
Maaf kakak" reader, telat up. Dikarenakan ponsel ashleen baru selesai di perbaiki. Jadi baru bisa up.🙏🙏🙏 Ashleen minta maaf dan terima kasih karna sudah setia menunggu.
Sekarang ashleen lanjut lagi cerita somvlak ini. Happy reading all..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Zyan dan jin sampai di pemakaman, bersama dengan raiga dan soji.
Zyan meletakkan sebuket bunga lily putih dan sebuket mawar merah yang sebelum nya dia beli, diatas makam kedua orang tuanya dan adiknya.
Zyan berlutut lalu membakar dupa. Zyan mengusap lembut ketiga batu nissan keluarganya.
Di makam ini lah, seluruh keluarga zhan di makamkan. Zyan hanya bisa menatap sedih semua batu nisan disana.
Jin bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh zyan. Jin ikut sedih melihat batu nisan di hadalannya.
Zyan menutup matanya dan berdoa didalam hati.
"Ayah, ibu, naya dan semua. Tunggu lah, selangkah lagi kalian bebas. Dan kematian kalian semua akan terbalaskan. Aku janji, aku akan melenyapkan mereka semua dari dunia ini." gumam zyan dalam hati.
Tanpa sadar, zyan meneteskan air matanya. Dan perlahan terdengar suara isak tangis. Mendengar zyan menangis jin ikut berlutut di samping zyan dan memeluknya.
Raiga dan soji sangat terkejut, ini pertama kalinya keduanya melihat sisi lain zyan yang tak pernah dia tunjukkan pada siapapun.
Zyan menangis pelan dalam pelukkan jin. Meski matanya masih terpejam tapi air matanya terus mengalir.
"Zy, tegar kan lah hatimu. Semua akan segera berlalu." bisik jin.
Zyan hanya terdiam sambil terus terisak. Raiga dan soji ikut sedih melihat kedua temannya itu.
Zyan masih menangis dalam peluk kan jin. 7 tahun sudah kejadian itu berlalu. Tapi zyan belum juga bisa membalas kematian keluarganya.
"Zyan sabarlah. Ini semua ujian hidup yang harus kau lalui." kata soji.
"Iya, soji benar. Kamu hebat zyan, bisa bertahan selama ini." Tambah raiga.
"Mereka berdua benar. Kau harus kuat. Kita berdua sudah melalui banyak hal yang membuat kita semakin kuat." bisik jin.
Perlahan zyan mulai tenang. Zyan mengusap air matanya.
"Terima kasih jin." kata zyan.
Jin tersenyum dan melepaskan pelukannya. Zyan bangun dan kembali menatap batu nisan itu.
"Kalian berdua terima kasih," kata zyan.
"Sama sama zyan." balas soji.
Raiga dan soji tersenyum, jin pun ikut tersenyum.
"Jin, ayo kita temui kedua orang tuamu." ajak zyan.
"Baiklah. Tapi zy temani aku. Aku takut." jawab jin.
"Iya." balas zyan.
Makan kedua orang tua jin tak jauh dari makam keluarga zhan. Hanya berjarak berapa meter saja dari makan keluarga zhan.
Mereka berjalan kaki ke makam kedua orang tua jin. Sejujurnya jin sangat takut jika datang ke makam.
Karna itu, sepanjang mereka jalan, jin terus memerangi tangan zyan dengan gemetar. Raiga dan soji merasa heran dengan jin.
Tadi di makam keluarga zyan, jin sama sekali tidak gemetar ketakutan. Dan sekarang saat akan pergi ke makam kedua orang tuanya, jin ketakutan.
Mereka sampai di depan makam kedua orang tua jin. Jin berlutut dan membakar dupa seperti yang zyan lakukan tadi.
"Otou-sama, okaa-sama, terima kasih. Damai lah sana, jin selalu merindukan kalian." kata jin.
Selesai mereka ke pemakaman, mereka berempat kembali ke asrama. Zyan dan jin langsung kembali kekamar mereka.
"Zy." panggil jin.
"Ada apa?" tanya zyan.
"Maaf aku tidak bisa memberimu hadiah apapun." kata jin dengan nada sedih.
Zyan menghampiri jin yang sedang duduk di kursi belajarnya. Zyan memeluk jin dari belakang, sambil berbisik sesuatu di telinga jin.
__ADS_1
"Kaulah hadiah terindah yang pernah aku dapat. Jin Hou." Bisik zyan.
Jin cukup terkejut dan dia juga merasa senang. Setelah pembicaraan itu, keduanya sibuk dengan kegiatan mereka masing masing.
Zyan sibuk dengan laptopnya dan sedang mempelajari data data perusahaan. Sedangkan jin, asyik bermain game di ponselnya.
Waktu terus berjalan, hari sudah menjelang sore. Zyan masih sibuk dengan kegiatannya. Sampai ponsel zyan berbunyi.
"Hallo," kata zyan mengangkat telponnya.
"Aku ada di depan gerbang asrama. Keluarlah sekarang." kata penelpon.
Zyan menutup telponnya dan segera beranjak bangun. Jin melihat zyan berjalan keluar, hentikan aktifitasnya.
"Zy mau kemana?" tanya jin.
"Keluar. Ghostraid menunggu didepan." jawab zyan.
"Aku ikut." kata jin lalu menghampiri zyan.
Zyan dan jin keluar kamarnya dan menuju ke gerbang asrama.
Didepan gerbang, terlihat seseorang sedang mengobrol dengan security. Zyan dan jin menghampirinya.
"Ada apa kau memintaku keluar, Shen?" tanya zyan.
"Sory jika aku mengganggu kegiatan mu. Aku hanya datang untuk memberi ini dan juga sesuatu yang kau tinggalkan." kata Shen nama asli ghostraid.
"Apa ini?" tanya zyan.
"Hanya hadiah kecil sebagai hadiah ulang tahunmu zyan." kata Shen.
Zyan menerima kado itu. Shen tersenyum, dan memperhatikan jin yang nampak kebingungan.
"Ada apa jin? Kau terlihat bingung?" tanya Shen.
"Tadi zyan memanggil mu Shen?" tanya jin.
"Shen adalah nama aslinya. Zhan Shen." jawab zyan.
Jin langsung terkejut mendengar nama zhan di sebut oleh zyan dan nama zhan bergabung dengan nama orang yang ada di depannya.
"Dia adalah anak angkat keluarga zhan." jawab zyan.
"Eh?!" kata jin, semakin terkejut.
"Kenapa jin? Kau terlihat sangat terkejut?" tanya Shen sambil tersenyum.
Jin masih terbengong, dia tidak tahu harus berkata apa.
"Kami harus kembali" kata zyan.
"Baiklah, tuan muda. Aku juga harus kembali. Selamat menikmati hadiah mu." kata Shen.
Zyan menarik tangan jin yang melamun, sehingga jin tersadar dan mengikuti zyan pergi.
"Zy, jadi ghostraid itu..." kata jin.
"Iya. Itulah nama aslinya. Aku pun baru mengetahuinya akhir akhir ini." kata zyan.
Saat keduanya akan kembali, lan memanggilnya.
"Zyan, Jin. Disini." panggil lan.
Zyan dan jin menengok kesamping. Disana ada lan, yuri raiga dan soji sedang duduk di halaman asrama.
Jin mengajak zyan untuk ikut bergabung. Zyan hanya mengikutinya dari belakang.
"Kalian lagi ngapain disini?" tanya jin sambil duduk.
"Hanya menikmati waktu." jawab raiga.
"Zyan, itu kamu bawa apaan? Seperti kado?" tanya yuri.
Zyan hanya mengangguk saja menjawab pertanyaan yuri.
"Itu pasti kado ulang tahun dari seseorang. Benarkan zyan?!" kata raiga.
__ADS_1
"Eh kado ulang tahun? Memang ini hari ulang tahun zyan?" tanya yuri.
"Iya. Hari ini kan ulang tahunnya zyan." jawab raiga.
"Selamat ulang tahun zyan. Maaf kami tidak tahu kalau ini ulang tahun mu." kata yuri.
"Selamat ulang tahun zyan. Semoga panjang umur dan yang terbaik untukmu." tambah lan.
"Terima kasih." Jawab zyan.
"Zy buka kadonya. Aku ingin lihat isinya apa?" tanya jin.
Zyan pun membuka kadonya. Ada sebuah buku dan kotak kecil berwarna biru. Zyan membuka kotak kecil itu dan betapa terkejut nya zyan melihat isi kotak kecil itu.
Dan sebuah senyum tulus tergambar jelas di wajah zyan. Keempat teman temannya terkejut melihat senyuman di wajah zyan yang selalu dingin itu.
"Zy kenapa dia memberikan anting ini?" tanya jin.
"Ini anting yang di berikan ibuku saat ulang tahunku dulu. Aku pikir, anting ini sudah hilang." jawab zyan.
"Zy. ." panggil jin.
Zyan melihat kearah jin sambil tersenyum.
"Aku baik baik saja." balas zyan seolah tau kekhawatiran jin.
Zyan dan jin menghabiskan waktu mereka di halaman asrama. Malam hari, zyan tak keluar. Dia mendapat informasi polisi saat ini sedang mengadakan operasi untuk menangkap mawar hitam.
Keduanya menghabiskan malam di asrama sampai pagi datang. Hari ini zyan bangun lebih awal seperti biasa.
Tak lama setelah zyan bangun, giliran jin yang bangun. Setelah keduanya bangun dan bersiap, keduanya turun kebawah dengan senyum ceria di wajah jin.
Hari ini jin terlihat lebih semangat, entah apa yang membuatnya semangat.
"Jin, kamu dulu ke kelas. Aku mau ketoilet." kata zyan.
"Oke zy. Jangan kelamaan." balas jin.
"Iya." kata zyan lalu pergi.
Jin masuk kedalam kelas seorang diri. Raiga dan soji melihat jin.
"Bro ko sendirian? Mana kekasihmu?" tanya raiga dengan nada bercanda.
"Zy lagi ke toilet." jawab jin.
"Oh pantes kalian tidak bareng. Ngomong ngomong hari ini aku lihat kamu lagi senang? Ada apa jin?" tanya soji.
"Tidak ada apa apa. Memang aku terlihat seperti orang lagi bahagia? Aku kan emang begini adanya." jawab jin.
"Iya si. Kamu memang selalu ceria, cuma beda aja gitu." balas soji.
"Bedanya dimana coba?" tanya jin.
"Iya beda aja. Kemarin kamu gak seceria ini." jawab soji.
"Oh itu. Kemarin kalian tahulah." balas jin.
jin dan yang lain kembali diam, tak ada lagi yang memulai pembicaraan.
Di tempat zyan. Zyan sudah selesai dari toilet dan berjalan kembali kekelas. Di lorong sekolah, Zyan berpapasan dengan shion yang akan ke kantin.
Keduanya saling berpandangan, zyan menatap shion dengan tajam, sedang shion hanya menatap sedih zyan.
Saat keduanya dekat, shion dan zyan berhenti sejenak tanpa saling menoleh satu sama lain.
"Zy.." panggil shion.
Zyan mengerti maksud panggilan shion padanya.
"Jangan ikut campur urusanku!!" bisik zyan, pelan namun tajam.
"Zy, aku mohon berhenti. Jangan sampai salah jalan." bisik shion.
"Aku sudah berjalan di jalan yang benar. Dan kau sebaiknya berhenti menasehatiku. Itu tidak akan mengubah keputusanku." balas zyan lalu pergi.
Shion hanya bisa menatap punggung zyan yang menjauh dengan pandangan sedih.
__ADS_1
Ingin sekali shion menarik zyan dari balas dendamnya, tapi zyan tetap memilih untuk balas dendam. Meski jalan yang zyan tempuh penuh resiko.