Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 49


__ADS_3

"Kringgg!!!"


Suara alarm sialan itu membangunkan ku dari alam bawah sadar ku. Aku segera bangkit dari posisiku, menjadi posisi duduk. Aku melihat mendapati Stefani yang  masih tertidur pulas di sampingku.


Aku meraba meja kecil di sebelah ranjang ku untuk mencari sumber suara tersebut. Meski aku sudah bangun, tapi mataku masih enggan terbuka. Aku sangat payah di pagi hari seperti ini.


Jam alarm menunjukkan pukul setengah enam. Sial! Aku terlambat tiga puluh menit dari biasanya. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, aku berusaha melawan rasa kantukku.


Aku segera membangunkan Stefani dengan mengoncang-goncangkan tubuhnya. Aku tahu ia pasti sangat lelah karena kejadian kemarin malam. Sebenarnya aku juga tidak tega untuk membangunkannya, ia terlihat begitu kelelahan. Tapi aku lebih tidak tega lagi jika ia harus dihukum karena terlambat masuk kelas.


"Stef! Bangun!" Seruku dengan nada yang agak tinggi.


Setelah Stefani mulai merespon kata-kata ku, aku segera membuka tirai penutup jendela dan membiarkan cahaya matahari masuk menerobos kamarku.


Stefani mendudukkan badannya di atas kasur. Sesekali ia terlihat mengusap kasar matanya. Setelah merasa lebih baik, ia segera membereskan tempat tidur dengan inisiatifnya sendiri.


Dengan langkah yang terhuyung-huyung aku berjalan keluar menuju ke kamar Renata untuk mandi. Sesekali aku juga mengandalkan dinding sebagai penunjuk jalan di saat pandanganku tak begitu jelas.


Semenjak Renata pergi, ia menitipkan kunci kamarnya kepadaku. Entah apa yang membuatnya begitu percaya terhadapku.


"Kakak hari ini aku pinjam kamar mandi mu sebentar ya..." Gumam ku dalam hati.


Sementara Stefani memakai kamar mandi milikku. Akan memakan banyak waktu jika kami memakai kamar mandi yang sama secara bergantian. Mengingat aku sudah telat tiga puluh menit. Tapi aku tak ingat persis sudah berapa kali aku menunda alarm tersebut.


***


Hari ini aku dan Stefani tak sempat sarapan. Kami harus mengejar bis kota lebih awal jika ingin sampai di sekolah tepat waktu. Biasanya saat masih pagi seperti ini, angkutan umum belum terlalu padat. Jadi kami bisa duduk dan tidak harus berdiri sambil berdesak-desakan dengan orang lain.


"Bi, kita pergi dulu ya bi..." Ujarku sambil mengeratkan tali sepatuku.


Tak ada sahutan yang ku dengar dari dalam. Mungkin bibi sedang sibuk beberes di dapur. Akhirnya aku dan Stefani memutuskan untuk langsung pergi saja. Kami berjalan dengan langkah cepat dan lebar, nyaris seperti berlari.


"Tugas udah selesai?" Tanyaku pada gadis itu.


Mengingat dahulu ia sering mengerjakan tugas di sekolah sebelum jam pelajaran. Jika ia terlambat seperti sekarang dan belum sempat mengerjakan tugas, bisa habis dia.


Kami sedang menunggu bis berikutnya yang akan segera datang di halte dekat kompleks. Jadi sebenarnya masih ada waktu baginya untuk menyelesaikannya jika belum selesai.


"Udah dong..." Jawab Stefani dengan percaya diri.


Semenjak aku sering mengerjakan tugas saat jam kosong, ternyata Stefani ikut tertular juga olehku. Kami selalu bekerja sama saat mengerjakannya.


Berada di kelas unggulan membawa banyak pengaruh positif kepada kami. Para penghuni kelas ini memang berbeda dari kelas lainnya. Mereka menghabiskan waktu luang dengan buku atau hal-hal lainnya yang lebih bermanfaat. Tak heran jika kemampuan mereka terus bertambah seiring waktu.


Biasanya Stefani selalu tidur di kelas saat jam kosong. Sampai-sampai aku bingung harus mengobrol dengan siapa. Mungkin inilah alasannya kenapa aku dan Stefani di tempatkan di sini. Agar kami bisa berubah ke arah yang lebih baik di tahun ajaran terakhir. Tapi aku tak pernah benar-benar yakin jika tempat ini pantas untuk orang sepertiku.


***


Seperti yang sudah ku duga sebelumnya, sekolah pasti telah ramai. Hanya tersisa lima belas menit lagi sebelum jam pelajaran pertama dimulai.


Karena semua pekerjaan rumah bisa ku pastikan telah beres, begitu juga dengan Stefani. Maka kami bisa berjalan lebih santai sekarang. Kakiku rasanya seperti naik betis karena kejadian tadi pagi. Berlari secara tiba-tiba tanpa pemanasan terlebih dahulu sepertinya membuat otot-otot ku jadi tertarik. Tapi mana mungkin aku harus pemanasan dulu di situasi seperti itu. Hh, dasar gila!


"Ke kantin dulu?" Tawar Stefani.


Aku hanya mengangguk setuju dengan perkataannya barusan. Mungkin aku akan membeli roti atau semacamnya untuk mengganjal perutku yang belum sempat terisi oleh makanan sedikitpun. Aku perlu mengisinya dengan sesuatu, minimal aku punya energi saja untuk berfikir.


"Mbak, roti cokelatnya tiga bungkus." Ujarku kepada penjaga kantin yang tak ku kenal.


Pagi ini yang berjaga di sini berbeda bukan yang biasanya. Jadi aku tak mengenalnya.


"Buset! Lo laper atau kalap sha?" Sorak Stefani kaget.


"Dua-duanya!" Balasku acuh tak acuh.


Aku segera menghampiri lemari pendingin minuman yang tersedia di setiap sudut tempat ini. Hawa dingin yang keluar secara bersamaan saat aku membuka pintunya, membuatku menggigil sejenak. Bagaimana tidak, sementara embun pagi saja belum sepenuhnya hilang. Mentari juga belum menampakkan dirinya seutuhnya.


Aku melihat-lihat sebentar minuman yang di jajakan di sana. Tidak baik jika minum soda pagi-pagi seperti ini. Aku sedikit membungkukkan badanku untuk melihat isi rak paling bawah. Syukurlah ada beberapa kotak susu coklat di sana. Akhirnya aku memutuskan mengambil sekotak susu dan air mineral.


Aku menyesal jika terlambat seperti ini. Uang saku ku sangat cepat habis di saat seperti ini. Itu karena aku tak sempat berbuat apapun tadi. Bahkan sarapan dan air mineral saja harus beli. Padahal galon di rumah masih penuh, dasar aku!


"Mbak sama ini sekalian ya." Ujarku sambil meletakkan minuman itu di meja kasir.


"Memang dasar perut gentong lu sha!" Ejek Stefani.


Aku tak menggubris ucapannya sama sekali. Aku sedang malas berdebat pagi-pagi seperti ini.


"Dua puluh lima dek." Ujar si penjaga kantin yang baru saja selesai menghitung belanjaan ku.


Dengan berat hati aku segera mengeluarkan uang pas untuk membayarnya. Tiba-tiba aku baru teringat satu hal yang membuatku tambah kesal.


"Sial! Kok bisa lupa sih bawa bekal buat nanti siang." Batinku dalam hati.


Aku berdiri lemas di ujung meja sambil menunggu Stefani yang belum selesai. Aku memeriksa persediaan uangku yang tersisa pas-pasan untuk hari ini. Aku menghitung semua pengeluaran ku hari ini. Hanya tinggal dua puluh ribu lagi. Semoga saja masih cukup untuk membeli nasi bungkus untuk nanti siang.


"Yuk!"


Sahut Stefani dari belakang sambil menepuk pelan pundak ku. Aku mengiyakan perkataannya untuk segera menuju ke kelas.


***


"Kok tumben banget sih kalian datangnya lama!" Protes Clara yang saat itu sudah lebih dulu berada di sana sebelum kami.


"Menurut kamu kenapa coba kita bisa lama gini?" Balasku dengan tak semangat.


"Ya kita telat bangun lah." Timpal Stefani.


Aku menarik kursi ku dan segera duduk. Seperti biasanya Arka, Adit dan Titan selalu bersama kemanapun mereka pergi. Kedua pria itu duduk di meja yang terletak di samping kiri ku. Sementara Arka berada di bangkunya sendiri dan menyorotiku dengan tatapan anehnya (lagi).


Aku membuka botol air mineral yang masih tersegel rapat itu. Kemudian meminumnya beberapa teguk. Masih ada sisa waktu sekitar sepuluh menit lagi sebelum kelas di mulai.


"Enggak sarapan lagi?" Tanya Arka saat aku membuka bungkusan roti tersebut.


Aku hanya menggeleng pelan sambil melanjutkan kegiatan ku. Aku menghabiskan makanan itu sambil bermain ponsel tanpa menghiraukan keadaan sekitarku. Belakangan ini aku merasa berbeda.


"Sha, bagi minum dong! Tenggorokan gue seret nih." Ujar Stefani dari belakang sambil menepuk-nepuk pundak ku.


"Enggak mau, ini minum buat sampai nanti siang." Ketus ku tanpa sedikitpun memalingkan wajahku.


"Ini minum punya aku aja."


Tiba-tiba suara itu muncul sesaat setelah aku menolak permintaan Stefani. Aku lantas memutar kepalaku untuk mencari sumber suara tersebut. Kedua bola mataku membulat sempurna ketika mendapati jika pemilik suara itu adalah Titan. Nyaris saja aku tersedak.


Sementara sosok yang di ajak bicara hanya diam terpaku menatap lekat pria itu. Aku tahu persis perasaan gadis itu saat ini. Pasti ia merasa sangat senang sekaligus gugup. Menyadari hal itu aku berusaha menjembatani mereka berdua.

__ADS_1


"Nih minum! Udah untung ada Titan yang berbaik hati, rajin, tidak sombong dan rajin menabung." Ujarku kemudian memberikan botol minum tersebut kepada Stefani.


Stefani segera meneguknya tanpa pikir panjang. Tenggorokannya butuh pertolongan pertama saat ini.


"Terimakasih..." Ujar Stefani sambil tersenyum kaku.


Aku tersenyum miring melihat sahabatku yang begitu berbunga-bunga hatinya sekarang. Ia pasti menjadi lebih semangat saat belajar nanti.


Aku segera menghabiskan sisa makanan ku. Sebentar lagi bel akan segera berbunyi. Setelah itu aku segera membuang sampahnya di tempat sampah yang telah di sediakan.


Pelajaran pertama untuk hari ini adalah Fisika. Bukan pelajaran yang ku sukai memang. Tapi yang namanya sekolah, kita harus mempelajari semua hal. Baik itu yang kita sukai ataupun tidak.


Aku mengambil beberapa buku dari dalam tasku beserta alat tulis yang ku perlukan. Hingga tiba-tiba aku berhenti sejenak. Terpaku pada posisi yang sama, aku mendadak menjadi cemas tak karuan. Wajahku berubah menjadi pucat pasi, tanganku berkeringat dingin.


"Mati aku!" Batinku dalam hati.


"BAMM!"


Aku membanting kesal kepalaku di atas meja. Bagaimana bisa aku melupakan buku cetak fisika milikku. Padahal rasanya aku telah benar-benar mengeceknya semalam. Aku menggerutu kesal terhadap diriku sendiri. Kenapa belakangan ini aku menjadi begitu payah dalam hal mengingat. Rasanya aku ingin menangis karena kebodohan ku sendiri.


"Kenapa sha?" Tanya Arka.


Aku mendongakkan kepalaku dengan perasaan yang campur aduk. Aku sudah pasrah jika harus di hukum karena lupa membawa buku.


"Kenapa sha?" Tanya Arka sekali lagi.


Aku hanya menggeleng lemah.


Tapi sepertinya hal itu belum menjawab sepenuhnya rasa penasaran Arka. Ia terus menyorotiku sambil berusaha mencari tahu lebih dalam lagi. Bagaimanapun Arka adalah anak yang cerdik, tebakannya selalu benar. Ia selalu beruntung, selalu hoki, Dewi Fortuna suka pada anak ini. Itu sebabnya keberuntungan selalu memihak kepadanya.


"Buku cetak fisika kamu kemana?"


Arka akhirnya menyadari hal itu tanpa perlu ku beritahu. Dengan cepat ia segera mengetahui jika ada sesuatu yang janggal.


"Ketinggalan..." Jawabku pasrah.


"Kok bisa? Terus sekarang gimana? Nanti kamu bisa di hukum."


"Udahlah biarin aja, itu emang udah konsekuensinya. Lagipula aku yang salah, terlalu teledor."


Perlahan tapi pasti, kelas mulai terisi penuh. Keriuhan suasana menjadi hening seketika saat suara bel telah menggema di seluruh penjuru sekolah.


Aku menarik nafas dalam-dalam sambil berusaha menguatkan diriku. Jika berani berbuat salah, aku juga harus berani mempertanggung jawabkannya. Aku memejamkan mataku kuat-kuat sambil menanti detik-detik kehancuran ku. Aku pasti akan dipermalukan di depan mereka.


"Selamat pagi anak-anak!" Ujar Bu Riri.


"Pagi bu...." Sambut anak-anak di kelas.


"Baiklah sekarang buka buku kalian halaman 28, kita masuk ke bab baru ya!" Ujar Bu Riri.


Tak lama wanita itu berjalan menyusuri lorong dengan begitu percaya diri. Suara langkah kaki yang di timbulkan dari sepatu high heels nya itu membuatku mati ketakutan.


Tiba-tiba Arka menyodorkan buku miliknya tepat ke hadapanku. Aku terkejut bukan main melihat kelakuan Arka yang terkesan sangat gila itu.


Belum sempat aku membuka suara, wanita tersebut telah tiba di hadapan kami. Tiba-tiba langkahnya berhenti saat melewati meja kami. Pasti ada sesuatu yang menariknya untuk datang ke sini.


"Arka mana buku kamu?" Tanya wanita itu dengan nada sedikit tinggi.


Bagaimana ini, Arka tidak bersalah. Ia tak sepatutnya menerima semua ini. Aku harus melakukan sesuatu, tapi apa.... Ayo berfikir!


Hei! Dia mencuri jawabanku!


"Sekarang berdiri di depan sampai jam pelajaran selesai!" Bentak wanita itu.


Aku menatap punggungnya yang kian menjauh dariku. Seluruh mata tertuju kepadanya. Kenapa pria yang satu itu begitu bodoh. Aku juga ternyata lebih bodoh darinya. Aku bahkan tak bisa melakukan sesuatu yang bisa memberikannya sedikit pembelaan. Lidahku terasa begitu kelu saat itu.


"Baiklah sekarang kita mulai pelajarannya untuk di bab baru ini."


Aku membuka buku milik Arka dengan kasar. Aku kesal dengannya, kesal dengan diriku sendiri.


"Baiklah Jeffry, silahkan baca dengan suara lantang." Perintah Bu Riri.


"Yang lain silahkan menyimak bacaannya ya." Lanjutnya.


Sekarang seisi kelas serius menatap halaman bukunya masing-masing. Biasanya hal ini memang selalu di lakukan sebelum membeli pelajaran. Mungkin sebagai pemanasan atau juga sebagai pelatih fokus kami. Baca estafet tak pernah absen di beberapa mata pelajaran.


Di saat semua orang sedang berusaha fokus, aku terus-terusan menatap pria itu dari balik buku. Aku merasa begitu bersalah padanya. Diriku memang sedang berada di ruangan ini. Tapi tidak dengan pikiranku.


Belakangan ini aku tak bisa tenang. Setiap kejadian yang kurang berkenan di hatiku pasti selalu menjadi beban pikiran bagiku. Mungkin aku terlalu lelah hingga emosiku belakangan ini tak stabil. Akhir-akhir ini aku merasa lebih tertekan.


Aku berharap agar hal itu tak berpengaruh banyak terhadap nilai-nilai ku. Ini tahun terakhirku, aku tak ingin menciptakan masalah dalam hidup ku. Aku hanya ingin tahun ini menjadi tahun terakhir yang mengesankan bagiku.


Pelajaran berlangsung begitu cepat, tanpa sedikitpun ada yang sudi tertinggal di kepalaku. Aku benar-benar tak fokus sejak awal masuk kelas. Hari ini aku merasa benar-benar buruk. Bahkan dari awal membuka mata pagi ini saja, aku sudah di timpa masalah. Sepertinya aku benar-benar sedang stress.


"Baiklah anak-anak, pelajaran hari ini telah selesai. Silahkan nikmati waktu istirahat kalian. Siang semuanya!"


"Siang bu..."


Aku mengacak-acak rambutku yang saat itu berantakan malah semakin berantakan. Aku telah berusaha sekeras mungkin untuk menenangkan diriku sendiri.


Arka kembali dari depan kelas dengan ekspresi yang sulit ku tebak. Sementara aku sendiri tak tahu dengan perasaanku sendiri.


"Lain kali jangan lupa bawa buku."


Arka memulainya pembicaraan terlebih dahulu. Mengapa ia bisa bicara dengan begitu santai di saat seperti ini. Harusnya ia marah padaku, aku telah banyak menyusahkan nya selama ini


"Terimakasih buat bukunya." Ujarku sambil mengembalikan buku miliknya.


Harusnya tadi aku yang berada di sana, bukan Arka. Anak ini terlalu bodoh, kadang jalan pikirannya tak bisa ku tebak.


Aku segera beranjak dari tempat dudukku saat itu. Sengaja membiarkan kakinya agar naik ke atas kursi milikku.


"Naikin kaki kamu!" Perintahku.


"Ha? Buat apa?"


Tanpa pikir panjang, aku segera menaikkan kedua kaki jenjang pria itu ke atas kursi ku. Kakinya pasti sangat pegal.


"Kaki kamu enggak boleh di tekuk, nanti bisa varises. Mending di lurusin kayak gini."


"Kok tahu bakalan varises?"


"Semua orang juga tahu."

__ADS_1


"Oh ya? Tapi aku baru tahu. Terus kamu duduk di mana?"


"Aku mau ke toilet bentar."


"Bareng Stefani?"


"Enggak usah, aku bisa sendirian kok."


Aku langsung beranjak pergi dari tempat itu. Meninggalkan mereka yang menatapku dengan rasa heran.


***


"Temenin gih sahabat karib lo!" Perintah Arka pada Stefani.


"Emang lo siapa? Enak banget nyuruh-nyuruh gue!"


"Lo mau sahabat lo kenapa-kenapa di jalan?"


"Lo doain Eresha celaka gitu? Sumpah enggak ada otak atau gimana sih lo!


"Makanya susulin sana!"


"Kenapa enggak lo aja yang pergi."


Bukannya segera menyusul gadis itu, mereka malah berdebat panjang. Arka tahu jika Eresha sedang tak baik-baik saja. Itu sebabnya ia menyuruh gadis keras kepala ini untuk menemaninya. Ia tak ingin jika sampai terjadi sesuatu padanya, mengingat Eresha adalah anak yang nekat.


"Dasar enggak peka banget sih jadi sahabat! Coba aja lo bukan cewek, udah gue ajak gelud lo di sini!" Umpat Arka di dalam hatinya.


Sementara Clara memijat kepalanya yang tak pusing. Kedua orang ini tak pernah berubah sejak dulu. Bisakah sekali saja mereka bersikap lebih dewasa.


"Yaudah biar gue yang susul Eresha!"


Clara berusaha menengahi mereka berdua.


"Gue ikut sama lo." Sambung Stefani.


"Nggak dari tadi kek lo gerak, biar anak ini juga ikut gerak." Sindir Arka.


Tanpa menghiraukan ucapan pria itu sedikitpun, mereka langsung menuju toilet wanita. Eresha bilang ia mau ke tempat itu tadi.


Tetapi sesaat setelah sampai di tempat itu, tak ada seorangpun di sana. Semua pintu bilik terbuka, dan semuanya kosong. Di wastafel juga tak ada siapapun.


"Mungkin Eresha udah balik ke kelas."


Clara berusaha berfikir positif. Mungkin saja gadis itu baru saja selesai menggunakan toilet dan sedang berjalan kembali menuju kelas. Clara langsung menarik tangan sahabatnya itu untuk ikut bersamanya.


Seharusnya Eresha belum terlalu jauh dari tempat ini. Tapi selama perjalanan, mereka tak melihat batang hidungnya sedikitpun. Lagi-lagi Clara berusaha berfikir positif, mungkin saja Eresha sudah sampai di kelas lebih dulu.


"Dimana Eresha?" Tanya Clara sembari menghampiri Arka.


"Seharusnya gue yang nanya gitu sama kalian, dimana Eresha?" Arka malah bertanya balik kepada mereka berdua.


"Bukannya tadi dia udah ke sini?" Tambah Stefani.


"Kalian ngaco ya? Dia enggak ada ke sini."


"Sungguh? Kami pikir dia sudah kembali ke kelas lebih dulu." Ungkap Clara.


"Iya, benar. Tadi kami pergi menyusunnya ke toilet. Tapi tak ada seorangpun di sana." Tambah Stefani.


"Coba gue telfon aja deh." Ujar Arka.


"Drrttt!!!"


Tiba-tiba terdengar seperti suara ponsel yang bergetar pelan dari bawah laci. Yang benar saja, itu adalah ponsel Eresha. Apakah ia sengaja meninggalkannya di sini atau bagaimana.


"Kita cari dia, ini udah enggak beres lagi." Ujar Arka.


Arka tak bisa tinggal diam lagi sekarang. Ia harus turun tangan untuk turut mencari Eresha. Mereka tak bisa membiarkan gadis itu saat emosinya sedang tak stabil. Hal itu akan sangat berbahaya baginya.


"Tunggu! Mungkin Eresha cuma perlu waktu buat sendirian. Dia perlu beberapa menit untuk mengasingkan diri dari dunianya." Cegah Clara.


"Tapi enggak biasanya Eresha bersikap kayak gini. Dia selalu ceria kalau ada masalah." Bantah Stefani.


"Semua orang perlu waktu buat sendiri!" Seru Clara.


"Tapi gue lebih kenal Eresha. Gue udah sahabatan sama dia jauh sebelum lo datang!"


"Dekat bukan berarti lo berhak tau semua tentang dia. Setiap orang punya dunianya sendiri yang enggak mau di ganggu sama orang lain."


"Terserah lo! Pokoknya gue tetep ikut sama Arka buat cari Eresha." Tegas Stefani.


Clara menghela nafas panjang sembari berkata, "Yaudah gue ikut sama kalian. Masih ada waktu lima belas menit lagi sebelum bel masuk."


Mereka bertiga segera memanfaatkan sisa waktu yang ada. Semakin cepat mereka menemukan gadis itu, maka akan semakin baik.


***


Setelah kejadian di toilet tadi, aku langsung berlari menuju UKS. Untungnya aku selalu membawa tisu bersamaku kemanapun aku pergi. Aku bahkan tak tahu pasti kenapa tidak tiba-tiba aku mimisan lagi. Setelah sekian lama aku tak mengalami hal aneh itu, sekarang semuanya kembali terjadi. Hidupku kembali seperti dulu.


"Permisi..." Ucapku di ambang pintu UKS.


"Apa yang terjadi denganmu?"


Petugas UKS tersebut langsung menuntunku untuk duduk di ranjang.


"Kenapa keluar begitu banyak darah dari hidung mu? Apa kau mimisan?"


"Sepertinya begitu..."


"Baiklah berbaring, biar ku bersihkan sisa darahnya."


Aku segera menuruti perintahnya. Tak ada yang bisa membantuku saat ini selain dia. Kemudian petugas UKS tersebut datang dengan kotak P3K bersamanya.


"Kemari, biar ku lihat hidungmu."


"Apa darahnya sudah berhenti?"


"Sepertinya sudah, tapi kau kehilangan banyak darah untuk sekedar mimisan."


"Sungguh?"


"Tenanglah, aku akan mengatasi hal ini. Kau tak perlu khawatir, serahkan saja padaku."

__ADS_1


Entah kenapa kalimatnya sukses membuatku merasa lebih tenang. Seolah kata-katanya barusan memiliki mantra yang mampu menghipnotis ku. Entah ini hanya sekedar sugesti atau bukan, tapi aku merasa sangat nyaman. Aku yakin jika aku akan baik-baik saja bersamanya.


__ADS_2