Pembalasan Mawar Hitam

Pembalasan Mawar Hitam
comeback 9


__ADS_3

Saat sedang berjalan diam diam, tanpa sengaja jin menyenggol salah satu tumpukan peti kayu dan membuatnya terjatuh berantakan.


Brak.


Suara peti jatuh membuat semua orang yang ada disana menengok kearah zyan dan jin. Salah satu orang disana langsung berteriak sambil menodongkan senjata.


"Ada penyusup!!!" teriaknya.


Zyan mendorong jin untuk menjauh dan bersembunyi dibalik tumpukan peti lainnya.


"Zy, maaf." kata jin.


"Tidak ada waktu untuk membahas itu, bersiaplah menyerang." kata zyan.


"Di sana. Cepat tembak!!" perintah orang disana.


Dor dor dor.


Suara tembakan terdengar jelas. Zyan dan jin bersiap membalas tembakan mereka. Dan akhirnya zyan dan jin saling tembak menembak dengan anak buah target.


Zyan sesekali keluar untuk membidik sasarannya, sudah ada berapa orang yang terkena peluruh zyan.


Saat suasana semakin sengit, target keluar dari persembunyiannya.


"Cepat habis mereka. Selesai semua sebelum polisi datang." perintah target.


Zyan melihat target keluar, mengubah sasaran nya pada target tapi sayangnya tembakkan zyan meleset. Target terkejut melihat sosok yang menembaknya tadi.


Target berteriak histeris mengetahui yang menyusup ketempatnya adalah mawar hitam yang selama ini diburu oleh banyak kelompok.


"Kalian cepat habis mawar hitam itu, jangan sampai dia mendekat!!" teriak target.


"Kalian terus tembak dia, kami akan membawa mu ketempat yang aman." kata bawahan target.


Mendengar target akan melarikan diri, zyan dan jin mempercepat gerakkannya dalam menembaki anak buah target.


Dan saat keduanya sedang fokus pada target, tanpa mereka sadari seseorang tengah mengincar jin. Satu peluru melayang ke arah jin. Zyan mengetahui jin dalam bahaya segera berlari kearah jin.


"Jin awas!!" teriak zyan.


Dan akhirnya peluru itu mengenai bahu kiri zyan. Dor. Zyan melindungi jin dengan menggunakan tubuhnya sendiri. Zyan terjatuh, jin sangat terkejut melihat aksi sahabatnya itu.


"Argh." geram zyan merasa sakit.


"Zy.." kata jin terkejut dan langsung memeluk zyan.


Zyan langsung membalas tembakan orang yang hampir melukai sahabatnya. Orang itu seketika langsung tewas ditempat.


"Hah..hah..hah."


Zyan terduduk lemah dengan nafas terengah engah. Jin terlihat panik melihat bahu zyan mengeluarkan darah. Jin langsung mengambil sapu tangannya untuk menutupi luka zyan.


"Zy bertahanlah.." kata jin, khawatir.


Zyan terus memegangi bahunya sambil pandangan matanya melihat sekeliling. Sorot mata zyan berubah semakin tajam saat melihat target yang akan melarikan diri.


Dengan cepat zyan meluncurkan satu tembakkan kearah target yang akan pergi ke mobil nya.


Dor, satu tembakan mengenai sasaran, target tergeletak tak bernyawa karna peluru yang zyan tembakkan langsung mengenai jantungnya.


Darah zyan terus mengalir deras, membuatnya terasa pusing. Zyan terjatuh di pelukan jin, jin semakin khawatir dengan keadaan zyan.


"Zy, bertahanlah. Kita harus segera kembali." kata jin panik.


Lalu jin menelpon salah satu bawahan zyan untuk datang membawa mobil. Jin sama sekali tak memperdulikan tembakan orang orang yang mengejarnya. Yang ada didalam pikiran jin saat ini adalah menyelamatkan zyan.


"Tolong cepat datang. Zy terluka darahnya terus mengalir." kata jin semakin panik,


Zyan semakin lemah dan dia hampir tak sadarkan diri karna kehabisan darah. Jin terus membawa zyan menjauh dari tempat itu sembari melakukan perlawanan.


"Jin sudahlah. Hah..hah.. Jangan perdulikan aku, cepat kamu pergi dari sini. Selamatkan dirimu. Hah..hah..hah.." kata zyan,


"Tidak!! Aku tidak akan meninggalkanmu disini. Kita pulang sama sama." kata jin, berusaha menahan air matanya.


"Aku hanya menjadi penghalang untukmu jin. Lakukan apa yang aku pinta sekarang. Cepat pergi tinggalkan aku disini." kata zyan.


"Diam!! Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Jika kau mati aku akan ikut denganmu. Hiks..hiks.. Aku mohon jangan tinggalkan aku, zy." kata jin, air matanya mulai mengalir.

__ADS_1


Zyan terkejut melihat sahabatnya yang menangisi dirinya yang terluka.


Tak lama bawahan zyan datang membawa mobil, tanpa banyak membuang waktu jin langsung menopang zyan masuk kedalam mobil. Dan mobil itu melaju.


"Cepat, kita harus membawa zy kerumah sakit." perintah jin pada sopir.


"Baik tuan." jawab sopir.


"Bawa aku ke villa, hah..hah..hah.." kata zyan masih berusaha menahan rasa sakitnya.


"Kamu harus kerumah sakit agar segera diobati." kata jin semakin khawatir.


"Cukup bawa aku ke villa, biar nanti paman yang mengobatinya." kata zyan.


"Tapi zy.. Baiklah, langsung ke villa." kata jin.


Dan mobil itu langsung menuju villa. Sepanjang perjalanan jin terus berusaha menekan luka zyan agar darahnya tidak keluar terlalu banyak.


Wajah zyan sudah terlihat pucat karna kehabisan darah, jin semakin khawatir melihat zyan yang terus memejamkan matanya.


Sesampainya di villa, jin langsung membawa zyan kedalam salah satu kamar dan membaringkannya.


Paman Yang, yang mendengar zyan terluka langsung bergegas menuju kamar tempat zyan terbaring. Jin terus menemani zyan disampingnya.


Paman datang bersama seorang dokter dibelakangnya. Dan langsung memeriksa keadaan zyan.


"Bagaimana keadaan tuan muda?" tanya paman.


"Paman tolong bantu zy." pinta jin yang terus menangis.


Paman Yang merasa sedih melihat jin yang terus menangis.


"Tuan jangan sedih, serah saja pada dokter. Biar dokter yang akan mengobatinya." kata paman.


"Tolong bantu melepaskan bajunya."pinta dokter.


Jin dan paman membantu dokter untuk melepaskan baju zyan. Zyan masih sadar meski kondisinya lemah.


Dokter mulai menyiapkan peralatan nya. Zyan terus terjaga meski pandangan matanya sayu.


"Cepat lakukan, dokter." kata zyan.


"Lakukan saja." kata zyan.


Jin melihat pisau yang dipegang dokter membuatnya merinding tegang. Jin terus duduk disamping zyan sambil menggenggam tangan kiri zyan.


Dokter mulai mengobati luka zyan dengan mengolesi alkohol. Zyan terlihat kesakitan saat pisau dokter itu merobek kulitnya, dan masuk kedalam luka zyan.


Jin tidak tega melihat zyan yang terus menahan sakit, dia terus menangis meski tak bersuara. Jin bisa merasakan rasa sakit yang zyan rasakan lewat cengkraman tangan zyan yang menggenggam begitu erat tangannya.


Tak lama dokter akhirnya berhasil mengeluarkan peluru yang masuk kedalam tubuh zyan. Dan langsung mengobati luka zyan, setelah itu dokter membalut lukanya.


"Lukanya sudah saya obati. Tolong berikan obati ini padanya. Dan ingat untuk sering diganti perbannya tiap pagi dan sore. Dan jangan lupa untuk mengolesi obat ini sebelum menutup kembali perbannya" kata dokter.


"Baik dok. Terima kasih banyak." balas paman.


Paman dan dokter pergi meninggalkan kamar. Jin menghapus air matanya dan mengelap keringat zyan yang bercucuran keluar.


Zyan saat ini tak sadarkan diri, karna tadi menahan sakit.


"Zy kenapa kamu melakukan hal yang nekat?" tanya jin.


"Aku sangat takut kehilangan dirimu. Aku mohon jangan melakukan hal yang bodoh lagi." kata jin.


Perlahan zyan membuka matanya, zyan mengejap ngejapkan matanya untuk menyusaikan pandangannya. Dilihat kesamping sahabatnya yang sedang mengusap air matanya.


"Jin." panggil zyan.


Mendengar namanya dipanggil, jin berhenti mengusap dan menatap zyan yang sudah sadar. Perasaannya sangat senang.


Zyan mencoba untuk bangun dengan dibantu oleh jin. Zyan duduk bersandar pada dua bantal dipunggungnya.


"Zy syukurlah akhirnya kamu sadar." kata jin.


"Berapa lama aku tertidur?" tanya jin.


"Hanya sebentar. Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya jin balik.

__ADS_1


"Lebih baik. Jam berapa sekarang?" tanya zyan.


"Ini sudah hampir jam 2 pagi. Sebaiknya kamu istirahat. Kita bermalam disini, besok baru kembali." kata jin.


"Kita harus kembali sekarang. Huh." kata zyan.


Zyan bangun dari tempat tidurnya tapi bahunya masih terasa sakit.


"Tapi bagaimana denganmu? Kamu terluka, kamu tidak bisa naik ke kamar lewat tali." kata jin khawatir.


"Jika tidak bisa naik, maka lewat depan." kata zyan bersikeras.


Jin hanya terdiam, tak bisa lagi mencegah zyan. Jin juga tau jika mereka tidak kembali sampai besok, elena pasti akan curiga.


"Baiklah, kita kembali tapi ingat jangan naik pake tali. Kita masuk lewat pintu depan asrama." kata jin.


Akhirnya keduanya sampai di asrama, seperti biasa mereka masuk kedalam melalui pintu rahasia. Zyan sempat menggeram kesakitan saat masuk kedalam pintu yang sempit.


"Zy kau baik baik saja?" tanya jin, khawatir.


"Iya, ayo cepat masuk." jawab zyan.


Jin membantu zyan berjalan, mereka tidak masuk melalui tali tapi mereka berjalan ke depan asrama dan masuk lewat pintu asrama.


Kriit..


Jin membuka pintu pelan pelan, mengintip keadaan didalam. Setelah dirasa aman, jin menggandeng zyan masuk kedalam dan mereka langsung menuju kamar.


Karna sudah sangat larut jadi semua penghuni asrama terlelap dalam mimpi.


Klik. Jin membuka pintu kamarnya dan membawa zyan ketempat tidur untuk segera istirahat.


"Istirahatlah." kata jin memandang sedih zyan.


Zyan hanya menurut saja karna kepalanya masih terasa pusing. Selesai membersihkan diri, jin berbaring disamping zyan. Sampai akhirnya dia terlelap dalam tidurnya.


Pagi sudah datang, jin terbangun dari mimpinya. Dia melihat kesamping, zyan masih terlelap. Jin tersenyum sedih melihat wajah zyan yang masih terlihat pucat.


Jin beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke dapur, menyiapkan air untuk membuat minuman untuknya dan juga zyan. Selesai menyalakan air, jin pergi kekamar mandi.


Tak berapa lama, jin selesai mandi dan langsung menuju dapur. Lalu menuangkan air panas kedalam dua gelas yang sudah berisi kopi.


Selagi menunggu minumannya agak dingin, jin menyiapkan dua roti untuk dipanggang.


Selesai menyiapkan roti, jin berjalan ketempat tidur sambil membawa sepiring roti dan segelas kopi untuk zyan. Zyan sendiri, sudah bangun tapi masih terbaring.


"Sudah bangun zy?" tanya jin sambil meletakan piring dan gelas meja belajar.


Zyan tak menjawab, zyan duduk dibantu oleh jin untuk bersandar pada bantal.


"Ini minumlah dulu. Hari ini kamu gak usah masuk sekolah dulu. Istirahatlah disini, dan jika ada apa beritahu padaku." kata jin.


"Baiklah." jawab zyan.


Jin tersenyum karna kali ini zyan menurut padanya. Jin bangun dan bersiap berpakaian.


"Zy, aku berangkat dulu. Ingat jangan melakukan hal yang aneh aneh. Bahumu belum sembuh, jangan sampai lukanya terbuka lagi." kata jin.


"Iya bawel." balas zyan.


"Hi hi baiklah, aku berangkat dulu. Bye honey." canda jin lalu meninggalkan kamarnya.


Tinggal zyan seorang diri didalam kamar. Zyan memegangi bahunya yang masih terasa sakit.


*


Jin turun dari kamarnya seorang diri. Raiga dan soji langsung menghampirinya.


"Yo bro. Ko sendirian, mana kekasihmu itu." canda raiga.


"Zy sedang sakit. Dia tidak bisa berangkat hari ini." balas jin.


"Sakit? Perasaan kemarin dia baik baik saja?! Memang sakit apa?" tanya soji.


"Demam" bohong jin.


"Ya sudah sepulang sekolah nanti bagaimana kalau kita jenguk dia?" usul raiga.

__ADS_1


"Iya." balas soji.


Jin menunduk sedih, dia teringat keadaan zyan dan juga jin merasa bersalah karna demi melindungi dirinya zyan terkena tembakan. Jin terus melamun sampai di gerbang sekolah.


__ADS_2