Pembalasan Mawar Hitam

Pembalasan Mawar Hitam
comeback 8


__ADS_3

"Jin, zyan bisa kita bicara bertiga sebentar?" tanya elena, dengan nada serius.


Jin melirik ke arah zyan. Jin tidak tahu harus jawab apa karna itulah jin melirik zyan berharap zyan yang akan menjawabnya.


"Zy." panggil jin.


Zyan bangun dan membawa piringnya dan piring jin ke depan untuk dikumpulkan. Tanpa berkata apapun, zyan melewati elena begitu saja.


Elena hanya bisa memandang zyan dengan pandangan sedih.


"Jin, ayo." kata zyan setelah menaruh piringnya.


Jin tahu maksud zyan, dia ikut bangun dari duduknya dan menghampiri zyan. Zyan dan jin jalan duluan, elena yang tak mengerti maksud zyan, hanya terdiam mematung.


Saat jin baru berjalan berapa langkah, dia berhenti karna jin merasa elena tidak ikut dengan mereka.


"Zy tunggu. Kak elena kenapa diam saja." kata jin.


Elena langsung tersadar dan menghampiri kedua adiknya yang sedang menunggunya.


"Tadi kakak bilang mau bicara dengan kami. Kenapa kau malah diam sana?" tanya jin.


"Kakak tidak tahu kalau kalian bersedia bicara bertiga denganku." jawab elena.


"Tadi zy sudah setuju untuk kita bicara." kata jin.


"Kapan? Kenapa aku tidak dengar?" tanya elena.


"Tadi waktu zy naruh piring, dia udah setuju untuk bicara makanya tadi zy mengajakku pergi." kata jin.


Elena terdiam, dia sama sekali tidak paham dengan sikap zyan. Elena pikir zyan tidak mau berbicara dengannya dan memilih untuk menghindari elena seperti biasa.


Elena heran dengan jin yang bisa begitu paham dengan maksud tingkah zyan.


Akhirnya mereka sampai dihalaman asrama. Zyan duduk disalah satu kursi disana dan diikuti jin disampingnya. Elena pun ikut duduk.


Sejenak tak ada yang bicara, baik elena ataupun zyan dan jin. Zyan menatap tajam mata elena dan elena membalasnya dengan pandangan sedih.


"Ne, kak apa yang ingin kau bicarakan dengan kami?" tanya jin, memecah keheningan.


"Jin, zyan. Kakak ingin meminta maaf soal kemarin. Kakak sudah salah, karna memarahi kalian tanpa tahu apa yang terjadi." kata elena.


Jin cukup terkejut mendengarnya, dia jadi tak enak hati pada elena.


"Itu juga salah kami. Kami juga minta maaf atas kesalahan yang sudah kami lakukan. Kami tahu kakak khawatir pada kami." balas jin.


Pandangan sayu elena mengarah pada zyan yang terus memasang wajah tanpa ekspresi sedikitpun.


"Dan untuk zyan, kakak sungguh meminta maaf atas kesalahan yang mungkin pernah kakak lakukan tanpa disengaja padamu." kata elena.


Dalam hati elena berharap zyan akan mengatakan alasannya dia berubah. Tapi harapan elena pupus karna zyan tetap diam dan tanpa ekspresi.


Jin juga mengharapkan hal yang sama dengan elena. Zyan masih tidak mau mengatakan yang sebenarnya.


Suasana kembali hening, zyan masih dengan ekspresi dinginnya. Ketiganya sibuk dengan pikiran masing masing, jin sesekali melirik zyan.


Keheningan itu terpecah karna suara ponsel nya yang berbunyi. Zyan mengambil ponselnya yang ada disaku celananya.


Ekspresi zyan berubah saat tahu siapa yang menelponnya. Tanpa pikir panjang, zyan langsung mengangkat telpon itu.

__ADS_1


Jin mengerutkan keningnya melihat ekspresi zyan yang berubah. Jin tahu ada yang tidak beres dengan zyan.


"Ada apa kau menelponku?" tanya zyan tanpa basa basi.


"Maaf tuan zhan, saya mengganggu waktu anda. Saya hanya ingin bicara dengan keponakan saya. Sejak tadi siang dia tidak mengangkat telpon saya, karna itu saya menelpon anda." kata Hiro, paman jin.


"Ada perlu apa kau denganmu?" tanya zyan.


Zyan melirik jin sekilas, elena dan jin Memperhatikan zyan. Jin dan elena penasaran siapa yang menelpon zyan malam malam begini.


"Saya hanya ingin bicara sebentar dengannya. Apa boleh saya bicara dengan keponakan saya, tuan?" jawab Hiro.


"Baiklah, akan aku berikan ponselnya." kata zyan penuh penekanan


"Baik tuan." jawab Hiro.


Zyan memberikan ponselnya pada jin. Jin menerimanya dengan ekspresi bingung.


"Zy, siapa?" tanya jin.


"Lihat sendiri." jawab zyan.


Lalu jin melihat nama yang tertulis di ponsel zyan, jin sangat terkejut dan jin menjadi ketakutan setelah tau paman nya yang menelpon.


"Ha.hallo.. Paman" sapa jin.


Elena langsung terkejut mendengar jin menyebut paman dengan ekspresi wajah ketakutan.


"Hei jin. Bagaimana kabarmu, keponakanku?" tanya Hiro dengan ramah.


"Ka..kabar ku..baik paman." jawab jin.


Jin terdiam, jin tidak tahu harus jawab apa. Nada bicara pamannya berubah menjadi ramah padanya. Jin melirik zyan yang sedang duduk sambil melipat kedua tangannya dan memejamkan matanya.


"Kenapa diam saja? Kamu sakit?" tanya Hiro.


"Aku baik baik saja, paman." jawab jin.


"Oh syukurlah kalau begitu. Ya sudah paman tutup dulu telponnya. Salam untuk tuan zhan." kata paman.


Jin mengembalikan ponselnya pada zyan. Jin masih mencoba mencerna perkataan pamannya. Jin melirik zyan yang masih diam, dan setelah mencerna semuanya, jin mulai paham kenapa pamannya bisa berubah baik padanya. Karna zyan, pamannya berubah baik.


"Ada apa jin? Siapa yang menelpon?" tanya elena.


"Pamanku kak." jawab jin.


"Apa yang katakan? Apa dia mengancammu lagi?" tanya elena.


"Tidak, paman hanya menanyakan kabar ku saja." jawab jin.


"Syukurlah," kata elena.


Elena merasa curiga dengan jawaban jin, tidak mungkin pamannya tiba tiba bersikap baik pada jin.


"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa paman hiro bisa bersikap baik pada jin? Apa jin menyembunyikan sesuatu? Tapi jika dilihat dari sikap jin yang tenang, tidak mungkin jin menyembunyikan sesuatu. Atau mungkin paman Hiro sedang mendekati jin agar bisa mendapatkan semua harga ayah? Jika memang begitu, tidak bisa aku biarkan." gumam elena dalam hati.


Zyan melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukan pukul 7.55 menit. Zyan bangun dari duduknya, jin terkejut melihat zyan yang tiba tiba bangun.


"Zy-kun kamu mau kemana?" tanya elena.

__ADS_1


"Mengerjakan tugas." jawab zyan.


Mendengar perkataan zyan, jin ikut berdiri. Jin tahu maksud zyan mengatakan demikian. Bagi jin itu seperti kode kalau zyan akan beraksi.


"Jin juga mau belajar?" tanya elena.


"Iya kak. Kami kembali kekamar dulu." jawab jin.


"Baiklah, kalian kembalilah. Belajar yang rajin ya." kata elena.


"Iya kak." balas jin.


Zyan dan jin langsung bergegas kembali kekamar mereka. Jin tak berkata ataupun bertanya apapun pada zyan. Keduanya sudah sampai dikamar dan langsung mempersiapkan segalanya.


Jin mengunci pintu kamar, sedangkan zyan menyiapkan tali untuk mereka turun. Selesai menyiapkan semuanya, zyan dan jin menuruni tali sampai kelantai bawah.


"Zy, apa target sudah diketemukan?" bisik jin.


"Belum. Kita akan mencarinya." balas zyan.


Setelah melewati pintu rahasia, zyan dan jin berjalan kaki sedikit menjauh dari asrama menuju mobil.


Keduanya segera masuk kedalam dan mobil itu langsung melaju dijalan menuju markas besar mawar hitam.


Sampai disana, zyan langsung menyalakan motor ninjanya. Jin tak mau ketinggalan, dia langsung membonceng dibelakang.


Zyan langsung melaju kan motornya dijalan, menyusuri jalan mencari target mereka yang kemarin lepas. Zyan terus melaju mengelilingi kota, sampai salah satu anak buahnya memberinya kabar.


"Master, target terlihat" kata bawahan zyan lewat telpon.


Mendengar target terlihat zyan langsung menghentikan motornya, jin terkejut karna zyan tiba tiba berhenti.


"Zy ada apa? Kenapa mendadak berhenti?" tanya jin.


Zyan tak menjawah pertanyaan jin dan malah bertanya pada bawahannya.


"Dimana dia sekarang?" tanya zyan.


"Di salah satu bangun di pinggiran kota. Bangunan itu terlihat seperti gudang beras." jawab bawahan zyan.


"Baiklah. Terus awasi. Aku akan segera kesana." kata zyan.


Tanpa menunggu jawaban dari zyan, jin sudah mengerti alasan zyan berhenti mendadak. Zyan kembali menyalakan motornya, jin langsung memeluk pinggang zyan erat dan motor zyan kembali melaju dengan kecepatan tinggi.


Sampai di bangunan yang dimaksud bawahan zyan. Nya dan jin segera memarkirkan motornya cukup jauh dari lokasi.


"Turun. Kita akan segera menangkap ikan besar itu." kata zyan.


"Yosh. Tapi zy, kita harus berhati hati karna kita tidak tau apa yang ada didalam." kata jin.


"Iya aku mengerti." balas zyan.


Zyan dan jin berjalan mengendap ngendap agar tidak diketahui oleh target. Zyan dan jin melihat banyak sekali orang orang disana dan sepertinya mereka sedang membereskan berapa barang barang.


"Siapkan senjatamu." bisik zyan.


Jin mengangguk kan kepalanya dan mempersiapkan pistol nya.


Zyan bergerak mendekat perlahan dan jin mengikuti zyan dari belakang. Zyan tetap siaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

__ADS_1


__ADS_2