
Akhirnya kedua orang ini benar-benar memenuhi janjinya untuk datang menemui ku ke ibukota. Tak banyak yang kami bicarakan, kalian tahu sendiri bagaimana hubungan ku dengan mama dan papa yang merenggangkan sejak kejadian itu.
Mereka berdua akan tinggal disini untuk dua hari kedepan. Mama dan papa juga baru tahu jika nenek kemarin sempat jatuh sakit. Jadi mereka berdua akan tinggal di tempat nenek sampai waktu yang telah di tentukan. Kebetulan tadi aku memang sedang sendirian disana, Kak Sendy sedang turun ke bawah untuk membeli makanan. Kehadiran mereka setidaknya bisa mengusir kejenuhanku meski hanya sebentar.
"Kita pulang dulu ya sayang." Ujar Mama kemudian mengecup singkat dahi ku.
Kemudian segera disusul oleh papa.
"Hati-hati di jalan!" Ujarku ketika mereka telah sampai di ambang pintu.
Kedua orang itu tersenyum singkat kemudian pergi begitu saja. Aku kembali menyandarkan malas diriku di kasur. Sudah hampir larut malam, ini sudah pukul sepuluh malam. Kira-kira siapa yang menjaga Arka di ruangannya, biasanya di jam-jam seperti ini aku telah berada di sana. Tapi tidak untuk kali ini, karena kondisiku sendiri tidak begitu mendukung.
Aku memutuskan untuk meneleponnya, aku segera meraih benda persegi panjang di sebelahku.
"Halo, Arka?"
Aku membuka obrolan terlebih dahulu.
"Malam ini disana ada yang jagain?" Tanyaku langsung pada inti persoalan.
"Enggak, makanya aku ini lagi jalan ke arah ruangan kamu."
"Mau ngapain?"
”tutttttt...”
Tiba-tiba saja ia mematikan sambungan teleponnya tanpa menjawab pertanyaanku terlebih dahulu.
"Dasar aneh!"
Aku menggerutu kesal.
Tak lama setelah aku mengumpat tentangnya, Arka datang bersama dengan kursi rodanya. Ia datang sendirian tanpa di bantu siapapun.
"Kak Sendy mana?" Tanya Arka.
Belum sempat aku membuka suara untuk menjawab, orang yang di maksud sudah datang kesini.
"Noh!" Ujarku sambil menunjuk pria itu.
Ia menghampiri kami dengan membawa bungkusan plastik berisi makanan yang baru saja ia beli tadi. Kemudian ia mengeluarkan isi dari plastik tersebut.
"Ini apa?" Tanyaku penasaran.
"Martabak terang bulan." Ujarnya.
"Cuma sekotak nih?" Tanya Arka sambil melirik ke arah kotak tersebut.
Ah sial! Aromanya berhasil membuatku bertekuk lutut pada kudapan yang satu ini.
"Malam-malam gini masih ada yang jualan beginian?" Tanyaku.
"Masih la, di dekat simpang yang arah ke atas." Ujarnya.
"Pantesan lama, kirain tadi cuma di depan doang." Balasku.
Tangan kami berebut masuk ke kotak tersebut sesaat setelah di buka. Kami menyantap makanan itu dengan lahap. Sudah lama rasanya aku tak makan martabak.
"Enaknya makan begini sambil nonton sesuatu." Ujarku sambil melirik ke arah Kak Sendy.
Tapi sayangnya pria itu sengaja mengalihkan pandangannya dariku, ia berpura-pura seolah tidak tahu dengan maksudku barusan. Huft! Ayolah! Aku ingin menonton drama Korea yang tadi, satu episode saja.
"Dasar enggak peka!" Gerutu ku kesal dalam hati.
Aku segera tersenyum lebar lagi, menaikkan level kesabarannku sedikit saja.
"Kak, nonton drama yang tadi...." Rengek ku pada pria itu.
Ia menatapku heran sekaligus takut, sebenarnya ia ingin mengelak dari permintaan ku. Aku tahu jelas itu, tergambar begitu jelas di ekspresi wajahnya.
"Satu episode aja..."
Aku memohon padanya sambil memasang tampang memelas.
Kak Sendy menepuk pelan dahinya, kemudian mendengus kesal. Ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang ini untuk menolak ku.
Ekspresi ku langsung berubah girang, kedua sudut bibirku terangkat dengan sempurna. Akhirnya, usaha ku tak sia-sia. Kemudian ia mengeluarkan laptopnya kembali dari dalam tas.
"Tapi janji cuma satu episode aja." Ujarnya sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
Aku mengangguk-anggukkan kepala ku dengan cepat, seperti anak kecil yang begitu lugu. Kemudian aku melingkarkan kelingkingku bersama jari mungilnya itu.
"Tuh kan cuma dua puluh menit." Ujarku sambil menunjuk waktu tayangannya di layar.
Itu bukan waktu yang lama, hanya sebentar. Sangat sebentar. Kak Sendy meng-klik tombol play dan drama akan segera di mulai. Aku membenarkan posisiku yang sedang bersandar di tempat tidur kecil ini. Menonton drama dilengkapi dengan cemilan semacam ini, wuahhh..... hanya satu kata yang bisa ku katakan saat ini.
"Benar-benar kesempurnaan yang tiada tara."
Tak ada yang membuka suara sedikitpun, kami bertiga menonton drama tersebut secara seksama, menyimak tiap detik kejadiannya. Kelihatannya cerita di drama ini bisa di terima semua kalangan, termasuk mereka berdua yang setahuku bukan penyuka Korea.
Aku meraba kotak martabak tersebut, tapi tak menemukan satupun yang tersisa di sana. Mau tak mau aku melemparkan pada kotak makanan itu, benar-benar sudah habis tak bersisa. Aku menatap sinis kedua pria yang berada di sebelahku.
"Dasar perut gentong!" Gumam ku dalam hati.
Padahal aku baru makan tiga potong, kemana lagi sisanya kalau tidak di dalam lambung mereka.
"Aku masih ada satu makanan lagi." Ujar Kak Sendy.
Sepertinya pria itu menyadari jika kami telah kehabisan makanan di pertengahan drama.
"Mana?" Tanyaku dengan semangat.
Kak Sendy kemudian mengeluarkan kotak makanan berbahan styrofoam dari dalam plastik yang tadi.
"Ini apa?" Tanyaku.
"Bakmie ayam."
"Cuma beli satu?" Timpal Arka.
"Ya kirain kan tadi kamu enggak bakal datang. Makanya lain kali bilang." Jelas Kak Sendy.
"Sumpit nya juga cuma satu? Terus makannya gimana?" Protes Arka lagi.
Aku segera mengambil alih mie ayam tersebut dari tangan Kak Sendy.
"Ya makannya gantian lah." Ujarku
"Gantian?" Tanya mereka secara bersamaan.
"Satu mulut gitu? Iuuuu... Enggak higienis banget sih." Ujar Arka.
"Dulu aku juga sering kayak gini sama regu PMR pas masih SMP. Bayangin aja anak PMR makannya satu sendok semua. Bukan soal higienis atau enggak nya, satu pelajaran yang kita dapat dari hal itu adalah nilai kebersamaan yang belum tentu bisa dilakukan lagi di lain waktu." Jelasku.
"Nih, Arka pembukaan deh biar higienis..." Ujarku.
Kemudian aku mengambil sejumput mie dengan sumpit lalu menyumpalkannya ke mulut Arka untuk membungkam nya, yang entah sejak kapan menjadi bawel seperti ini.
Setelah itu sekarang giliran Kak Sendy, kemudian yang terakhir adalah aku. Peraturan ini akan cukup adil karena kami akan makan dalam porsi yang sama, secara bergantian. Jadi tidak akan ada lagi pihak yang di rugikan disini.
Di satu sisi aku merasa aneh karena mendadak menjadi seperti seorang ibu yang tengah menyuapi anak-anak nya di sore hari, yang berlarian dengan wajah coreng moreng karena bedak yang asal disapukan begitu saja. Membayangkannya saja sudah membuatku tertawaan geli.
Tiba-tiba aku baru menyadari jika dari tadi kedua pria ini menyoroti ku lekat dengan tatapan yang sulit ku artikan maknanya. Apa aku terlihat begitu bodoh di mata mereka karena tertawa sendiri tanpa sebab. Tapi sebenarnya aku punya alasan kedua yang bisa membela ku di situasi seperti ini. Lihatlah mulut mereka berdua terlihat begitu penuh dan sesak di dalamnya. Mereka bahkan belum mengunyah bakmi itu sejak pertama kali makanan itu menyentuh mulut mereka. Dua pria ini terlihat lebih lucu sekarang, seperti karakter kartun Jepang Sinchan.
__ADS_1
"Kenapa? Kok ngeliatin aku gitu banget?" Tanyaku memastikan.
Mereka berdua dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian mengunyah makanan di mulutnya. Kedua pria itu seolah baru saja tersadar dari sebuah sirih. Terlihat seperti orang yang sedang melamun, tapi tidak bisa di katakan begitu juga.
***
Arka sama sekali tak percaya jika Eresha akan memperlakukannya seperti ini. Baru kali ini peri kecilnya bersikap semanis ini padanya. Sekarang rasanya tak akan menjadi masalah jika ia harus berbagi makanan kalau begini caranya.
Disisi lain Sendy ternyata diam-diam juga memiliki perasaan yang sama dengan Arka. Terselip sebuah perasaan bahagia yang tengah meletup-letup di dalam dadanya sekarang. Rasanya ingin sekali pria ini meloncat-loncat kegirangan.
Tapi tentu saja ia akan tetap menjaga wibawanya. Apa yang akan dikatakan sepasang kekasih didepannya sekarang ini, jika Sendy berbuat seperti itu. Mungkin ia akan di cap lebih gila dari Eresha yang tertawa tanpa sebab tadi.
Ia kembali membenarkan posisi duduknya. Kembali memasang tampang cueknya seperti biasa.
Kali ini hanya Eresha yang tetap fokus menonton drama itu sendirian sambil menyuapkan bakmi ke mulut mereka satu-persatu. Sementara meskipun kedua bola mata pria ini menatap layar laptop dengan lekat, tapi pikiran mereka tak sedang disini. Mereka sedang sibuk dengan khayalannya masing-masing, imajinasi yang mereka ciptakan sendiri.
***
Tiga hari berikutnya aku telah diperbolehkan untuk keluar dari tempat yang ku benci ini. Sementara Arka sudah kembali pulang ke rumahnya dua hari yang lalu.
Hari ini keluarga Arka mengadakan pesta kecil-kecilan di mansion papanya untuk merayakan kepulangan Arka dari rumah sakit juga merangkap acara ulang tahunnya yang sempat tertunda itu.
Acaranya diadakan pukul lima sore dan berlangsung hingga malam hari.
Aku tengah bersiap menunggu ojek online yang ku pesan tadi. Dengan setelan sederhana yang biasanya ku pakai yaitu sweater dengan celana panjang berbahan kaos, di lengkapi dengan sepasang snikers.
Sesampainya aku di tempat itu, sudah ada beberapa tamu yang datang. Arka tak mengundang terlalu banyak orang dalam pesta ini. Hanya teman-teman dekatnya saja. Pesta ini terkesan lebih tertutup dan bersifat privat. Namun meski begitu aku yakin jika ini akan cukup menyenangkan.
Aku juga menemui Stefani, Clara dan Kak Sendy di sini. Sebenarnya Renata juga diundang dalam pesta ini, tapi ia masih terlalu sibuk dengan tugas kuliahnya yang sudah menggunung karena terlalu sering ia tunda.
Tak sedikit juga wajah-wajah asing yang kulihat disana. Mungkin itu teman sekelas atau sahabatnya. Lagipula Arka tak pernah mengenalkan ku pada sahabat-sahabatnya.
Aku, Stefani dan Clara, kami bertiga duduk di sebuah bangku panjang di dekat kolam. Mungkin akan lebih cocok jika kita menyebutnya dengan bangku taman. Kami bertiga duduk disana sambil menikmati lukisan semesta yang begitu apik di atas sana. Gradasi warna kuning, merah dan jingga yang berbaur menjadi satu di tambah dengan sedikit warna gelap membuat pemandangan langit sore itu begitu indah. Pertunjukan luar biasa itu hanya berlangsung sesaat. Kemudian segera digantikan oleh kilau abadi yang tersebar di seluruh bentang langit, sejauh mata memandang.
Kami kini telah memasuki acara inti, yaitu acara barbeque. Banyak bahan makanan yang kami panggang di atas bara api yang berkobar menyala malam itu. Aku mengambil beberapa tusuk daging ayam bakar yang baru di angkat, kemudian duduk bersama teman-temanku di anak tangga menuju teras rumah tersebut.
Tak lama Arka datang bersama seorang pria bersweeter biru dongker dengan membawa makanan di piring mereka masing-masing. Mereka duduk di samping kami, dengan wajah sedikit gugup.
"Kenalin ini saudara aku, namanya Arsen." Ujar Arka.
Pria yang bernama Arsen itu langsung mengulurkan tangannya padaku sambil tersenyum.
"Eresha." Ujarku sambil membalas uluran tangannya.
Tak lama dua orang pria datang ke arah kami. Mereka duduk di samping Arka. Padahal tadinya aku hanya ingin menikmati makanan ini bersama Clara dan Stefani. Jujur aku tidak begitu nyaman dengan suasana saat ini. Sebenarnya aku juga tak terlalu suka dengan keramaian, karena aku sendiri adalah tipe orang yang memiliki kepribadian introvert. Beradaptasi dengan orang-orang baru bukanlah hal yang mudah bagiku.
"Eh, ka. Yang mana sih pacar lo, kita kepo nih." Ujar salah satu dari dua orang pria yang baru datang tadi.
"Kenalin ini Eresha, pacar gue." Ujar Arka sambil melirik ke arahku.
Kedua sudut bibirku terpaksa terangkat sehingga aku tersenyum dengan kesan begitu canggung.
"Oh, yang ini... Enggak nyangka kalau lo pinter juga nyari pacar." Ujar pria yang tadi itu.
"Oh, iya kenalin buat yang belum kenal sama mereka. Ini sahabat aku namanya Adit dan Titan." Ujar Arka.
"Hai, kenalin Adit!"
"Kalau aku Titan."
"Terus kenapa lo enggak pernah bareng mereka?" Tanya Stefani.
"Siapa bilang, kita selalu barengan kok. Tapi kalau di kelas doang... Hehe..." Ujar seorang pria yang bernama Adit.
"Iya, soalnya kalau di ajak keluar kelas mereka itu paling mager." Timpal Arka.
Ooo, sekarang aku bisa menyimpulkan jika sahabat nya Arka ini sangat jarang keluar dari kelas tercintanya itu sehingga aku jarang melihatnya.
"Oh iya ka, si Arsen rencananya mau terusin kuliah ni?" Tanya Titan.
"Tanya aja langsung sama orangnya. Lagian dia di depan idung juga, ngapain tanya ke gue." Balas Arka sambil menyantap makanannya.
Titan kemudian memastikan kebenaran perkataan Arka tadi. Lehernya memanjang, menyelinguk ke orang yang tengah duduk di depannya.
"Oh iya bener, hehe..." Ujar Titan sambil nyengir seolah tak berdosa.
Ia kemudian menepuk pelan pundak Arsen yang dari tadi tak banyak bicara memang.
"Apa kabar bro..." Ujar Titan.
"Menurut lo gimana?" Balas Arsen.
"Eh, lo kan tahun ini lulus. Gimana? Mau lanjutin kuliah nggak?" Tanya Titan langsung ke inti permasalahan.
"Ya jelas lah dia bakal lanjut kuliah. Gimana sih!" Timpal Adit yang tiba-tiba ikut buka suara.
Sementara sosok yang ditanya hanya mengangguk pelan.
"Lo jadi ngambil beasiswa itu?" Tanya Titan serius.
Arsen kembali menganggukkan kepalanya.
"Kesempatan ini belum tentu bakalan datang untuk kedua kalinya." Balas Arsen.
"Lo jadi ngambil beasiswa itu juga kan ka?" Tanya Arsen kepada Arka.
"Ha? Hmmm.... Belum tau juga." Ujar Arka dengan mimik wajah sedikit ragu.
Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalau Arka ngambil beasiswa itu juga, artinya kalian berdua bakal kuliah di luar negeri dong. Bakalan jarang ketemu nih kayaknya." Sambung Adit.
Aku langsung mendongakkan kepalaku. Kali ini aku benar-benar menatap mereka lekat, padahal tadinya aku hanya menyimak obrolan mereka sambil menikmati kudapan milikku. Tapi kini kalimat itu benar-benar mencuri perhatianku.
Apa? Kuliah di luar negeri? Dimana?
"Kuliah di luar negeri?"
Aku memutuskan untuk bertanya soal ini.
"Iya, emang Arka belum pernah cerita ya?" Balas Arsen.
Aku menggeleng cepat, lalu menatap Arka dengan tajam. Ternyata selama ini ia menyembunyikan sesuatu dariku.
"Jadi gini, waktu itu aku dapat tawaran beasiswa di Australia karena menang lomba desain gitu. Dan aku memutuskan untuk ambil beasiswa ini setelah lulus, kemudian aku bakal ambil jurusan desain interior." Jelas Arsen yang mulai bercerita sedikit tentang masalah beasiswa itu.
"Terus hubungannya sama Arka?" Tanya Clara yang tiba-tiba ikut membuka suara.
"Sebelum papanya Arka meninggal, dia sama mamanya Arka udah buat kesepakatan untuk nguliahin Arka di luar negeri." Jawab Arsen.
"Karena mama dan papa udah tau kalau jadi arsitek adalah cita-cita aku dari kecil sampai sekarang." Tambah Arka.
"Kenapa enggak di Indonesia aja?" Tanyaku.
"Pas mama tau kalau Arsen dapat beasiswa itu, kita udah sepakat buat kuliah di Australia. Lagian nanti jurusan yang aku ambil enggak jauh beda kok sama Arsen, masih searah." Ujar Arka dengan penuh keyakinan.
Aku hanya bisa terdiam pasrah. Lagipula aku tak memiliki hak untuk melarang Arka melakukan ini, biarpun sekarang aku pacarnya. Itu mimpinya sejak kecil, ia sangat bertekad untuk hal itu. Aku tak bisa menghalanginya untuk menggapai cita-citanya, itu sama saja seperti aku menghancurkan masa depan nya.
Omong-omong kemana anak jurusan arsitektur yang satu lagi itu. Ia seharusnya ikut berkumpul disini dengan orang-orang yang se-passion dengannya. Rasanya kedua bocah ini pantas mendapatkan wejangan dari seniornya yang sudah lebih dulu merasakan hitam putih dunia perkuliahan.
Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru, tapi hasilnya nihil. Padahal jelas-jelas aku melihatnya berada di sini. Apa dia pulang lebih awal. Eh rasanya tidak mungkin ia melewatkan acara inti.
"Kak Sendy mana, kok dari tadi enggak keliatan?" Tanyaku pada semua orang yang berada disana.
__ADS_1
"Itu!" Jawab Arka sambil mengacungkan jari telunjuknya.
Kedua bola mataku mengikuti arah kemana jari telunjuknya bergerak. Ah! Itu dia! Sedang apa pria itu berada di atas rumah pohon malam-malam begini, sendirian pula. Apa ia tidak takut jika tiba-tiba sejenis lelembut berambut panjang dengan jubah putih muncul dibelakangnya, lalu tiba-tiba tertawa dengan nada menyeramkan. Hh! Membayangkannya saja sudah membuatku merinding sendiri.
"Kak Sendy! Sini!" Teriak Arka sambil melambai-lambaikan tangannya.
Seorang pria yang berada di atas sana lantas langsung menoleh karena rangsangan yang diterima oleh reseptor nya. Ia kemudian mengangguk mengerti lalu turun menghampiri kami.
"Ada apa?" Tanya Kak Sendy dengan polosnya.
"Ngapain di atas sendirian, nanti ada hantu gimana." Ujarku.
"Elah gitu doang."
"Eh, iya kenalin ini Kak Sendy. Anak jurusan arsitektur, kakak senior aku nih." Ujar Arka sambil menepuk bahu Kak Sendy.
"Wuihh keren! Udah semester berapa kak?" Tanya Arsen antusias.
"Mau jalan semester dua tahun ini." Ujar Kak Sendy dengan bangganya.
"Oh, kenalin kak ini teman-teman aku. Kalau yang ini Arsen, saudara aku."
"Hai, senang bertemu kalian!" Balas Kak Sendy.
Sesuai seperti dugaan ku sebelumnya. Mereka semua pasti sibuk membicarakan sesuatu yang tak dimengerti para wanita. Akhirnya kami bertiga menyingkir dari sana menemui mamanya Arka.
"Eh, kalian? Enggak ngumpul bareng Arka?" Tanya Mamanya Arka.
"Enggak tante, kita enggak ngerti apa yang mereka bahas. Biasalah obrolan cowok." Balas Stefani dengan santai.
Aku mengumpulkan beberapa piring kotor yang terletak sembarangan di atas meja panjang tersebut. Kami membantu Mamanya Arka untuk memotong beberapa buah sebagai hidangan pencuci mulut. Juga menyiapkan beberapa cup sirup dan jus buah.
Acaranya dilaksanakan di luar ruangan, sehingga kami bisa menikmati indahnya langit malam. Tapi tiba-tiba jutaan kilau yang bertabur diatas sana di halau oleh awan kelabu. Sepertinya hujan akan segera turun, gelegar petir juga telah terdengar beberapa kali.
Mau tak mau kami harus memindahkan lokasi pesta ini ke dalam. Huft! Aku menggotong nampan berisi potongan buah semangka masuk ke dalam mansion ini. Yang benar saja, hujan turun dengan lebatnya mengguyur kota besar ini. Seharusnya debit air sebanyak ini mampu menghapus tiap jejak di jalanan ibukota serta meredam debu yang berterbangan dengan bebas.
Mataku tertuju pada sebuah grand piano yang cukup besar di sudut ruangan ini. Jika di lihat dari tata letak dan susunan perabotannya, ruangan ini sepertinya adalah ruangan keluarga atau ruang tamu. Ada banyak sofa yang tersusun rapat di dinding ruangan ini.
Aku baru menyadari jika ada sebuah grand piano yang sangat besar. Padahal waktu aku pingsan kemarin, aku berada di ruangan ini. Bahkan yang satu ini lebih besar dari piano yang ada di rumah Arka. Ini pasti peninggalan papanya, pria hebat itu sepertinya sangat terobsesi dengan alat musik yang satu ini. Benda yang satu ini tampak hitam berkilauan dengan elegan, memancarkan auranya yang sangat memikat.
Meski ini bukan pertama kalinya aku datang kesini, tetap saja aku masih terkagum-kagum dengan desain bangunan ini. Begitu pula dengan semua perabot yang ada disini. Konsep yang di gunakan untuk bangunan ini akan sangat memukau siapapun orang yang pernah masuk ke dalamnya, unik dan berbeda dari yang lainnya.
Suara derasnya hujan menembus masuk hingga ke dalam ruangan, membuat sedikit kebisingan yang mengganggu di telingaku. Begitu pula dengan hawa dingin yang menyeruak tajam.
***
Akhirnya aku kembali ke rumah, tentu saja di antar oleh Arka. Walaupun aku berusaha menolak, pria itu tetap saja tak mau kalah. Ia akan terus bersikeras untuk mengantarku. Sebelum kembali ke rutinitas malam ku, apalagi jika bukan hibernasi. Aku mampir ke kamar Renata sebentar untuk mengantarkan makanan yang dibawakan Mamanya Arka tadi.
"Ceklekk!"
Aku membuka pintu kamarnya dengan hati-hati, takut jika kehadiranku malah mengganggunya. Wanita itu melemparkan pandangannya sebentar ke arahku kemudian bangkit dari posisinya. Segala jenis buku yang tak tanggung-tanggung tebalnya berserakan di atas ranjangnya. Tak lupa dengan sebuah laptop yang ikut menemaninya di atas sana. Wajahnya tampak suntuk, matanya sayu karena terlalu lama menatap layar laptop. Dan nyatanya beginilah realita kehidupan anak perkuliahan. Tapi anda harus rela merasakan lelahnya menuntut ilmu, jika tidak ingin merasakan pahitnya kebodohan.
"Udah pulang? Ada apa dek?" Tanya Renata sambil mengucek-ucek matanya yang terasa panas.
"Ini tadi Mamanya Arka bawain makanan buat kakak." Ujarku sambil menyodorkan sebungkus makanan.
"Pakai di bawain segala."
"Tadi banyak sisa kok kebetulan, dan Arka bilang buat kakak aja. Kan kakak enggak bisa datang tadi." Jelasku.
"Yaudah, bilangin terimakasih banyak ya sama mereka."
"Aman. Yaudah aku balik ke kamar dulu ya."
***
Aku merebahkan diriku di atas kasur yang sprei nya terasa dingin ketika di sentuh. Hujan memang sudah reda, tapi masih meninggalkan sisa rintik air dan udara dinginnya.
Aku bahkan tak sempat untuk mengganti bajuku, atau hanya sekedar untuk mencuci muka, tangan dan kaki sebelum tidur. Aku menaikkan selimutku, mataku sudah terasa terlalu berat untuk tetap di pertahankan terbuka.
***
Pagi ini aku berangkat dengan bis kota. Tidak bersama Arka seperti biasanya. Aku memantapkan langkahku menuju ruang kelas. Entahlah, hari ini aku merasa lebih percaya diri dari pada biasanya. Tapi semua semangatku hilang tiba-tiba saat aku duduk di atas bangku keramat ini. Bangku yang selalu bisa membuat siapa saja yang duduk disini akan merasa kantuk tiba-tiba. Tentu saja kalian tak tahu bagaimana perjuanganku menahan semua godaan itu saat pelajaran berlangsung. Untungnya dua bulan lagi aku akan segera meninggalkan benda yang ku duduki setiap harinya. Karena sebentar lagi kami akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Meski sebenarnya ini bukan dua bulan penuh lagi, sudah hampir sisa sebulan lebih beberapa hari saja.
Saat ini kami sedang sibuk-sibuknya untuk mempersiapkan ujian. Mengisi nilai-nilai kami yang kosong, dan untung saja aku sebagai murid yang teladan tidak pernah melakukan itu.
Hari ini kami juga pulang sedikit lebih awal karena sekolah sedang sibuk mempersiapkan berbagai macam ujian untuk murid kelas tiga. Setidaknya hari ini aku bisa beristirahat lebih lama, menonton film seharian. Ku pikir pulang lebih awal akan seindah itu tadinya, tapi ternyata aku malah harus berkeliling kota lagi. Huft! Aku butuh istirahat dari kesibukan keseharian ku.
Arka mengajakku untuk pergi menemaninya ke toko sepatu, kemudian ke toko buku untuk mencari beberapa novel untuk tugas akhir semester Bahasa Indonesia yaitu meresensi buku. Sebenarnya aku bisa saja meminjamkannya novel-novel milikku. Tapi sepertinya ia tak tertarik dengan genre novel yang ku koleksi. Lagipula Arka paling malas jika disuruh membaca buku yang tebalnya dua ratus halaman. Apalagi buku novel yang ku miliki rata-rata berjumlah empat ratus hingga lima ratus halaman, biasanya aku membacanya saat masa liburan sekolah agar aku tidak bosan di rumah.
Pertama-tama kami mampir ke toko sepatu. Katanya nanti malam ia dan mamanya harus menghadiri sebuah pesta pernikahan salah satu teman kantor mamanya. Dan ia tak memiliki sepatu kulit yang mengkilap seperti orang kantoran pada umumnya. Sepatu yang ia miliki rata-rata adalah sepatu lari, sepatu olahraga dan sepatu snikers sama seperti anak muda kebanyakan.
Kami berkeliling toko mencari sepatu yang sesuai dengan keinginan Arka. Aku tak bisa membantu apapun kali ini, karena aku memang tak tahu menahu soal itu.
"Ini gimana?" Tanya Arka sambil mengambil sebuah sepatu kulit berwarna hitam di atas sana.
Ia cukup tinggi untuk meraih benda itu. Maklum saja, dulunya dia adalah mantan kapten basket sekolah dan sekarang ia sudah pensiun dari jabatan itu.
"Bagus." Ujarku.
Hanya itu yang bisa ku ucapkan saat ini. Tak ada kata-kata lain yang terlintas di pikiranku, aku benar-benar sudah kehabisan kata-kata. Lagipula aku memang tidak tahu tentang fashion pria. Jangankan untuk fashion pria, fashion wanita yang terkini dan sedang trend saja aku tak tahu.
Kemudian ia duduk di kursi panjang yang disediakan disana dengan sebuah cermin di depannya. Ia mengepas sepatu itu masuk ke dalam kakinya.
"Gimana? Pas?" Tanyaku sambil melipat tangan di depan dada.
Arka berdiri sejenak melihat penampilannya di depan cermin.
"Kayaknya agak kebesaran deh." Ujarnya.
"Kamu udah srek sama model nya?"
Arka mengangguk pelan.
"Oke, tunggu sebentar." Ucapku.
Aku memanggil salah satu pegawai toko yang berjaga di ujung sana.
"Model sepatu yang seperti ini kira-kira ada ukuran berapa aja ya mas?" Tanyaku sambil menunjuk sepatu yang di pakai Arka.
"Oh ada ukuran nomer 40 sampai 43 mbak." Uajr si pelayan toko.
Aku merebut sepatu yang baru saja dilepasnya, kemudian mengeceknya nomer ukuran sepatu tersebut.
"Ukuran 41 ada mas?" Tanyaku.
"Ada mbak sebentar saya ambil."
Sepatu yang di coba Arka berukuran empat puluh dua. Mungkin butuh satu atau dua angka di bawahnya agar lebih pas di kaki Arka.
"Ini mbak." Ujar si pelayan yang tadi sambil membawakan sebuah sepatu yang bermodel sama persis.
Tanpa pikir panjang Arka kembali mengepas sepatu tersebut, lalu mengecek penampilannya. Arka menganggukkan kepalanya pelan.
"Yang ini aja deh mas tolong di bungkus." Ujar Arka.
"Baik mas."
Kami segera menuju meja kasir untuk membayar sepatu tersebut. Si pelayan toko menyodorkan bungkusan plastik yang di dalamnya berisikan sepatu yang terkemas apik di dalam sebuah kotak dengan desain yang tak kalah mewah. Aku tak tau berapa Arka rela merogoh koceknya untuk sepatu itu, tapi yang pasti itu kelihatannya mahal. Aku tak bisa membayangkan betapa kerennya ia saat memakai sepatu ini dengan setelah jas dan kemeja putih sebagai dalaman, sekilas ia akan terlihat seperti seorang CEO. Tapi siapa kira jika sebenarnya ia adalah seorang siswa kelas dua SMA.
Selanjutnya kami pergi menuju toko buku yang terdapat di dalam sebuah mall di dekat sini. Toko bukunya berada di lantai dua, sehingga kami harus menaiki eskalator untuk naik ke atas sana. Padahal ini baru pukul dua belas siang, tapi tempat ini kelihatannya tidak pernah sepi.
Sebenarnya tadi aku sudah menyarankan agar Arka membeli buku di pasar loak saja. Itu akan jauh lebih murah dari pada membeli yang baru. Mengingat Arka bukanlah tipe orang yang suka membaca buku tebal. Tapi Arka tetap lah seorang Arka, ia tetap ingin terlihat perfeksionis dalam semua hal. Bahkan hanya untuk sekedar tugas.
__ADS_1
Jika aku berada di posisi Arka sekarang, aku akan jauh memilih untuk membeli barang bekas yang masih layak. Aku sangat memperhatikan pengeluaranku setiap bulan. Dan itu wajar bagi seorang wanita sepertiku.