
"Lo liat dia terbaring lemas sekarang gara-gara lo." Ucap Kak Sendy dengan nada tinggi.
Rasanya sudah tak ada lagi gunanya jika aku melakukan pembelaan terhadap diriku sendiri. Semuanya akan percuma saja. Tidak ada yang akan percaya pada kata-kata ku meski yang aku katakan itu benar.
"Liat kelakuan kamu Eresha." Ucap papa.
Aku hanya diam membisu tak berkutik sedikitpun. Rasanya telingaku sudah kebal mendengar ocehan mereka. Kuharap Renata segera bangun dan mengatakan yang sebenarnya. Aku menahan tangisanku agar tak terisak. Mengapa takdir sekejam ini padaku.
Aku berlari keluar ruangan. Rasanya telingaku sudah tak sanggup mendengarkan perkataan mereka yang terus-menerus menyalahkan diriku tanpa ada bukti. Aku menjatuhkan diriku di kursi tunggu di depan ruangan Renata. Rasanya hari ini aku benar-benar lelah. Bisakah aku beristirahat sebentar. Hanya sebentar saja, tidak lama Tuhan. Aku janji hanya sebentar.
Tiba-tiba Kak Sendy keluar kemudian mengambil tempat tepat disebelah ku. Kami hanya saling bungkam tanpa ada yang berniat membuka obrolan terlebih dahulu. Sampai...
"Sha, hidung lo." Ucap pria itu secara tiba-tiba.
Aku segera meraba area hidungku. Astaga, lagi? Ku mohon jangan sekarang. Untuk yang kesekian kalinya aku mimisan. Aku segera menyekanya dengan tisu yang selalu ku bawa kemana-mana untuk berjaga-jaga di situasi seperti ini.
"Lo kenapa sih?" Tanya pria itu kemudian mengambil alih tisuku.
Atas inisiatifnya sendiri, ia berniat menyeka darah yang keluar dari hidungku. Tapi, aku segera menepis tangannya. Aku mendongakkan kepalaku agar darahnya tak keluar semakin banyak.
"Cerita sama gua, lo ini kenapa sebenarnya kok sering banget gua liat mimisan."
"Buat apa aku cerita sama kakak. Percuma kakak enggak bakal percaya."
"Sha! Lupain yang tadi."
"Enggak bisa, terlalu cepat untuk dilupain."
"Eresha, gua serius. Cerita sama gua."
"Aku kan pembohong mana mungkin kakak percaya sama cerita aku."
"Eresha. Gua mohon."
"Udahlah, Kakak juga enggak bakal percaya entar." Ucapku kemudian segera pergi dari tempat itu.
***
Semalaman mama dan papa belum kembali ke rumah. Mereka masih menjaga Renata yang tengah terbaring lemas di rumah sakit. Setelah kejadian kemarin aku langsung memutuskan untuk kembali ke rumah.
"Mau kemana mbak?" Tanya Mbok padaku.
Hanya aku dan mbok yang berada di rumah ini. Sepertinya mbok kebingungan ketika aku memakai baju rapih dan ransel yang tampak penuh. Mungkin ia kira aku akan kabur dari rumah.
"Oh, ini mbok nanti kalau orang rumah sudah pulang tolong bilangin ke mereka ya mbok. Eresha ada acara dari sekolah jadi Eresha mau ke Binjai. Besok pulang." Jelasku sembari membenarkan tali sepatuku.
"Oh, siap mbak."
"Eresha pergi dulu ya mbok."
"Iya mbak hati-hati ya."
__ADS_1
***
Begitu sampai di gerbang sekolah, suasana sudah benar-benar padat. Hingga aku tak tahu dimana teman-temanku. Ini masih pukul delapan pagi. Tapi sudah seramai ini. Padahal, harusnya kami berangkat pukul sembilan.
"Eresha!" Sahut seseorang.
Aku segera mencari sumber suara di tengah-tengah keramaian itu. Bingo! Itu mereka teman-temanku. Lalu aku melambaikan tangan ke arah mereka dan lantas menuju ke sana.
"Lama banget sih." Ucap Putri.
"Masih jam segini." Balasku.
"Eh, ke lapangan utama yuk nyari tau kita bus berapa." Ajak Niza.
Yang benar saja, lapangan utama sudah sepadat ini. Aku berusaha menerobos kerumunan manusia itu. Aku melihat daftar nama-nama yang sengaja di pajang di mading.
"Naya, Arsya, Rika, Andi, Sendy."
Ucapku seraya menunjuk nama mereka satu persatu.
"Eh? Sendy?" Gumam ku.
Tak ambil pusing, aku segera melanjutkan pekerjaan ku barusan.
"Sendy, Anggi, Violynda, Dewani, Eresha."
"Ayo semua berbaris disini sesuai dengan nomer bus nya masing-masing." Ujar Pak Anto dengan pengeras suara.
Aku segera mengambil tempat di barisan paling ujung. Karena aku berada di bus satu. Busa kami terdiri atas anggota Marching band dan anggota gerak jalan. Tapi, anggota Marching band hanya sekitar sepuluh orang, selebihnya anggota gerak jalan. Walaupun begitu, aku mengenal beberapa anggota gerak jalan yang dulunya merupakan teman sekelas ku.
Kami kini sudah berbaris di depan bus masing-masing. Kurasa Kak Sendy baru menyadari jika aku berada di bus yang sama dengannya. Ia menoleh ke arahku kemudian menggerutu tak jelas.
"Sial! Kenapa sih gua mesti satu bus sama dia." Ujar Kak Sendy.
"Lo kenapa sih?" Tanya Kak Wijaya yang sedang berada di sampingnya saat itu.
"Liat aja itu di sebelah sana." Ujar Kak Sendy.
Tak ingin berlama-lama, ia segera naik ke atas bus. Mungkin aku telah merusak mood nya pagi ini. Apa ia begitu membenciku?
***
Dari kota Pematangsiantar menuju ke kota Binjai memakan waktu kurang lebih empat jam perjalanan. Kami semua turun dari bus dan mengambil tas kami masing-masing di bagasi.
"Sabar Sen. Jangan gitu hargain dia." Bujuk Kak Wijaya.
"Bodo ah!" Ketus nya.
Aku tau ia begitu membenciku. Tak seharusnya kita pernah bertemu. Maafkan aku, aku orang yang kamu benci setengah mati.
__ADS_1
***
Hari yang kemarin, sudahlah lupakan. Anggap itu tak pernah terjadi. Hari ini kami bangun pukul tiga pagi. Tentu saja untuk berebut kamar mandi. Aku baru saja selesai mandi. Suasana kota Binjai yang terbilang cukup panas dan gerah membuat mandi pukul tiga pagi sama sekali tak terasa dingin.
Aku segera kembali ke kelas. Hanya berdandan sedikit. Tidak semencolok make up para gitapati, mayoret, dan color guard. Hanya sekedar saja agar aku terlihat lebih fresh dan tidak pucat.
Tiba-tiba seseorang datang kemudian merebahkan dirinya di atas pangkuan ku. Spontan aku terkejut. Apa yang ia lakukan, pria itu, Kak Sendy.
"Sha." Ucapnya.
"Saya."
"Maafin gua. Enggak seharusnya gua seperti itu sama lo. Renata udah cerita semuanya ke gua dan orang tua lo."
"Oh, baguslah."
"Lo kenapa sih? Masih marah sama gua?"
"Enggak."
"Terus?"
"Seharusnya kakak bersama sama orang yang kakak cintai. Bukan sama orang yang kakak kasihani. Renata lagi butuh kakak."
"Tapi gua cinta sama lo."
"Itu semua enggak pernah terjadi."
"Gua serius gua cinta sama lo. Enggak ada yang tau gimana perasaan ini berubah. Berubah untuk mencintai lo sepenuhnya."
"Tapi Renata butuh lo."
"Renata belum kasih suratnya ya?"
"Surat apa?"
"Sebentar biar gua suruh Renata foto surat nya dan kirim ke lo."
Ia menghentikan pembicaraan kami sebentar. Lalu mengutak-atik ponsel nya.
"Udah tu. Btw Renata yang sebelum masuk rumah sakit itu pengen ngasih surat ini sama lo."
Aku segera membuka ponselku. Ada satu pesan WhatsApp masuk dari Renata. Sebuah foto selembar kertas surat yang begini bunyinya.
"Teruntuk: Eresha C. Ananda
Dari: Sendy A. Novandi
Setelah lo baca surat ini gua harap lo enggak membenci gua balik. Ini tentang sebuah pengakuan gua. Gua tau kok sempat dengar pembicaraan gua di kamar mandi waktu itu. Maafin gua, gua enggak bermaksud. Dan saat itu adalah proses gua untuk mencintai lo sepenuhnya. Dan sekarang gua berfikir kalau gua nyari yang sempurna, maka gua akan kehilangan yang tulus. Dan orang itu adalah lo. Orang yang paling gua takuti akan menghilang. Itu sebabnya gua berani berjanji supaya kita enggak pernah putus.Lo unik, lo berbeda. Itu alasannya kenapa gua bisa respect ama lo."
__ADS_1