Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 84


__ADS_3

Setelah menerima hadiah perpisahan darinya, aku segera berpamitan untuk pulang. Aku tak bisa berlama-lama lagi di sini. Mama dan papa sudah menungguku di parkiran. Aku tak ingin membuat mereka menunggu lebih lama lagi, Karena aku tahu jika menunggu itu adalah hal paling tidak menyenangkan.


“Lama banget, ketemuan sama barista café itu?” tanya mama yang langsung menyerangku.


“Enggak!” bantahku dengan segera.


“Cuma beli kopi bentar, tadi antriannya panjang.” elakku dengan mencari alasan lain.


“Kalau sampai bener, si barista café itu adalah Sendy…..” ucap mama sambil menggantung kalimatnya.


“Kenapa, mama mau marah?!” balasku dengan nada bicara yang sedikit lebih tinggi.


“Mama nggak suka kalau kamu deket-deket sama dia sha.” ucap mama dengan nada bicara yang tak kalah tingginya.


“Sendy udah….” ujarku.


Aku lantas mengurungkan niatku untuk menyelesaikan kalimatku barusan. Rasanya aku tak perlu memberi tahu hal ini kepada mereka. Akan semakin rumit nanti jadinya, lebih baik mereka tak akan pernah tahu sama sekali. Aku menggenggam tanganku kuat-kuat, berusaha untuk menahan kekesalanku. Lagi-lagi aku harus mengalah demi keutuhan keluarga ini.


Aku memilih untuk mendengarkan lagu dari earphone milikku saja. Mungkin dengan itu bisa memperbaiki sedikit suasana hatiku. Namun tiba-tiba jemariku berhenti ketika melihat satu playlist yang tak pernah ku putar sebelumnya.


“29 Oktober 2018”


Begitu judul playlist yang terrpampang dengan sangat jelas di atas layar ponselku. Aku tak ingat kapan terakhir kali aku merubah namanya. Tapi aku ingat dengan begitu jelas alasan kenapa aku menamainya dengan seperti itu.


Terakhir kali yang ku ingat, tanggal itu adalah penampilan pertamaku dengan pria itu. Jauh sebelum tanggal itu, aku sudah terlanjur mengaguminya. Tapi aku tak ingat kapan pertama kali aku mulai menetapkan hatiku padanya. Sekarang aku membenci semuanya, semua yang telah terjadi sejak hari itu.


Semenjak hari itu aku berubah menjadi orang  yang teramat bodoh. Aku selalu menyesalinya sekarang. Dulu semua hal yang ku anggap indah, perlahan menjelma menjadi sesuatu yang begitu menakutkan. Semua seperti sebuah mimpi buruk yang membuatku terjebak di dalamnya.


“Sekarang sudah tahun 2020, tapi separuh hatiku masih mencintai seseorang yang tak sengaja ku temui di tahun 2018.”


Selama perjalanan, yang kulakukan hanyalah itu-itu saja. Mendengarkan musik, melamun, tidur, melihat pemandangan di luar kaca jendela. Sebuah siklus kehidupan yang sangat monoton.


“Selamat tinggal Kota Bandung, terimakasih telah mempertemukanku dengan dirinya meski hanya sesaat.”


***


Mendadak aku terbangun dari tidur singkatku selama perjalanan. Itu karena kendaaraaan yang ku tumpangi ini mendadak berhenti entah di mana. Awalnya ku pikir kami akan singgah sebentar di pom bensin. Ternyata saat melihat keluar jendela, kami telah sampai di rumah.


Aku berjalan masuk dan menaiki tangga dengan langkah yang terhuyung-huyung. Syukur saja aku tak terjatuh dari tangga, kemudian turun kembali ke bawah dengan cara berguling. Aku menenteng koperku tanpa tenada sedikitpun. Sesampainya di dalam kamar, aku lantas meletakkan nya dimana saja. Kemudian menjatuhkan tubuhku di atas kasur dengan begitu kasar. Aku tak memiliki cukup tenaga lagi untuk melakukan lebih banyak kegiatan lagi. Bahkan saat ini aku belum melepas sepatuku, aku benar-benar telah kehabisan tenaga untuk yang satu itu.


Ternyata kedatanganku ini malah membuat seseorang merasa terganggu dan terbangun dari tidurnya. Siapa lagi jika bukan Stefani, hanya dia satu-satunya orang yang sedang berada di kamarku saat ini. Gadis itu terbangun dari tidurnya dan lantas menegakkan posisi tubuhnya. Sepertinya ia terlalu memaksakan untuk bangun, meskipun aku tahu dia masih begitu mengantuk.


“Akhirnya lo pulang juga sha.” ucapnya dengan keadaan yang masih setengah sadar.


“Hmmm….” balasku singkat tanpa melihatnya sedikitpun.


Sebenarnya aku sedang tak ingin menanggapi ucapan gadis ini sama sekali. Padahal Stefani tahu betul jika kami sedang dalam kondisi yang sangat melelahkan. Hari ini begitu membuatku kehilangan cukup banyak tenaga. Sepertinya aku terlalu memaksakan otakku untuk berpikir keras saat ujian tadi. Jadinya malah berdampak kepada kondisi fisikku seperti ini.


“Gue mau bilang sesuatu sama lo.” ucapnya pelan sambil terus berusaha mengumpulkan nyawanya.


“Apaan sih? Udah malam kayak gini juga, udah besok aja sekalian. Ngantuk nih, capek.” balasku dengan panjang lebar.


Aku sedang tak ingin di ganggu sekarang ini. Yang ku butuhkan hanyalah tempat yang tenang untuk beristirahat dengan cukup. Tapi bagaimana bisa aku beristirahat, jika Stefani terus-terusan mengajakku berbicara seperti ini.


“Tapi ini penting sha, lo harus tau.” ujarnya sambil mengguncang-guncangkan tubuhku.


“Emang nggak bisa besok aja apa?” balasku dengan kesabaran pada level tertinggi.


Jika setelah ini Stefani masih terus menggangguku,maka aku akan pergi dari tempat ini. Aku akan tidur di kamar Renata untuk malam ini, jika gadis ini tak kunjung diam. Lagipula tempat itu sudah beberapa hari ini kosong, karena ditinggal oleh pemiliknya. Katanya wanita itu baru akan kemari lagi, minggu depan nanti. Ia akan bersilaturahmi sekaligus mengambil sisa barangnya yang tak sempat ia bawa semua kemarin.


“Ini penting sha, ini soal Arka dan menyangkut lo.” ujar Stefani yang masih terus berusaha untuk membujukku.


“Bodo amat!” balasku dengan geram.


Aku lantas segera mengambil salah satu bantal lagi di sana, dan menyumbat telingaku dengan benda itu. Aku menyembunyikan kepalaku di baliknya, sehingga setidaknya bisa meminimalisir suara yang masuk ke dalam indera pendengaranku.


Jika Stefani terus-terusan menggangguku seperti ini, maka bagaimana bisa aku beristirahat dengan cukup. Apakah ia mau jika aku harus sakit lagi karena kurang tidur, dan tidak masuk sekolah untuk yang kesekian kalinya. Ku rasa pikiran gadis ini memang begitu dangkal. Meskipun dia adalah sahabatku sendiri, terkadang sifatnya terlalu berlebihan sehingga tak jarang membuatku merasa tak nyaman.


Beberapa menit setelah aku mengacuhkannya dengan cara seperti ini, gadis itu mulai tak berkutik sedikitpun. Bahkan aku tak bisa merasakan pergerakannya sama sekali. Kelihatannya gadis itu mulai menyerah dan putus asa. Pasti di sisi lain ia juga telah tunduk tak berdaya di bawah rasa kantuk yang menguasainya itu.


Aku mengintip dari balik bantal sebentar, untuk memastikan jika gadis itu telah benar-benar tertidur dengan pulas. Ternyata benar sesuai dengan dugaanku sebelumnya. Kasihan Stefani, pasti ia juga sedang sangat kelelahan hari ini. Pasti hari ini adalah hari yang sulit baginya untuk dilalui, namun gadis ini berhasil melewatinya dengan gigih. Hingga ia sampai di penghujung hari ini, itu artinya semua yang ia lakukan tak sia-sia. Sesuatu yang indah di masa depannya nanti, adalah bayaran yang setimpal untuk kerja kerasnya hari ini.


Aku membenarkan posisi selimut Stefani yang sudah mulai sampai di lutuunya itu. Ia pantas mendapatkan apresiasi berupa kasih sayang, atas kerja kerasnya hari ini.

__ADS_1


“Selamat malam stef.” bisikku pelan di telinganya, kemudian kembali melanjutkan tidurku.


Malam ini terlalu nyaman untuk dilewatkan begitu saja. Ada jutaan bintang yang mengintai kita dari balik jendela sana. Hanya saja terhalang oleh langit-langit kamar ini. Gelap malam seolah bersbisik padaku.


“Tidurlah di bawah pelukanku, hari esok akan segera datang. Besok kau harus berjuang lagi dan besok aku juga telah siap menantimu di penghujung hari.”


***


“Lo udah selesai tuga biologi yang di suruh buat power point itu belum?” tanya Stefani dengan pandangan lurus ke depan.


Sementara aku hanya memperharikan jalanan yang sedang ku lalui sekarang. Tak lucu jika tiba-tiba aku harus terjatuh di jalanan aspal ini, hanya karena batu kerikil sialan itu.


“Udah lah.” balasku dengan sedikit menyombongkan diri.


“Bagus deh.” jawabnya dengan singkat.


Untung saja selama aku tidak masuk sekolah kemarin, Titan selalu mengingatkanku jika ada tugas. Pria itu benar-benar baik padaku, kepada semua orang lebih tepatnya. Kemarin sebelum aku berangkat ke Bandung, pria itu sempat bilang padaku jika aku dan dirinya berada dalam satu kelompok yang sama untuk mata pelajaran biologi.


Semuanya telah di atur oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan, jadi kami tak bisa menolak. Kebetulan aku mendapatkan tugas untuk menyelesaikan beberapa slide terakhir untuk dipresentasikan di depan kelas nanti. Ku harap hari ini keberuntungan memihak kepadaku.


Seperti biasanya ku dan gadis ini langsung menuju ke ruangan kelas. Hari ini kami tidak mampir ke kantin dulu, karena kami sudah sarapan tadi. Aku juga sudah terlalu antusias untuk bertemu dengan mereka semua. Sahabatku yang lainnya, yang bebrapa hari ini tak bisa ku lihat secara langsung wajahnya. Aku sudah sangat merindukan orang-orang yang menyebalkan itu.


“Eresha!!!” teriak Clara dengan begitu bersemangat.


Sedetik kemudian, gadis itu lantas berlari untuk menghampiriku yang baru sampai di ambang pintu masuk. Dengan wajah yang berseri-seri, Clara menjemputku tanpa diminta sama sekali. Kelihatannya hari ini Clara begitu senang, aku tak tahu hal apa yang membuatnya begitu bahagia seperti ini.


Aku meletakkan tasku di atas meja, sambil membenarkan ikatan rambutku yang mulai mengendur. Ternyata mereka tak banyak berubah, semenjak ku tinggalkan. Mungkin wajah mereka akan tetap sama seperti ini, sampai usianya menua nanti.


“Cie, yang udah balik dari Bandung.” ujar Adit dengan nada bicara khas nya itu.


“Bawa oleh-oleh nggak?” lajutnya sambil menyenggol salah satu tanganku.


“Oleh-oleh pasir dari Bandung mau? Itu kebetulan masih ada sisanya di sepatu yang aku pakai kemarin.” balasku sambil tertawa kecil.


“Dih!” balas pria tersebut sambil tersenyum kecut.


“Gimana tes nya kemarin?” tanya Arka yang mulai buka suara.


“Lancar kok, tinggal nunggu hasilnya doang.” jawabku apa adanya.


Aku hanya mengangguk singkat, mengiyakan perkataannya. Sepertinya ada yang aneh dengan pria ini, ia tak seperti biasanya. Arka jauh lebih pendiam dari pada biasanya. Tapi lebih baik aku tak perlu mempermasalahkan hal itu sekarang. Aku tahu jika pria ini sedang tak baik-baik saja.


“Nih, makan kue coklat nya.” ujar Arka secara tiba-tiba, sambil menyodorkan kotak bekalnya kepadaku.


“Aku dengar dari Stefani kalau hari ini kamu mau masuk sekolah, jadi aku minta mama untuk buatin ini khusus buat kamu. Mama juga titip salam, katanya cepat sembuh dan jangan sakit-sakit lagi.” jelasnya dengan panjang lebar.


“Terimakasih, tapi nggak enak malah ngerepotin mama kamu.” balasku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.


“Enggak apa-apa, santai aja.” balasnya dengan enteng.


“Eresha aja nih yang dikasih begituan, kita kagak gitu?” protes Titan yang merasa tak terima karena menganggap jika semua ini tak adil.


Pria yang menjadi sasaran dari ucapan Titan barusan, hanya berdecak sebal. Sedetik kedian, ia mengeluarkan satu kotak bekal lagi dari lacinya. Kali ini ukurannya lebih besar dari yang sebelumnya, pasti isinya juga banyak. Aku tak menyangka benda apa lagi yang muat masuk ke dalam laci ajaib pria ini. Ku rasa semua barang bisa masuk ke dalam sana jika ia ingin.


“Ini buat kita semua nih?” tanya Adit setengah tak percaya.


“Hmm…” balas Arka singkat.


“Kurang baik apalagi coba, gue sama kalian?” lanjutnya dengan nada sedikit menyindir.


Namun mereka ternyata lebih dari sekedar menyebalkan. Keempat orang tersebut hanya sibuk berebut kue coklat buatan mama nya Arka, tanpa mengiraukan pria ini sama sekali. Mereka juga tak menggubris ucapan Arka sedikitpun.


“Mau?” ucapku padanya sambil menawarkan kue coklat pemberiannya tersebut.


“Enggak, udah makan aja. Lagian aku juga udah kenyang makan beginian mulu.” balasnya dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada.


Tak ingin menyerah begitu saja,aku terus membujuknya agar mau memakan kue coklat tersebut. Aku menyodorkan kue coklat tersebut, tepat di depan mulutnya. Sedikit terkesan memaksa, tapi saat ini aku memang sedang memaksanya. Ia pikir hanya dia saja yang bisa memaksaku dengan sesuka hatinya.


“Aaaa….” ucapku sambil mengisyaratkan agar ia membuka mulutnya.


“Udah makan aja, nggak usah sok jual mahal segala lo ka!” sindir Titan dengan tajam.


“Diem lo!” balas Arka dengan tatapan sinisnya.

__ADS_1


Tanpa berlama-lama lagi, akhirnya pria itu segera mengambil umpan milikku. Tak tahan dengan sindiran sahabatnya itu, mau tak mau Arka langsung menyambar kue di tanganku.


“Ouch!!!” teriakku secara spontan, saat Arka menggigit jariku secara tidak sengaja.


Arka lantas segera meraih jariku yang menjadi korban keganasannya itu. Mendadak pria itu merasa bersalah. Sesekali ia mengusap pelan jariku yang berubah menjadi sedikit kemerahan.


“It’s okay.” Balasku dengan tenang.


“Tapi seriusan nggak apa-apa kan?” tanya nya padaku.


“Maaf, aku nggak sengaja tadi.” lanjutnya.


“Santai aja kali.” balasku dengan gamblang.


“Yang dimakan kue nya aja kali ka, tangan Eresha nggak usah ikut lo makan juga.” sindir Titan dengan tatapan yang tak menyenangkan.


“Laper apa gimana lo?” timpal Adit yang ikut membumbui.


“Cih!!!” balas Arka dengan acuh tak acuh.


“Udah, lepasin nggak usah dipegangin terus. Ntar gimana mau makannya?” ujarku sembari mencairkan suasana.


Tanpa pikir panjang, Arka langsung melepaskan tanganku yang masih ia genggam sedari tadi. Raut wajahnya masih terlihat seperti sebelumnya. Bahkan setelah memakan coklat yang dipercaya bisa memperbaiki suasana hati. Aku tak tahu sedang ada masalah apa pria ini. Tapi biasanya Arka memang tak pernah cerita kepada siapapun soal masalahnya, termasuk mamanya yang termasuk orang terdekatnya. Pria itu memang tak pernah mau menyulitkan orang lain dengan masalah pribadinya.


“Mau lagi?” tanyaku dengan hati-hati.


“Enggak.” jawabnya singkat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Aku tak ingin bertanya lebih banyak lagi soal itu, karena aku tak ingin semakin memperburuk suasana hatinya. Arka perlu ruang pribadi untuk beberapa saat. Dirinya menjadi agak sensitif akhir-akhir ini. Semoga saja nanti Arka mau menceritakan sedikit dari masalahnya kepadaku.


‘Ting! Ting! Ting!’


Bel pertanda jam pelajaran akakn segera dimulai, telah bergema di seluruh penjuru sekolah. Beberapa siswa yang masih berada di gerbang, mempercepat langkahnya untuk segera massuk kelas sebelum guru datang. Jika tidak ,mereka pasti akan di anggap terlambat dan ikut dihukum bersama siswa yang bahkan belum mencapai gerbang sekolah saat bel telah berbunyi.


Aku lantas segera menyelesaikan kegiatanku untuk sarapan yang kedua kalinya itu. Aku membereskan semuanya dengan begitu cepat dan sangat teratur. Baru kali ini aku merasa bangga atas diriku sendiri. Ternyata menghargai diri sendiri itu penting, misalnya dimulai dari hal kecil semacam ini.


“Hari ini semua kelompok bakalan maju buat presentasi tugas kan?” tanyaku pada Arka.


“Kalau waktunya keburu, ya semua. Tapi kalau kebalikannya, mungkin sebagian kelompok bakalan maju presentasi minggu depan.” jelas pria itu yang sedang mengecek bukunya satu-persatu.


Aku mengangguk paham dengan ucapannya barusan. Sepertinya kelompokku akan mendapatkan giliran maju untuk hari ini. Lebih cepat mendapatkan nilai, maka akan lebih bagus.


“Selamat pagi anak-anak!” sahut Bu Yeni yang baru masuk.


“Pagi bu!” balas kami secara bersamaan.


Aku mulai gugup saat wanita ini masuk ke dalam ruangan ini. Rasanya atmosfirnya langsung berubah dengan drastis. Meskipun ini bukan pertama kalinya bagiku untuk melakukan presentasi, namun tetap saja rasa gugup ini tak pernah hilang sejak dulu. Bahkan kau tak tahu hal apa yang membuatku sampai gugup seperti ini.


“Jangan jadi anak manja! Ini bukan pertama kalinya kau melakukan ini sha!” batinku dalam hati, sambil terus berusaha untuk meyakinkan diriku jika aku pasti mampu.


Aku tak boleh mengecewakan mereka yang telah mempercayakanku untuk duduk di kelas ini. Berada di kelas unggulan adalah satu-satunya cara bagiku untuk membuktikan kepada mereka jika aku bisa.


Aku berusaha untuk menenangkan diriku sendiri. Jika aku terus-terusan merasa panik seperti ini, maka bisa gawat urusannya. Bisa-bisa semua hal yang ku persiapkan selama ini malah akan berantakan. Hari ini artinya satu hari mendekati hari kelulusan. Setidaknya aku harus membuat perubahan kecil daklam hidupku.


“Baik, silahkan kumpulkan tugasnya ke depan. Akan ibu periksa terlebih dahulu sebelum kalian presentasikan di depan nanti.” ujar Bu Yeni sambil membenarkan kacamatanya.


Setiap perwakilan masing-masimg kelompok, maju dengan membawa flashdisk berisikan file tugas kami. Kebetulan semua file kelompok kami, berada di tangan Titan karena ia ketua. Aku bisa mempercayainya untuk saat ini.


Sementara Bu Yeni mengecek semua file tugas kelompok, aku sedang mempersiapkan diri untuk presentasi nanti. Kelompok dua sepertinya akan mendapatkan giliran untuk presentasi, setelah kelompok satu maju lebih dulu. Tapi kemungkinan itu akan terjadi jika urutan kelompok tak akan diganggu gugat lagi oleh Bu Yeni


Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku lantas menoleh untuk melihat siapa orang tersebut. Awalnya ku kira itu adalah Stefani atau Clara, namun ternyata dugaanku salah besar. Ternyata sekarang Titan tengan bertukar tempat duduk dengan Clara. Aku tak tahu sejak kapan pria itu berada di sana.


“Nanti gue bakalan jadi moderatornya, lo jadi notulisnya. Oke?” ujar Titan dengan nada bicara pelan, nyaris seperti berbisik.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2