
Dalam hati zyan merasa puas karna perlahan dendam keluarga terbalas. Tapi disatu sisi zyan merasa sedih, mengingat masa lalu nya.
Entah setan apa yang tiba tiba merasuki zyan. Zyan yang sejak tadi terdiam, tiba tiba tertawa sendiri. "He he he he.." zyan yang tertawa tiba tiba membuat jin dan sopir terkejut.
"Zy. Woi zy. Kamu kenapa?" tanya jin takut.
"Hi hi hi hi. Rasanya ingin lagi hi hi hi hi" kata zyan tak menjawab pertanyaan jin.
Jin ketakutan karna melihat tatapan mata zyan seperti vampir yang haus akan darah dan baru menemukan darah segar. Lebih tajam dan lebih nakutkan. Jin duduk sedikit menjauh dari zyan karna zyan terlihat seperti hantu.
"Tuan, apa yang terjadi pada master?" tanya sopir pada jin. Jin sendiri bingung menjawabnya, dia sendiri tidak tau kenapa zyan seperti ini.
"Aku tidak tau. Sejak tadi zy diam terus. Kenapa sekarang zy tertawa sendiri." kata jin.
Keduanya kebingungan karna zyan terus tertawa sinis dan bertingkah aneh. Sopir menghentikan mobilnya.
"Sebaiknya kita kembali ke villa dulu. Biar tuan yang, yang mengurusnya." usul sopir.
"Ide bagus. Biar paman yang mengurusnya. Tolong pegangin zy, aku akan menutup mulutnya agar tidak tertawa terus. Itu sangat menakutkan." kata Jin.
Sopirnya memegangi kedua tangan zyan dan mengikatnya dibelakang. Sedangkan Jin menutup mulut zyan dengan menggunakan syal yang tadi dipake zyan. Zyan terus memberontak, "uh uh uh"
"Maafin aku zy. Kamu sangat menakutkan." kata jin selesai mengikat zyan.
Mobil itu kembali melaju dijalan. Kali ini dengan sangat cepat. Jin terus memperhatikan zyan yang terus memberontak, berusaha melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya. Ekspresi zyan berubah, tatapan matanya tak lagi dipenuhi kebencian yang mendalam sekarang tatapannya penuh dengan emosi yang tertahan.
"Zy maafin aku. Sebentar lagi kita sampai." kata jin, sedih melihat sahabatnya itu terpaksa diikat.
Mobil hitam itu sampai di villa dan segera masuk. Sopir dan jin segera membawa zyan yang terus memberontak untuk menemui paman yang.
"Dimana tuan yang?" tanya sopir tadi pada seorang pelayan disana.
__ADS_1
"Beliau ada diruangannya." jawab pelayan dengan kebingungan melihat masternya diikat seperti itu.
Jin segera membawa zyan yang sudah tenang ke ruangan paman. Zyan hanya menurut saja dibawa jin tanpa banyak protes lagi. Saat sampai didepan ruangan, jin dengan kasar membuka pintu ruangan itu. Braakk.
"Paman, cepat bantu aku!!" pinta jin.
Paman yang sedang duduk dibuat terkejut dengan kedatang jin yang tiba tiba dan ditambah lagi dengan zyan yang terikat dan mulut yang dibukam.
"Ada apa ni tuan muda jin? Apa yang terjadi pada tuan? Kenapa diikat seperti ini?" tanya paman pada jin.
Jin tidak langsung menjawab malah menyuruh sopir tadi membawa zyan untuk duduk. Semua duduk dalam diam, zyan menatap paman dengan tatapan tajam seperti biasa. Itu membuat paman berkeringat dingin.
"Tuan muda jin sebenarnya apa yang terjadi?" tanya paman yang.
"Paman, sebelumnya aku minta maaf karna terpaksa melakukan ini pada zyan. Kami takut terjadi hal buruk pada zyan. Jadi begini bla bla bla bla. Begitu ceritanya paman." jin menjelaskan kejadian sesungguhnya.
Paman memperhatikan zyan, zyan tertunduk malu karna sekarang dia tahu alasan jin mengikatnya. Paman bangun dan membuka ikatan tangan dan juga mulut zyan. Sekarang zyan sudah bebas, tapi zyan masih tertunduk malu dengan ekspresi sedih.
"Baiklah paman. Tolong zy." kata jin.
Saat jin akan berjalan melewatinya, zyan menahan tangan jin. Jin berhenti dan melirik zyan.
"Tetap disini." pinta zyan pada jin.
Jin hanya terdiam sedih. Jin juga tidak ingin jauh dari zyan tapi jin juga tau, dia tidak bisa terus ikut campur dalam urusan keluarga zyan.
"Aku akan menunggumu diluar. Tenang saja semua akan baik baik saja." kata jin. Memberi pengertian pada zyan.
Zyan yang masih tertunduk langsung menarik tangan jin dengan kasar sehingga jin terduduk tepat disampingnya.
"Aduh, zy apaan si?!. Aku tidak mau ikut campur terlalu dalam. Aku akan menunggumu diluar." kata jin berusaha melepaskan genggaman zyan pada tangannya.
__ADS_1
Zyan tidak mau melepaskan tangannya, malah semakin erat tangannya menggenggam. Melihat hal itu membuat paman menghela nafas panjang. Lalu tersenyum melihat ikatan keduanya.
"Tak apa tuan muda jin. Duduklah," kata paman.
Akhirnya jin menurut, dia juga kasihan melihat zyan yang begitu terpuruk. Jin berharap zyan bisa lebih terbuka lagi.
"Saya mau bertanya pada anda tuan zy?. Tolong jawab dengan jujur pertanyaan saya!" kata paman terlihat serius.
"Tanyakan saja." jawab zyan masih terpuruk.
"Apa yang anda rasakan setelah membunuh Haruka Akaba?" tanya paman.
Zyan terdiam, dia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Yang dia rasakan, perasaan tidak puas dan ingin terus melakukannya lagi dan lagi. Seperti tercandu untuk terus membunuh dan membunuh.
"Aku tidak tau paman. Saat aku berada dimobil, bayangan masa lalu terlintas dalam pikiranku. Saat ibu berusaha melindungiku dan naya, ibu memohon agar bisa tetap hidup tapi ibu dan naya.." kata zyan menggantung kata terakhirnya.
Paman mengerti apa yang dimaksud zyan. Paman perlahan mulai memahami apa yang zyan rasakan dan perasaan yang membuatnya bisa seperti ini.
"Saya mengerti perasaan anda. Karna anda terus terbayang oleh masa lalu dan keinginan anda untuk membalas dendam membuat perasaan yang haus akan darah muncul. Karna anda masih muda, jadi anda belum mampu mengendalikan emosi anda. Kebencian dalam diri anda terlalu dalam hingga membuat balas dendam itu menjadi tujuan hidup anda. Apa yang saya katakan benar?" jelas paman
Zyan terkejut dengan ucapan paman yang sepenuhnya benar. Zyan pun tak mampu berkata, karna semua yang dikatakan paman semuanya benar. Zyan tak bisa memungkirinya, kalau balas dendam sudah menjadi tujuan hidupnya.
Malam itu, zyan perlahan mengerti dan mulai berusaha untuk mengontrol emosinya agar tidak sampai lepas kendali. Mereka berdua pun kembali ke asrama.
"Jin maafkan aku. Sudah membuatmu takut." kata zyan saat berada dikamar.
"Iya. Aku sudah maafin kamu zy. Aku juga minta maaf karna sudah mengikatmu." kata jin.
"Sebaiknya kita tidur, besok sekolah ada dimulai. Jangan sampai terlambat." kata zyan.
Jin menganggukan kepalanya sambil tersenyum dan keduanya pun tertidur lelap. Perlahan matahari pagi menunjukan dirinya dilangit. Hari ini hari pertama masuk sekolah setelah libur awal musim dingin. Keadaan asrama sangat ramai, tapi tidak dilantai 3. Di lantai 3 sangat sunyi karna hanya dihuni 3 orang saja dilantai tiga. Hanya elena, zyan dan jin.
__ADS_1
Kriiinnnnggggggg. Suara alarm berbunyi dengan keras tapi masih belum bisa membangunkan keduanya dari alam mimpi.