Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 76


__ADS_3

 


 


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan pasrah. Ingatanku memang benar-benar payah.


“Kamu tahu sendiri kan kalau aku orangnya emang pelupa.” ujarku.


“It’s okay, ini bukan salah kamu sama sekali.” balasnya dengan nada bicara santai.


“Terus sekarang mau cari flasdisk itu dimana?” lanjutnya.


“Nggak tau, terakhir kali aku letakin di atas meja itu.” jawabku sambil mengarahkan jari telunjukku ke tempat yang ku maksud.


Arka menatap objek yang ku maksud itu sesaat. Kilau matanya penuh makna, tapi tak bisa ku tangkap apa maksudnya. Sorot matanya jauh lebih terlihat tajam dari pada biasanya.


“Woy! Pacaran mulu, heran.” ucap Adit yang tiba-tiba buka suara.


“Sini gabung gih, nggak baik berduaan mulu.” sambung Titan dengan mulut yang penuh akan kue.


“Jangan mojok mulu lo pada.” timpal Stefani yang ikut menimpali.


Arka hanya berdecak sebal mendengar perkataan mereka barusan. Sementara itu aku tak mau ambil pusing soal itu, karena kepalaku sudah terlalu pusing saat ini. Lagipula pada kenyataannya juga tidak seperti yang mereka katakana. Sama sekali tidak mirip, walaupun dilihat dari sisi manapun.


Sesaat kemudian Arka segera menuju ke tempat kejadian. Pria itu membungkukkan badannya sedikit. Ia berusaha mencari benda itu ke segala penjuru ruangan ini. Mungkin karena ia tahu jika benda yang satu itu sangat berharga bagiku.


Mau tak mau aku terpaksa turun dan bergabung bersama manusia-manusia menyebalkan itu. Dengan segera aku bergelayut manja dengan seseorang yang kini menjadi teman sekamarku. Tanpa merasa bersalah sedikitpun, aku tidur di pangkuan Stefani sambil tetap menggunakan selimut. Sepertinya gadis itu juga tak keberatan jika aku meminjam kakinya sebentar untuk beristirahat.


“Mau makan kue?” ucap Adit sambil menyodorkan sepotong dari camilan tersebut.


Tanpa pikir panjang aku segera menerima pemberiannya tersebut. Lagipula kelihatannya aku belum memakan sesuatu sejak tadi siang. Walaupun mama sempat beberapa kali mengantarkan makanan ke kamarku, namun aku belum menyentuhnya sama sekali. Kelihatannya mama juga telah menyerah untuk teru memaksaku agar mau menghabiskan makan siangku tadi. Entah kenapa rasanya semua makanan yang masuk terasa hambar.


Aku selalu benci jika sedang sakit seperti ini. Rasanya semua kegiatan yang ingin ku lakukan seperti sangat terbatas. Karena aku memang tak memiliki cukup tenaga untuk melakukan semua itu.


“Ternyata lo cantik juga ya sha.” ujar Adit yang ternyata sudah memperhatikanku sejak tadi.


“Jelas lah.” balasku dengan singkat.


“Hmmm!!!” deham Arka dengan kasar.


Sementara itu Adit hanya cengar-cengir sendiri, seolah tak berdosa sama sekali. Ternyata pria itu telah menyorotinya dengan tatapan tak senang. Arka menatap temannya yang satu itu dengan sangat sinis. Siapa kira jika ternyata Arka diam-diam mengawasi kami sedari tadi.


“Ya maaf dong ka.” ujar Adit dengan begitu polosnya.


“Emang salah apa, kalau gue muji Eresha?” lanjutnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Ya jelas salah lah dit!” tegas Arka.


“Ya udah gue minta maaf.” ucapnya sekali lagi.


Sedetik kemudian Arka memutuskan untuk bergabung bersama kami. Menjadi pelengkap dari linglaran kecil yang sempat bercelah ini. Sebenarnya ini masih belum lengkap juga jika Arka ikut bergabung, karena ada satu orang lagi yang tak ikut berada di sini. Clara masih harus berada di luar kota untuk beberapa hari ke depan. Itu artinya Stefani juga akan sendirian selama di sekolah, sampai salah satu dari aku ataupun Clara kembali lebih dulu. Tapi sepertinya aku belum bisa masuk sekolah lagi untuk besok. Sejauh ini belum ada tanda-tanda jika aku akan segera sembuh atau minimal kondisiku sedikit lebih membaik.


“Ini bukann flashdisk nya?” tanya Arka sambil menyodorkan benda tersebut.


“Aku nggak yakin sih.” balasku.


“Coba dicek dulu data-datanya.” usul pria itu, sembari mengambilkan laptop milikku.


Tanpa berlama-lama lagi, aku segera memasukkan benda ini ke salah satu celah di sana. Sebenarnya akuk tak terlalu yakin jika ini adalah flashdisk yang benar. Jika flashdisk yang ku maksud itu telah benar-benar hilang, mungkin aku akan mengikhlaskannya saja. Taka da lagi yang bisa ku lakukan jika sampai hal itu terjadi. Mungkin memang pertanyaanku tak akan pernah dijawab sampai kapanpun, karena memang tak ada yang tahu jawabannya selain benda itu. Itu artinya aku telah kehilangan salah satu kesempatanku.


Aku memperhatikan layar laptopku dengan seksama. Aku mencoba untuk memperjelas pandanganku yang agak kabur, karena hari ini aku memang tak memakai lensa kontak atau kacamata. Hari ini aku tak bisa kemana-mana karena sakit, jadi ku pikir taka da gunanya untuk memakai salah satu dari kedua benda itu sekarang ini.


“Isinya cuma satu video ka.” ujarku dengan apa adanya.

__ADS_1


“Coba buka dulu, siapa tahu bener itu flashdisk nya.” balas pria tersebut.


“Emangnay itu isinya apa sih? Kok kalian dari tadi kelihatan nya sibuk banget sama itu flashdisk.” tanya Titan yang turut diangguki oleh Adit dan Stefani.


“Dih! Dasar kepo.” balas Arka yang sengaja tak ingin memberitahu mereka.


Sebenarnya aku juga sangat ingin memberi tahu mereka tentang hal yang satu ini. Tapi aku tak yakin jika mereka akan mengerti. Mereka semua tak mengenal siapa seseorang yang selama ini ku maksud dengan Kak Sendy. Bahkan Arka saja dahulu, sempat sulit menerima kenyataan yang satu ini. Jangankan Arka, aku saja pernah di buat heran dan begitu terkejut.


Terkadang aku suka memikirkan tenteng hal ini. Untuk apa pria itu kembali lagi jika pada akhirnya ia harus pergi lagi. Kenapa ingatan itu harus kembali padaku, jika ujung-ujungnya hanya akan menyakitkan seperti ini. Pasti akan jauh lebih baik jika setelah kecelakaan itu, semuanya tak pernah kembali lagi. Terkadang ada sesuatu yang harus kita relakan, meskipun kit tak ingin.


Jujur aku masih mencintainya, masih menyayanginya. Hanya saja sudah tak seperti dulu lagi, di saat aku merelakan seluruh waktuku habis terbuang percuma hanya untuk mengejarnya. Harusnya aku tahu jika hati itu tak akan pernah bisa ku genggam, apa lagi ku gapai. Terlalu banyak rintangan yang memaksaku untuk menyerah. Langkahnya tak akan pernah berhenti sebentar saja, agar aku bisa menyusul langkahnya.


Entah kenapa aku begitu mengaguminya hingga saat ini. Aku tak pernahmembayangkan jika rasa ini akan tetap bertahan hidup hingga sekarang. Ku pikir ini hanyalah cinta monyet yang besok juga akan dilupakan, akan using dimakan sang waktu. Ku kira hatiku telah mati karena dibunuh oleh rasa kecewa. Tapi ternyata semuanya tak seperti yang ku bayangkan.


Harusnya hati ini telah mati utntuk selamanya dan tak akan pernah hidup lagi jika hanya untuknya. Tapi kenapa si sialan ini malah bertahan hingga selama ini. Aku sempat berpikir jika bertahan adalah sebuah keyakinan, bukan sebuah pilihan. Dan sekarang keyakinan itu telah pergi dan menghilang entah kemana.


Setelah menunggu selama beberpa detik, akhirnya aku mulai memberanikan diri untuk membuka video tersebut. Yang tak lain adalah satu-satunya file yang tersimpan di sana. Lantas mereka semua yang saat itu tengah berada di kamarku, langsung mendekatkan dirinya ke layar laptop dengan rasa penasaran.


Saat aku memainkan videonya, taka da yang spesial juga di sana. Hanya sebuah video yang berisikan penampilan terakhir kami di dalam tim yang sama. Tepat sebelum kecelakaan itu terjadi, dan tepat di saat ia berjanji jika ini akan benar-benar menjadi penampilan terakhir kami. Aku tak tahu harus menganggap yang satu ini sebagai sesuatu yang istimewa atau bukan.


Di akhir video itu tertuliskan jika setelah melihat video ini, aku harus pergi menemui Kak Rayhan. Kalau tidak salah itu adalah teman satu kost nya Kak Sendy bukan. Di sana juga tertulis jika aku boleh membuang rekaman video ini kapan saja yang aku mau, jika aku tak suka dengan yang satu ini.


“Itu anak-anak marching band kan?” tanya Adit sambil menunjuk ke layar.


“Terus Rayhan siapa? Kenapa lo di suruh nemuin dia?” lanjutnya.


“Nggak penting kok. Lagian ini bukan apa-apa.” Balasku yang berusaha mengelak.


“Enggak apa-apa kok sha, kalau lo belum siap buat cerita soal ini sama kita-kita. Mungkin untuk saat ini cuma Arka dulu yang bisa lo percaya, tapi kita harap kalau suatu hari nanti lo mau cerita soal ini ke kita.”  jelas Titan yang entah sejak kapan menjadi begitu bijak seperti ini.


Mungkin waktu yang telah membuat mereka semua berubah menjadi lebih dewasa seperti ini. Sekarang ketiga pria ini sudah mulai jauh lebih bijak dari pada yang pernah ku temui sebelumnya. Terkadang kita memang hanya perlu menunggu waktu yang tepat bagi semesta untuk mendewasakan kita seperti ini. Membuat semua orang sadar secara perlahan, jika hidup harus dihadapi dengan serius jika tak ingin menyesal. Takdir memang berada di tangan Tuhan, tapi pilihan ada di tangan kita.


“Terkadang memang ada beberapa hal yang nggak kita pengen semesta untuk tahu.” ucap Stefani sambil membelai halus rambutku.


Bahkan aku telah menganggap Stefani layaknya sebagai seorang kakak. Gadis arogan ini selalu melindungiku di saat ia merasa jika aku sedang terancam. Ia juga adalah ornag yang pertama kali selalau menyadari perubahan emosiku, gadis itu tahu betul kapan aku merasa baik-baik saja atau sebaliknya.


“Ntar kalau kamu udah sembuh, kita ke sana barenag-bareng.” ucap Arka yang kini gantian mengacak-acak puncak kepalaku.


“Makanya harus cepat sembuh.” lanjutnya.


Aku mengangguk pelan megiyakan perkataannya barusan.


“Nggak boleh pegang-pegang Eresha!” protes Stefani sambil menepikan tangan pria itu dari kepalaku.


“Dih! Kok lo yang sewot?! Pacar-pacar gue juga!” balas Arka sambil berdecak sebal.


“Pokonya selama Eresha ada di tangan gue, lo nggak boleh deket-deket sama dia.” jelas Stefani sembari memperingatkan pria di hadapannya tersebut.


Aku tak bisa berbuat banyak jika mereka telah bertengkar seperti ini. Bahkan anak anjing dan anak kucing saja bisa akrab. Tapi rasanya mustahil bagi kedua anak manusia ini untuk saling akrab. Setiap hari jika bertemu, pasti selalu ada saja hal-hal sepele yang dipermasalahkakn oleh keduanya.


Setelah berbincang-bincang ringan agak lama, ketiga pria itu berpamitan untuk pulang. Lagipula memang sudah malam. Kamarku yangtadinya terasa begitu ramai dan sesak, kini kembali ke wujud aslinya. Di mana hanya aku dan Stefani yang tetap terisisa di sana. Setidaknya meski hanya sebentar, kedatangan mereka mampu memperbaiki suasana hatiku hari ini. Aku seolah mendapat energi tambahan yang tak ku ketahui dari mana asalnya. Tapi bagaimanapun juga, hal itu memang telah membawa pengaruh positif bagi kehidupanku.


Hari ini benda yang sempat hilang itu dan nyaris tak akan pernah ku temukan lagi untuk selamanya, kembali dengan mudahnya dengan bantuan Arka. Tangan ajaib pria itu mampu merubah segalanya, termasuk hal yang buruk sekalipunn. Sama seperti saat ia membantuku untuk mengingatkan tentang siapa sebenarnya pria misterius yang sempah hadir nyaris di setiap bunga-bunga tidurku itu. Meskipun aku tak pernah benar-benar meminta agar seseorang mengembalikan ingatan itu padaku.


Kini lagit malam telah bertengger dengan jutaann bintang dan hanya satu rembulan di atas sana. Matahari senja itu sudah benar-benar tenggelam untuk yang kesekian kalinya. Kegelapan malam merusak lukisan lagit nan indah tersebut, dengan sesuka hatinya saja. Meskipun memang begitu hukumnya, karena posisi senja kala itu harus segera digantikan dengan gelapnya malam. Andai saja senja bisa hadir lebih lama, mungkin akan lebih banyak lagi orang yang terhibur.


“Belum tidur sha?” tanya Stefani yang sedang mengerjakan tugas untuk besok.


“Menurut kamu?” tanyaku balik.


“Orang sakit nggak baik tidur terlalu malam. Apalagi lo perlu banyak istirahat.” jelasnya.


“Iya tau.” balasku dengan singkat.

__ADS_1


“Terus kenapa belum tidur?” tanya nya sekali lagi.


“Belum ngantuk aja.” jawabku apa adanya.


“Meremin aja mata lo, pasti lama-lama bakal ketiduran juga.” ujar gadis tersebut yang dari tadi enggan mengalihkan pandangannya dari buku teks tersebut.


“Segala sesuatu yang dipaksakan itu nggak akan baik pada akhirnya stef.” jelasku.


“Nggak gitu juga kali konsepnya sha.” balas Stefani yang langsung melengos parah, setelah menddengar kalimatku barusan.


“Tapi bener kan?” tanyaku dengan begitu polosnya.


Gadis itu pada akhirnya menoleh juga ke arahku, setelah sekian lama berbicara tanpa melihat langsung ke arahku. Stefani menyandarkan tubuhnya di kursi tersebut, kemudian menghela nafasnya dengan kasar. Menciptakan butirana uap tak kasat mata, yang membaur jadi satu dengan udara di sekitarnya.


“Terserah lo aja deh sha.” serahnya begitu saja padaku.


Aku hanya bisa tersenyum kecut, mendengar jawabannya barusan. Ku kira dia akan mengatakan apa, kelihatannya begitu serius dan raut wajahnya begitu meyakinkan. Ternyata hanya mengatakan hal semacam itu saja. Lima kata yang membuatku langsung kehilangan semangat begitu saja.


Tak ambil pusing soal kejadian barusan, aku mengambil ponselku yang barusaja seelesai diisi dayanya di stop kontak. Seperti hal yang umumnya dilakukan oleh orang lain saat bosan, yaitu membuka media sosial. Dengan sembarang jariku men-scroll layar ponsel tersebut, dan berharap menemukan sesuatu yang menyenangkan. Tapi sepertinya hari ini memang tak ada hal menarik yang mampu menghiburku, atau hanya sekedar untuk menghikangkan rasa bosanku.


“Stef, order bakso yuk!” ajakku secara spontan.


“Lo itu lagi sakit sha, nggak boleh makan sembarangan gitu.” balasnya.


Setelah melihat harga makanan tersebut yang tengah mendapatkan potongan harga, di salah satu platform ojek online tersebut rasanya tak salah rasanya kalau aku mencobanya untuk sekali lagi saja. Lagipula ini dari warung bakso yang sering ku datangi bersama Arka, beberapa waktu belakangan ini. Aku sendiri tak tahu entah sejak kapan makanan yang satu itu menjadi salah satu kudapan kesukaanku. Tapi memang tak bisa ku pungkiri jika rasa yang disuguhkan oleh warung bakso yang satu itu sangat enak dan berbeda dengan yang lainnya.


Aku berusaha memutar otakku, agar aku bisa tetap menikmati bakso itu tanpa harus ketahuan. Mungkin dengan beberapa sendok kuah gurih itu, bisa membantu untuk membangkitkan selera makanku. Sekarang aku tak peduli sama sekali jika aka nada seseorang yang melarang atau bahkan memarahiku nantinya. Mereka tak bisa berbuat seenaknya seperti itu padaku.


“Aku pergi ke bawah dulu.” ujarku pada gadis itu.


“Emang lo udah nggak pusing lagi? Awas ntar malah jatoh loh di tangga, nanti gue juga yang repot.” jelas Stefani dengan panjang lebar.


Tapi bagaimanapun caranya dia untuk mencegahku, aku akan tetap pergi ke sana. Lagipula niatku kali ini sudah benar-benar bulat.


“Mau ngapain sih emangnya?” tanya gadis itu kepadaku sekali lagi.


“Mau nonton bentar.” jawabku dengan alasan yang cukup masuk akal untuk mengelabui gadis yang satu ini.


“Ya elah, kan bisa nonton di hp sha.” balasnya dengan segenap upaya agar aku tak keluar dari tempat itu.


“Nggak mau, layarnya kecil.” Tegasku.


Aku tak menyangka jika ternyata aku bisa bersikap begitu keras kepala seperti ini. Memang benar kata orang-orang, ada terlalu banyak misteri di dunia ini. Bahkan termasuk tentang misteri diri kita sendiri. Walaupun satu kali dua puluh empat jam, selam bertahun-tahun lamanya kita selalu tinggal di dalam raga ini. Tetap saja terkadang tak jarang orang-orang yang justru sering tak mengerti dengan dirinya sendiri, dengan perasaan-perasaan aneh yang ia rasakan. Dengan semua rasa baru yang tak asing lagi baginya.


“Ya udah gue anterin deh, daripada lo kenapa-kenapa ntar.” ujar gadis itu padaku.


Dengan terpaksa Stefani harus beranjak dari tempat tersebut, dan meninggalkan semua tugas-tugas sekolahnya yang bahkan aku tak tahu sudah sampai di mana itu. Lagi-lagi gadis itu dengan segenap perhatiannya, menuntunku untuk menuruni tangga dengan alasan agar aku tak kenapa-kenapa nantinya.


“Mau nonton apa?” tanya Stefani, sambil berdiri di depan tv.


“Terserah, apa aja deh.” Balasku engan enteng.


Karena pada dasarnya memang bukan itu alasan utamaku untuk menuju ke sini. Kelihatannya situasi nya sudah lumayan kondusif. Tempat ini benar-benar sepi tanpa seorangpun yang berada di sini. Kecuali aku dan Stefani yang tengah mencarikan saluran tv terbaik untukku di mala mini. Mungkin sebentar lagi ia akan segera naik ke atas untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Jadi tak apa jika harus menunggu untuk sementara waktu. Semua hal yang kita lakukan harus dilandasi dengan rasa sabar.


“Mas, pesanannya nanti ditaruh di gerbang aja ya.”


“Nanti kalau sudah sampai tolong dikabari ya mas.”


Begitu ketikku di layar posel tersebut.


 


 

__ADS_1


__ADS_2