
Hari terus berlalu, zyan sudah mampu menguasai emosi. Meski keinginannya untuk balas dendam masih ada tapi zyan sudah mampu menguasainya.
Ini sudah hari ke 14 zyan berlatih yoga. Perasaannya kini semakin tenang, dia juga sudah tidak mudah terpancing emosi.
"Zy bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya jin saat keduanya sedang duduk dibawah pohon dibelakang asrama.
"Lebih baik dari sebelumnya." jawab zyan.
"Baguslah. Aku sangat takut kalau kamu hilang kendali. Aku juga bingung harus bagaimana?!" kata jin.
"Jin jika suatu saat aku hilang kendali. Bisakah kau menghentikan aku? Walau harus melukaiku, kamu harus menghentikan aku." kata zyan terlihat serius.
Jin menatap zyan, seakan tak percaya dengan yang dia dengar.
"Aku tidak akan melukaimu. Sebisa mungkin aku akan menghentikanmu tanpa melukaimu, zy." kata jin.
Keduanya kembali diam menatap langit sore yang terlihat indah. Hembusan angin awal musim semi sangat terasa menerpa wajah keduanya. Musim dingin telah berlalu, hanya tertinggal tumpukan salju yang mulai perlahan mencair.
Tumbuh tumbuhan mulai bersemi, bunga bunga yang tertidur sepanjang musim dingin perlahan menunjukan dirinya.
"Tidak terasa musim dingin sudah berlalu. Sebentar lagi bunga sakura akan bermekaran." kata jin membuka percakapan.
Zyan menatap langit sore berwarna orange jingga. Zyan masih tidak mau menjawab ucapan jin. Zyan memejamkan matanya merasa hembusan angin yang bercampur dengan aroma bunga yang mulai bermekaran. Pikirannya kembali tenang, melepaskan beban yang ada dipundaknya.
"Zy kita kembali yuk. Nanti kak elena nyariin lagi, bisa repot jika dia tau tempat ini." kata jin.
Perlahan zyan membuka matanya dan yang dilihatnya langit orange jingga.
"Iya. Kita kembali." jawab zyan sambil bangun dari duduknya.
Jin tersenyum senang. Mereka kembali kedalam asrama melalui cela sempit di tembok pemisah antar pagar dan bangunan.
Malam telah datang.
Zyan dan jin keduanya sibuk mengerjakan tugas sekolah.
"Zy ini rumusnya bagaimana? Aku masih belum mengerti." tanya jin pada zyan soal pelajaran matematika.
Zyan yang sedang duduk dimeja belajarnya memutar kursi menghadap kebelakang, jin yang tengkurep diatas tempat tidur.
"Kalau ini. Kita harus mencari nilai x dulu. Kamu bisa lihat soal no 7. Cara pemecahannya hampir sama, hanya bedanya di no 7, X nya sudah diketahui." jelas zyan.
__ADS_1
Perlahan jin mulai mengerti caranya. Jin tersenyum senang dan terus memperhatikan zyan.
"Kenapa senyum senyum?" tanya zyan menyadari ada yang aneh dengan sahabatnya itu.
"tidak ada. Terima kasih zy" kata jin masih senyum senyum.
selesai keduanya menyelesaikan tugas sekolah, zyan dan jin kembali ketempat tidur. Jin masih belum bisa tertidur, dia masih terjaga.
"Zy, sudah hampir satu bulan kita tidak bergerak. Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya jin.
Zyan yang mencoba untuk tidur membuka matanya kembali. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan jin. Dia sendiri ingin kembali tapi untuk saat ini keadaan belum mendukung sepenuhnya.
"Aku tau. Aku ingin sekali mengakhiri semua ini dan mendapat keadilan untuk semua keluargaku. Tapi kita juga tidak bisa gegabah dalam bertindak. Ada kemungkinan mereka mempererat penjagaan dan kewaspadaannya pada kita." kata zyan.
Jin terdiam, jin juga mengerti hal itu. Jin tidak ingin terlalu lama melakukan ini, karna dia belum siap jika polisi mengetahui identitasnya dan menangkapnya.
"Sejujurnya aku masih merasa takut, kalau suatu hari nanti polisi akan mengetahui siapa kita dan menangkap kita. Aku sangat takut zy." kata jin sambil menatap langit kamar dan membayangkan jika dirinya tertangkap oleh polisi.
"Kemungkinan itu pasti ada. Aku sendiri tidak takut jika pada akhirnya polisi menangkap ku. Selama aku belum bisa membalaskan kematian keluarga takkan aku biarkan polisi menangkap ku." kata zyan penuh keyakinan dan terdengar dari nadanya penuh amarah.
Jin mengubah posisi tidurnya, menjadi menghadap zyan. Jin menatap wajah sahabatnya itu yang selalu berekspresi dingin dan sangat sulit untuk ditebak.
"Zy aku berharap selama kita tidak bergerak itu memberi kita peluang agar mudah menemukan mereka." kata jin.
"Iya. Aku juga berharap hal yang sama." balas zyan.
Setelah pembicaraan itu keduanya kembali diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing masing, jin sesekali melihat zyan yang terus menatap langit langit kamar.
"Sudah malam. Kita tidur, besok harus sekolah." kata zyan. Dibalas dengan anggukan jin.
Keesokan pagi,
mentari masih belum muncul dari tempatnya, seperti biasa zyan bangun terlebih dahulu. Zyan tak langsung bangun, dibuka matanya dan duduk bersandar diatas tempat tidurnya. Zyan melihat wajah sahabatnya yang tertidur pulas terlihat tenang dan damai.
'Jin takkan aku biarkan kamu dalam bahaya. Biarkan mereka menangkap ku tak perlu melibatkanmu.' gumam zyan dalam hatinya.
Zyan melihat jam sekarang masih pukul 5.10 menit. Dia bangun dari tempat tidurnya lalu berjalan kekamar mandi.
"Jangan!! Jangan sakit zy. Lepaskan dia, berhenti. Zy, ikanaide'.." teriak jin karna dia mimpi buruk tentang zyan.
"Zy, lepaskan zy. Zy tidak salah. Jangan bawa dia. Zy hiks hiks hiks." teriak jin lagi, dia meneteskan air mata.
__ADS_1
Zyan yang baru keluar dan hanya menggunakan handuk terkejut mendengar jin berteriak. Segera zyan menghampiri jin yang masih tidur dan duduk disampingnya.
"Zy hiks hiks. Jangan bawa zy-kun. hiks hiks." isaknya.
"Hei, jin bangun. Jin bangun." zyan menepuk pelan pipi jin tapi jin belum mau bangun dari mimpinya. Zyan menggoyangkan tubuh jin agar jin tersadar dari mimpinya.
Jin terbangun dengan nafas terengah engah dan mencoba mengumpulkan nyawanya.
"Jin kamu kenapa? Mimpi buruk?" tanya zyan.
kesadaran jin yang masih belum sepenuhnya kumpul mendengar suara zyan, jin langsung memeluk zyan dengan erat dan masih terisak. Zyan terdiam dan membalas pelukannya sahabatnya.
"Tenanglah semua baik baik saja. Tidak ada yang perlu ditakuti lagi." kata zyan, menenangkan sahabatnya itu.
Jin masih enggan melepaskan pelukannya, mimpinya tadi terlihat seperti nyata terjadi. Jin sangat takut mimpinya benar benar menjadi kenyataan.
Elena seperti biasa datang untuk membangunkan kedua adiknya. Begitu juga hari ini, elena datang kekamar mereka berdua dan tanpa mengetuk pintu elena langsung membuka pintunya.
Elena langsung terkejut melihat kedua adiknya sedang berpelukan dan yang lebih mengejutkan lagi, zyan yang tidak berpakaian sedang berpelukan dengan jin.
"Ups. Ternyata aku salah masuk" kata elena wajahnya memerah lalu menutup kembali pintunya.
Zyan terkejut mendengar suara elena yang masuk dan melihatnya yang setengah telanjang sedang berpelukan.
"Jin sudah lepaskan. Tak ada yang perlu ditakuti." kata zyan. Jin menggelengkan kepalanya, enggan untuk melepaskan pelukannya.
Elena masih berdiri didepan pintu kamar kedua adiknya, dia masih mengatur kembali kesadarannya yang sempat menghilang karna melihat adegan tadi. Elena mengatur kembali nafasnya agar jatungnya tidak berdetak terlalu kencang.
"Huft.. Harus tenang. Harus tenang." kata elena pada dirinya sendiri.
Elena membuka kembali pintu kamar, dan perlahan masuk.
"Zy, Jin kakak masuk ya" kata elena.
Saat elena masuk, zyan dan jin masih berpelukan atau lebih tepatnya jin yang masih memeluk zyan. Melihat keduanya masih berpelukan elena hendak pergi lagi tapi dihentikan oleh zyan.
"Kak tunggu sebentar." kata zyan. Elena tak jadi pergi dan berdiri didepan pintu.
"Ada apa zy?" tanya elena bingung.
"Bisakah kakak membantuku?" tanya balik zyan.
__ADS_1
Elena berjalan mendekat kezyan, dan berdiri disamping zyan.
'ikanaide\=jangan pergi*.