
"Ini mbak pesanannya..." Ujar pria tersebut.
Kemudian ia segera menghampiri ku dengan membawa bungkusan plastik berisi bubur ayam yang kami pesan.
"Berapa mas jadinya?" Tanya bibi sambil merogoh isi dompetnya.
"Dua puluh ribu aja mbak."
"Oh, ini ya mas uangnya terimakasih."
Setelah bibi menyelesaikan urusan tersebut, kami segera kembali ke rumah sakit. Udara di luar semakin dingin. Cuacanya malam ini juga terlihat tak seperti biasanya. Puluhan ribu benda-benda langit tersebut dihalangi oleh kumpulan nebula berwarna kelabu. Kelihatan sebentar lagi akan hujan, kami harus segera masuk sebelum hal itu terjadi.
Saat aku dan bibi barusaja memasuki pelataran rumah sakit untuk kembali ke ruangan, tiba-tiba saja kedua mataku tertuju pada sebuah objek nyata di sana.
"Itu kan laki-laki yang tadi itu." Batinku dalam hati sambil terus menyoroti nya lekat.
Ia terlihat berjalan keluar dari ruang UGD dengan wajah yang tertunduk. Celananya terlihat sobek di beberapa bagian, mungkin karena terkena gesekan kasar dari aspal saat kecelakaan itu berlangsung. Hoodie yang ia kenakan juga tampak kotor dan berdebu, meskipun warnanya hitam gelap aku masih bisa melihat butiran debu-debu halus tersebut.
Langkah kakinya sedikit terseret-seret. Ia datang dari arah yang berlawanan. Tangannya yang tadinya penuh luka kini sudah terlihat membaik. Tapi aku tak bisa melihat dengan jelas wajahnya, rambutnya terlalu panjang sehingga menutupi separuh dari wajahnya.
Saat jarak kami hanya selisih beberapa langkah, ia berhenti di tempatnya sejenak. Entah kenapa langkahku turut terhenti saat itu juga. Pria itu mendongakkan wajahnya, sambil menaikkan pandangannya. Namun tetap saja aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ia tersenyum dengan begitu lebar ke arahku saat itu. Bisa ku lihat kedua mata yang berkilau dalam gelap itu menatap lurus ke arahku. Tatapan sendu yang tersembunyi di balik juntaian rambutnya. Sedetik kemudian ia segera berlalu pergi dari pelataran rumah sakit, entah akan kemana ia setelah ini.
Perlahan sosoknya menghilang begitu saja dari pandanganku sesampainya di pintu gerbang. Aku tak ambil pusing soal kejadian barusan dan segera melanjutkan perjalananku. Aku dan bibi segera menuju lift yang berada tepat di depan sana.
"Kenapa mbak tadi kok berhenti tiba-tiba?" Tanya bibi kebingungan sendiri.
"Enggak kok bi." Balasku yang tak ingin memperpanjang pembahasan soal ini.
Para dokter di UGD tadi pasti menanganinya dengan sangat baik. Kulitnya terlihat seperti sedia kala, tak ada luka sama sekali. Kelihatan ia sudah baik-baik saja.
"Syukurlah dia bisa di selamatkan." Batinku dalam hati.
Tiba-tiba aku terpaku di tempat. Sekujur tubuhku bergetar hebat. Aku baru menyadari satu hal yang tidak masuk akal. Bagaimana bisa kulitnya kembali menyatu dan langsung pulih seperti sedia kala? Aku tak mendapati satupun bekas luka di sana. Itu sangat tidak masuk akal. Ditambah lagi ada satu hal yang semakin membuatku tak bisa berkutik. Tidak mungkin seorang pasien yang tadinya di rawat di UGD dengan kondisi yang sudah benar-benar kritis bisa berjalan sendiri tanpa bantuan seorangpun. Seharusnya jikapun ia berhasil di selamatkan, seharusnya kondisinya masih begitu lemah dan tak bisa terlalu banyak bergerak. Ia pasti kehabisan begitu banyak darah saat kecelakaan tadi.
Pikiranku mulai melayang kemana-mana. Kaki ku rasanya sangat lemas hingga tak dapat menopang beban tubuhku lagi. Perlahan-lahan badanku terperosot ke bawah hingga pada akhirnya aku terduduk di dalam lift saat itu. Wajahku tercengang masih tak habis pikir dengan kejadian barusan. Aku memeluk erat kedua kakiku, menenggelamkan wajahku diantaranya. Aku benar-benar shock, apa itu yang ku lihat tadi adalah.....
"Ah, tidak mungkin!" Gumam ku dalam hati.
"Mbak kenapa mbak? Sakit nya kambuh ya? Aduh..." Ujar bibi.
"Enggak kok bi..." Balasku dengan suara bergetar.
Aku berusaha bangkit dari posisiku dengan di bantu oleh wanita itu. Aku terus meyakinkan diriku sendiri jika aku hanya berhalusinasi tadi, mungkin itu efek dari obat yang ku konsumsi. Itu semua pasti tidak mungkin benar-benar terjadi padaku.
"Bibi tadi liat nggak cowok yang senyum sama aku pas kita berhenti tadi?" Tanyaku kepada wanita tersebut.
"Yang mana sih mbak?"
Wanita yang sedang berdiri di hadapanku itu tampak kebingungan sendiri sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Yang itu loh, yang di depan kita tadi." Ujarku sekali lagi dengan susah payah.
"Enggak ada siapa-siapa kok mbak di sana, tadi mbak cuma liatin ke ruang UGD gitu. Tatapan mata mbak kosong, kayak orang melamun." Jelas bibi.
Entah kenapa kalimat yang barusan itu sukses membuatku bergidik ngeri. Bisa ku rasakan ketakutan yang menjalar ke sekujur tubuhku. Seluruh bulu kudukku langsung berdiri tegak entah kenapa. Aku merasa sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Dengan susah payah aku meneguk salivaku sendiri. Aku masih tak habis pikir dengan kejadian yang ku alami tadi.
"Apa yang aku lihat itu adalah..... arwah?" Ujarku pelan.
"Mbak liat apa emangnya?"
"Tadi pas kita berhenti aku liat cowok yang keluar dari UGD terus jalan ke arah kita bi, sambil senyum ke aku. Masa bibi enggak liat sih?"
"Iya mbak, bibi enggak liat apa-apa tadi di sana."
"Jangan bercanda lah bi, ini nggak lucu tau..."
"Siapa yang bercanda mbak. Udah sini-sini dekat bibi biar enggak takut lagi."
Tanpa pikir panjang aku segera memeluk wanita itu dengan begitu erat. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri yang saat itu sudah tak karuan lagi.
Ini adalah pertama kalinya aku melihat hantu di seumur hidupku. Aku bahkan tak mengira jika tadinya pria itu adalah mahluk tak kasat mata. Ku kira semua hantu rupanya akan menyeramkan dengan banyak luka dan bau busuk yang menyengat, sama seperti di film horor yang sering ku tonton. Tapi ternyata tak semua hantu seperti yang ku bayangkan. Pria yang tadi itu, hantu yang tadi itu lebih tepatnya. Rupanya terlihat begitu sempurna, aku yakin wajahnya sangat rupawan meski tertutup rambut. Ia pasti orang baik-baik semasa hidupnya. Sayang sekali jika ia harus pergi secepat ini, usianya masih terlalu muda.
Tapi tetap saja bagaimanapun bentuk dan wujud mahluk yang satu itu, yang namanya hantu tetap saja menyeramkan. Ini adalah kejadian yang tak akan pernah ku lupakan seumur hidupku. Aku juga tak akan pernah datang lagi ke tempat yang sudah ku benci sejak dulu ini. Tempat ini menyisakan kesan buruk yang membekas di dalam ingatanku. Mungkin aku akan trauma dengan tempat ini. Lagipula tak sedikit orang yang meregang nyawa di sini. Secara tak langsung, bagunan yang berdiri kokoh ini memiliki sisi mistisnya tersendiri.
***
Sesampainya dikamar rawat inap, aku langsung mendudukkan diriku di atas kasur. Mataku tetap mengawasi sekeliling, memastikan jika mahluk tak kasat mata itu tidak ada di sini. Walaupun aku tak yakin bisa mengetahui keberadaannya atau tidak.
"Ini di minum dulu biar tenang." Ujar bibi sambung menyodorkan ku segelas air putih.
Aku segera meneguknya hingga habis. Kelihatannya energi ku tak tersisa banyak lagi. Semuanya langsung menghilang begitu saja setelah aku menyadari yang sebenarnya sedang terjadi padaku.
"Ini buburnya di makan mbak." Ujar bibi.
Entah sudah sejak kapan ia menyendok bubur itu dan menempatkannya tepat di depan mulutku. Bagaimana bisa aku tidak menyadari hal itu. Sepertinya aku terlalu banyak memikirkan kejadian itu. Baiklah, mulai sekarang aku harus segera membuangnya jauh-jauh dari ingatanku. Meskipun kedengarannya itu sangat sulit untuk di lakukan.
"Enggak usah bi, biar Eresha makan sendiri aja." Ujarku kemudian segera mengambil alih bungkusan bubur tersebut.
"Beneran enggak apa-apa nih mbak?"
__ADS_1
"Enggak kok bi, lagian kan bibi pasti juga pengen makan punyanya bibi."
"Iya sih mbak, hehe..."
Aku hanya ikut tersenyum kecil mendengar jawabannya. Kemudian segera menyantap makan malam ku untuk yang kesekian kalinya. Entah sudah berapa kali aku makan dalam sehari ini, tak bisa terhitung. Kelihatannya setelah keluar dari tempat ini aku harus banyak-banyak berjalan kaki agar semua lemak di tubuhku terbakar.
Waktu terus berjalan tanpa menghiraukan siapapun di sekitarnya. Terus bergerak dan bersiklus setiap harinya, hingga pada saatnya semuanya akan berhenti. Ketika manusia tertunduk tak berdaya di hadapan waktu.
Saat semuanya akan terhenti secara otomatis. Ketika saat itu waktu telah berada di ujung perjalanannya dan siap mengakhiri semuanya. Terkadang suara jarum jam yang terus bergerak di tengah malam seperti ini terdengar begitu menyeramkan. Nada datar dengan ketukan tempo yang sama di setiap detiknya membuat suara itu seperti tak bernyawa sama sekali.
***
Aku menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul satu malam. Bibi sudah tertidur pulas di sofa dengan pose yang tidak ku ketahui apa namanya. Yang pasti hari ini ia pasti sangat lelah. Sementara aku tak bisa memejamkan mataku samasekali dari tadi. Meskipun aku telah berusaha sekuat tenaga, tetap saja gagal. Terkadang tak semudah itu untuk membuatku terlelap di saat seperti ini. Ku harap ada seseorang yang bisa menghipnotis diriku, agar aku bisa tertidur dengan pulas malam ini saja.
Tiba-tiba saja seseorang dari luar berusaha membuka pintu ruangan ini dan berhasil masuk ke dalam. Dari penampilannya kelihatannya itu adalah seorang laki-laki. Setelah ia membuka penutup kepalanya, barulah aku dapat melihat wajahnya dengan jelas.
Aku tersenyum lebar sekaligus merasa kebingungan. Tapi rasa bahagiaku jauh lebih besar jika di bandingkan dengan yang lainnya. Ia berjalan pelan menghampiri ku yang sedang terjaga malam itu.
Kak Sendy mengambil tempat duduk di bawah kasurku, kemudian menempatkan dirinya di sana. Ia juga ikut tersenyum lebar setelah aku tersenyum lebih dulu. Kelihatannya di luar sedang hujan, sampai-sampai hoodie nya basah seperti ini. Tapi sepertinya hujannya tidak terlalu deras, hanya gerimis saja.
"Hai..." Sapa nya lebih dulu.
"Hai juga..." Balasku.
"Bagaimana keadaan mu sekarang?" Tanya Kak Sendy padaku.
"Tadi kata suster sudah mulai membaik. Jika besok kondisi ku masih stabil, aku bisa langsung pulang." Jawabku dengan begitu girang.
"Syukurlah...."
Aku memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu yang ku rasa sedikit aneh.
"Kenapa dokter jaga mengizinkan kakak masuk ke sini? Kan jam besuk hari ini sudah habis." Ujarku.
"Oh, soal itu.... aku menyelinap masuk dengan hati-hati." Balasnya.
Aku hanya tertawa kecil mendengar balasan dari pria itu. Beberapa saat yang lalu Arka juga datang ke sini saat jam besuk sudah habis. Mereka berdua memang selalu punya cara untuk menangani hal ini. Kedua pria yang cerdik dalam memanfaatkan situasi di sekitarnya.
"Kakak bilang mau datang kemari besok." Ujarku.
Tapi memang benar begitu, saat di telepon tadi ia bilang akan ke sini esok saja.
"Aku sebenarnya sudah dalam perjalanan ke sini tadi saat menelepon mu." Jawab Kak Sendy.
Aku mengangguk pelan meng-oh kan perkataannya.
"Harusnya aku tak menolaknya tadi, kalau pada akhirnya kakak tetap bersikeras akan ke sini juga."
"Enggak apa-apa kok, lagian aku belum tidur."
Sekarang rasanya tak masalah jika aku tak bisa tertidur semalaman ini. Toh aku juga telah memiliki teman untuk berbicara saat ini. Jadi tak perlu takut jika aku akan bosan lagi.
"Oh iya, aku punya sesuatu." Ujarnya antusias.
Aku yang penasaran langsung berubah menjadi begitu semangat saat itu juga. Tak sabar menunggu sesuatu yang akan ia tunjukkan kepada ku. Kedua mataku terus menatap lekat salah satu tangannya yang ia sembunyikan di balik tubuhnya sejak awal pertama kali masuk ke ruangan ini.
"Ta.....ra!!!" Ucapnya sambil mengeluarkan sesuatu dari sana.
Aku tak tahu harus bersikap bagaimana. Ada yang aneh dengan Kak Sendy hari ini. Ia tak salah memilih bunga untukku kan? Aku hanya bisa tersenyum kaku kemudian mengambil seikat bunga krisanthemum putih yang ia berikan kepada ku saat itu.
Aku mengamati seikat bunga tersebut dari berbagai arah dan sudut pandang. Siapa tahu ada pesan tersembunyi nya seperti adegan di film-film pada umumnya. Aku masih tak habis pikir kenapa ia memilih untuk memberikan bunga ini kepadaku. Sebaiknya ia belikan bunga mawar saja untukku, tidak usah banyak-banyak satu tangkai saja sudah cukup.
"Gimana suka kan?" Tanya Kak Sendy beberapa detik kemudian.
Aku Bing harus menjawabnya dengan apa, aku takut malah menyakiti hatinya jika aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tahu ia pasti telah bersusah payah untuk mendapatkan bunga ini dan membawanya ke sini. Aku tak ingin membuatnya kecewa karena merasa semua pekerjaannya sia-sia.
"S...su....suka kok. Tapi kok harus bunga ini kak?" Jawabku dengan hati-hati.
"Tadi cuma ini yang tersisa di toko bunga, soalnya udah malam." Jelas pria itu.
"Sebenarnya enggak usah beli bunga juga enggak apa-apa kok."
"Tapi kan aku mau kamu jadi semangat lagi."
Aku membalasnya dengan senyuman yang sedikit di paksakan. Bukannya membuatku tambah bersemangat, hal ini malah membuatku sedikit merasa takut.
Di dalam budaya Korea, bunga ini melambangkan kematian atau duka. Pada intinya aku tak suka hal-hal yang sama sekali tidak menyenangkan seperti itu. Bunga krisanthemum ini sering kali di gunakan dalam upacara pemakaman. Aku menjadi agak merasa berbeda dengan bunga ini.
Meskipun bunga ini terlihat indah, tapi ada cerita kelam yang tak bisa ku terima. Aku mencoba berpikir positif. Lagipula itu kan budaya di negeri ginseng itu, nyatanya sekarang ini aku sedang berada di Indonesia sekarang ini. Jadi mungkin bunga ini tak akan membawa ati apa-apa.
"Kami enggak suka ya?" Tanya Kak Sendy.
"Ah? Enggak kok. Aku bakal simpan ini." Balasku.
Seperti ia menyadari jika aku sedikit tak nyaman dengan pemberiannya yang satu ini. Tapi aku akan tetap menghargai usahanya.
Pria itu tersenyum tipis ke arahku sambil membelai halus puncak kepalaku. Kemudian menjumput beberapa helai rambut ku, memainkannya dengan jari telunjuknya. Menghirupnya di depan hidung mancung miliknya. Rambutku seolah menjadi kokain baginya.
"Aku harus pergi sekarang, cepat sembuh ya.... aku akan merindukan keceriaan mu yang dulu." Ujar Kak Sendy sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Kok buru-buru banget?" Cegah ku.
__ADS_1
"Kan udah malam banget ini, udah hampir pagi lagi." Jawab pria itu seraya menunjuk ke arah jarum jam.
Astaga, sudah berapa lama kami mengobrol. Rasanya aku baru menanyakan beberapa pertanyaan. Aku juga masih ingat jumlah kalimat yang ku utarakan dan pembahasan yang kami bicarakan tadi. Waktu benar-benar memburu semua orang.
"Aku ikut ya..." Ujarku setengah memelas.
"Udah malam, lagi pula kamu masih sakit."
"Sekali aja..."
"Yaudah aku ajak jalan-jalan ke suatu tempat sebentar deh. Tapi habis itu harus balik lagi ke sini ya."
Aku mengangguk cepat mengiyakan perkataan.
Aku bergegas turun dari ranjang ku, dan meletakkan bunga pemberiannya di atas tempat tidurku. Kami keluar dari ruangan itu dengan begitu hati-hati sambil berjalan mengendap-endap. Jika kami ketahuan oleh dokter jaga, bisa habis kami.
Tapi sepertinya situasi aman. Aku tak melihat seorangpun melintas di koridor bahkan di bangsal utama. Kelihatannya mereka semua sedang tertidur pulas, tapi itu aneh. Minimal selalu ada suster yang melintas di setiap koridor rumah sakit setiap malamnya. Mereka bergantian berkeliling dari ruangan yang satu ke ruangan yang lainnya untuk mengecek kondisi pasien yang mereka rawat. Atau terkadang juga ada operasi yang di laksanakan secara mendadak.
Hingga tiba-tiba Kak Sendy memberhentikan langkahku. Sekarang kami telah berada di ujung lorong. Hanya sedikit lagi saja untuk menggapai gerbang yang selalu terbuka itu. Tapi kenapa tiba-tiba kami harus berhenti.
"Kenapa kak?" Tanyaku penasaran.
"Coba pejamkan matamu kuat-kuat. Bayangkan sebuah tempat yang ingin kamu datangi sekarang, kemana saja." Ujarnya.
"Emangnya bisa?"
"Coba aja dulu..."
"Oke, kemana aja kan?"
Pria itu mengangguk cepat mengiyakan perkataan ku.
Aku lantas segera menuruti perintahnya untuk memejamkan mataku. Dengan penuh harap, aku membayangkan agar bisa kembali ke sana sekali lagi. Di puncak sebuah bukit, dimana aku bisa melihat purnama dengan begini indahnya.
Tapi rasanya itu tak mungkin terjadi, tempat yang satu itu hanya ada di alam bawah sadar ku. Dan aku pergi ke sana bersama bayangan Kak Sendy yang saat itu belum ku ketahui. Di tambah lagi, saat itu aku sedang koma ketika melaju perjalanan spiritual itu.
Lagipula tak masuk akal jika aku bisa berpindah ke suatu tempat hanya dengan memejamkan mata seperti ini. Apa ia kira jika kami sekarang sedang hidup di dunia peri. Terkadang jalan pikirannya suka nyeleneh seperti ini.
"Sekarang buka matamu." Perintah Kak Sendy.
Dengan perlahan aku membuka kedua kelopak mataku, dan mendapati diriku benar-benar ada di tempat itu sekarang juga. Aku melongo tak percaya dengan apa yang kulihat sekarang ini. Hembusan angin malam dan gesekan ilalang di kakiku terasa begitu nyata. Jenis sihir apa yang sedang ia lakukan sekarang ini.
"Ini beneran?" Tanyaku setengah tak percaya.
"Iya, tentu saja. Sepertinya yang kamu lihat sekarang." Balasnya dengan begitu tenang.
"Tapi mana mungkin bisa seperti ini." Bantah ku.
"Kekuatan imajinasi...." Ucap pria tersebut berusaha meyakinkanku.
"Jadi ini semua imajinasi ku?"
"Semua hal yang ada di tempat ini adalah objek yang tercipta dari kekuatan pikiranmu sendiri."
"Lalu kenapa terasa begitu nyata?"
"Keyakinan mu yang membuatnya terasa lebih hidup." Jawab pria tersebut.
"Bagaimana? Kau suka dengan tempat impianmu ini?" Lanjutnya.
Aku mengangguk cepat mengiyakan perkataannya. Aku tak pernah menyangka akan kembali ke sini lagi. Hari ini aku benar-benar bahagia. Tempat ini terasa begitu menenangkan.
"Tapi sayangnya tempat ini hanya ada di dalam pikiranku saja. Andai semua pemandangan yang ku lihat ini benar-benar ada di dunia nyata. Di belahan dunia manapun tempat ini terletak, aku pasti akan mengunjunginya." Ujarku dengan penuh semangat.
"Kau bisa ke sini kapanpun yang kau mau. Kunci dari semua ini ada di pikiranmu sendiri, hanya kau yang bisa mengendalikan nya." Jelas pria itu dengan penuh pengertian.
Sesaat kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Itu sebuah kalung bermata seperti permata yang begitu berkilau. Kalung itu berbentuk sebuah hati, sangat indah. Kilaunya begitu terlihat menawan di antara gelap malam.
"Pakai kalung ini." Ujarnya sambil memakaikan benda tersebut di leherku.
"Kenapa di berikan kepadaku? Benda ini terlalu cantik untuk ukuran seorang gadis seperti ku." Balasku yang masih terpesona dengan keindahan permata yang satu ini.
"Kamu pantas untuk mendapatkannya." Tegas Kak Sendy.
"Terimakasih..."
Setelah itu kami berbaring tanpa alas di atas kumpulan populasi rerumputan yang menjadi tikar kami saat itu. Menatap sang purnama yang selalu bersinar sendirian sepanjang malam. Angin malam dan suara-suara binatang malam kala itu sukses membuatku terbawa suasana. Tempat ini benar-benar terapi yang cocok untukku.
"Kenapa purnama selalu sendirian setiap kali aku ke sini?"
Aku bertanya kepada pria itu yang tengah berbaring di sampingku saat itu. Ia juga tampak begitu menikmati pemandangan langit malam kala itu.
"Karena ia dan sesuatu yang ia cintai tak bisa menyatu." Jawabnya.
"Siapa yang bulan cintai?"
"Matahari."
"Matahari?"
"Iya, mereka saling mencintai. Hanya saja mereka tak bisa bersama karena alam mereka yang kain berbeda. Sering kali mereka mencoba melawan arus waktu agar bisa bersama. Namun takdir tetap saja tak akan bisa di ubah." Jelasnya.
__ADS_1
Aku berdecak kagum mendengarkan kisah bulan dan matahari yang entah dia dapat darimana. Atau jangan-jangan malah ia sendiri yang mengarang cerita tersebut. Tapi itu tak bukanlah masalah yang serius. Intinya cerita itu berhasil membuat hatiku tersentuh. Sebuah ide yang luar biasa dan out of the box.