
"Aku balik dulu ya, terimakasih makan malamnya." Ujar Arka dari atas motornya.
"Hati-hati di jalan..." Balasku.
Sesudah berpamitan, ia langsung pergi meninggalkan kompleks ini bersama sepeda motornya. Setelah memastikan jika ia telah benar-benar pergi, aku kembali masuk ke dalam rumah.
"Nenek kapan pulang mbak?" Tanya bibi yang sedang mencuci piring.
"Kemungkinan kalau nggak besok, lusa sih bi." Balasku.
Aku membantu menyelesaikan pekerjaan bibi sedikit. Sepertinya sekarang contohnya, aku sedang membersihkan meja makan. Setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku bergegas naik ke kamar. Aku butuh waktu sendirian untuk istirahat.
"Bi, aku naik ke atas dulu ya." Pamitku.
"Iya mbak."
Aku merobohkan diriku di kursi meja belajar, sembari mengingat apakah ada tugas atau tidak. Tapi seingatku semuanya sudah aku selesaikan di sekolah. Entah kenapa sejak kemarin karena ingin langsung menonton pertandingan itu, aku jadi lebih memanfaatkan waktu luang ku di sekolah.
Aku mengedarkan pandangan keseluruhan ruangan, mencari sesuatu yang bisa kukerjakan. Hingga bola mata itu terhenti pada satu objek di sudut ruangan. Kejadian nyata di masa lampau yang sempat terabadikan.
Jerih payah yang ku lakukan saat itu tak sia-sia. Medali itu penuh kenangan, ia tak hanya memberikan satu memori berharga bagiku. Ada jutaan kisah dibalik benda itu.
Tiba-tiba aku langsung teringat pada surat yang di tulis Arka tadi. Sebuah ungkapan isi hatinya yang di tulis atas nama persahabatan. Aku langsung mengeluarkan seluruh isi tasku untuk menemukan buku tersebut. Bingo! Akhirnya aku menemukanmu!
Aku lantas mengambil cutter dan penggaris untuk memisahkan lembaran istimewa tersebut dari halaman lainnya. Aku merobek bagian halaman tersebut dengan perlahan dan hati-hati.
Mungkin aku harus membingkainya, ini adalah sebuah karya seni. Jadi ku putuskan untuk memajangnya di sisi kanan medali ku yang masih kosong.
Aku turun sebentar untuk mencari beberapa buah paku. Beruntung aku masih menyimpan beberapa figura foto yang kosong. Sebenarnya ini figura sisa yang di beli mama untuk memajang foto-foto anggota keluarga. Karena masih ada beberapa yang tidak terpakai, jadi aku turut membawanya ke sini. Kebetulan ukurannya memang pas dengan ukuran kertas buku tulis ku ini.
Aku menancapkan paku tersebut di dinding dengan bantuan palu. Kali ini aku akan lebih berhati-hati agar kejadian waktu itu tak terulang lagi.
"Drrttt!!!"
Ponselku tiba-tiba bergetar pelan. Aku langsung mengeceknya, ternyata itu Stefani. Tak biasanya ia menelpon ku malam-malam seperti ini. Seharusnya ia masih berkerja, belakangan ini gadis itu selalu mengambil shift malam.
"Halo stef, ada apa?" Ujarku.
"Gue boleh nginep di rumah lo ya buat sementara." Jawabnya lirih dari seberang sana.
"Loh kenapa? Kost-an kamu kemana?"
"Gue baru aja di usir dari kost karena belum bayar tagihan bulan kemarin. Padahal kan niatnya gue mau bayarnya tunggu gajian." Jelas gadis itu.
"Yaudah deh, lagipula sementara ini nenek sama kakak aku lagi balik kampung."
"Beneran sha?"
"Iya...."
"Terimakasih banyak ya sha, gue janji enggak akan lama-lama di sana. Habis gajian nanti gue langsung cari kost baru."
"Iya, santai aja. Nanti aku juga bakal ngomong sama nenek kok. Pasti di izinin lah."
"Oke, gue siap-siap ke sana dulu ya."
"Tapi maaf nih stef, aku enggak bisa bantuin kamu beberes. Udah malam juga soalnya, jadi enggak ada transportasi buat kesananya."
"Iya, enggak apa-apa gue bisa ke sana sendiri kok. Lagian Lo udah mau ngasih tumpangan di rumah lo aja itu udah lebih dari cukup kok. Yaudah ya, gue matiin dulu telponnya habis itu otw ke sana." Jelas Stefani.
"Tut.....tut.....tut....."
Take lama Stefani langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Lagipula aku tak sampai hati jika ia harus di terlantarkan seperti itu. Terlebih lagi dia adalah sahabatku. Walaupun seandainya ia bukan sahabatku seperti sekarang ini, aku akan tetap membantunya selagi aku masih mampu.
Aku segera membereskan kekacauan di kamar tidurku. Tentu saja aku tak ingin jika gadis itu mengolok-olok ku karena situasi kamarku yang berantakan.
Aku merebahkan diriku di atas kasur sambil bermain ponsel. Aku termasuk orang yang betah saat memainkan benda persegi panjang ini. Bahkan terkadang sampai lupa waktu. Tak jarang aku bermain ponsel hingga larut malam.
"Tok...tok...tok..."
Seseorang mengetuk pintu kamarku dari luar. Dengan langkah berat aku berusaha menggapai gerendel pintu tersebut. Kasur ini terlalu nyaman untuk ku tinggalkan begitu saja.
"Iya bi ada apa?" Tanyaku.
"Ada temennya mbak di bawah. Dia bawa-bawa koper gitu, katanya mau nginap di sini emang bener mbak?"
"Iya bi, dia habis di usir dari kost-an."
"Kok bisa mbak?"
"Panjang ceritanya bi, Aku ke bawah dulu ya jemput dia."
Bibi hanya mengangguk mengiyakan perkataanku. Meski wajahnya masih tampak penasaran, karena ia belum mendapatkan yang diinginkannya.
Aku tak akan bercerita banyak soal Stefani kepada siapapun. Bagaimanapun ia pasti memiliki privasi yang tak sepatutnya di umbar sembarangan. Menjadi teman dekat yang akrab bukan berarti kita bisa mencampuri semua urusan mereka. Terkadang setiap manusia juga perlu waktu untuk dirinya sendiri, yang bahkan tak ingin di usik oleh semesta.
***
Aku mengajaknya naik ke kamarku, kemudian menata beberapa koper miliknya di sudut ruangan. Kadang aku tak habis pikir. Bagaimana bisa ia mengangkat semua koper ini sendirian.
Ada tiga koper dengan ukuran big size yang ia bawa. Yang satu berisi semua pakaian dan selimut miliknya, lalu di koper lainnya khusus untuk menempatkan buku-buku sekolah dan yang terakhir berisi barang-barang perabotan kecil yang sudah ia kemasi dengan dus dulu sebelumnya.
Ia bahkan belum sempat mengistirahatkan dirinya sendiri sebentar di kamar kost miliknya. Stefani langsung di usir begitu saja dan di suruh mengemasi semua barangnya sesaat setelah ia sampai di tempat itu. Seragam dan appron yang ia pakai untuk bekerja saja belum sempat di gantikan dengan baju tidur.
Bagaimana perasaan gadis itu sekarang. Ia pasti merasa sangat terpukul. Kadang aku sempat berfikir apakah pemilik kamar kost itu tidak memiliki rasa kemanusiaan atau bagaimana. Dengan teganya ia menelantarkan anak SMA di tengah malam seperti ini.
Hanya karena sepeser uang yang tak bisa ia dapatkan sesuai dengan harapannya, ia sampai hati melakukan itu. Materi benar-benar telah mencuci habis akal sehat manusia, juga menghilangkan rasa peri kemanusiaan.
Sementara Stefani mandi dan bersiap untuk tidur, aku mengambilkan makan malam untuknya. Aku yakin pasti ia belum sempat makan barang sesuap sejak tadi siang.
***
"Stef ini makan malamnya aku taruh di atas meja belajar ya." Ujarku.
"Iya, sha terimakasih." Balas Stefani dari dalam kamar mandi.
Tak lama gadis itu keluar dari kamar mandi dengan rambut terbungkus oleh handuk. Kemudian ia segera menuju meja belajar milikku untuk menyantap makan malamnya.
"Gue janji deh selama di sini bakalan bantuin bibi." Ujar Stefani dengan mulut penuh makanan.
__ADS_1
"Haha... Terserah deh stef." Balasku.
"Sha..."
"Iya?"
"Ini surat dari Arka ya?" Tanya Stefani.
Mataku langsung terbelalak lebar setelah mendengar kalimat barusan. Bagaimana bisa aku melupakan hal itu. Aku langsung berlari ngacir menuju Stefani. Tanpa pikir panjang aku segera menyingkirkan benda itu dari sana. Semoga saja ia belum sempat membacanya.
"Pajang aja kali, enggak apa-apa juga." Ujar Stefani dengan tenang.
"Enggak apa-apa kok biar aku simpan aja." Balasku seraya memeluk figura tersebut.
"Arka romantis banget ya, kenapa coba kalian harus udahan."
Apa jangan-jangan Stefani sudah sempat membaca ini. Sial! Rasanya aku ingin menyembunyikan mukaku dari dunia ini. Tubuhku langsung berubah lemas.
"Kamu udah baca ini?" Tanyaku.
Stefani mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat.
Aku menepuk pelan jidatku. Dasar bodoh!
"Pajang aja di sini, lebih kelihatan estetik." Usul Stefani.
Aku menggeleng cepat menanggapi ucapannya barusan.
"Kenapa?" Tanya Stefani heran.
Kemudian tanpa peringatan terlebih dahulu sebelumnya, ia langsung merampas figura tersebut dari tanganku. Gadis itu mengembalikan benda itu ke tempat asalnya, tempat di mana memang seharusnya benda itu berada.
"Sampai sekarang kalian enggak pernah cerita sama siapapun soal alasan kalian buat putus." Ujar Stefani.
Ah, ayolah! Aku tak ingin membahas tentang hal ini sekarang, bahkan mungkin untuk selamanya.
"Panjang ceritanya stef, kamu enggak akan paham." Balasku dengan volume suara yang sedikit pelan.
"Enggak apa-apa, ceritain aja. Gue bakalan dengerin kok sampai habis."
Aku menggeleng pasrah. Ku harap ia bisa mengerti dengan keadaanku sekarang. Bahkan aku tak tahu harus memulainya darimana. Ceritanya terlalu rumit, sudah sangat kusut. Aku tak yakin jika ia akan mengerti. Yang ada takutnya ia malah menjadi salah paham denganku.
"Yaudah kalau belum mau cerita, aku enggak maksa juga kok." Balas Stefani paham.
Aku lega akhirnya gadis yang terkadang menyebalkan ini juga bisa menjadi pribadi yang begitu hangat.
"Aku balikin piringnya ke bawah dulu ya." Ujar Stefani.
Aku mengangguk mengiyakan perkataannya.
Setelah memastikan jika Stefani telah benar-benar pergi, aku kembali menyingkirkan figura itu. Aku menyimpannya di dalam laci meja belajarku.
"Ingat sha... ini semua atas nama persahabatan, enggak lebih!"
Aku kembali menegaskan hal itu kepada diriku sendiri. Kepada hatiku yang belum bisa sepenuhnya sembuh. Seraya meyakinkan diriku sendiri jika aku akan bangkit lagi suatu saat nanti.
Sebenarnya bukan ini yang aku inginkan. Tapi garis takdir berkata lain. Aku tak yakin jika perusahaan kami masih bisa seperti dulu. Seindah masa lalu yang pernah ku habiskan bersamanya.
Aku tak yakin jika persahabatan aku dan Arka akan berlangsung baik-baik saja sampai pada waktu yang telah di tentukan. Jika rasa ini belum lenyap seutuhnya dari diri kami masing-masing, akan sulit menghadapi status kami yang sekarang.
Karena memikirkan hal itu, bola mataku menjadi memanas hingga tanpa ku sadari aku sempat menangis. Aku segera mengusap air mata tersebut sebelum di lihat oleh Stefani.
"Aku tak butuh air mata bodoh ini!" Batinku dalam hati.
Semenjak kenyataan mengungkap kebenarannya saat itu aku mulai rapuh. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri.
***
21.32
Kami berdua sedang tak melakukan apapun saat ini. Menatap langit-langit kamarku sambil berbaring di tempat tidur. Benar-benar kurang kerjaan. Tapi memang tidak ada lagi hal yang bisa kami lakukan selain yang satu itu. Meski aku sudah memutar otak, tetap saja hasilnya nihil. Benar-benar malam yang membosankan.
"Sha..."
Tiba-tiba Stefani mulai memecah keheningan suasana malam itu.
"Iya?" Balasku seraya menoleh ke arahnya yang sedang berbaring di sampingku saat itu.
"Menurut lo wajar nggak sih kalau orang kayak gue bisa jatuh cinta?"
Lagi-lagi ia mengutarakan isi hatinya yang belum sempat kami selesaikan di toilet sekolah tadi karena ia buru-buru pergi meninggalkanku.
"Kenapa enggak, semua manusia itu bisa jatuh cinta."
"Gue terlalu takut buat jatuh ke dalamnya."
Aku hanya bisa diam dan membisu. Tak ada yang bisa ku katakan lagi.
"Terkadang gue takut buat memulai semua ini. Terlalu beresiko untuk seseorang seperti gue."
"Emangnya siapa pria itu?"
"Gue enggak yakin kalau benar dia yang udah ngebuat gue jatuh cinta."
"Kadang ada waktunya kita tak bisa mengerti dengan diri kita sendiri. Sama perasaan kita yang enggak jelas, yang kadang membuat kita bingung harus apa."
Stefani tertawa kecil setelah mendengar kalimatku barusan. Entah apa yang salah dengan kata-kata ku. Apa aku telah mengucapkan sesuatu yang lucu, sehingga membuatnya tertawa? Tapi kurasa tidak begitu. Aku tahu benar saat itu situasi kami sedang serius. Jadi mana mungkin aku bercanda seperti itu.
"Kenapa kok malah ketawa?" Tanyaku kebingungan.
"Lo juga bingung sama perasaan lo sendiri sha? Haha..."
"Entahlah, emang kenapa sih?"
"Lo bingung gimana perasaan ko sama Arka sekarang?"
Kalimat itu berhasil membuatku bungkam dan tak bisa berkutik sedikitpun. Sudah ku bilang jangan bahas soal Arka atau siapapun malam ini. Ku mohon, sekali saja.
"Maaf... gue enggak bermaksud..." Ujar Stefani yang tiba-tiba merasa bersalah.
Sepertinya ia menyadari perubahan emosiku saat itu. Aku buru-buru mengalihkan pembicaraan untuk kembali ke topik yang sedang kami bahas tadi.
__ADS_1
"Udah, enggak apa-apa kok." Balasku.
"Gue janji deh enggak akan ngebahas itu lagi. Gue tau kok hati lo belum seutuhnya pulih. Mungkin Arka juga sama."
"Eh iya gimana soal cowok yang lagi kamu sukai itu?"
"Oh...dia..."
"Kasih tau dong dia siapa."
"Titan..."
Kedua bola mataku membulat sempurna saat mendengar nama itu. Apakah aku tidak salah dengar barusan. Titan yang ia maksud adalah Titan sahabatnya Arka kan?
"Tapi jangan kasih tau siapapun." Pinta Stefani.
"Cuma kita berdua?"
"Untuk saat ini gue cuma bisa percaya sama lo. Please jangan kasih tau yang lain termasuk Clara atau Arka, apalagi Titan."
"Aku bakal jaga ini sebaik yang aku bisa."
"Terimakasih Eresha Caitlyn Ananda...."
Dasar! Gadis ini selalu menyebutkan nama lengkapku ketika ada maunya. Bahkan sekarang ia tak membiarkan ku bergerak sedikitpun. Ia mengikat ku dalam pelukannya, sebuah defenisi pelukan persahabatan. Seperti kartun Teletubbies yang suka berpelukan dengan teman-temannya mungkin.
Aku berusaha menyingkirkan tangannya dari badanku. Tapi tetap saja hasilnya nihil, kekuatannya jauh lebih besar dari yang ku duga. Mungkin karena ia barusaja selesai makan malam, makanya energinya langsung bertambah pesat seperti ini.
Setelah merasa puas, akhirnya ia membiarkanku untuk kembali bernafas dengan leluasa. Aku menatapnya dengan sorot mata tajam yang mengisyaratkan jika aku tak suka di perlakukan seperti barusan. Dengan polosnya Stefani malah nyengir seolah tak berdosa.
"Tunggu deh, ini Titan yang mana?" Tanyaku.
Aku hanya ingin memastikan jika dugaan ku sebelumnya benar dan tidak salah orang.
"Ya Titan yang satu geng sama Arka lah. Emang Titan mana lagi coba?" Jawab Stefani sambil berdecak sebal.
"Emangnya di SMA Nusantara yang namanya Titan cuma satu ya?"
"Enggak tau juga sih, hehe..... Tapi diantara semua murid SMA Nusantara yang gue kenal nih ya, yang namanya Titan cuma dia doang."
"Heleh... dasar!"
Malam itu kami tak mengira jika akan bercerita banyak tentang Titan. Ku harap telinga pria itu tak kepanasan di sana. Maafkan kami yang dengan lancangnya menggosipkan tentangmu malam-malam seperti ini.
"By the way kok bisa sih kamu suka sama Titan? Sejak kapan? Emang dia ganteng ya? Apa coba alasannya?"
Aku langsung menginterogasi Stefani saat itu juga di TKP.
"Satu-satu dong ngasih pertanyaannya. Kalau gini mau jawab yang mana duluan coba."
"Hehe... Ya maaf, jiwa keingintahuan ku sudah menggebu-gebu. Udah enggak terkontrol lagi."
"Pengen tahu doang atau kepo nih?"
"Dua-duanya sih, hehe..."
Ingin tahu dan kepo adalah dua hal yang sama tapi berbeda. Sulit memang untuk di deskripsikan dengan kata-kata. Bentuk sederhananya kurang lebih seperti anak kembar yang mirip namun tetap memiliki perbedaan antara satu sama lain. Meski perbedaannya hanya selisih sedikit saja.
Baiklah kembali ke topik.
"Jadi jawab yang mana dulu nih?" Tanya Stefani.
"Pertanyaan yang pertama lah."
"Isi pertanyaannya apa tuh, aku lupa."
Aku mendesis kesal terhadap Stefani. Bagaimana bisa ia melupakan sesuatu yang baru saja ku ucapkan beberapa detik yang lalu. Tak heran jika ia sering mendadak lupa rumus-rumus kesetimbangan benda tegar saat ulangan fisika.
Aku menarik nafas dalam-dalam sembari meningkatkan level kesabaranku. Kemudian dengan terpaksa aku harus mengulangi kata-kata yang sama persis seperti yang barusaja ku ucapkan beberapa detik lalu.
"Emang apa yang buat kamu sampai suka sama Titan?"
Stefani melemparkan pandangannya ke langit-langit kamar sejenak, ia tampak berpikir keras. Mencoba mengingat kembali kejadian beberapa waktu lalu yang membuatnya jatuh hati kepada pria itu.
"Gue enggak punya alasan sha, gue sendiri juga bingung kenapa bisa suka sama dia."
"Enggak heran sih."
"Maksud lo gimana?"
"Pada umumnya cinta memang enggak perlu alasan untuk terjadi. Itu adalah reaksi alamiah yang muncul secara tiba-tiba. Bahkan kita sendiri enggak tahu kepada siapa rasa itu tumbuh dan bagaimana cara ia berkembang." Jelasku.
"Nah, iya bener. Gue juga enggak nyangka sebelumnya kalau gue bakalan suka sama dia."
"Cinta itu sebenarnya sederhana, cuma hidup kita aja yang buat semuanya terasa rumit."
Wajahnya langsung berubah sumringah saat kami membahas tentang pria itu. Ia begitu antusias, bisa kurasakan beban emosinya yang perlahan-lahan mulai berkurang. Dirinya sekarang terasa lebih lega, itu semua terpancar dari sorot matanya. Kedua biji matanya berkilau saat itu, penuh makna.
"Sebenarnya gue udah nyembunyiin ini sejak dulu." Ungkap Stefani.
Ia memberitahukan ku hal itu secara sukarela tanpa perlu ku minta. Inilah yang terjadi ketika kita mulai merasa benar-benar percaya terhadap seseorang.
"Oh ya, sejak kapan?" Tanyaku antusias.
"Udah lama, sejak gue masih kelas satu SMA. Masih bau kencur." Ujar Stefani dengan nada mengguyon.
Lantas hal itu membuatku tertawa kecil mendengar ucapannya barusan.
"Waktu itu pas masa orientasi sekolah, dia adalah orang pertama yang gue kenal di sekolah ini." Jelas Stefani.
Kini aku mulai menyimak semua ceritanya dengan serius.
"Kita selalu kemana-mana bareng. Pokoknya dulu itu kita akrab banget. Sampai hari tes tiba, kita di kasih kayak tes tertulis gitu buat nentuin jurusan dan kelas yang cocok buat kita. Seminggu kemudian hasil tesnya keluar dan gue sama Titan terpaksa pisah karena dia berhasil masuk ke kelas unggulan. Sejak itu kita udah jarang ketemu di sekolah. Dia lebih banyak ngabisin waktunya buat main sama Arka dan Adit." Jelas Stefani dengan susah payah.
Aku tahu betul bagaimana perasaannya saat ini. Pasti sulit baginya untuk kembali normal dan terbiasa tanpa pria itu. Menjadi saling asing antara satu sama lain.
Yang bisa ku tangkap dari cerita nya, saat itu Stefani hanya menganggap Titan sebagai seorang sahabat. Atau mungkin juga saat itu ia sudah mulai mencintainya, hanya saja Stefani masih terlalu egois untuk mengakui semua itu. Dan sekarang rasa itu kembali menyapa dunianya yang terlalu kaku. Di saat mereka harus bertemu setiap harinya dan berada dalam ruangan yang sama selama lebih dari tujuh jam sehari.
"Dan sampai detik ini rasa itu masih terselip di hati kamu? Walaupun cuma sedikit." Ujarku.
Stefani mengangguk-anggukkan kepalanya, mengiyakan perkataanku.
__ADS_1