
Aku menghela nafas panjang, kemudian menyandarkan diriku ke dinding yang berada tepat di belakangku. Tak bisakah orang ini memahami posisiku sedikit saja. Ia terlalu cepat mengambil kesimpulan, Arka terlalu lebih mengutamakan emosinya. Bahkan membiarkan hal itu lebih dominan daripada akal sehatnya.
Tak lama kemudian, sepasang mempelai telah memasuki ruangan ini secara bersamaan. Keceriaan tampak terpancar dari wajah mereka berdua, tak lupa dengan semua orang yang akan menjadi saksi dari janji suci sehidup semati yang akan segera mereka ikrar kan nanti. Tapi tidak denganku yang terus-terusan dirundung rasa gelisah. Aku tak bisa tenang sedikitpun dari tadi. Tak henti-hentinya aku mengecek ponselku yang tak kunjung memberikan kabar baik.
Tiba-tiba saja, Arka merangkul tubuhku. Ia menepuk pelan pundak ku, seolah sedang memberikan semangat padaku. Aku lantas mengalihkan pandanganku ke arah pria itu dengan senyum kecil yang mengembang di sana. Tangannya berlanjut merayap ke kepalaku, membelai halus setiap helai rambutku. Kemudian membiarkan kepalaku tersandar lemah di pundaknya. Aku tak menyangka jika ia akan melakukan hal semanis ini padaku.
"Aku tahu kok kalau nama itu masih tersimpan jauh di dalam sana. Tapi aku akan terus berusaha buat mendapatkan hati kamu lagi." ucapnya sambil membelai halus kepalaku.
"Aku akan tetap menunggu, sampai kamu bisa buka hati kamu sepenuhnya untuk aku." lanjutnya.
"Thanks Arka, kamu adalah satu-satunya orang yang punya kepribadian paling susah di tebak buat aku." ujarku dengan kedua sudut bibir yang terangkat.
"Pacaran mulu lo berdua! Acaranya udah mau dimulai tuh!" celetuk Adit yang tengah duduk di samping Arka.
"Sewot aja lo! Iri bilang!" balas Arka yang tak kalah ngotot.
Aku segera menyingkirkan kepalaku dari pundaknya, dan segera kembali duduk dengan tegak. Pria ini telah berhasil sedikit menghiburku, setidaknya untuk hari ini aku telah tertawa. Semua perlakuan yang ia berikan, telah mberikanku sedikit lupa atas banyak masalah yang ku miliki. Hingga saat itu aku merasa sama sekali tak memiliki beban hidup, semua masalahku seolah sirna sesaat. Meskipun dalam hati kecilku terus berharap agar Kak Sendy menyempatkan dirinya untuk datang ke sini sebentar saja, sudah lama rasanya aku tak melihat wajahnya.
***
Kedua mempelai telah bersiap di posisinya masing-masing. Duduk berdampingan dengan perasaan yang karuan lagi. Gugup, senang, terharu, bercampur menjadi satu sehingga sulit rasanya untuk dideskripsikan.
Bibi menghamparkan selendang putih berornamen manik nan mewah itu di atasnya mereka berdua, hingga menutupi bagian kepala sepasang kekasih itu. Sementara papa sendiri duduk bersila di hadapan mereka dengan perasaan sedih sekaligus bahagia. Pria tua yang telah mendampingi anak-anaknya selama bertahun-tahun ini, sekarang akan melepaskan salah satu anak perempuannya kepada seorang pria yang telah ia berikan kepercayaan.
Kali ini papa akan menjadi wali nikah Renata, yang sekaligus akan langsung menikahkan anaknya ini dengan Kak Reksa. Aku tak tahu sudah berapa lama mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, tapi dilihat dari kesiapan mereka sepertinya sudah lama. Aku tak pernah tahu bagaimana kisah mereka bermula, karena wanita ini memang tak pernah menceritakan tentang hal ini sedikitpun padaku. Mungkin ia menganggap ku belum tepat untuk menjadi tempatnya bercerita. Aku tahu hal itu, dari segi umur aku memang jauh lebih muda darinya.
Papa mulai menjabatkan tangannya dengan Kak Reksa, sambil mengucap ijab kabul.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Renata binti Sutistyo dengan mas kawin emas seberat seratus gram dan alat sholat di bayar tunai." ujar papa dengan begitu mantap.
"Saya terima nikah dan kawinnya Renata binti Sutistyo dengan mas kawin emas seberat seratus gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai!" balas Kak Reksa dengan begitu yakin.
"Bagaimana para saksi, sah?" ujar seseorang yang tak ku kenal di samping papa.
"Sah!" ucap semua orang di ruangan itu dengan serentak.
"Alhamdulillah..." ucap seluruhnya sekali lagi.
Tanpa segan-segan lagi, pria itu yang kini telah menjadi suami sah nya Renata langsung mengecup singkat dahi wanita itu. Sebaliknya, Renata juga mengecup punggung tangan Kak Reksa dengan perasaan bahagia.
Aku turut bahagia atas Renata, namun di sisi lain aku juga merasa sedih. Karena sebentar lagi, ia akan meninggalkan tempat ini dan memulai hidup barunya bersama seseorang yang ia cintai. Tapi sepertinya bukan hanya aku yang merasakan hal itu, seluruh anggota keluarga pasti merasakan hal yang sama. Termasuk mama dan papa yang kini tengah bersedih karena Renata tak lagi menjadi tanggung jawab mereka.
Tapi ada satu hal lagi yang membuat acara ini kurang lengkap, kenapa ibu kandungku tak turut di undang ke acara ini. Aku sedikit kecewa akan hal itu, bagaimanapun yang sedang menikah ini adalah anak kandungnya. Terlebih Renata telah menghabiskan lebih banyak waktunya bersama orang itu. Wanita ini hanya kembali ke papa, satu hari sebelum ibu kandung kami menikah lagi dengan pria lain. Terkadang sebuah pernikahan tak menjamin jika hubungan mereka kelak akan abadi hinhy ajal memisahkan. Contohnya seperti ibu dan papa kandungku yang becerai sesaat kedua buah hatinya terlahir ke dunia.
***
"Aku berharap suatu hari kita bisa kayak gitu sha." bisik Arka pelan di telingaku.
"Sekolah dulu yang bener, biar jadi orang sukses!" balasku dengan nada bicara yang sedikit bercanda.
Pria itu hanya tertawa kecil sambil mengacak-acak puncak kepalaku dengan gemas. Tapi ada satu hal yang membuatku tak nyaman. Tatapan itu, membuatku merasa bersalah. Aku bisa menangkap dengan jelas arti dari sorot mata Clara yang terus-terusan memperhatikan aku dan Arka. Aku tahu dengan jelas, sebenarnya ia iri dengan posisiku saat ini. Gadis itu sangat ingin berada di posisiku saat ini, itu adalah sesuatu yang selalu ia impikan. Namun sayangnya Clara tak bisa meraih pria ini lebih jauh, meski ia ingin akan hal itu. Sebuah status persahabatan diantara mereka saja rasanya sudah lebih dari cukup untuk gadis itu. Sering kali ia merasa putus asa akan masa lalunya bersama Arka yang ia sia-siakan begitu saja.
Aku tak bisa berbuat banyak untuk membantunya. Kemarin saja, saat aku membahas soal gadis ini di hadapan Arka, ia malah nyaris meninggalkanku sendirian di tengah kota. Aku tak tahu sekelam apa cerita di masa lalu mereka, hingga membuat Arka begitu membencinya hingga saat ini. Clara seolah menjadi halaman terkelam dari bab terburuk dalam dirinya. Sampai-sampai ia tak ingin lagi membuka, apalagi membaca ulang cerita yang pernah ia torehkan itu.
Mereka semua penuh dengan misteri, layaknya teka-teki yang tak akan bisa ku pecahkan sendiri. Kedua orang itu terlampau mengutamakan keegoisannya tanpa memperdulikan bagaimana perasaan mereka bekerja. Clara dan Arka sama-sama terlalu keras kepada dirinya sendiri.
Aku tak mengerti bagaimana bisa Arka membenci Clara atas satu kesalahan saja. Sementara aku, ia terus berusaha mencintaiku tanpa pernah berpikir untuk membenciku, meskipun aku telah begitu sering membuatnya kecewa. Terkadang aku tak habis pikir, bagaimana bisa dengan mudahnya pria itu memaafkan ku. Tapi tidak begitu untuk Clara yang selalu mengharapkan maaf darinya. Cinta bisa membuat siapa saja menjadi buta, dan tak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar.
***
"Aku ganti baju dulu ya." ujarku kepada pria itu.
Arka mengangguk mengiyakan perkataanku.
Aku segera kembali naik ke kamar, bersama Stefani. Seperti rencana kami sebelumnya, pakaian selanjutnya adalah dress code. Setidaknya aku bisa sedikit bernapas lega.
Aku bercermin di depan kaca full body di kamarku. Melihat pantulan diriku di benda itu. Aku bahkan tak pernah mengira jika diriku bisa berubah layaknya seperti seorang peri kecil. Hanya dengan sedikit sentuhan manis, mampu merubah wujudku yang tak pernah mereka duga.
Setelah semuanya selesai, aku dan Stefani bergegas turun ke bawah lagi. Para anggota keluarga lainnya juga telah berganti busana. Sekarang saatnya kami untuk berpindah tempat. Renata sudah pasti satu mobil dengan Kak Reksa. Sementara aku dan keluaga lainnya, berada di mobil yang terpisah.
"Bareng aku aja yuk!" ajak Arka sambil menarik salah satu tanganku.
"Tapi aku udah janji buat bareng sama mama dan papa." balasku dengan rasa kecewa.
Kali ini aku tak bisa menuruti keinginannya. Karena memang sebelumnya aku telah membuat janji dengan mereka. Tak mungkin aku membatalkannya begitu saja. Tapi di sisi lain aku juga tak ingin pria ini malah membuntuti kendaraan ku dari belakang. Aku takut kejadian waktu itu terulang untuk yang kedua kalinya.
"Hmmm.... gini deh, gimana kalau aku yang minta izin sama mereka?" tanya Arka yang tak kehabisan akal.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya barusan, pria ini langsung menarik tanganku ke hadapan mama dan papa. Mau tak mau aku terpaksa mengikuti permainannya untuk kali ini. Meskipun aku tak tahu apakah semuanya akan berjalan dengan mulus seperti yang ia perkirakan sebelumnya, atau malah sebaliknya.
"Permisi om dan tante..." ujar Arka dengan sopan.
"Iya, Arka ada apa nak?" tanya mama sambil membenarkan tataan rambutnya.
"Saya boleh nggak bawa Eresha sama saya? Maksudnya Eresha ke sananya barengan sama Arka. Boleh ya tante...." jelas Arka dengan segala bujuk rayunya.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan pria ini. Aku tak mengatakan jika yang dilakukannya itu salah, hanya saja aku tak yakin jika rencananya akan berhasil.
"Yaudah, Eresha sama kamu aja." balas mama dengan kedua sudut bibir terangkat.
"Terimakasih tante!" ujar Arka sambil berpamitan dengan kedua orang tuaku.
"Jaga Eresha baik-baik ya, kami berdua percaya sama kamu." sambung papa.
__ADS_1
Aku lantas mendongakkan kepalaku, sesaat setelah kalimat persetujuan itu terlontar dari mulut mereka. Aku melongo tak percaya dengan apa yang barusaja terjadi. Kedua orang ini biasanya tak mudah percaya kepada orang baru yang mereka kenal. Lagi pula, mama dan papa selalu over protective terhadapku. Tapi untuk kali ini, keduanya seolah tak memikirkan hal itu lagi.
"Eresha pamit dulu ya pa, ma. Nanti kita ketemu di sana." ujarku sembari mengecup singkat punggung tangan mereka.
"Iya nak, hati-hati ya. Jangan kebut-kebutan." balas mama.
"Tenang tante, anak tante dan om bakalan aman di tangan saya." ujar Arka dengan nada sedikit bercanda.
Tak lama kemudian, kami segera menuju ke sepeda motor Arka. Aku tak mengerti kenapa ia harus membawa sepeda motornya ke sini. Padahal mamanya Arka juga mengendarai mobil yang kosong. Kenapa ia tak satu kendaraan saja dengan mamanya. Itu jauh lebih menghemat bahan bakar. Atau jangan-jangan ia memang sengaja telah merencanakan ini jauh-jauh hari sebelumnya.
Aku baru menyadari satu hal lagi, ternyata Stefani juga tak mau kalah. Gadis itu juga menebeng dengan Titan, entah memang begitu atau malah Titan sendiri yang menawarkannya. Dan satu lagi, Clara juga berboncengan dengan Adit. Mungkin tadinya mereka memang datang kemari dengan keadaan seperti ini.
"Kenapa enggak bareng sama mama kamu aja tadi perginya?" tanyaku di tengah perjalanan.
"Oh itu, tadi aku udah janji sama mereka buat perginya barengan." jelas Arka dengan suara yang tak begitu jelas karena terbawa angin.
Kami berenam bersama para tamu lainnya yang mengendarai sepeda motor, berkendara tepat di belakang iringan mobil yang berjejer sepanjang jalan. Aku menikmati perjalanan singkat ini. Hari ini sangat cerah, langit biru bersih dengan beberapa awan sebagai pemanis nya. Cuaca juga tak terlalu terik seperti biasanya, semuanya sangat sempurna hari ini. Langit Kota Jakarta hari ini begitu bersahabat, kiranya semesta juga turut berbahagia. Anggap saja ini sebagai ucapan turut bersuka cita dari semesta yang tengah tersenyum lebar.
Namun lagi-lagi, untuk yang kesekian kalinya aku kembali mengecek ponselku. Tapi hasilnya tetap saja selalu sama setiap kali aku melakukan hal itu. Tak ada sesuatu yang bisa membuat perasaanku menjadi sedikit lega. Tak kunjung ada kabar dari Kak Sendy.
Perasaanku mengatakan jika ini bukan sesuatu yang baik. Aku tak tahu harus mempercayai firasatku untuk kali ini atau tidak. Tapi intuisi ku selalu benar adanya, sering kali hal itulah yang membuatku takut. Terkadang bagiku lebih baik tak tahu sama sekali, dari pada harus menerima kenyataan buruk di masa depan. Dan aku harus menyiapkan diriku sendiri untuk menghadapi hal itu, melawan ketakutan terbesarku tak semudah yang mereka pikir.
***
Setelah mengambil beberapa sesi foto di pelaminan bersama keluarga besar dan kerabat lainnya, aku langsung turun ke arah kursi para tamu. Suasana saat itu memang ramai, tapi tak kutemukan sosoknya diantara puluhan manusia di sana. Mataku tak berhasil menangkap sosoknya yang terus kucari sedari tadi. Hidungku bahkan sama sekali tak bisa mengendus bau khas nya, itu artinya Kak Sendy memang tak sedang berada di sini.
"Eh, sha! Foto bareng yuk!" ajak Clara yang tiba-tiba sudah berada di belakangku.
Aku segera mengangguk singkat mengiyakan perkataannya. Kemudian segera mengikuti langkahnya untuk menuju ke tempat itu lagi. Aku, Clara, Stefani, Arka, Titan dan Adit. Kami berenam sengaja mengambil beberapa foto khusus hanya ada kami di dalamnya. Mengabadikan beberapa momen hari ini dengan sebuah perekam memori kehidupan. Siapa tahu di masa depan, kami membutuhkan semua foto-foto ini. Sebagai sebuah pengingat atas memori yang sempat hilang. Itu sebabnya aku tak pernah menolak jika seseorang mengajakku untuk berfoto bersama seperti ini. Bisa saja di kemudian hari, hal sederhana itu akan sangat sulit untuk di dapat, karena jarak yang membentang diantara setiap insan.
Setiap tawa dan senyum, tergambar indah di atas kertas mengkilap tersebut. Sebuah hasil dari jepretan kamera yang membingkai apik satu kisah. Cerita tentang persahabatan kita, dan rasa ini yang pernah ada menghiasi jalan ceritanya. Suatu hari akan ku tunjukkan pada dunia, jika kalian lah imajinasi terindahku, termasuk dia yang entah akan bersamaku di masa depan atau tidak.
"Lo kenapa sha, kok kayak gelisah gitu dari tadi?" tanya Stefani padaku.
"Enggak kok!" elak ku dengan cepat.
Sementara yang lainnya menuju ke prasmanan untuk mengambil santap siang mereka, aku masih terus menunggu kehadirannya di sini. Sesekali aku mondar-mandir di pintu masuk utama, nyaris seperti orang setengah linglung.
"Makan dulu yuk..." ajak Arka sambil menggenggam salah satu tanganku.
"Sebentar lagi." balasku singkat.
"Kamu belum ada makan sedikitpun dari tadi pagi. Kasih diri kamu waktu untuk istirahat sebentar, karena aku tahu kalau menunggu sesuatu yang tak kunjung datang itu sangat melelahkan." jelas pria itu.
Sedetik kemudian, ia merangkul bahuku. Membawaku masuk ke dalam sana, untuk bertemu dengan yang lainnya. Meskipun sebenarnya aku enggan meninggalkan tempat ini, sebelum melihat Kak Sendy datang kemari. Tapi yang Arka katakan barusan ada benarnya juga, aku tak boleh bersikap terlalu keras pada diriku sendiri. Karena pada kenyataannya, aku tak setegar itu. Jadi tak ada gunanya jika aku terus memaksakan diri seperti ini.
Setelah mengambil nasi dan beberapa lauk-pauk yang tersedia di sini, aku segera bergabung bersama yang lainnya yang tengah asyik berbincang dalam meja bundar. Selalu ada saja bahan pembicaraan orang-orang ini, yang memang pada dasarnya suka mengobrol.
"Dari mana aja sih sha?" tanya Clara yang tengah menyantap makanannya.
"Habisin dulu makanannya sebelum ngomong." ujarku kepada pria itu.
"Hehe.... maaf." ujarnya seraya mengambil tisu.
Sementara sosok yang dituju hanya tertawa kecil sambil membersihkan mulutnya dengan tisu. Makanan yang berada di mulutnya, nyaris bercipratan keluar semua. Dan itu adalah sesuatu yang sangat menjijikkan bagi semua orang.
"Jorok banget sih lo!" sindir Stefani sambil menyenggol lengan Adit dengan kasar.
"Kan tadi gue udah minta maaf!" balas Adit yang tak kalah ngotot.
"Udah-udah, kayak anak kecil aja sih lo berdua." ucap Titan yang mencoba melerai keduanya.
"Lo sakit sha? Dari tadi kita liat, lo kayaknya enggak semangat hari ini." ucap Clara yang ternyata telah memperhatikanku sedari tadi.
"Enggak kok, aku baik-baik aja." jawabku dengan sedikit berbohong.
"Eresha kenapa ka? Jangan-jangan lo lagi yang buat dia galau gini." timpal Stefani yang langsung menuduh Arka.
"Enak aja, yang ada juga lo!" bantah Arka secara gamblang.
"Udahlah, kok malah berantem sih!" ucapku dengan nada bicara yang sedikit lebih tinggi.
Tak lama kemudian, suasana kembali sunyi karena gertakan ku kepada mereka barusan. Tapi hal itu tak berlangsung lama, kelima orang ini kembali sibuk dengan obrolannya yang belum sempat mereka selesaikan tadi. Sementara aku hanya berdiam diri sambil menyantap makananku tanpa nafsu sama sekali. Seolah mengasingkan diri dari kumpulan orang-orang tersebut, menjauh sejenak dari keramat suasana. Aku sedang sibuk dengan pikiranku sendiri.
Tiba-tiba aku teringat akan satu hal, kalung ini. Kalung pemberian dari Kak Sendy yang datang kepadaku dengan cara yang misterius. Kejadian waktu itu tak pernah masuk akal bagiku. Meskipun kenyataannya, peristiwa ini benar-benar terjadi di luar akal sehat manusia pada umumnya.
Aku masih mengingat dengan jelas setiap kalimat yang ia katakan malam itu, di dalam mimpiku atau mungkin imajinasiku. Ia bilang jika dirinya akan selalu ada bersamaku, jiwanya hidup abadi di dalam kalung ini. Mendampingi kemanapun langkahku mengarah. Tapi nyatanya, sekarang ia tak ada di sini. Bahkan di momen penting seperti ini, Kak Sendy tak sedikitpun menunjukkan batang hidungnya.
Semua ucapannya waktu itu hanya sekedar omong kosong belaka, harusnya aku tahu akan hal itu sejak dulu. Manusia terlalu mudah untuk berjanji tanpa tahu apakah dirinya sendiri sanggup untuk menepati janji yang ia buat sendiri. Semuanya hanya sekedar pemanis agar setiap kalimat yang ia ucapkan terkesan begitu puitis saat di dengar. Padahal seharusnya ia tahu jika hal itu adalah keindahan yang paling mematikan.
Aku lantas menyudahi makan siang ku kala itu. Bahkan aku nyaris tak menyentuhnya sedikitpun. Rasanya tak bagus jika terlalu memaksakan sesuatu. Sekarang aku sedang tak nafsu makan, karena memang suasana hatiku sedang tak baik-baik saja.
Aku kembali berkutat dengan ponselku. Mengecek sesuatu di sana dan berharap hal itu bisa sedikit memperbaiki suasana hatiku yang sedang kacau ini. Tapi setiap kali aku berharap, di saat itu juga aku terus kecewa. Karena pada kenyataannya, semua hal itu tak sesuai dengan ekspektasi ku yang sudah melambung tinggi.
Aku menatap nanar layar ponselku yang perlahan meredup dengan sendirinya, karena tak ku sentuh sama sekali. Sama sekali tak ada kabar dari pria itu, apa dia telah benar-benar menghilang. Aku tak tahu harus berbuat apa sekarang ini. Rasanya aku lebih cocok jika dipanggil sebagai seorang pengecut. Aku terlalu pengecut untuk mengambil langkah baru menuju sebuah perubahan besar. Aku terlalu takut untuk meninggalkan cerita kelam di masa laluku, dan menyambut kisah baru yang jauh lebih baik setelahnya.
Andai saja alunan nada yang pernah kita ciptakan bersama itu, bisa memanggilmu kembali ke sini. Mungkin aku tak akan dirundung gelisah seperti ini. Setiap waktu aku seolah dihantui oleh bayang-bayang pria misterius itu, yang kini telah menampakkan wajah aslinya. Wajah tampan nan rupawan yang pernah begitu ku kagumi sebelumnya. Cinta telah membuatku layaknya seorang pengemis saat itu. Tapi setiap sakit yang kurasakan selalu terasa menyenangkan, karena memang seperti itulah cara cinta bekerja. Membuat semuanya terasa indah, sehingga kita tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Biarkan lagu itu tersuara kan untuk yang kesekian kalinya. Aku hanya ingin mengulang bagian reff nya sekali lagi. Tak apa jika pada akhirnya akan berakhir sendu. Tapi aku mohon, kembali lah ke sini bersamaku. Kita mainkan lagu ini sekali lagi, karena lagu kita memang belum selesai. Jadi jangan pergi dulu, menetaplah di sini untuk sebentar saja.
***
"Sha, kamu masih kepikiran sama Kak Sendy?" tanya Arka.
__ADS_1
Aku hanya menganggukkan kepalaku dengan pasrah.
Sedetik kemudian, ia menarik tubuhku untuk masuk ke dalam dekapannya. Tangannya melingkar di tubuhku, memberikan kehangatan yang menenangkan. Salah satu tangannya meraih puncak kepalaku, membelainya dengan halus.
Terkadang aku tak habis pikir dengan pria ini. Kenapa ia masih bertahan padaku di situasi seperti ini. Padahal ia tahu dengan jelas, jika aku belum bisa membuka hatiku sepenuhnya.
"Arka..." ucapku pelan.
"Iya?" balasnya sambil melepaskan cengkeramannya dariku.
Kedua tangannya memegang setiap bahuku dengan kuat. Seolah menjadi penopang diriku yang tengah rapuh, agar tak roboh begitu saja. Setidaknya aku masih punya tiang untuk bersandar.
"Kamu benci sama aku?" tanyaku dengan asal.
"Kenapa kok nanya gitu?" Arka malah bertanya balik.
"Jawab aja dulu." balasku.
Arka menghela nafasnya panjang. Tampaknya ini adalah pertanyaan yang mudah baginya.
"Tolong kasih aku satu alasan yang kuat untuk bisa membenci kamu." jawab Arka dengan sorot mata begitu dalam.
"Waktu itu, kamu bilang dengan begitu yakin kalau kamu benci sama aku." jelasku dengan suara yang bergetar.
"Kapan sha? Aku enggak pernah mengatakan itu." bantahnya dengan segera.
Aku menggigit bibir bawahku dengan kuat, menahan agar tak terisak. Sebenarnya aku ingin menangis saat ini juga, tapi tak bisa. Air mata itu seolah tertahan oleh sesuatu di sana. Sepertinya diriku sendiri tak mengizinkanku untuk bersedih di hati bahagia ini.
"Waktu itu, di saat Clara nyaris celaka karena aku." ujarku dengan hati-hati.
"Soal itu, aku tak pernah serius mengatakannya." balas Arka.
"Arka adalah seseorang yang tak pernah main-main dengan ucapannya sendiri, ia selalu serius dengan semua kalimat yang terlontar dari mulutnya." jelasku.
"Biar kutarik kembali kata-kata ku waktu itu." ucap Arka dengan cepat.
"Maafin aku sha, kamu tau waktu itu aku lagi kebawa emosi." lanjutnya.
"Enggak apa-apa kalau rasa benci itu masih ada, tapi tenang aja aku enggak bakalan ngelakuin hal yang sama ke kamu." balasku.
"Iya, aku akui kalau rasa benci itu masih ada. Tapi rasa benci aku, jauh kalah besarnya dengan rasa sayang aku." ujar Arka yang mencoba meyakinkanku.
"Udah ah, kok malah bahas beginian sih." lanjutnya.
Aku hanya tersenyum tipis kepada pria yang tengah berdiri di hadapanku itu. Arka dan Kak Sendy nyaris mirip satu sama lain. Mereka seperti dua orang yang memiliki satu jiwa.
Setelah kejadian itu, Arka menuntunku kembali ke dalam untuk mengikuti jalan acaranya. Karena setiap menit, aku selalu pergi ke pintu keluar dan pintu masuk yang menjadi satu. Setiap kali ada seseorang yang datang kemari, aku kira jika itu adalah Kak Sendy. Aku terus menunggu kehadirannya, bahkan sampai aku lelah sekalipun.
Arka membawaku kembali ke dalam lingkaran persahabatan kami. Di kelilingi oleh orang-orang aneh itu, rasanya sudah lebih dari cukup. Selalu ada cerita di setiap detik yang kami ciptakan bersama. Ada jutaan tawa yang terlahir hari itu. Karena mereka semua, aku bisa merasa sedikit lega dan lebih bahagia.
***
Karena hari sudah mulai meredup dan udara di luar sana juga mulai berubah menjadi begitu dingin, oleh sebab itu Arka memboyong kelima sahabatnya ini untuk masuk ke rumahnya. Kebetulan rumah Arka memang terletak persis di samping rumah Kak Reksa. Jadinya, pekarangan rumah pria ini pun turut dijadikan lahan parkir untuk sementara bagi para tamu undangan yang datang.
Acaranya baru akan selesai, tepat pukul dua belas malam nanti. Dan semua anggota keluarga harus tetap berada di tempat ini sampai acara benar-benar selesai. Untuk sementara menunggu hingga acaranya selesai, kami semua mengungsi ke rumah Arka. Keramaian itu terlalu membosankan, karena kami harus selalu menjaga sikap dan tak bisa menjadi diri kami sendiri seperti yang biasanya orang-orang lihat.
Aku yakin jika punggung Renata saat ini pasti sangat sakit. Wanita itu menghabiskan waktunya seharian penuh untuk duduk di bangku pelaminan, layaknya seorang ratu. Bisa jadi setelah ini ia akan ambeien, karena terlalu banyak duduk. Aku yang mondar-mandir saja sedari tadi, bisa sakit punggung bahkan seluruh tubuhku rasanya ingin patah. Apa lagi dia yang hanya berada dalam satu posisi yang sama selama berjam-jam. Tubuhnya pasti sangat kaku saat bangkit nanti.
"Mau makan apa lo pada?" tanya Arka sambil menyandarkan badannya di ambang pintu dapur.
Pria itu terlihat telah menggulung separuh dari lengan kemejanya dan sedikit melonggarkan kerah bajunya. Bahkan Arka juga sudah melepas setelan jas nya yang ia kenakan sedari tadi. Tampaknya anak ini memang tak betah berlama-lama di dalam sana.
"Woy! Di tanyain juga, malah diem aja!" bentak Arka yang sudah tak sabar.
Entah memang sengaja ingin mengetes kesabaran pria ini, atau memang telinga mereka yang sedang tuli karena sudah terlalu lama tak pernah di bersihkan. Tak ada satupun dari mereka yang menggubris perkataan Arka. Sebelum emosinya semakin menjadi-jadi, akhirnya aku memutuskan untuk buka suara.
"Adanya apa?" tanyaku.
"Enggak ada apa-apa sih, mama aku enggak sempat masak sesuatu." jelasnya.
"Terus ngapain nanya mau makan apa, kalau enggak ada apa-apa?" tanyaku lagi.
"Delivery order aja, itu maksud aku tadi." jawabnya sambil menggaruk kepala yang tak gatal sama sekali.
"Pesan apa aja deh, yang penting bisa di makan." serahku pada pria itu.
"Oke deh." ucap Arka kemudian menuju ke arahku sambil membawa ponselnya.
"Dasar ya, lo semua! Pada enggak punya mulut atau gimana?!" omel Arka sekali lagi.
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku, tak habis pikir dengan pria ini. Ternyata selain bersikap dingin, ketus, cuek dan sok tau ini, ia juga bisa bersikap seperti anak kecil.
"Mau pizza?" tanya Arka sambil menunjukkan layar ponselnya kepadaku.
"Boleh deh, patungan kan?" tanyaku balik.
"Enggak usah, biar aku aja yang bayar." jawabnya dengan enteng.
"Tapi ini malah loh Arka." ujarku sembari menunjuk harga yang tertera di sana.
"Udah enggak apa-apa, jangan protes lagi." ucap pria itu, kemudian membungkam mulutku dengan jari telunjuknya.
"Sesekali aku kepengen traktir kalian semua, ya meskipun pada nyebelin gini sih." lanjutnya.
__ADS_1
Aku tak pernah bisa berbuat apa-apa, jika pria ini telah berhendak. Apalagi jika niatnya sudah bulat, akan sangat sulit bagiku. Padahal harganya terbilang cukup mahal jika harus ia bayar sendirian. Atau mungkin Arka telah menggunakan seluruh uang sakunya untuk minggu ini.