apa jadinya aku. Mungkin aku masih bocah kecil yang cengeng dan penakut. Saat saat bersamamu adalah hal yang takkan pernah terlupakan dan sangat berarti." jin terdiam mencoba mengantur perasaannya.
Jin masih belum memulai ceritanya lagi. Dia masih kalut dengan pikirannya. Zyan mendengar cerita jin ikut merasakan kesedihan jin. Hatinya terasa sakit,
"Ini sudah 6 tahun lebih sejak kejadian itu dan tak seorangpun keluargaku yang berusaha mencari keberadaanku. Sedang paman, dia mencari ku karena sesuatu." kata jin.
Ekspresi wajahnya semakin terlihat sedih. Dia menundukan kepalanya, menyembunyikan kesedihannya.
Rasa sakit di kepala zyan perlahan mulai membaik, dengan perlahan zyan membuka matanya meski hanya sedikit.
Dia bisa melihat ekspresi kesedihan yang tergambar jelas di wajah sahabatnya itu.
Ingin rasanya zyan menyentuhnya untuk membuat sahabatnya tenang tapi apa daya kondisinya masih belum stabil.
Penglihatannya masih rabun. Tak bisa melihat dengan jelas.
Setelah bercerita panjang lebar, jin terdiam. Dia masih menundukkan kepalanya.
Tanpa terasa waktu sudah malam, jin melihat kearah jendela, langit sudah gelap. Jin beranjak dan berjalan untuk menutup jendela.
Zyan perlahan mencoba untuk bangun dan duduk bersandar.
"Uh." eluh zyan.
Mendengar suara, jin menoleh kebelakang dan dilihatnya zyan yang sedang berusaha bangun. Jin langsung berlari dan membantu zyan untuk duduk bersandar.
"Zy bagaimana keadaanmu? Apa sudah merasa baik kan?" tanya jin, khawatir.
"Iya, aku sudah lebih baik. Arigatao." jawab zyan.
"Kamu disini saja, aku akan keluar untuk mengambil makanan. Jangan bangun, tetap ditempat tidur." kata jin penuh perhatian.
"Iya," jawab zyan dengan lemah.
Jin keluar dari kamar untuk mengambil makanan. Saat jin baru keluar dari kamarnya, seseorang menyapanya.
"Jin? Ko keluar sendirian? Mana zyan?" tanya elena yang kebetulan baru keluar dari ruangannya.
"Zy lagi tidak badan jadi aku menyuruhnya untuk tetap dikamar. Kak elena mau kemana?" tanya balik jin.
"Zyan sakit? Bukannya tadi siang dia baik baik saja? Dia kenapa jin?" tanya lagi elena.
"Kepalanya pusing." jawab jin dengan nada sedih.
__ADS_1
Elana menatap jin, ikut sedih. Entah kenapa melihat jin sedih begitu, elena merasa tidak tega.
"Sudahlah jangan sedih terus. Zyan kan anak yang kuat, kakak yakin sebentar lagi akan sembuh." kata elena memberi semangat.
"iya kakak." jawab jin dengan senyum yang dipaksakan.
"Ya sudah. Kamu mau turunkan? Ayo bareng kakak. Kakak juga mau turun." ajak elena.
"Iya. Aku mau ambil makanan untuk zy." kata jin.
"Ayo kita ke kantin mengambil makanan lalu kita jenguk zyan." kata elena memberi semangat.
Jin menganggukan kepalanya penuh semangat. Dan keduanya pun turun kelantai bawah.
Suasana asrama sangat rame. Terdengar banyak suara dari lantai bawah. Elena dan jin langsung saja menuju kantin dan mengambil makanan untuknya dan zyan. Berapa teman jin menyapa jin dan elena dan dijawab senyum oleh jin.
"Malam bu." sapa raiga dan sini berbarengan.
Raiga dan soji menghampiri jin yang sedang mengambil makanan dikantin.
"Malam juga. Kalian mau makankan?" tanya elena pada kedua muridnya.
"He he he iya bu." jawab soji.
"Eh bro, zyan mana? Ko tidak kelihatan?" tanya raiga celingukan.
"Zy lagi enggak enak badan. Dia lagi istirahat dikamar " jawab jin.
Jin mengambil makanan dan membawanya kekamar. Elena ikut membantu jin membawa minuman untuk mereka berdua.
"Jin, jujur kakak iri pada zyan. Dia bisa mendapat seseorang sebaik dirimu. Ikatan persaudaraan kalian begitu kuat, kalian saling menjaga." kata elena.
Jin diam saja, tidak menanggapi ucapan elena. Pikiran masih fokus pada zyan. Saat ini yang ada dipikiran jin mencari cara bagaimana bisa meringankan beban zyan.
Elena terus mencuri pandang dengan jin, menatap jin dengan tatapan sayu.
"Jin apa yang sebenarnya kamu pikirkan?" gumam elena dalam hati.
Mereka sampai didepan pintu kamar zyan dan jin. klik. Jin membuka pintu kamar, elana dan jin masuk kedalam. Jin terkejut sekaligus marah karna melihat zyan yang bermain dengan laptopnya.
Jin bergegas masuk dan meletakan piringnya diatas meja belajar. Lalu jin menghampiri zyan dan segera merebut laptopnya, dan sontak membuat zyan kaget dan marah.
"Jin apa apaan kamu!! Kembalikan laptopnya!!" kata zyan, marah
Tapi jin tidak mau mengembalikannya dan malah menaruhnya dimeja belajarnya yang agak jauh dari tempat tidur.
Melihat sikap jin, emosi zyan naik. Zyan bangun dari duduknya tapi saat akan berjalan tiba tiba dia oleng dan hampir terjatuh. Untung saja dengan sigap jin menahan tubuh zyan agar tidak jatuh.
Zyan memegangi kepalanya yang mulai terasa sakit lagi karna terbawa emosi.
"Aku sudah menyuruhmu untuk istirahat. Kenapa kau malah bermain laptop!!" teriak jin.
Jin membantu zyan untuk duduk kembali, elena cuma bisa menatap keduanya dengan sedih. Lalu dia menaruh dua gelas minuman diatas meja dan menghampiri zyan dan jin.
__ADS_1
Elena duduk disamping zyan, sedangkan jin berjongkok dihadapan zyan yang terus memegangi kepalanya.
"Zy, apa yang dilakukan jin itu benar. Dia sangat perduli padamu, dia mengawatirkan kondisi mu. Kakak mohon zy jangan seperti ini. Tolong dengarkan perkataan jin." kata elena.
Zyan diam saja, dia sedang mencerna hal yang terjadi baru saja.
"Zy, aku mohon kali ini dengarkan aku. Jangan membatah lagi. Demi dirimu sendiri bukan demi orang lain" kata jin.
Perlahan zyan sadar, dia menatap mata jin dengan mata sayu dan zyan tersenyum begitu tulus. Ini pertama kalinya bagi elena melihat senyuman zyan yang begitu tulus.
"Maafkan aku jin. Aku terbawa emosi." kata zyan.
"Iya tidak apa apa zy. Aku tahu itu. Nah sekarang makan dulu setelah itu minum obat. Jangan main laptop atau memikirkan pelajaran." kata jin.
Sikap jin sudah seperti seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya. Jin mengambil sepiring nasi dan dia berikan pada zyan.
"Iya jin-chan terima kasih." kata zyan
Jin tersenyum senang. Melihat kedekatan keduanya elena merasa terharu. Tanpa sadar dia meneteskan air matanya.
"Makannya pelan pelan saja yah," kata jin.
Jin juga memakan makanan nya. Elan terus memperhatikan keduanya, terkadang elena tersenyum sendiri melihat kedua adiknya makan.
Saat makan ponsel zyan berbunyi, dengan cepat jin mengambil ponsel zyan dan memasukannya kedalam saku celananya.
"Jin-chan apa yang kamu lakukan? Kembali ponselnya?!" kata zyan, meminta ponselnya.
"Tidak! Tunggu sampai kamu sembuh baru aku kembalikan. Untuk saat ini biar aku yang pegang." Kata jin dengan tegas.
Dan langsung saja jin mendapat tatapan membunuh dari zyan, tapi tak di hiraukan nya. Elena yang melihat jin yang lebih mirip seperti seorang ibu ketimbang sahabat.
"Hi hi hi jin kamu lucu. Kamu lebih mirip seorang ibu yang sedang memarahi anaknya. hi hi hi" kata elena tertawa geli.
Sontak jin terkejut, dia menatap zyan. Zyan diam saja karna yang dikatakan elena memang benar. Wajah jin langsung memerah.
"Zyan kamu ini kenapa si? Ko bisa sampai sakit? Kakak lihat tadi siang kamu baik baik saja." tanya elena.
Zyan lagi lagi diam, dia tidak bisa menemukan alasan yang tepat. Tidak mungkin dia berkata yang sebenarnya pada elena.
"Kenapa diam saja? Jin kamu pasti tahu kan kenapa zyan bisa sampai sakit?" tanya elena pada jin.
Jin juga ikut diam, Jin juga tidak menemukan alasan untuk berbohong. Jin menatap zyan yang tertunduk menatap lantai.
Keduanya diam tak ada yang berani buka suara. Elena masih menunggu jawaban keduanya.
Akhirnya zyan buka suara setelah terdiam cukup lama
"Aku merasakan sesuatu yang sulit dimengerti. Sesuatu yang hilang." kata zyan berbohong.
"Apa yang kamu rasakan zy?" tanya elena dengan lembut
Dan lagi zyan diam. Dia masih belum menemukan alasan yang tepat lagi.
__ADS_1