Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 70


__ADS_3

“Sayang banget tau, kalau sampai lo enggak ikutan.” ujar Adit dengan wajah polosnya.


Mereka bisa mengatakan hal semacam itu, tentu saja karena mereka tak tahu apa yang sebenarnya sedang berada di dalam pikiranku sekarang. Trauma itu membuatku seolah terjebak di dalam jurang ketakutan terbesarku. Berkali-kali aku mencoba melawan rasa takut itu, karena aku tak ingin teru berada di bawah kendalinya. Berkali-kali pula aku gagal untuk keluar dari sana. Aku berharap agar ada seseorang yang melemparkan tali ke dalam jurang itu, untuk membantuku naik. Aku mohon, siapapun itu.


“Tapi aku yakin kok kalau di dalam hati kamu, sebenarnya kamu masih mau.” ujar Arka.


“Jangan sok tau!” tegasku sekali lagi.


“Terkadang manusia memang gitu. Hati dan pikirannya tak pernah selaras, otak jauh lebih egois dari pada yang kita kira. Meskipun terkadang logika jauh lebih benar jika di bandingkan dengan perasaan.” Jelasnya.


Aku tak tahu sudah berapa lama ia memikirkan kata-kata mutiara itu, jauh didalam otaknya sana. Entah sejak kapan kumpulan rumus dan teori matematika itu berubah menjadi sebuah karya satra. Yang jelas, ia terlihat berpikir keras untuk itu.


‘Ting! Ting! Ting!’


Suara bel pertanda kelas akan segera di mulai, kembali berbunyi lagi setelah istirahat semalaman. Tapi kali ini suara bel berbunyi lebih awal dari pada biasanya. Itu karena ini adalah hari Senin dan seluruh sekolah harus melaksanakan upacara setiap paginya. Semua orang ku rasa juga melakukan itu setiap Senin. Semua murid lantas keluar dari kelasnya masing-masing, untuk segera menuju ke lapangan upacara. Tak lupa dengan atribut yang lengkap tentunya, jika tak ingin berhadapan dengan guru BK pagi ini.


Aku, Clara, Adit, Stefani, Titan dan Arka berjalan beriringan menuju ke sana. Entak kenapap kami selalu bersama-sama seperti ini dan harus terus bersama sepanjang hari. Apakah mereka tak bisa berjalan masing-masing tanpa harus bergerombolan seperti ini. Tapi ku rasa memang tidak bisa, karena itulah salah satu defenisi dari persahabatan. Mereka akan selalu berada di sisimu di saat senang maupun susah. Jadi jangan khawatir, karena mereka semua tak akan pernah pergi dari sisi mu. Kecuali dia memang seseorang yang berkhianat.


“Hadiah yang kemarin kamu dapat, udah jadi kamu buka?” tanya Arka di tengah perjalanan.


Aku lantas menepuk pelan dahiku, bagaimana bisa aku meluoakan hal yang satu itu. Padahal kemarin aku begitu antusias untuk membukanya dan mengetahui apa isinya. Soalnya kemarin Kak Rayhan sempat mengatakan jika di dalam sana terdiri dari beberapa barang. Itu sebabnya aku penasaran, barang apa saja yang ada di dalam sana.


Lagi pula baru kali ini aku menerima kado ulang tahun yang di kemas dengan semenarik itu. Karena biasanya benda itu hanya di peruntukkan khusus untuk meletakkan blue print atau rancangan lainnya. Tapi kali ini, pria itu membuat sesuatu yang agak berbeda dengan benda yang satu itu. Aku berharap agar ini bukanlah tabung gambar stu-satunya yang ia miliki. Jika sampai benar ini adalah tabung gambar semata wayangnya, maka bagaimana dengan kuliahnya. Ia pasti tak bisa bertahan lama di dunia perkuliahan arsitekturnya itu, tanpa benda yang satu ini. Kalau benar begitu, maka kemungkinan besar aku akan mengembalikan tabung gambar ini dan hanya mengambil isinya saja.


“ Belum kamu buka sama sekali?” tanya Arka sekali lagi.


“Belum, kemarin ketiduran.” jawabku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.


Mulut pria itu lantas membulat dengan sempurna, meng-oh kan kalimatku barusan. Tak lupa ia juga mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, sebagai tanda jika ia mengerti.


Karena sebentar lagi upacara akan segera di mulai, kami semua harus segera sampai di lapangan. Itu sebabnya kami berenam mempercepat langkah kami dari yang sebelumnya. Setidaknya aku harus mendapatkan posisi barisan di bagian pertama atau minimal lima baris setelah bagian paling depan. Di bagian pertengahan barisan selalu menjadi tempat terpanas dan minim udara. Jadi tak terlalu baik bagiku, walaupun sebenarnya nyaris taka da orang yang ingi berada di sana, tapi mau tak mau mereka harus mengisi tempat itu.


Hari ini aku belajar tentang satu hal lagi. Ternyata di balik keindahan suatu objek seni, terdapat proses yang tak mudah. Nilai estetika juga menyimpan suatu nilai perjuangan dan kerja kerras dan patut unutk dihargai.


“Lapor! Upacara pagi hari ini yang di ikuti oleh kela satu, dua dan tiga serta seluruh guru dan keapala sekolah, siap di laksanakan!” seru pemimpin upacara yang tengah bertugas di tengah-tengah lapangan.


Para anggota PASKIBRAS selalu bisa di andalkan saat upacara Senin seperti ini, atau bahkan upacara lainnya yang lebih besar. Mereka memang di latih dan di didik khusus untuk hal itu. Setiap hari Rabu mereka selalu menggelar latihan baris-berbaris secara rutin. Rasanya memang tak ada habisnya bagi kita untuk mempelajari hal baru. Karena pelajarang arena pelajarang ang berarti akan selalu datang setiap harinya, bahkan saat kita tak lagi berada di sekolah ini. Ada beberapa hal yang tak di ajarkan di sekolah, namun bisa kita temui di luar sana.


Pagi ini matahari memang bersinar terik di ufuk timur sana. Menyidari seluruh insan di muka bumi dengan cahaya emas dan lembutnya. Tak jarang yang mengeluh kepanasan, apalagi mereka yang berada di tengah-tengah barisan. Tak bisa ku pungkiri jika aku pun juga merasakan hal yang sama. Bahkan beberapa bagaian di seragamku juga sudah mulai basah karena keringat. Tapi ini tak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan perjuangan para pahlawan terdahulu. Mereka telah mengemban tugas yang jauh lebih berat dari pada yang tengah kami rasakan sekarang ini.


Jadi bukan masalah bagi kami, jika harus berpanas-panasan seperti ini di sini. Lagipula sinar matahari pagi baik untuk tubuh kita, karena mengandung banyak vitamin D. Prinsip anak-anak jurusan IPA adalah, jika sehat itu tak perlu mahal.


***


Aku berjalan di antara ribuan manusia yang saling berdesak-desakan seperti ini, sambil mengibas-ngibaskan topiku. Setidaknya aku bisa mendapatkan sedikit udara segar di sini. Sebenarnya, berdesa-desakan adalah hal yang paling ku benci, namun mau tak mau aku harus melakukan ini setiap minggunya. Aku tak bisa menunggu hingga suasana menjadi sedikit lengang seperti biasanya saat pulang sekolah. Karena mereka yang berada di belakangku tak bisa dan tak akan mau menunggu lebbih lama lagi.


Setelah sesampainya di kelas, akhirnya aku bisa bernafas lega juga. Sepertinya bukan aku saja yang berpikir seperti itu, karena para murid lainnya juga sama saja. Tapi hari ini belum selesai, ini hanyalah sebagian kecil dari permulaan hari ini. Setelah ini sepertinya keringatku harus di kuras lebih banyak lagi, karena pelajaran olahraga menanti kami setelah ini.


Seperti biasanya tanpa perlu di berikan instruksi lagi, kami akan langsung berganti pakaian kemudian kembali menuju lapangan. Pak Dodi telah menunggu kami di sana, dan kami harus sampai di sana dalam waktu sepuluh menit.


“Hari ini kita ujian praktik sha, lo udah ada belajar belum?” tanya Clara yang tengah berjalan persis di sebelahku.


“Eh, seriusan? Kok aku bisa nggak tau sih, emang ada di bilang ya?” tanyaku balik.

__ADS_1


“Minggu lalu kan udah diumumkan di kelas sama Pak Dodi.” jelas gadis itu padaku.


“Aku kok bisa nggak tau ya?” balasku sambil tersenyum getir.


“Makanya kalau di kelas jangan kebanyakan ngelamun, kan jadi nggak fokus gini.” Ujar Clara sambil menepuk pelan pundakku.


Aku mengangguk beberapa kali umtuk mengiyakan perkataanya. Sesekali aku menggaruk kepalaku yang tak gatal itu. Antara aku yang tidak menyimaknya atau memang aku sudah lupa lagi soal ini. Tapi bagaimana bisa aku tak tahu tentang hal ini. Mungkin juga jika perkataan Clara barusan ada benarnya juga, mungkin aku terlalu banyak melamun saat berada di dalam kelas. Itu sebabnya au mengabaikan kejadian yang terjadi di sekitarku.


Ku rasa aku adalah orang yang akan mendapatkan nilai paling rendah nantinya, atau mungkin bisa jadi jika aku akan mengulang mata pelajaran itu sekali lagi untuk minngu depan. Ku pikir aku adalah satu-satunya orang di kelas ini, yang menghadapi ujian praktik tanpa persiapan terlebih dahulu. Jujur saat ini aku sedang merasa sedikit gugup. Aku tak yakin bisa melewati ujian praktik itu dengan mulus dan tanpa mengacaukan sesuatu. Aku sangat buruk di bidang olahraga, semua orang selalu berkata seperti itu padaku. Bahkan guruku sendiri pernah mengatakan hal semacam itu padaku, tapi bukan Pak Dodi. Dia adalah guru untuk mata pelajaran olahraga saat aku masih duduk di bangku SMP. Sampai sekarang, perkataannya hari itu masih membuatku begitu pemisis. Aku tak bisa menerima kenyataan terburukku yang satu itu, karena pada kenyatannya aku memanglah seorang gadis yang lemah. Mereka benar, aku sama sekali tak cocok untuk hal yang satu itu.


“Arka, pimpin pemanasannya!” perintah Pak Dodi kepada pria itu.


“Baik pak!” balas Arka dengan senang hati.


Tanpa berlama-lama lagi, Arka segera maju ke depan barisan untuk memimpin pemanasan. Sementara Pak Dodi mengawasinya dari tepi lapangan. Sepertinya nyaris hampir semua guru di sini bisa mempercayakan segala sesuatunya kepada Arka. Lagi pula posisinya sebagai ketua kelas dan mantan kapten tim basket di sekolah ini, membuatnya banyak di kenal oleh orang-orang. Arka juga tak jarang ikut terlibat dalam rapat anggota OSIS, meskipun ia bukan salah satu bagian dari mereka,


***


Aku meneguk salivaku dengan susah payah. Sebentar lagi adalah detik-detik kehancuranku. Aku bahkan tak tahu materi apa yang akan di ujikan kali ini. Beruntungnya aku bukanlah orang pertama yang tertulis di urutan absen kelas.


“Baiklah, sesuai yang telah kalian ketahui sebelumnya jika hari ini kita akan melaksanakan ujian praktik. Ujian ini di adakan sebagai salah satu dasra penilaian harian kalian.” jelas Pak Dodi di depan sana.


“Kali ini kalian akan memperagakan beberapa gerakan dasar senam lantai. Minimall kalian harus menampilkan tiga gerakan.” lanjutnya.


Aku akhirnya bisa sedikit bernafas lega, karena setidaknya ujian kali ini tak seburuk yang ku bayangkan. Senam lantai tak begitu buruk bagiku, dan itu adalah satu-satunya cabang olahraga yang lebih ku kuasai dari pada cabang olahraga yang lainnya.


“Arka dan lima orang laki-laki yang lainnya, tolong ambil peralatannya di gudang. Bawa kemari empat buah matras berukuran jumbo.” ujar Pak Dodi.


Sambil menunggu  mereka kembali ke sini dengan benda itu, kami melakukan pemanasan tambahan untuk mencegah cedera. Sejauh ini aku belum mendapatkan gambaran, tentang gerakan apa yang akan ku peragakan nanti di sana Tapi sepertinya aku akan mengambil yang mudah-mudah saja. Aku tak suka terlalu banyak mengmabill resiko, dalam bidang yang sama sekai tak ku mengerti. Jadi jalan pintasnya adalah main aman saja.


“Baiklah, untuk giliran yang pertama Alice dan Arka silahkan maju.” perintah Pak Dodi.


Sepertinya memang akan di panggil berdasarkan absen kelas. Karena namaku berawalan dengan huruf “E” maka aku bisa sedikit lebih tenang. Sementara kedua orang itu tengah bersiap di depan matrasnya masing-masing, kami semua tetap duduk di lapangan dengan posisi yang teratur. Tanpa merusak barisan yang telah kami buat sebelumnya.


“Silahkan mulai!” ujar Pak Dodi pada keduanya.


Untuk gerakan pertama kelihatannya tak ada masalah sama sekali untuk mereka berdua, namun untuk gerakan kedua kali ini sepertinya ada beberapa kesalahan  fatal yang tidak di sengaja. Tanpa sengaja, tangan Arka mendorong tubuh seorang gadis yang bernama Alice itu saat hendak melakukan gerakan lompat harimau. Akibat perbuatanya itu, kini gadis tersebut terlontar jauh keluar dari matras dan membuat kepalanya membentur lantai lapangan dengan sangaat keras. Sekarang Alice tak sadarkan diri di buatnya, sepertinya tadi itu adalah benturan yang sangat keras. Aku sendiri sampai-sampai bisa mendengar suara debaman tersebut dengan sangat keras. Meskipun begitu aku yakin jika Arka benar-benar tak sengaja melakukan hal itu.


Sontak seisi kelas di buat terkejut bukan main atas kejadian barusan. Sedetik kemudian, Alice yang tengah terkapar di tengah lapangan itu lantas langsung di bawa ke UKS. Tak salah memang, tapi kenapa harus Arka yang menggendong Alice untuk membawanya ke UKS. Mungkin pria itu hanya ingin bertanggung jawab atas perbuatannya barusan.


“Biklah anak-anak, ujian kita tunda dulu unutk sementara waktu dan akan kita lanjutkan minggu depan” ujar Pak Dodi yang buru-buru menutup pelajaran ini atas kejadian barusan.


Kelihatannya pria itu akan menyusul mereka ke UKS, bagaimanapun sebagai seorang guru ia harus ikut bertanggung jawab. Ia juga harus memastikan kondisi Alice baik-baik saja dan taka da yang serius setelah kejadian itu. Bisa kulihat dengan jelas, saat kepanikan tergambar dengan jelas di wajahnya. Sama seperti yang di rasakan oleh Arka tadi.


“Balik ke kelas yuk!” ajak Stefani yang turut di angguki oleh Clara.


Aku bahkan tak tahu kapan mereka datang menghampiriku. Tau-tau kedua gadis itu sudah berada di sampingku saja.


“Yang tadi nggak usah di pikirin.” sambung Clara yang turut menimpali ucapan Stefani barusan.


Aku langsung mengangguk, mengiyakan perkataan mereka. Untuk saat ini aku lebih baik meneruti keinginan mereka saja.


***

__ADS_1


Aku menyandarkan tubuhku di kursi, sambil meminum beberapa teguk air mineral. Aku mencoba untuk tak ambil pusing soal kejadian barusan. Apa yang di lakukan Arka sudah benar, ia sedang memperbaiki kesalahannya sekarang ini. Jadi tak perlu khawatir, itu tadi cuma sekedar pertolongan dan tidak lebih. Jadi aku tak perlu cemburu soal itu, eh apa barusan aku mengatakan jika aku sedang cemburu? Ah, itu tidak mungkin terjadi padaku.


“Jarang-jarang tau, pelajaran olahraga malah di kasih jam kosong kayak gini.” ujar Stefani yang tengah duduk di sampingku.


“Iya.” Balasku dengan singkat.


Sementara itu, Clara sedang bersama dengan kelompok biologinya untuk membahas tentang rencana kerja kelompok mereka.


“Sha, nanti lo pulang bareng Arka kan?” tanya gadis itu padaku.


“Enggak tau, emangnya kenapa?” tanyaku balik.


“Kan hari ini gue di ajak jalan sama Titan, jadi kalau misalnya lo pulangnya naik bis kota ya otomatis gue enggak bisa nemenin lo.” jelasnya.


“Oh, ya udah enggak apa-apa. Nanti aku pulang sendiri juga enggak apa-apa.” balasku dengan enteng.


“Terserah lo aja deh!” serahnya padaku.


Aku baru menyadari jika hari ini Stefani sedang ada janji dengan Titan. Jadi tak mungkin jika aku pulang bersamanya nanti. Tapi aku juga tak yakin jika Arka mau memberiku tumpangan nantinya, sebaiknya aku naik bis kota atau taksi saja.


“Ganti baju yuk! Gerah nih.” ujar Stefani.


Kami hanya pergi berdua saja ke kamar mandi unutk mengganti baju kaos olahraga tersebut dengan seragam putih abu-abu yang biasanya kami pakai. Aku dan Stefani sengaja meninggalkan Clara begitu saja, karena kami memang tak ingin menganggunya. Gadis itu terlihat sedang begitu serius dan sangat sibuk, jadi kami putuskan untuk mengabaikannya saja. Di sepanjang perjalanan, kami bertemu dengan beberapa murid yang baru saja selesai berganti pakaian juga.


Sesampainya di tempat itu, kami langsung berganti seragam seperti biasanya. Tempat ini selalu sepi seperti biasanya. Yang terdengar hanya suara keran yang memang sengaja di buka di beberapa toilet. Setelah selesai berganti pakaian, aku bercermin sebentar di depan cermin yang tersedia di sepanjang wastafel. Memastikann jika penampilanku sedah benar-benar rapi kembali seperti sedia kala.


“Cepat banget sih lo selesainya.” ujar Stefani yang baru saja keluar dari toilet.


Aku tak berniat untuk menggubris perkataanya barusan, karena aku sedang serius dalam menata puniku yang sedikit berantakan. Sebenarnya aku agak frustasi dengan konsdisi rambutku hari ini. Karena kemarin sebagian rambutku di kepang, maka hal itu meninggalkan sisa berupa rambut yang bergelombang secara tak merata. Tadi pagi aku tak sempat untuk mencatoknya sama sekali. Mungkin hal itun bisa sedikit membantuku, tapi aku tak melakukannya tadi pagi. Dasar bodoh!


“Yuk balik!” ajak gadis itu.


“Yuk!” balasku dengan singkat.


Kami segera meninggalkan tempat itu, setelah selesai dengan urusan kami masing-masingg. Lagipula untuk apa berlama-lama di tempat seperti itu.


***


Mataku langsung terbelalak lebar ketika mendapati Alice tengah duduk di smping Arka, lebih tepatnya sekarang ia sedang menempati tempat dudukku. Aku dan Stefani langsung menghampiri mereka berdua, dengan kondisi Alice yang terlihat belum begitu membaik tampaknya.


“Alice?” tanyaku sesampainya di sana.


“Eh, Eresha.” balasnya sambil tersenyum tipis.


Aku benar, gadis ini belum sepenuhnya pulih setelah kejadian tadi.


“Udah baikan?” tanyaku.


“Udah lumayan,tapi masih agak pusing sih.” jelasnya.


Aku mengangguk pelan, mengerti dengan keadaannya sekarang.


“Oh iya sha, untuk hari ini kamu tukeran tempat duduk dulu ya sama Alice.” ujar Arka secara gamblang.

__ADS_1


__ADS_2