
Zyan sampai di kamar nya, dan jin ternyata sudah terlelap dalam tidurnya.
Zyan membereskan pakaiannya dan menyimpan kembali senjatanya. Lalu zyan berbaring di samping jin tidur hingga akhirnya dia ikut terlelap.
Sampai mentari pagi muncul. Zyan bangun lebih awal seperti biasa. Tapi kali ini zyan tidak langsung mandi. Dia pergi keluar untuk lari pagi selagi ada waktu.
Jin perlahan membuka matanya, dia mengejap ngejap untuk menyesuaikan matanya. Jin melihat ke samping nya, betapa dia terkejut karna jin tak melihat zyan ada di sampingnya.
"Zy? Ko zy gak ada? Apa dia sudah bangun? Tapi ko tempat tidurnya terasa dingin ya?" tanya jin
Jin segera beranjak bangun dan pergi kekamar mandi. Jin melihat kedalam, dan ternyata didalam kosong.
Jin semakin panik karna tidak melihat zyan di dalam kamar. Jin segera berlari keluar kamar, tapi tanpa sengaja jin berpapasan dengan elena dilantai dua.
"Jin-chan, kamu mau kemana? Ko terburu buru gitu?" tanya elena.
Jin terkejut dan menghentikan langkahnya. Jin terlihat bingung tidak tahu harus jawab apa.
"Hm itu...." jawab jin gagap.
Jin bingung tidak tahu harus jawab bagaimana.
"Jin kenapa bicaramu jadi gugup begitu? Ada apa jin? Apa zyan tidak ada dikamar ya?" tanya elena mencoba tetap tenang.
Jin tidak menjawabnya, tebakkan elena benar. Jin semakin bingung.
"Haduh gawat, harus gimana? Tidak mungkin aku mengatakan pada kak elena kalau zy semalam tidak pulang. Jika sampai kak elena tau, bisa gawat nanti." gumam jin dalam hati.
"Jin.." panggil elena.
Jin yang melamun, akhirnya tersadar. Jin seperti orang linglung.
"Eh kak elena, ada apa?" tanya jin.
"Kamu ini yang kenapa? Keluar kamar dengan masih pake piyama begitu dan lagi kenapa kamu itu terburu buru? Cari siapa si?" tanya elena balik.
"Hm itu, aku..." jawab jin.
"Pasti lagi nyari zyan y?" tanya elena.
"Iya." jawab jin.
"Kakak tau jin, kalau kamu terburu buru gitu pasti ada hubungannya dengan zyan. Memang zyan kemana?" tanya elena.
"Aku tidak tahu, tadi..." kata jin menggantung kata katanya.
Saat jin dan elena sedang bicara, zyan datang. Jin melihat zyan datang, berhenti bicara dan segera menghampiri zyan dan langsung memeluknya erat.
Sikap jin pada zyan seperti seorang anak kecil yang manja pada ibunya.
"Zy kamu dari mana aja? Aku dari tadi mencari mu tahu!" kata jin
Zyan melepaskan pelukan jin, dan mengusap lembut rambut jin sambil tersenyum.
"Aku hanya lari pagi sebentar." jawab zyan dengan lembut.
"Uh aku kira kamu itu pergi kemana. Lain kali kalau mau lari pagi bangun aku dong. Aku juga mau ikut." kata jin.
"Iy. Ya sudah ayo kembali, kita harus bersiap kesekolah." kata zyan.
Jin langsung menggandeng tangan zyan. Elena hanya diam terpaku melihat betapa kuatnya ikatan keduanya. Tapi elena masih tak suka pada kedekatan zyan dan jin setelah elena mengetahui rahasia zyan.
Elena masih merasa marah pada zyan karna sudah membohonginya selama ini. Dan elena juga tidak suka zyan mengajak jin kedalam balas dendam nya.
__ADS_1
Pandangan marah elena tak zyan perduli kan, zyan dan jin melewati elena begitu saja tanpa menyapanya sedikitpun.
Elena dibuat semakin kesal dengan sikap zyan di hadapannya itu.
Waktu terus berjalan, zyan dan jin keduanya sudah rapi dan sudah siap berangkat sekolah.
"Zy semalam kamu pulang jam berapa? Ko aku gak lihat kamu?" tanya jin sambil mengikat tali sepatunya.
"Aku pulang jam 11. Kau sudah tertidur." jawab zyan.
"Aku semalam menunggumu kembali sampai aku tertidur. Aku mengkhawatirkan dirimu. Zy sebenarnya apa si yang kamu dan ghostraid lakukan? Sampai aku tidak boleh itu." tanya jin.
"Nanti saja aki ceritanya. Kita harus cepat kesekolah sebelum terlambat." jawab zyan.
Keduanya berjalan santai dan sesekali membalas sapaan teman temannya.
Sampai di depan gerbang keduanya berpapasan dengan lan dan yuri yang akan masuk kedalam sekolah.
"Pagi lan, yuri." sapa jin.
"Pagi jin, zyan." balas yuri dengan senyum.
"Loh kenapa hanya kalian berdua? Mana shion?" tanya jin.
"Oh shion, dia terlambat sedikit. Nanti juga muncul." jawab lan.
"Tumben kalian tidak bareng. Biasanya kalian selalu datang bertiga?" tanya jin sambil berjalan masuk kedalam kelas.
"Semalam shion kembali dari apotek dengan mata merah dan seperti habis menangis." kata lan.
"Menangis kenapa?" tanya jin, semakin penasaran.
"Kami tidak tahu, tapi shion bilang dia rindu ayahnya yang sudah tidak ada." jawab yuri.
"Iya, shion pernah bercerita padaku tentang ayahnya yang sudah meninggal karna kesalahan ayahnya sendiri." kata jin.
"Begitu ya. Shion tidak pernah bercerita apapun pada kami." kata lan
Dan dibalas anggukan oleh yuri. Saat ketiganya sedang asyik mengobrol, shion datang dengan wajah yang masih murung.
Shion masuk kedalam kelas dan langsung duduk disebelah zyan tanpa menyapa zyan atau pun jin seperti biasa. Jin merasa sedih melihat shion yang murung begitu.
"Shion kamu baik baik saja?" tanya jin.
"Aku baik baik saja, terima kasih sudah mengkhawatirkan ku," jawab shion sambil tersenyum.
"Kamu terlihat murung?!" kata jin.
"Aku baik baik saja, jin." balas shion.
Jin terus memperhatikan shion, wajahnya nampak khawatir meski tak sekhawatir saat zyan tidak ada.
Zyan tetap melakukan kebiasaannya saat berada di dalam kelas. Dia sibuk membaca buku kesukaannya.
"Zy kenapa kamu diam saja si?" tanya jin.
Tapi tak di hiraukan oleh zyan. Zyan masih asyik membaca buku.
"Zy.. Dasar ih kutu buku." kata jin.
Shion ikut melihat zyan, sorot mata shion memancarkan kesedihan yang mendalam. Sebenarnya zyan bisa merasakan shion sedang menatapnya dengan pandangan sedih tapi tak di perdulikan.
Sampai jam pelajaran dimulai. Sesekali shion mencuri pandang pada zyan yang duduk disampingnya itu. Kejadian semalam masih melayang dalam ingat shion.
__ADS_1
Kebenaran yang terungkap, sebuah perasaan yang sangat menyakitkan saat kebenaran itu terungkap.
Waktu istirahat, zyan segera membereskan buku pelajarannya dan memasukkan kembali ke tas nya.
Selesai berberes, zyan mengajak jin untuk keluar kelas. Karna ada satu hal yang ingin zyan sampaikan pada jin.
"Jin-chan, kita keluar." ajak zyan.
"Tunggu sebentar." kata jin.
Dan selesai jin membereskan bukunya, jin dan iya keluar kelas dan langsung menuju tempat favorite mereka. Di belakang sekolah yang rimbun dan sepi.
Keduanya tiduran di atas rumput di bawah pohon tua besar.
"Zy, ada apa kamu mengajakku kesini? Tumben amat." tanya jin.
"Bukankah kau ingin tahu apa yang aku dan ghostraid lakukan semalam?" tanya balik zyan.
"Iya. Aku sangat penasaran sekali dengan apa yang kau dan ghostraid lakukan sampai aku tidak boleh ikut." jawab jin.
"Akan aku katakan sekarang. Semalam ghostraid membawaku ke suatu tempat kelompok inagawa." kata zyan.
Zyan menceritakan semua yang dia dan ghostraid lakukan semalam. Jin pun hanya diam mendengarkan zyan bercerita.
Jin terkejut mendengar, target yang mereka cari rupanya bersembunyi di dalam kelompok lain yang lebih kuat darinya.
"Jadi karna itu lah, aku melarangmu untuk ikut. Karena aku tidak mau menyeretmu kedalam bahaya." kata zyan.
Jin tertegun mendengarnya. Jin merasa terharu karna zyan sangat perduli padanya.
Sampai tanpa sadar jin memeluk zyan dan mencium pipi kanan zyan. Cup. Zyan terkejut dan jin langsung mendapat tatapan membunuh dari zyan.
Tapi jin membalasnya dengan senyuman bahagia.
"Apa yang kau lakukan jin hou?" tanya zyan penuh penekanan.
"Hanya memelukmu. Aku tidak menyangka kalau ternyata zy sangat perduli padaku." canda jin.
"Bukan itu yang aku tanyakan. Apa maksudmu mencium ku?!" tanya zyan lagi.
"Memang kenapa? Bukankah kau dulu juga menciumku. Masih mending aku menciummu di pipi, kamu zy sudah merebut my first kiss." jawab jin dengan nada manja.
Mendengar hal itu, wajah zyan menjadi merah karna mengingat kejadian itu.
"Baka, itu hanya kecelakaan. Kenapa masih diingat." kata zyan sambil memalingkan wajahnya.
"Tapi itu benarkan? Zy, kamu sendiri yang tiba tiba mencium ku. Seharusnya ciuman pertamaku itu untuk orang yang aku suka." kata jin tidak menyadari wajah zyan yang memerah.
Zyan diam saja, sebenarnya zyan sudah lupa pada malam itu. Tapi karna hari ini jin menceritakannya membuat zyan kembali teringat akan malam itu.
"Tapi zy, ternyata bibirmu sangat lembut. Meski tampangmu dingin tapi bibirmu itu sangat lembut dan juga manis." kata jin.
Zyan semakin tak bisa lagi menahan rasa malunya. Wajahnya sudah semerah tomat. Sayangnya jin tak menyadari perubahan wajah zyan.
Zyan beranjak bangun karna sudah tidak tahan mendengar ocehan jin.
"Zy mau kemana?" tanya jin.
"Balik." jawab zyan.
"Tunggu aku dong, honey." kata jin.
Sebelum keduanya kembali ke kelas mereka, zyan berusaha untuk mengatur kembali wajahnya agar kembali dingin seperti biasa.
__ADS_1
Zyan dan jin kembali ke kelas mereka. Suasana kelas sudah ramai meski bel pelajaran belum di mulai.