
"Lo yakin sha mau balik ke Indonesia?" Tanya Kak Sendy.
Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataannya. Kami berdua sedang menunggu jadwal penerbangan pesawat menuju Indonesia. Ya, hari ini aku kembali ke Indonesia bersama orang ini. Kak Sendy memang sudah jadwalnya untuk kembali ke Indonesia karena pekerjaannya disini sudah selesai. Tapi tunggu dulu selama disini aku belum menemui Renata. Dengan agak ragu aku mulai membuka suara.
"Kak."
"Iya ada apa."
"Renata."
"Udah gak usah bahas dia lagi."
"Tapi kak, lo gak bisa ninggalin dia gitu aja. Lo itu seseorang yang berarti banget buat dia. Lo orang yang bikin dia tetap bertahan hidup sampai hari ini."
"Kesambet apaan lo?" Tanya pria itu sambil memegang jidatku.
"Apaan sih kak. Gua serius." Ucapku sambil berusaha menyingkirkan tangannya.
"Gua juga serius." Balasnya dengan nada ketus kemudian tiba-tiba menarik tubuhku ke dalam dekapannya.
Aku hanya bisa mematung. Ia merangkul bahuku, sementara kepala ku berada di pundaknya seolah tersandar. Kemudian ia menyandarkan kepalanya tepat di atas kepalaku. Jantungku sudah tak beraturan lagi temponya benar-benar kacau, berantakan.
"Serius apa." Tanyaku dengan gugup.
Tanpa berkata-kata lagi, ia mengecup puncak kepalaku dengan spontan. Lalu mengacak-acak gemas rambutku.
"Haha, dasar lugu." Ucapnya.
Aku masih tak mengerti dengan situasi ini. Sebenarnya aku yang lugu, atau dia yang terlalu bodoh.
***
Harusnya sekarang kami telah berangkat. Tapi karena cuaca buruk dan ada badai di sekitar kota Kyoto, maka penerbangan harus di tunda beberapa jam lagi.
"Sha, kayak nya lo harus terbang duluan deh. Kita gak bisa terbang bareng." Jelas pria itu.
"Maksudnya?"
"Iya, jadi karena banyak yang komplain akibat penundaan jadwal penerbangan. Jadi pihak Bandara tetap melakukan penerbangan sesuai jadwal. Cuma karena harus ganti rute perjalanan, biar selamat jadi penumpang nya di rename lagi. Ya bisa di bilang penumpang di pecah ke pesawat yang lebih kecil."
"Terus?"
"Jadi setelah gua liat list nama-nama penumpang nya, kita gak satu pesawat. Gua di pesawat yang terbang terakhir kalau gak salah."
"Yahhh, gak seru dong."
"Lo mau balik ke Indonesia dengan selamat atau enggak?"
"Ya mau sih. Tapi masa harus pisah."
__ADS_1
"Yaudah sana ke gate. Kayaknya pesawat lo udah mau berangkat."
"Yaudah deh. Bye!"
"Eh tunggu."
Pria itu bergegas menarik lenganku yang hendak beranjak dari tempat itu. Tak bisa ku tangkap dengan jelas raut wajahnya. Ia terlalu rumit, terlalu sulit untuk dipahami oleh orang sepertiku.
"Hati-hati ya." Ucapnya dengan nada sedikit bergetar.
"Kakak kok nangis?"
"Ah? Enggak kok cuma kelilipan."
"Udah lah jangan cengeng. Cuma karena kita enggak satu pesawat?"
"Ya artinya gua gak bisa jagain lo dong sha."
"Udahlah aku bisa jaga diri kok. Kakak nanti juga hati-hati ya. Sampai ketemu di Indonesia." Ucapku mengakhiri obrolan.
Kedua sudut bibirku terangkat membentuk sebuah senyuman tipis. Kemudian aku segera pergi menuju gate.
***
Aku meremas-remas tali tas selempangku. Ada sesuatu yang tak beres. Perasaanku terus merasa was-was. Apa hal buruk akan terjadi? Ku harap tidak. Mungkin aku masih kepikiran soal badai yang akan membahayakan penerbangan kami. Aku mencoba untuk bersikap tenang. Aku mengasumsikan diriku bahwa kami akan baik-baik saja. Lagipula pihak bandara telah mengganti rute perjalanan sementara untuk menghindari badai itu. Aku menyandarkan tubuhku di kursi sambil memutar lagu kesukaanku di ponsel dengan earphone tentunya.
***
"Sha, ini gua baru mau berangkat. Doain gua ya semoga selamat sampai tujuan."
Sekitar sejam yang lalu ia mengirim pesan itu. Kemungkinan ia akan sampai disini sekitar satu jam lagi. Karena harusnya pesawat Kak Sendy masih melewati rute darurat itu, dan rute itu hanya memakan waktu sekitar dua jam.
"Permisi mbak boleh saya duduk disini?" Ucap seorang perempuan yang tiba-tiba datang menghampiriku.
"Oh boleh silahkan mbak."
Aku mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Renata?" Ucapku tak percaya.
Ia yang tampaknya juga tak percaya buru-buru menghindari ku. Aku segera menarik lengannya. Mencoba menenangkannya agar ia mau mendengarkan sedikit penjelasan dariku.
"Dengerin gua dulu nat." Ucapku
"Apa yang perlu gua dengerin dari lo!"
"Oke jujur gua suka sama Kak Sendy dan gua udah jadi pengagum rahasia dia selama bertahun-tahun. Dan mungkin gua gak mengenal dia sebaik lo. Tapi gua gak bermaksud ngerebut Kak Sendy dari lo. Gua tau diri kok nat. Gua cuma di takdirkan untuk jadi pengagum rahasia nya doang. Gak lebih. Mungkin kalau gua bisa nulis ulang takdir gua. Gua mungkin bakal milih lebih dari itu. Tapi gua gak mau. Karena ada orang yang lebih berhak untuk berada disampingnya. Dan itu lo, bukan gua. Kak Sendy mungkin pilihan gua, tapi belum tentu dia jodoh gua."
"Sha, cinta sejati itu bukan tentang seberapa lama kita mengenal. Tapi tentang siapa yang bertahan hingga akhir."
"Dan itu lo kan nat?"
__ADS_1
"Bukan, itu bukan gua. Itu lo."
"Sebesar apapun usaha yang dilakukan, kalau memang tidak di takdirkan ya tidak akan kejadian."
"Lo adalah orang yang selama ini di takdirkan tuhan buat Kak Sendy."
"Gua harap juga gitu nat. Tapi gua ga bisa ngelawan takdir."
"Maksudlo?"
"Nanti lo juga bakal tau kok nat. Enggak perlu gua jelasin sekarang."
Sebenarnya aku tak yakin jika aku ditakdirkan bersama seseorang yang selama ini begitu ku kagumi. Bahkan aku tak tahu apakah aku masih bisa bertahan hidup hingga hari bahagia itu atau tidak. Penyakit vertigo yang ku derita membuat harapan hidupku semakin kecil. Ia benar-benar merenggut semua bahagiaku, mimpi besarku dan semua hal yang ku inginkan.
"Perhatian kepada seluruh calon penumpang agar memberikan jalan bagi para petugas medis. Terimakasih."
Suara itu terdengar dengan jelas dari pengeras suara di setiap sudut ruangan itu. Semua orang disana kebingungan, sebenarnya apa yang terjadi.
"Citttttt..."
Suara derit yang terdengar begitu nyaring hampir memekakkan telinga kami. Aku berlari menuju dinding kaca yang mengarah langsung ke landasan pesawat. Ada pesawat yang mendarat lebih cepat dari waktu yang diperkirakan sebelumnya dan dengan kondisi sayap bagian kanan telah putus karena tergesek di landasan. Apakah pesawat ini sedang mendarat darurat? Tapi kenapa?
"Itu pesawat terakhir yang terbang dari Jepang setelah memutuskan untuk tetap terbang di tengah badai itu kan?"
"Tapi aku dengar mereka memutar jalur untuk menghindari badai itu."
"Lalu kenapa mereka bisa mendarat darurat seperti ini? Harusnya mereka selamat kan?"
"Harusnya begitu. Semoga saja tidak ada korban jiwa."
"Aku juga berharap seperti itu."
Aku sempat mendengar beberapa selentingan dari orang-orang di sekitarku. Mereka bilang itu adalah pesawat terakhir yang terbang dari Jepang setelah badai. Itu artinya... Oh tidak. Jangan bilang itu pesawat yang ditumpangi Kak Sendy. Pasti mereka salah informasi. Pasti itu bukan pesawat Kak Sendy. Perasaanku mulai cemas tak karuan. Apa firasat ku tadi benar-benar terjadi.
Aku bingung harus melakukan apa ditengah keramaian ini. Perasaanku juga sudah tak karuan. Beberapa petugas medis yang lewat di depan kami sambil menggotong tandu, memecah riuh suasana, membelah lautan manusia yang sebagian tampak khawatir. Tampak beberapa ambulans datang dengan kecepatan tinggi menuju arah pesawat yang telah terhenti secara paksa itu. Mereka tampak telah mengevakuasi beberapa penumpang di pesawat. Aku tak bisa melihat dengan jelas apakah disana ada Kak Sendy atau tidak. Disana terlalu ramai. Banyak kerumunan orang disana. Dan pastinya bukan sembarang orang bisa mendekat kesana, hanya petugas bandara dan petugas medis. Tanpa pikir panjang aku segera menghampiri salah seorang pegawai di bandara yang dari perawakannya bisa di pastikan bahwa ia adalah seorang pramugari.
"Mbak permisi kalau boleh saya tau, kemana para korban akan di bawa ya mbak?"
"Kalau tidak salah ke RS. Medika mbak."
"Baiklah terimakasih banyak mbak."
"Renata, gua nitip koper gua ya. Nanti kalok lo udah mau terbang, kirimin aja pakai ojek online ya. Gua mau ke RS. Medika. Gua minta tolong ya nat."
"Lo kenapa sha?"
Aku segera meninggalkan tempat itu untuk menuju ke Rumah Sakit Medika. Aku mempercepat langkahku hampir berlari tanpa berniat menggubris pertanyaan Renata. Sesekali menghapus air mataku yang dengan lancangnya menetes tanpa seizin ku.
__ADS_1