Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 29


__ADS_3

"Arka tolong ambilin nasi di rice cooker dong sayang." Perintah Mamanya.


Ia tak banyak bicara, namun langsung melaksanakan perintah Mamanya.


"Ini ma, ucapnya."


Sementara aku sibuk mengupasi dan mengiris bawang merah serta bumbu-bumbu lainnya.


"Ini Tante, udah selesai." Ujarku.


"Oh iya biarin disitu aja dulu. Ini kamu tolong lanjutin ngaduk nasinya ya." Pinta Mamanya Arka.


Aku menganggukkan kepalaku kemudian menghampiri wajan penggorengan dengan asap yang mengepul.


Aku membolak-balik nasinya agar matang merata dan tidak ada yang lengket di wajan. Juga supaya tidak ada nasi yang menggumpal satu sama lain. Mama Arka memasukkan bumbu yang dibuatnya, aku segera menyambut tumpahan bumbu itu dengan mengaduknya agar tercampur merata dengan nasi. Setelah itu, Mamanya Arka melanjutkan mencuci piring kembali.


"Aduh wanginya masakan pacar aku."


Wajah Arka tiba-tiba muncul dari belakang. Sontak hal itu membuatku terkejut setengah mati, untung saja aku tak memukul wajah tampannya dengan spatula panas ini.


"Arka! Hobi banget bikin aku jantungan!" Tukas ku.


"Ya maaf." Jawabnya singkat sambil nyengir seolah tak berdosa.


Aku mematikan kompor ketika kurasa ini sudah cukup matang.


"Aku ambilin piring ya." Tawarnya antusias.


Aku kembali mengangguk mengiyakan perkataannya. Ia kembali dengan beberapa piring di tangannya. Aku membagi nasi goreng itu sama rata di tiga piring yang diberikan Arka. Sementara aku membersihkan sisa nasi yang jatuh di kompor, Arka menata hidangan itu di meja makan kemudian menyediakan minuman disana sebagai pelengkapnya.


Arka menarik tanganku dengan semangat kemudian menyuruhku untuk duduk di sampingnya. Kami bertiga menyantap hidangan itu dengan khidmat.


Tak bisa ku bayangkan jika pada kenyataannya Arka memang hanya tinggal berdua saja dengan Mamanya. Mereka tak menyewa asisten rumah tangga karena mereka pikir itu tidak perlu. Mamanya Arka pasti sering merasa kesepian saat Arka harus berangkat sekolah dan Mamanya tinggal sendirian di rumah. Bisa kulihat kesedihan yang begitu mendalam dari kilau mata mereka. Masih ada luka batin bertahun-tahun silam yang tak pernah bisa sembuh dari diri mereka. Meskipun aku tak tahu jelas alasan apa yang membuat Papanya Arka pergi, aku tak mau menanyakan hal itu lagi pada Arka. Aku takut membuatnya semakin sedih, sama seperti di mansion waktu itu. Yang pasti kepergian itu membuat mereka berdua masih sangat terpukul hingga sekarang.


"Eh, sha." Arka memecah keheningan dimeja makan.


Aku menaikkan kedua alisku.


"Tadi Kak Sendy nelepon aku. Katanya besok dia ada acara manggung di Cafe yang kemarin. Dan kata manager nya harus duet gitu, enggak boleh solo." Jelasnya.


"Terus?" Tanyaku lagi.


Ia menghabiskan sisa makanan di mulutnya sebelum mulai berbicara lagi.


"Jadi gini, dia minta bantuan aku buat nyariin temen duet dia besok. Dan aku bilang kamu aja yang yang jadi temen duetnya." Jelasnya dengan begitu polos.


Nyaris saja aku tersedak dengan makanan yang ku makan barusan. Beruntung aku segera mengambil air di depanku dan meminumnya.


"Aku? Kenapa harus aku? Kenapa enggak kamu aja?" Aku langsung menginterogasi pria itu.


"Pertama, karena aku pikir suara kamu itu lumayan bagus. Kedua, besok dia bakal bawain lagu bertema cinta gitu sesuai permintaan manager cafenya. Jadi ya aneh dong kalau duet sama aku." Sambungnya.


"Tapi Arka..." Rengek ku.


"Udah, mau ya. Kan lumayan honornya tau."


Aku mendecak sebal atas perilaku pria itu. Bagaimana bisa ia mengambil keputusan sepihak seperti itu tanpa meminta pendapatku sebelumnya. Aku menahan emosiku yang ingin meledak saat itu juga rasanya.


"Eresha bisa nyanyi juga?" Tanya Mamanya Arka.


"Enggak Tan..."


"Bisa kok ma, bagus malah suaranya." Sambung Arka.


Padahal aku belum menyelesaikan ucapan ku, tapi ia sudah memotongnya begitu saja. Aku menginjak kaki pria itu. Tapi seperti ia tak merasakan apapun. Kakinya yang sedang mati rasa, atau apa?


"Yaudah kalau gitu nanti kita nyanyi bareng ya. Kebetulan Tante juga dulunya pemain biola dan Arka bisa main gitar juga kok. Nanti kamu yang nyanyi gimana? Atau kita bertiga deh nyanyi." Jelas Mamanya Arka.


Sial! Gara-gara pria ini aku jadi terjebak di situasi seperti ini. Aku tidak mungkin menolak permintaan Mamanya Arka lagi kali ini. Dengan terpaksa, mau tak mau kali ini aku harus menerima permintaan Mamanya Arka.


"Nah, bener ma. Kita nanti nyanyi bareng habis makan malam oke?" Ucapnya sambil nyengir seolah tak berdosa.


"Iya Tante." Jawabku yang sudah pasrah dengan keadaan.


Aku menyorot tajam kearah Arka dengan amarah yang sudah berada di ubun-ubun ku. Sementara Arka hanya tertawa kecil. Ia tampak begitu puas setelah membuatku terjebak di situasi yang rumit ini. Aku benar-benar menyesal telah menerima ajakannya tadi untuk mampir dulu ke rumahnya. Jika tahu ujung-ujungnya akan seperti ini, lebih baik aku masuk angin saja lalu sakit dan tiga hari tidak masuk sekolah. Guru-guru tentu akan memberikanku keringanan tugas-tugas sekolah.


Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal sambil tetap menghabiskan sisa makananku.


***


Arka dan Mamanya menuntunku ke sebuah ruangan di sudut sana. Pintunya tampak terkunci, sepertinya memang tidak pernah digunakan sebelumnya. Mama Arka membuka pintu kayu dengan ukiran yang cukup rumit itu, kemudian memboyong aku dan Arka untuk masuk ke dalamnya.


Aku berdecak kagum melihat isi ruangan ini. Sepertinya pemilik tempat ini memang memiliki darah seni pekat yang mengalir di darahnya. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan yang begitu mengagumkan ini.


"Ini ruangan keluarga kita dulu, kita dulu sering main musik dan nyanyi bareng sama Papanya Arka disini." Jelas Mamanya Arka.


Mamanya Arka menghampiri sebuah biola yang terletak begitu saja di atas sofa. Sementara Arka mengambil gitar miliknya yang tergantung di dinding sebelah sana. Aku mematung di tempat, tak tahu harus berbuat apa. Aku tak menyangka jika seluruh anggota keluarga ini adalah musisi.


"Ini piano yang sering dimainkan sama Papa dulu. Saat kita main musik bareng, Papa mainin piano ini, Mama main biola, dan aku yang nyanyi nya. Karena waktu itu aku masih kecil dan belum pandai main gitar." Ujarnya dengan nada serius.


Mamanya Arka menepuk pelan pundak Arka.


"Tapi semenjak Papa pergi, piano ini enggak ada yang mainin lagi. Bahkan disentuh aja enggak." Sambung Arka.


"Gimana kalau aku aja yang mainin pianonya?" Tawar ku.


Wajah mereka melongo, tampak tak yakin dengan pernyataanku barusan.


"Emang kamu bisa?" Tanya Arka yang menahan tawanya.


Jujur saat itu aku langsung merasa sakit hati karena seolah merasa direndahkan oleh keluarga itu. Memang aku tak sehebat mereka mungkin dalam bermain musik, tapi dulu aku sempat mengikuti les piano waktu kecil.  Lagipula sebelum aku pindah ke kota ini, aku adalah seorang pemain marching band. Walaupun sekarang sudah berhenti, aku masih bisa sedikit-sedikit.


"Bisalah dikit-dikit." Aku berusaha meyakinkan mereka.


"Yaudah deh, kita liat aja." Ledek Arka.


"Kamu enggak tahu kan, kalau dulunya aku pemain bell di marching band?" Ketus ku sebal.


"Bell?" Batinku dalam hati.


Lagi-lagi aku merasa ada yang janggal pada diriku sendiri.


Aku menghampiri piano yang katanya sudah lama tak dimainkan tetapi tak ada debu yang menempel di permukaannya sedikitpun. Aku menarik bangku kecil yang di selipkan di kolongnya. Dengan hati-hati aku membuka penutup piano itu. Sementara Arka sudah bersiap dengan gitarnya di sofa. Mamanya pun sudah mengapit badan biola diantara pundak dan wajahnya, serta bersiap dengan bow yang ia pegang.


"Nyanyi lagu apa nih?" Tanyaku.


"Dear God- Avenged Sevenfold." Jawab Arka cepat.


"Oke." Aku menganggukkan kepalaku.


Aku menekan tuts piano di depanku secara acak untuk menemukan kunci nadanya.


"Siap? Satu... Dua... Tiga... Yak!" Instruksi Mamanya Arka.


Nada-nada indah itu mulai muncul satu-persatu dari alat musik yang kami mainkan. Alunan melodi abstrak yang menyatu dengan elegan menjadi sebuah harmoni. Suara nyaring yang terdengar jelas dari gesekan biola Mamanya Arka, menyatu merdu dengan suara berat gitar Arka serta iringan pianoku.


Aku mulai mengatur pita suaraku, begitu juga dengan mereka dan....


”A lonely road, crossed another cold state line


Miles away from those I love purpose undefined


While I recall all the words you spoke to me


Can't help but wish that I was there


And where I'd love to be, oh yeah


Dear God the only thing I ask of you is


To hold her when I'm not around


When I'm much too far away


We all need that person who can be true to you


But I left her when I found her


And now I wish I'd stayed


'Cause I'm lonely and I'm tired


I'm missing you again oh no


Once again


There's nothing here for me on this barren road


There's no one here while the city sleeps


And all the shops are closed


Can't help but think of the times I've had with you


Pictures and some memories will have to help me through, oh yeah”


Dear God-Avenged Sevenfold


Sial! Bagaimana bisa aku meneteskan air mata tanpa ku sadari. Aku segera menyekanya sebelum mereka melihatnya.

__ADS_1


"Wahhhh.... Gila sih. Itu tadi permainan yang bagus." Puji Arka


"Iya bener, Tante sendiri ngerasa merinding. Kerasa kayak Papanya Arka ada disini lagi." Ujar Mamanya Arka sambil mengusap-usap lengannya yang katanya merinding.


"Kamu kok nangis?" Tanya Arka.


"Enggak, kok enggak apa-apa." Jawabku yang berusaha mengelak.


Bahkan aku sendiri tak tahu apa alasannya mengapa aku bisa menangis. Itu semua terjadi tanpa kusadari.


"Apa mungkin penghayatanku yang terlalu dalam sama lagu ini?" Batinku dalam hati.


"Tapi lagunya emang mellow sih." Sambung ku.


"Ini lagu terakhir yang kita nyanyiin bareng sama Papa sebelum dia pergi." Jelas Arka tanpa ku minta.


"Lagunya emang sedih sih. Dan mungkin pas kamu mainin piano milik Papa, jiwa Papa terpanggil ke sini dan itu yang membuat kamu nangis."


"Ih Arka, apaan sih. Jangan nakutin deh." Aku mulai merinding sendiri mendengar pernyataan Arka barusan.


"Iya seriusan deh sha." Sambung Arka.


"Karena Papanya Arka udah lama enggak ada, makanya piano ini ngangur gitu aja. Karena emang kebetulan yang bisa main piano cuma Papanya Arka. Jadi sejak Papanya meninggal. Piano ini enggak ada yang mainin. Kadang kalau pas tengah malam, Tante suka kebangun dan dengar suara piano gitu. Tante pikir asal suara itu dari sini. Karena cuma di sini satu-satunya ruangan yang ada pianonya. Tante pikir itu Arka yang lagi enggak bisa tidur, terus dia mampir ke sini. Tapi Arka kan enggak bisa main piano sebagus yang Tante dengar itu. Jadi Tante pikir itu enggak mungkin Arka. Buat mastiin itu semua Tante cek ke kamar Arka dan dia masih tidur kok." Jelas Mamanya Arka dengan serius.


Aku segera menjauh dari benda mengerikan itu setelah mendengarkan cerita dari Mamanya Arka barusan. Aku segera pindah dan duduk di sofa tepatnya di samping Arka. Sejak kapan aku menjadi penakut seperti ini. Ah, sial! Pada dasarnya aku memang seseorang yang penakut. Tadi saja di lorong rumah sakit, jika tidak ada Arka mungkin aku tak akan berani masuk ke sana.


"Iya sha, jadi kita pikir kalau Papa masih disini bersama kita dan Papa masih sering mainin piano kesayangannya." Sambung Arka.


Aku bergidik ngeri mendengar semua cerita yang terlontar dari mulut mereka. Aku tak tahu harus berkata apa.


***


"Aku pamit pulang deh Tante, udah malam enggak enak lama-lama disini." Ujar ku pada Mamanya Arka.


"Oh, yaudah. Dianterin Arka aja ya. Udah malam soalnya."


Aku berpamitan dengan Mamanya Arka, mencium punggung tangannya. Sementara Arka mengeluarkan sepeda motornya dari garasi.


"Arka nganterin Eresha dulu ya ma." Pamit pria itu pada Mamanya.


"Iya hati-hati ya nak."


"Mari tante." Ucapku sebelum sepeda motor Arka melaju meninggalkan tempat itu.


***


"Mau balik ke rumah sakit?" Tanya Arka di tengah perjalanan.


"Kayaknya enggak deh. Aku mau langsung ke rumah aja, udah ngantuk. Lagian tadi kondisi nenek udah mendingan kok." Jawabku.


"Terus nanti kamu masuk ke rumah gimana? Kan tadi gerbangnya di kunci."


"Aku baru ingat kalau kuncinya biasanya di bawah pot yang di sebelah nya bukan pot yang itu tadi."


"Oh oke." Jawab Arka singkat.


Beruntung hari ini jalanan tak semacet biasanya. Masih tergolong ramai memang, cuma tak sampai macet seperti hari-hari sebelumnya. Aku menikmati udara malam Kota Jakarta yang tak sedingin angin malam di kotaku dulu. Aku memandangi kendaraan yang lalu lalang disekitar kami. Jakarta terlihat lebih indah ketika malam. Jika dilihat dari ketinggian, lampu-lampu dari berbagai sumber ini terlihat seperti kumpulan bintang.


***


Aku mencari seikat kunci yang diletakkan di bawah pot besar ini. Seperti biasanya, Arka masih menunggu disana sebelum aku masuk. Bingo! Aku mendapatkan. Rasanya sudah tak sabar ingin masuk ke istana yang teramat megah bagiku, kemudian menjatuhkan diriku diatas kasur empuk yang tengah menantiku saat ini.


Aku membuka pintu gerbang kemudian menguncinya kembali setelah aku berada di dalam. Aku berjalan menuju pintu depan, namun langkahku terhenti seketika saat aku merasa telah melupakan sesuatu. Aku memutar balik badanku. Beruntung pria itu masih disana.


"Dah... Hati-hati dijalan." Ucapku sambil melambaikan tangan.


Hampir saja aku lupa dengan Arka karena terlalu bersemangat untuk beristirahat.


"Kirain tadi lupa." Balasnya sambil tersenyum.


"Hampir..."


"Yaudah aku balik dulu ya. Selamat beristirahat tuan putri."


Aku tersenyum lebar dengan sorot mata bahagia yang sulit diartikan.


***


Sayangnya aku baru mengingat satu hal, jika masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan sebelum tidur. Aku menepuk jidatku.


"Ayolah, aku sudah mengantuk. Apa aku tidak bisa menundanya besok?" Keluhku pada diriku sendiri.


Aku berjalan lemas menuju mesin cuci. Semangatku hilang begitu saja. Aku masih harus mencuci seragam sekolahku yang basah kuyup tadi, dan tentunya membersihkan sepatuku yang sudah tak dapat ku tebak lagi warnanya.


Sambil menunggu mesin cuci itu melakukan pekerjaannya secara otomatis, aku beranjak mencuci sepatuku. Sepertinya ini semua tak akan sempat kering malam ini. Untungnya aku mempunyai dua setel seragam putih abu-abu yang ku pakai bergantian setiap dua hari sekali. Tapi bagaimana dengan sepatu ku.


Waktu istirahat ku harus dipotong beberapa menit bahkan mungkin beberapa jam karena aku harus menyelesaikan pekerjaan ini. Ya Tuhan...


Aku terduduk sebentar di kursi meja makan. Aku perlu mengistirahatkan tubuhku sejenak. Aku menghela nafas panjang sambil berusaha memutar otak bagaimana caranya mengeringkan sepatuku untuk besok. Kepalaku sudah ingin pecah rasanya. Belum lagi di tambah dengan mataku yang ingin segera terpejam dan tak bisa menunggu lebih lama lagi.


Tiba-tiba aku teringat pada satu kartun. Kalian pasti tidak asing lagi dengan karakter Upin Ipin yang tidak pernah beranjak dewasa itu. Aku teringat pada salah satu adegannya, ketika kedua bocah kembar ini kebingungan bagaimana caranya mengeringkan sepatu mereka saat hujan waktu itu. Dan neneknya memberi tahu mereka untuk meletakkannya di belakang kulkas.


Dengan polosnya aku berlari ngacir mengambil sepatuku yang sedang di tiriskan itu untuk ku letakkan di belakang kulkas. Kuharap cara ini berhasil, untuk sekarang ini aku benar-benar kehabisan akal dan hanya cara itu yang melintas di pikiranku untuk saat ini.


***


Akhirnya semua pekerjaanku selesai dan aku bisa segera tidur. Aku menaiki tangga yang menuju kamar dengan langkah lemas tak bertenaga. Mataku sudah benar-benar berat rasanya. Aku menyeret tas ku dengan salah satu tangan.


Aku membuka pintu kamar kemudian menutup nya dengan sedikit keras dan membuat benda-benda disekitarnya ikut bergetar pelan. Aku mencampakkan tas ku kesegala arah kemudian merobohkan tubuhku diatas kasur yang sudah menungguku dari tadi.


Aku langsung terlelap dengan posisi yang tidak karuan saat itu. Bahkan aku tidur tanpa selimut malam itu. Benar-benar hari yang melelahkan. Selamat tidur jiwaku, selamat beristirahat.


***


"Kringgg!!!!"


Suara nyaring dari mana ini? Sial! Aku lupa menyetel kembali alarm ku. Dan sekarang benda ini masih berbunyi di jam yang sama seperti kemarin. Aku mendudukkan posisi tubuhku.


"Arrghh! Pakai lupa nyetel alarm segala lagi!" Gerutu ku.


Sekarang masih pukul empat pagi. Rasanya sangat tanggung untuk melanjutkan tidurku.


"Kalau nanti aku kebablasan tidurnya, terus telat gimana?" Batinku dalam hati.


Aku mempertimbangkan sekali lagi keputusan ini. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk bangun saja. Aku segera beranjak dari tempat tidurku kemudian membereskannya. Lalu dengan langkah terpaksa aku pergi ke kamar mandi.


***


Aku keluar dari kamar mandi dengan seragam lengkap dan sebuah handuk yang masih membungkus kepalaku. Aku mengedarkan pandanganku, mencari keberadaan tas yang semalam ku campakkan begitu saja.


"Ah? Sampai kesana?" Ucapku.


Aku menghampiri tas ku yang tergeletak di sudut ruangan. Kemudian mengambil ponselku dari dalam sana.


"Ciah, lowbat." Aku mendecak sebal.


Tak heran lagi jika ponselku lowbat, karena semalam aku lupa mengisi ulang daya nya dan langsung tidur. Aku merogoh laci meja belajarku untuk menemukan kabel charger.


Aku mengeluarkan semua benda semalam yang berada di tas ku.


"Tingg!!!"


Itu seperti suara logam padat yang jatuh ke lantai. Aku menurunkan pandanganku untuk mencari benda apa barusan.


Itu medali ku, aku segera memungutnya dari lantai. Aku memandangi sekeliling ku, mencoba menemukan tempat yang tepat bagiku untuk meletakkan benda berharga ini.


"Di pajang dimana coba?" Tanyaku pada diriku sendiri.


Aku memutuskan untuk memajangnya nanti di dinding sebelah meja belajarku. Nanti aku akan mampir sebentar ke toko material dekat sekolah untuk membeli sedikit paku. Untuk sementara, benda ini akan ku simpan di laci dulu.


Aku mengambil beberapa buku pelajaran hari ini, setelah itu menyusunnya di dalam tas ku. Sesekali aku juga memastikan jika tak ada satupun yang tertinggal. Bisa habis aku, jika sampai hal itu terjadi.


Aku mengeringkan rambutku dengan hairdryer, lalu menggerbang nya dengan ikat rambut. Aku mencabut ponselku dari stop kontak dan memasukkannya ke dalam tas kemudian segera turun kebawah.


Aku sengaja memperlambat jalanku, bahkan memperlambat semua hal yang ku lakukan sebelumnya. Aku sengaja mengulur-ulur waktu, karena kupikir ini masih terlalu pagi untuk berangkat ke sekolah dan aku tidak perlu terburu-buru.


Aku membuka kulkas, mencoba menemukan sisa makanan disana. Kuharap bibi masih meninggalkan sedikit saja untuk ku makan, tapi ternyata tidak sama sekali. Aku menghela berat.


Aku memutar bola mataku ke arah meja makan.


"Syukurlah." Ucapku lega.


Akhirnya aku menemukan sekeranjang buah disana. Meskipun hanya buah apel dan pisang, setidaknya itu cukup untuk mengganjal perutku.


Aku sarapan dengan buah pisang yang sebetulnya tidak terlalu mengenyangkan bagiku. Aku baru ingat jika susu kotak telah habis, dan kemarin adalah yang terakhir.


Aku mengecek sekali lagi semua buku-buku ku sebelum pergi. Aku memastikan jika semua tugasku sudah selesai. Setelah itu aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki.


***


Aku melirik jam tanganku.


"Masih jam enam lewat dua puluh." Ucapku.


Jika di pikir-pikir, jarak dari rumahku ke sekolah lumayan jauh. Jika naik bis akan memakan waktu kurang lebih dua puluh menit. Mungkin jika berjalan kaki, akan membutuhkan waktu yang dua kali lipat. Itu artinya jika aku berangkat sekarang, maka aku akan sampai di sekolah pukul tujuh tepat. Itu pun masih lebih awal lima belas menit dari jam masuk sekolah yaitu pukul tujuh lewat lima belas menit. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan kaki saja. Lagipula hitung-hitung olahraga. Aku memastikan sekali lagi jika aku sudah benar-benar mengunci semua pintu, termasuk pintu gerbang sebelum aku berangkat. Aku meninggalkan kuncinya di tempat biasa, siapa tahu bibi akan pulang nanti siang jika memerlukan sesuatu.


***


Aku meletakkan tas ku dengan kasar di atas meja, membuat Stefani terkejut bukan main.

__ADS_1


"Kenapa sih lo?" Tanya Stefani heran.


Aku menatapnya dengan sorot mata sinis.


"Kok tumben banget datangnya jam segini? Kesambet apaan?" Sambungnya.


Aku mengatur nafasku yang memburu tak beraturan. Aku menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan nya.


"Jadi gini ya stef, kan kemarin aku nyampe rumah malem."


"Lama banget, kemarin aja gue liat anak-anak olimpiade pulangnya sebelum jam makan siang. Lah lo kok sampai malam?" Ujarnya sambil memainkan kukunya.


"Kemarin nenek aku sakit jadi ya aku ke rumah sakit dulu sama Arka."


"Nenek lo sakit apa? Terus kondisinya sekarang gimana."


"Gula darahnya sempat drop. Ya enggak gimana-gimana juga."


"Terus terus gimana?"


"Gimana apanya?"


"Ya lanjutin lah cerita lo yang pulang malem tadi gimana."


"Oh, itu... Oke. Jadi gini kan semalam aku pulang malam-malam tuh. Nah siangnya kan ujan deres, jadi aku terpaksa nyuci baju sama sepatu lagi dong. Itu sumpah mataku udah enggak bisa di tahan lagi. Dan setelah semuanya selesai, aku langsung tidur dong tanpa memperdulikan apapun, termasuk alarm." Jelasku secara detail.


"Alarm? Emangnya kenapa sama alarm?"


"Jadi kemarin itu aku aku nyetel alarm jam empat pagi karena mau olimpiade dan aku harus buru-buru. Terus tadi malam aku lupa set ulang itu alarm dan al hasil bunyinya jam segitu lagi dong."


"Jam empat pagi?"


"Iya."


"Terus lo kebangun dong."


"Ya iyalah. Dan mau nggak mau aku harus bangun. Kalau tidur lagi bisa ngebo aku mah sampaikan siang."


"Gue kirain kenapa. Pantesan aja lo datengnya cepet bener."


"Sesekali aku juga mau jadi murid yang teladan kali."


"Terus lo kesini naik apa? Emang bis udah ada?"


"Ya udah ada lah. Kan aku berangkatnya jam enam lewat dikit."


"Ya terus lo naik bis?"


"Enggak." Jawabku singkat.


"Terus?"


"Terus terus! Ya naik kaki lah! Enggak liat apa aku datengnya ngos-ngosan tadi."


"Enggak liat tuh, tadi kan aku lagi ngerjain tugas Bahasa Indonesia."


"Yaelah, terus itu tugas udah selesai."


"Udah dong. Kenapa?"


"Temenin ke kantin yuk."


"Lah buset ni anak, pagi-pagi udah ke kantin aja. Itu perut apa gentong sih."


"Udah deh, enggak usah banyak omong. Aku belum sarapan nih dari tadi pagi, cuma makan pisang doang. Udah gitu jalan kaki lagi. Untung aja tadi enggak pingsan di tengah jalan."


"Ya itu salah lo."


"Udah deh ayok buruan. Udah laper nih." Aku menarik lengan Stefani agar ia mau beranjak dari tempat duduknya.


***


"Mbak, rotinya tiga bungkus. Air mineralnya satu ya." Ujarku.


"Oke." Si Mbak kemudian memasukkan semua pesanan ku ke dalam plastik keresek karena itu terlalu banyak untuk ku pegang.


"Buset, lo enggak sarapan atau enggak makan setahun sha?" Ledek Stefani.


"Ini dia, jadinya sepuluh ribu." Ucapnya sambil menyodorkan bungkusan plastik.


"Ini ya mbak uangnya pas." Aku segera membayarnya kemudian kembali ke kelas untuk menyantap semua ini.


"Nih buat kamu." Aku memberikan Stefani sebungkus roti yang ku beli tadi.


"Buat aku nih?"


"Enggak, buat pak satpam noh. Kasiin gih."


"Yang bener aja lah sha."


"Ya buat kamu lah. Emang buat siapa lagi. Pasti tadi belum sarapan juga kan?"


"Kok lo bisa tau sih sha? Jangan-jangan lo ngintipin gue di kosan ya?"


"Idih... Ogah banget. Kayak kurang kerjaan aja. Lagian emangnya kamu pernah sarapan ke sekolah? Enggak kan? Yaudah sih makan aja."


"Oh, iya ya. Lupa, hehe..."


Kami menyantap sarapan pagi kami yang bisa dibilang sangat sederhana di kelas. Perlahan ruangan itu mulai terisi penuh seiring berjalannya waktu dan mentari mulai menampakkan dirinya.


***


"Teng... Teng... Teng..."


Bel pertanda jam pelajaran pertama akan segera dimulai sudah menggema di seluruh penjuru sekolah.


"Yah... Bu Sarah." Keluh Stefani.


Bu Sarah adalah guru Matematika yang tergolong killer di sekolah ini. Terlebih ia suka menyuruh muridnya mengerjakan soal secara tiba-tiba di papan tulis tanpa pemberitahuan sebelumnya. Itu sukses membuat seisi kelas mati ketakutan, tak bisa berkutik sedikitpun.


"Selamat pagi anak-anak." Sapa Bu Sarah yang memasuki ruangan kelas dengan penggaris panjang yang selalu ia bawa kemana-mana.


Aku dan seluruh siswa lainnya mencoba bersikap tenang di kala ketakutan yang luar biasa menguji adrenalin kami.


"Mati kita sha." Bisik Stefani pelan.


Aku hanya menelan salivaku sambil tetap terus menatap lurus ke depan.


"Baiklah, kita lanjutkan pelajaran yang kemarin." Ujarnya di depan kelas.


Aku membuka lembaran materi terakhir yang ku tulis.


"Eresha!" Sahut Bu Sarah dari depan.


"Saya bu." Balasku dengan kondisi jantung yang berdegup kencang.


"Maju kedepan, selesaikan soal trigonometri berikut."


Kalimat mematikan itu terlontar begitu saja dari bibir merona Bu Sarah.


"Mati aku kali ini." Batinku dalam hati.


Kurasa hari ini benar-benar sedang sial. Kesialan datang padaku secara berturut-turut tanpa henti.


Dengan langkah pasrah dan penuh harap, aku melangkah maju kedepan kelas.


"Baiklah, soalnya silahkan kamu salin di papan tulis." Ucap Bu Sarah.


Tanganku menggenggam erat spidol yang telah siap menuliskan angka-angka kematian.


"Jika diketahui sinus alpha sama dengan dua per tiga, dan sudut tersebut berada di kuadran ke dua, maka tentukan tangen alpha." Bu Sarah membacakan soalnya.


Aku selesai menyalin soalnya sesaat setelah Bu Sarah selesai membacakan soalnya. Aku membacanya sekali lagi di dalam hati dengan seksama.


"Sinus sama dengan sisi depan per sisi miring. Itu artinya aku harus mencari sisi samping nya dengan menggunakan rumus phytagoras." Gumam ku.


Aku mulai menorehkan rangkaian angka-angka itu satu-persatu dengan hati-hati. Tidak boleh ada yang salah sedikitpun.


"Dua per akar lima di kali akar lima per akar lima berapa ya? Haduh mati aku." Batinku dalam hati.


Aku memejamkan mataku kuat-kuat, aku berusaha berpikir keras untuk mencari jawabannya.


"Minus dua per lima akar lima kali ya?" Tebak ku secara asal.


Otakku tak mampu berhitung lebih jauh lagi. Aku sudah benar-benar pasrah jika aku akan menjadi korban kekejaman guru matematika yang satu ini untuk kali ini. Dengan perasaan yang bercampur aduk, aku menuliskan jawabannya.


"Sudah bu." Ucapku.


Bu Sarah membenarkan kacamatanya. Matanya menyorot lekat ke papan tulis. Mengoreksi jawaban yang baru saja ku tulis. Dahinya mengernyit tiba-tiba, dan itu sukses membuatku semakin panik.


"Benar, silahkan duduk." Ucap Bu Sarah dengan gamblang.


Aku tercengang tak percaya dengan apa yang ia katakan barusan. Padahal hasil akhirnya aku menjawab secara asal-asalan.


"Ayo duduk."


"Eh, iya Bu." Aku meletakkan spidol itu kembali ke tempatnya kemudian aku mengacir ke tempat dudukku.


Akhirnya aku bisa bernafas lega.

__ADS_1


"Ternyata otak lo encer juga sha. Efek pacaran sama Arka ya gini, kebanyakan di kasih makan angka lo sama dia. Tuh kan apa yang gue bilang sama lo waktu itu, enggak sia-sia lo pacaran sama Arka." Bisik Stefani.


__ADS_2