
Aku melirik ke arah jam dinding yang tergantung di sisi dinding sebelah sana. Jarum jam nya sudah menunjukkan jam tiga pagi. Terakhir kali aku terbangun tadi adalah jam 2 dini hari. Sudah hampir satu jam sejak kejadian itu berlalu, dan sampai sekarang aku belum bisa tertidur. Aku tak bisa berbuat apa-apa sekarang ini. Aku tak tahu berapa lama lagi aku harus tetap menahan kedua kelopak mataku agar tetap terbuka seperti ini. Beberapa kali pertahananku sempat melemah dan aku nyaris saja kembali terlelap. Sebenarnya aku tak ingin hidup dengan ketakutan ini. Aku tak bisa berhana di tengah-tengah dunia yang berusaha menindasku secara tak langsung. Aku sungguh ingin kembali tertidur, tapi aku juga tak ingin jika diriku harus terjebak sekali lagi di tempat itu.
Tiba-tiba saja aku teringat pada satu hal. Aku segera mengambil ponselku yang saat itu masih dalam keadaan mati. Aku menancapkannya dengan sembaran pada sebuah stop kontak yang ada di sana, ketika secara tak sengaja aku menemukan adaptor dan kabel USB yang bisa ku gunakan untuk mengisi ulang daya ponsel milikku. Aku hanya bisa menunggu baterai poselku terisi setengahnya, sambil harap-harap cemas.
Aku harus segera menghubungi Ahn Yoo Ra malam ini juga. Aku sedang dalam masalah besar, dank u harap hanya dia satu-satunya orang yang bisa membantuku saat ini. Semoga saja gadis itu belum tertidur pada jam segini. Aku tak bisa terus-terusan terjaga seperti ini sepanjang malam. Bahkan para kelelawar juga perlu tidur pada siang hari.
“Tidak bisakah ia terisi lebih cepat?!” gerutuku kesal.
Karena tak sabaran, aku memutuskan untuk melepas arus daya nya dan menghidupkan benda itu kembali. Saat itu baterainya hanya terisi tujuh belas persen. Ini tak akan bertahan lama, jadi aku harus memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Aku benar-benar dibuat kerepotan oleh masalahku sendiri. Aku sungguh tak bisa hidup tanpa ponsel seperti sekarang ini. Untuk di saat-saat genting seperti ini, hanya benda kecil itu yang mampu menyelamatkanku. Hanya dengan itu aku bisa terhubung dengan dunia luar.
Setelah benda persegi itu menyala, aku segera menuju ke menu kontak dan memutuskan untuk menghubungi Ahn Yoo Ra. Aku merasa sedikit lebih lega ketika tahu jika panggilanku telah tersambung dengannya dan kini ponsel gadis itu tengah berdering. Aku menggigit-gigit bibir bawahku. Aku benar-benar khawatir jika sampai ia tak mengangkat teleponku. Hanya dia harapanku satu-satunya untuk saat ini. Bahkan jika ia tak akan mengangkatnya kali ini, akan ku coba untuk terus menghubunginya sampai ia mengangkat panggilan masuk dariku.
“Halo?!” sahut sebuah suara dari seberang sana.
“Lo kemana aja sih? Kok jam segini belum pulang ke asrama?” lanjutnya dengan begitu saja.
Ia bahkan tak memberiku kesempatan untuk berbicara seditkipun. Lalu bagaimana caraku menjelaskan semua yang terjadi padaku hari ini jika ia terus-terusan bersikap seperti ini. Aku menarik napaskud alam-dalam, kemudian memotong kalimatnya secara tiba-tiba. Aku tak peduli lagi dengan apa yang ia katakan. Aku tak perlu mendengar ocehannya lagi. Bukan itu tujuan utamaku untuk mneleponnya.
“Kecilin suara lo!” ucapku sembari memperingatkannya.
Jika sampai Arka mendengar pembicaraan kami, ia pasti terbangun. Aku tak ingin mendegar satu kalimat pun yang berupa pertanyaan yang terlontar dari mulutnya. Ia hanya akan semakin membuatku kesusahan untuk mencari jalan keluar. Jadi semoga saja aku dan Ahn Yoo Ra tak sampai membangunkannya.
“Lo udah singkirin kalungnya?” tanyaku dengan hati-hati.
“Belum.” jawabnya ranpa basa-basi lagi.
“Kenapa?!” tanyaku sekali lagi.
“Lo tau nggak, gue hampir enggak bisa keluar lagi dari tempat itu. Tapi kali ini gue beruntung. Dan gara-gara itu gue rela enggak tidur sampai sekarang.” jelasku dengan panjang lebar.
“Itu dia masalahnya, gue enggak bisa nyingkirin kalung itu sendiri.” ujarnya.
Aku hanya bisa tertegun lemas mendengar semua itu. Kenapa kali ini aku harus terlibat lagi. Apa ia tak bisa melakukan semua itu sendirian. Pikiranku saat ini semakin tak karuan setelah mendengar ucapannya barusan. Aku tak bisa terus-terusan hidup di dalam ketakutan seperti ini.
“Sekarang gue lagi ada di rumah Arka.” ujarku.
“Tadi gue ketiduran pas lagi di bis.” lanjutku.
“Terus kenapa lo nelpon gue selarut ini?” tanya gadis itu.
“Lo sendiri kenapa masih belum tidur di jam segini?” tanyaku balik.
“Kita berdua sama-sama udah tau alasannya. Jadi jangan tanya pertanyaan yang sama lagi tiap kali kita ngobrol.”jelasku tak ingin buang-buang waktu.
“Kita bisa ketemu di taman nggak?” tanyaku.
“Jam segini?” tanya Ahn Yoo Ra balik.
“Iya.” balasku dengan singkat.
“Oke, gue tunggu lo di sana.” balasnya kemudian segera menutup teleponnya.
Aku juga lantas mengakhiri panggilanku, sesaat setelah ia memutuskannya terlebih dahulu. Aku segera keluar dari tempat ini dengan begitu hati-hati. Aku berjalan dengan sangat pelan, hingga nyaris tak membuat suara berisik sama sekali. Aku tak ingin jika kali ini rencana pelarian diriku juga ikut gagal. Tak akan sulit keluar dari sini. Aku tak perlu mengetahui kode kunci rumah ini untuk keluar. Karena hal itu hanya dibutuhkan saat kita masuk ke dalam tempat ini. Rata-rata rumah di Korea selalu seperti itu, karena asrama tempat ku tinggal juga seperti itu.
__ADS_1
Aku bergegas keluar dan melarikan diri sebelum Arka bangun. Aku berlari menuju sebuah lift yang ada si ujung koridor dan kelihatannya itu memang satu-satunya lift yang ada di lantai ini. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera masuk ke sana dan menekan angka satu agar bisa sampai ke lantai dasar bagunan ini. Aku berhasil keluar dari sana dengan mulus dan tanpa hambatan sama sekali, persis seperti apa yang ku harapkan. Setelah sampai di luar gedung tempat itnggal Arka, aku melihat jika jalanan sudah muali sedikit ramai. Beberapa petugas kebersihan juga terlihat sedang membersihkan jalanan. Kendaraan juga mulai ramai kembali. Sepertinya aku akan aman-aman saja jika berjalan sendirian di kota pada jam segini.
Aku mengamati jalanan di sekitarku, untuk memastikan dimana lokasiku saat ini. Setelah benar-benar yakin, akhirnya aku tahu harus melewati jalanan yang mana untuk menuju ke taman. Ternyata tempat tinggal pria ini lumayan jauh dari asramaku. Tapi untungnya tak terlalu jauh dari taman yang ku maksus tadi.
Aku segera bergegas menuju ke taman. Ahn Yoo Ra pasti sudah sampai lebih dulu di sana. Aku tak ingin membuatnya menunggu. Aku merapatkan jaketku agar hawa dingin tak masuk. Aku semakin mempercepat langkahku, hampir berlari. Meskipun jalanan semakin ramai, aku tak boleh lengah sedikitpun. Bahaya bisa datang dan mengancamku kapan saja. Tetap waspada akan membuatku aman.
Sesekali aku melihat ke sekian, memastikan jika situasi saat ini aman. Meskipun begitu, aku tetap saja merasa khawatir. Padahal tak biasanya aku bersikap seperti ini. Aku merasa seperti ada seseorang yang sedang menguntit diriku. Tapi setelah dilihat kembali, tak ada siapa-siapa di sini. Apa aku menjadi paranoid karena kejadian aneh yang sering ku alami beberapa hari belakangan ini.
Belum sempat aku menjauhkan pikiran buruk itu, tiba-tiba saja sesuatu yang buruk kembali menimpaku. Sepertinya intuisi ku memang tak pernah salah dalam mengamati keadaan. Ia selalu memberitahuku semua kejadian yang akan terjadi di masa depan pada waktu yang lebih awal. Hanya saja aku selalu meremehkannya dan baru menyesal saat hal itu benar-benar terjadi.
Tiba-tiba saja seseorang menyergap ku dari belakangnya dan membungkam mulutku. Ia menarikku ke suatu jalanan yang tak terlalu ramai. Ia benar-benar telah menyudutkan ku saat itu. Mengunci sasarannya tepat padaku dan tak membiarkannya lepas dengan mudah. Seharusnya tadi aku percaya kepadanya dan berlari sekuat tenaga ketika merasa terancam.
"Eresha..." ucapnya.
Aku lantas mendongakkan kepalaku.
"Lo kemana aja?" tanya pria tersebut dalam bahasa Korea.
Aku menghela nafas panjang. Merasa lega sekaligus kesal. Ternyata orang ini adalah Hwang Jeongin. Dia teman satu kampus juga satu asrama denganku. Maksudku kami tinggal satu gedung saat ini. Ia tinggal di lantai paling bawah.
Aku masih tak habis pikir bagaimana semua orang mempunyai hobi yang sama. Kenapa mereka semua selalu melakukan semua hal secara tiba-tiba seperti ini dan membuatku mati ketakutan. Aku sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran mereka semua. Apakah tidak bisa jika mereka memberitahukannya padaku terlebih dahulu, atau paling tidak memperingatkanku jika mereka akan mengejutkanku. Setidaknya aku tak akan sekacau ini. Bagaimana jika tiba-tiba jantungku berhenti berdetak karena ulah mereka semua. Aku tentu tak ingin mati di usi muda seperti ini. Banyak hal yang belum ku capai. Jika kekacauan yang sebenarnya sudah terjadi, lalu siapa yang pantas untuk disalahkan? Apakah aku? Tidak! Aku adalah korbannya di sini. Mereka tak punya hak sedikitpun untuk membuatku cukup terlihat bersalah.
"Ngapain sih jam segini di sini!" bentakku.
Aku menghentak-hentakkan kakiku kesal. Aku sungguh merasa geram dengan mereka semua. Saat ini benar-benar terlihat seperti orang bodoh. Aku mati ketakutan dengan semua hal yang berada di sekitarku saat itu. Padahal aku tahu jika mereka tak mengancam sama sekali. Mereka tak berpotensi untuk menyerang.
"Gue denger dari Amel kalau Lo belum balik ke asrama. Amel bilang lo keluar dari tadi pagi dan enggak pulang-pulang sampai sekarang." jelasnya dengan nada santai.
"Terus kenapa lo ngagetin gue di sini dan pada jam segini?!" tanyaku sekali lagi sambil mendengus kesal.
"Tadinya gue abis dari kampus dan mau mampir ke convience store di dekat sini. Terus gue malah ketemu sama lo. Dan gue pikir itu hal yang bagus kalau gue nemuin lo di sini." jelasnya dengan panjang lebar.
Aku mengacak-acak rambutku, kesal dengan semua hal yang terjadi saat ini.
“Tadi Amel ngasih alasn ke petugas patrolinya kalau lo masih di kampus buat nyelesaiin tugas.” lanjutnya.
Aku menarik napasku dalam-dalam, berusaha untuk meningkatkan level kesabaranku. Aku tak ingin emosiku malah meledak-ledak di saat yang tidak tepat seperti ini. Aku tak ingin membuat orang lain menjadi sasaran kemarahanku. Aku tak ingin melampiaskan semua kekesalanku kepada orang yang tak bersalah. Aku harus bisa mengontrol emosiku di saat seperti ini.
“Mendingan sekarang lo buruan balik ke asrama, ini udah mau pagi.” ujarku.
“Terus lo sendiri mau kemana? Lo enggak balik ke asrama emangnya?” tanya pria itu.
“Bukan urusan lo gue mau kemana untuk saat ini.” balasku acuh tak acuh.
“Berhenti buat ngikutin gue kayak seorang penguntit dan jangan halangi langkah gue.” jelasku tepat di hadapannya.
“Oke? Udah ngerti kan?” lanjutku.
“Sekarang mendingan lo minggir dan biarin gue pergi dari sini sekarang juga!” perintahku.
Aku segera melangkah pergi dari sana, bahkan tanpa perlu persetujuan darinya. Aku bahkan tak butuh mendengar jawabannya saat itu. Tapi lagi-lagi tiba-tiba saja ia menarik tanganku. Kali ini cengkramannya benar-benar kuat dan itu terasa begitu menyakitkan. Kenapa ia berubah jadi kasar seperti ini? Apa ia sadar kalau apa yang telah dilakukannya barusan itu telah menyakitiku. Pria macam apa dia yang berani-beraninya bermain kekerasan dengan seorang wanita.
“Lepasin nggak?!” ujarku sembari berusaha menyingkirkan tangannya.
“Kalau gue enggak mau, lo mau apa?” tanya pria itu sambil tersenyum licik.
Sampai sini aku sudah tahu bagaimana sifat aslinya. Ternyata selama ini ia melakukannya dengan begitu baik. Ia menutupinya dengan apik sampai tak ada seorangpun yang pernah menyadari hal ini. Tak ada satu orangpun yang tahu betapa kasarnya pria ini di balik tampang sok baik yang selama ini ia tunjukkan kepada orang-orang. Tapi sepertinya kali ini ia telah berbuat ceroboh dengan menunjukkan sisi buruknya yang satu itu kepadaku. Aku bisa melakukan apa saja yang aku mau dengan memanfaatkan situasi ini. Tapi itu tak akan ku laukukan sekarang. Aku akan menunggu sampai waktunya tepat. Bukankah bom juga akan meledak jika waktunya telah tiba? Maka seperti itulah diriku saat ini.
__ADS_1
“Jadi mau lo apa sekarang?” tanyaku tanpa basa-basi lagi.
Bagaimanapun juga, aku harus segera tahu kemana dan bagaimana ia akan menjalankan permainannya kali ini.
“Cukup sederhana dan lo enggak perlu banyak tenaga untuk ngelakuin hal itu kok.” jelasnya.
“Lo harus balik ke asrama sekarang juga dan bilang ke Amel kalau gue yang udah nyelamatin lo dari jalanan.” jelasnya dengan panjang lebar.
“Kalau lo berusaha buat dapetin simpati seseorang dengan cara seperti ini, lo udah salah besar.” balasku.
“Lo boleh bermain apik, tapi jangan sampai orang lain tahu sesuatu yang busuk di dalamnya.” lanjutku.
“Simple aja sih, kalau lo enggak mau juga enggak apa-apa.” balasnya.
Aku mengangkat kedua bahuku sambil menatapnya dengan tatapan seolah sedang merendahkan dirinya. Ia memang pantas untuk diperlakukan seperti itu. Meski ia barusaja berkata seperti itu, aku yakin jika itu bukan bagian akhirnya. Manusia yang satu ini punya jutaan taktik untuk mendapatkan mangsanya. Jika ia pikir kali ini aku bisa menjadi umpannya, maka dia harus tahu kalau itu salah besar.
“Lo boleh aja nolak tawaran gue yang kali ini.” ujarnya sekali lagi.
“Tapi, gue akan pastiin kalau lo enggak akan bisa kembali ke asrama lagi untuk selamanya.” jelasnya.
“Tadinya gue pikir gue bakalan jadi seseorang yang nyelamatin lo dari jalanan di suasana gelap kayak gini. Tapi ternyata justru gue yang harus buang lo ke jalanan ini.” jelasnya sekali lagi.
Ia pikir aku akan takut dengan semua ancaman yan ia berikan kepadaku. Ia telah berhasil melepas pelatuk pistol tersebut dan membuat beberapa peluru keluar dari dalamnya. Tapi sayangnya peluru itu sama sekali tak mengenai dirku. Tembakannya meleset jauh dari target. Ia bisa melakukan apapun yang ia mau, tapi ia juga harus tahu satu hal penting di sini. Aku juga berhak dan bisa melakukan apa saja yang ku mau. Taka da yang bias menghalangiku kecuali takdir tuhan.
“Ada beberapa hal yang perlu lo tau di sini.” ujarku.
“Yang pertama, lo harus buka mata lo lebar-lebar dan liat ke sekitar lo. Sekarang udah pagi dan bukan malam lagi. Gue kira terlalu lama berada di kampus bikin lo kehilangan konsentrasi. Itu sebabnya lo harus buru-buru balik ke asrama dan tidur yang cukup.” jelasku dengan panjang lebar, kemudian menepuk pelan pudaknya.
“Yang kedua……” ucapku.
“Gue sama sekali enggak takut sama semua ancaman lo.” lanjutku.
Saat pertahanannya mulai melemah, aku segera melepaskan cengkramannya dan bergegas pergi dari sana. Ah, sial! Kenapa Hwang Jeongin tiba-tiba datang dan menghambat perjalananku seperti ini. Apa ia sengaja melakukannya? Ah! Pasti aku sudah membuat Ahn Yoo Ra menunggu terlalu lama di sana. Aku harus segera menemuinya.
“Cuma satu hal yang perlu lo tau sha! Gue akan buktiin semua ucapan gue tadi!” teriaknya dari kejauhan.
Tapi semua yang ia lakuakn itu kelihatannya selalu berahir sia-sia. Semua omong kosong itu tak berarti apa-apa bagiku. Bahkan jika benar ia akan melakukan itu, aku masih bisa hidup di tempat lain. Ia pikir siapa dia sampai berani-beraninya mengusik hidupku.
__ADS_1